Sekolah Ala Nabi Bertahan di Kenya
Alam Islami
8/12/2009 | 20 Zulhijjah 1430 H
Oleh: Tim dakwatuna.com
Kirim Print

dakwatuna.com -- WAJIR, NORTHERN KENYA, Dari jantung sebuah desa di kota
Wajir, wilayah Kenya yang didominasi Muslim, lantunan jernih ayat-ayat
suci Alquran bergema memecah kesuyian. Lantunan itu berasal dari para
siswa sekolah Alquran di desa tersebut.

Ini merupakan sekolah yang menggunakan sistem tradisional dalam
mengajarkan Alquran. Banyak sekolah sejenis yang sering disebut dugsi,
tersebar di masjid-masjid yang ada di wilayah timur laut Kenya. Dugsi
merupakan sebuah sistem pendidikan Islam yang berkembang di wilayah yang
banyak dihuni oleh kalangan Suni dari Somalia.

Para sejarawan Islam mengungkapkan, sekolah-sekolah sejenis ini telah
ada di Timur Tengah dan Afrika sejak abad ke-7. Jika ditelusuri ke
akarnya, sistem pendidikan di sekolah ini juga pernah ada di Arab Saudi
pada masa Nabi Muhammad.

Moalim Nur Osman, seorang guru di sebuah sekolah Alquran di Wajir,
mengatakan, sistem tradisional yang diterapkan di sekolah itu
mengingatkan pada sistem di masa Rasulullah Muhammad. Sebab, kata dia,
sistem ini memang telah diterapkan pada masa itu. "Sistem pendidikan
Islam tradisional ini berasal dari jaman Nabi Muhammad S.A.W," ujar
Osman seperti dikutip IOL, akhir pekan lalu (6/12).

Osman mengatakan, sekolah jenis ini sangat populer di Kenya. Osman tak
asal bicara. Ia yang duduk di sebuah kursi tradisional di hadapan
sebanyak 70 muridnya, mengatakan, bertahun-tahun dugsi tetap mampu
bertahan dan beroperasi memberikan pengajaran kepada para pemuda Islam.

"Kami merasa, sekolah Alquran dengan sistem tradisional ini telah
memainkan peran besar, dalam membentuk kepribadian para pemuda Islam
dalam menyebarkan ajaran agama Islam," ujar dia.

Menurut Osman, meski masih menggunakan sistem pengajaran tradisional,
keberadaan dugsi telah mampu melahirkan sebuah lingkungan yang kondusif,
tentu bagi para pemuda Islam untuk belajar dan menghafal Alquran, yang
merupakan landasan utama dalam pendidikan Islam.

Paling tidak, ungkap Osman, dibutuhkan waktu selama tiga tahun bagi
seorang siswa untuk bisa menghafal Alquran. "Ini akan menjadi landasan
bagi kehidupan para siswa, dan kami yakin di kemudian hari mereka akan
menjadi orang-orang yang religius," ujar dia.

Osman mengatakan, sekolah tempat ia mengajar, telah berlangsung selama
30 tahun. Selama masa itu pula, jelas dia, sekolah ini meletakkan
dasar-dasar yang kuat bagi para siswanya untuk mempelajari ajaran-ajaran
Islam.

Di sekolah ini, jelas Osman, para siswa setiap hari membaca ayat-ayat
Alquran yang tertulis dengan huruf emas pada lempengan kayu. Para siswa,
kata dia, setiap hari menghabiskan waktu selama empat jam untuk membaca
dan menghafal Alquran.

"Perjuangan pertama di sekolah ini adalah mempelajari Alquran," kata
Ahmed Ali, seorang murid dugsi seperti dikutip Islamonline, kemarin.
Ahmed mengatakan, ia dan siswa lainnya mengambil pelajaran Alquran dua
kali setiap hari. Selain itu, dugsi merupakan sebuah upaya alternatif.

Sebab, dengan keberadaan dugsi yang tak mendapatkan bantuan dana dari
pemerintah, Muslim di wilayah Wajir khususnya, masih mampu memberikan
pendidikan agama dengan baik kepada generasi muda mereka. Dengan
demikian, ajaran agama Islam.

Syekh Abdulwahab Sheikh Issack, seorang pejabat di Dewan Imam dan
Penceramah Kenya, mengatakan, dugsi merupakan cara informal yang paling
memungkinkan dilakukan di sebuah masyarakat yang masih tertinggal dalam
segi materi.

"Dugsi menawarkan akses pendidikan yang murah, terutama dalam pendidikan
Islam," kata Issack. Ia menyatakan pula, dugsi juga menjadi tempat yang
baik bagi pendidikan nilai-nilai Islam kepada generasi muda Islam.

Menurut Issack, dugsi juga merupakan tempat pengajaran dasar Alquran dan
bahasa Arab. Bahkan, banyak kalangan yang mengakui, sekolah-sekolah
semacam itu merupakan sebuah elemen penting bagi transfer nilai dan
sosialisasi tentang Islam.

Syekh Mohamed Abdi, guru di sebuah dugsi, mengatakan, dugsi memberikan
pengajaran Islam kepada siswa dan memainkan peran agama serta sosial
dalam masyarakat. Dugsi pun bisa dianggap sebagai agen perubahan dalam
masyarakat.

Abdi berharap, dugsi akan tetap bisa bertahan sampai kapan pun. Ia
mengatakan, masyarakat selama ini mendukung sekolah-sekolah tradisional,
seperti dugsi, tempat para guru sepenuhnya tak dibayar atau hanya
mendapatkan bayaran sedikit uang dari murid-muridnya.  Para siswa dugsi,
dengan kemampuannya membaca dan menghafal Alquran, kelak mampu meniti
'karier' di bidang agama. "Saya ingin menjadi seorang kadhi. Saya harus
belajar Alquran. Oleh karena itu, saya harus hadir terus di dugsi," kata
seorang siswa, Mohamed Ali. iol/fer/taq/RoL

Kirim email ke