Subhanallah...,sungguh mulianya seorang Ibu itu yang diperingatkan Allahu
rabbi pada kita.

Ibu adalah makhluk ciptaan Allah yang bernama wanita.

Seorang wanita untuk menjadi Ibu yang mendapat kemuliaan seperti yang
dijanjikan Allah pada kita .

Tentunya seorang wanita harus memenuhi criteria tertentu dimana mengikuti
pedoman utama Al Qur'an dan Al Hadist.

Seorang wanita untuk menjadi Ibu harus dipersiapkan dari awal kehidupannya
dimuka bumi ini.

Untuk menjadi Ibu bukanlah dadakan karena itu sudah Sunatullah makhluk yang
bernama wanita itu untuk menjadi Ibu.

Mari kita persiapkan dan fasilitasi wanita disekeliling kita
(Istri,anak,saudara dan lainnya) untuk mencapai derajat seorang Ibu itu.

Kita tidak hanya memuliakan Ibu kita tetapi wanita juga karena Ibu adalah
wanita dan wanita juga bersikap sebagai yang dimuliakan.

Banyak diantara kita yang memuliakan Ibunya tetapi tidak membuat kemuliaan
juga pada Istri dan anak.?

Sudahkah kita persiapkan istri dan anak kita zuhud terhadap dunia ini .

Jalan yang paling effektif untuk menjadi Ibu yang dimuliakan adalah hatinya
zuhud terhadap dunia ini.

 

Wallahua'lam bishawaab

 

From: A. Yahya Sjarifuddin [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, December 23, 2009 2:47 AM
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]
Subject: [Ar-Royyan-9469] Sang Ibu

 

Sang Ibu

Dikirim oleh DR. Amir Faishol Fath pada 22 Desember 2009 @ 20:26 di
Editorial | Tidak ada <>  Komentar

 <http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/2009/12/ibu-dan-anak.jpg>
dakwatuna.com - Malam itu, malam tahun baru 1431 hijriah. Aku diundang untuk
mengisi muhasabah di masjid Al-Ittihad Tebet Jakarta Selatan bersama seorang
penyair terkemuka Bapak Taufik Ismail. Ini untuk yang kedua kalinya aku
bersama Pak Taufik setelah sebelumnya aku bersama beliau diundang untuk
acara muhasabah 60 tahun Bakrie di Rasuna Said. Seperti biasanya Pak Taufik
membacakan puisinya. Di antara puisi yang beliau bacakan ada satu puisi
tentang ibu.

Aku tidak ingat secara harfiah isi puisi tersebut, tetapi aku terkesan
dengan kedalaman isinya dalam menggambarkan betapa tak terhingga kasih
sayang seorang ibu terhadap anaknya. Karenanya banyak para penyair menulis
puisi tentang ibu. Di antara juga yang pernah saya baca D. Zawawi Imran. Aku
masih ingat sebagian ungkapan yang ditulis Pak Zawawi. Di nataranya:
"Seandainya aku ikut ujian, dan aku ditanya tentang pahlawan, akan ku jawab
ibuku."

Benar, ibu adalah pahlawan. Tidak ada seorang pun yang paling berjasa kepada
kemanusiaan melebihi jasa seorang ibu. Karenanya dalam Al-Qur'an Allah swt.
tidak segan menceritakan perih dan lelah seorang ibu saat hamil dan
menyusui. Dalam surah Luqman:14, Allah berfirman: "Dan Kami perintahkan
kepada manusia supaya (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."

Perhatikan ayat ini, dibuka dengan perintah agar berbuat baik kepada ibu
bapaknya, setelah itu Allah menceritakan secara khusus tentang capeknya
seorang ibu ketika mengandung anaknya. Sementara capeknya ayah tidak
diceritakan. Silahkan cari dalam Al-Qur'an maupun hadits kalau pernah
disebut mengenai capeknya seorang ayah. Sungguh hanya sang ibu yang banyak
disebut. Bahkan dalam sebuah hadits yang sangat terkenal, Rasulullah saw.
ketika ditanya: "Kepada siapa aku harus berbuat baik? Beliau tidak segan
menjawab tiga kali berturut-turut agar itu dilakukan kepada ibu, lalu kepada
bapak." 

Namun sayang, banyak anak begitu mudah melupakan jasa besar sang ibu. Kalau
pun berbuat baik cenderung perbuatan itu semata basa-basi, datang setahun
sekali menemuinya di hari raya. Basa-basi mencium tangannya dan lain
sebagainya, sementara pesan-pesannya yang baik tidak dipatuhi. Banyak para
ibu yang merindukan anaknya agar mentaati Allah swt. Namun banyak anak yang
justeru membalas kebaikan ibunya dengan berbuat maksiat kepada-Nya. Sungguh
ini suatu kedurhakaan.

Tidak ada artinya kebaikan seorang anak kepada ibunya secara material,
sementara ia selalu berbuat maksiat kepada Allah. Karenanya banyak para
ulama mengatakan: "Pengabdian seorang anak yang paling baik bagi orang
tuanya adalah menjadikan dirinya sebagai anak yang saleh." Inilah rahasia
hadits Rasulullah saw. yang berbunyi: "Waladun shaalihun yad'u lahuu (anak
yang shaleh yang selalu mendoakan untuk orang taunya)." Perhatiakan kata
shalih dalam teks hadits tersebut. Ini untuk menegaskan bahwa hanya anak
yang shalih yang benar-benar akan memberikan kebahagiaan bagi orang tuanya:
bahagia secara material maupun secara spiritual. Sementara anak durhaka
tidak akan pernah memberikan kebahagiaan hakiki bagi orang tuanya.

Tidak sedikit cerita masa lalu mengenai kebaikan seorang anak kepada ibunya.
Di antaranya; disebutkan bahwa salah seorang anak yang shaleh pernah
menggendong ibunya dari negeri kelahirannya -kalau tidak salah Yaman- ke
kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Bayangkan betapa jauh perjalanan
menuju kota Mekah. Dan betapa besar tenaga yang harus dikeluarkan untuk
kebahagiaan sang ibu. Di manakah kini kita bisa menemukan pribadi seorang
anak seperti ini?

Dalam kisah yang lain lagi disebutkan seorang anak yang shalih sedang
menemani ibunya makan. Namun anak ini belum mau mengambil makanan sampai
ibunya selesai. Ketika ditanya mengapa berbuat demikian? Ia menjawab: aku
takut mengambil makanan yang ternyata itu disukai ibuku. Subhanallah sebuah
contoh kejujuran cinta kepada sang ibu sangat nampak dalam kisah tersebut.

Di akhir tulisan ini izinkan aku menulis puisi untuk ibuku:

Ibu, bila semua orang berkata langit itu sangat tinggi

Sungguh masih lebih tinggi cintamu kepadaku

Bila semua orang berkata lautan itu sangat dalam

Sungguh masih lebih dalam kasihmu kepadaku

Bila semua orang berkata bukit itu sangat kokoh

Sungguh masih lebih kokoh perhatianmu kepadaku

Tak sanggup kata melukiskan kebaikanmu

Tak sampai nyawa membalas budi baikmu

Kecuali keshalihanku 

Dengannya sungai keringat jerih payahmu menjadi amal jariah. 

Allahu a'lam bishshowab

  _____  

URL ke artikel: http://www.dakwatuna.com/2009/sang-ibu/

dakwatuna.com - Right to copy - Berdiri sejak Jan 2007
Tidak dilarang untuk mengcopy dan menyebarkan artikel-artikel pada situs ini
dengan menyebutkan URL sumbernya, serta bukan untuk tujuan komersial

<<image001.jpg>>

Kirim email ke