Dari milis sebelah, jika tidak berkenan silakan langsung dihapus .....
Saya forward ke milis ini, di samping judulnya yang merupakan salah satu
"penyebab" dari masalah yang disampaikan (seperti berita di Malaysia yang
dilansir beberapa media dalam minggu ini), forward ke milis lain juga
interpretasinya sepertinya bahwa kita lebih suka mengekspos kelemahan kita
sendiri seperti yang sering dijadikan argumentasi dari JIL. Jadi, ini semacam
muhasabah atau apapun namanya ...
Catatan lain : Gus Dur berhasil eksis dengan jurus sikapnya yang "nyeleneh".
Kata sebagian pakar di media : "sebagiannya benar, sebagiannya lagi salah", dan
itu termasuk penilanan yang tidak "gebyah uyah". Itu lebih baik saya kira
daripada berpegang pada prinsip "cari selamat" tanpa mau mentransformasi apa
niatan / pikiran / perbuatan baik kepada publik. Ingat, misi "rahmatan lil
'alamin" yang harus dimanifestasikan pada kiprah dan perbuatan yang bernilai
tambah pada kemaslahatan khalayak.
Wassallam / Jaerony.-
++ bukan pengagum Gus Dur biarpun dari "kampung" NU +++++
*****************************************************************************
Bersumber dari Pendangkalan
Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Pada sebuah diskusi beberapa tahun yang lalu di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta,
penulis dikritik oleh Dr Yusril Ihza Mahendra, sekarang Menteri Kehakiman dan
HAM. Kata Bang Yusril, ia kecewa dengan penulis karena bergaul terlalu erat
dengan umat Yahudi dan Nasrani. Bukankah kitab suci Al-Quran menyatakan salah
satu tanda-tanda seorang muslim yang baik adalah "bersikap keras terhadap orang
kafir dan bersikap lembut terhadap sesama muslim (Asyidda a'la al-kuffar ruhama
baynahum).
Menanggapi hal itu, penulis menjawab, sebaiknya bang Yusril mempelajari kembali
ajaran Islam, dengan mondok di pesantren. Karena ia tidak tahu, bahwa yang
dimaksud Al Quran dalam kata "kafir" atau "kuffar" adalah orang-orang musyrik
(polytheis) yang ada di Mekkah, waktu itu. Kalau hal ini saja, bang Yusril
tidak tahu, bagaimana ia berani mengemukakan hal itu?
Berdasar kenyataan itu, penulis tidak begitu heran dengan terjadinya kekerasan
di Maluku, Poso, Aceh dan Sampit. Penulis mengutuk peledakan bom di Legian,
Bali, karena itu berarti pembunuhan atas begitu banyak orang yang tidak
bersalah. Tetapi kutukan itu, tidak berarti penulis heran atas terjadinya
peledakan bom itu. Karena dalam pandangan penulis, hal itu terjadi akibat para
pelakunya tidak mengerti, bahwa Islam tidak membenarkan tindak kekerasan dan
diskrimanatif. Satu-satunya pembenaran bagi tindakan kekerasan secara
individual adalah, jika kaum muslimin di usir dari rumahnya (Idza ukhrizu min
diyarihim). Karena itulah, ketika harus meninggalkan Istana Merdeka, penulis
meminta Luhut Panjaitan mencari surat perintah dari Lurah sekalipun.
Sebabnya, karena ada perintah lain dalam Sunny tradisional yang diyakini
penulis, untuk taat pada pemerintah. Berdasar ayat kitab suci itu, "taatlah
kalian pada Allah, pada utusan-Nya dan pada pemegang kekuasaan pemerintahan"
(Athi u' allaha wa al-rasullah wa uli al-amri minkum). Pak Luhut Panjaitan
mencarikan surat perintah itu dari seorang Lurah, dan penulis sebagai warga
negara dan rakyat biasa –karena lengser dari jabatan kepresidenan— mengikuti
perintah tersebut. Soal bersedianya penulis lengser dari jabatan kepresidenan,
karena penulis mengaggap tidak layak jabatan setinggi apapun di negeri ini,
dipertahankan dengan pertumpahan darah. Padahal waktu itu, sudah ada pernyataan
yang ditandatangani 300.000 orang akan mendukung penulis mempertahankan jabatan
kepresidenan, kalau perlu mengorbankan nyawa.
*****
Tindak kekerasan –walaupun atas nama agama— dinyatakan oleh siapapun dan dimana
pun sebagai terorisme. Beberapa tahun sebelum menjabat sebagai Presiden,
penulis merencanakan berkunjung ke Israel untuk menghadiri pertemuan para
pendiri Pusat Perdamaian Shimon Peres di Tel Aviv. Sebelum keberangakatan ke
Tel Aviv, penulis menerima rancangan pernyataan bersama, yang oleh Rabi Kepala
Sevaflim Eli Bakshiloron. Dalam rancangan pernyataan itu, terdapat pernyataan
penuli dan Rabai yang menyatakan "berdasarkan keyakinan agama Islam dan Yahudi,
menolak penggunaan kekerasan yang berakibat pada matinya orang-orang yang tidak
berdosa".
Pengurus Besar NU mengutus Wakil Rais Aam, KH Sahal Mahfudh untuk memeriksa
rancangan pernyataan itu. KH Sahal Mahfudh meminta kata-kata "tidak berdosa"
diubah menjadi "tidak bersalah". Mengapa demikian? Karena, yang menentukan
seseorang itu berdosa atau tidak adalah Allah SWT. Sedangkan salah atau
tidaknya seseorang oleh hakim atau pengadilan, berarti oleh sesama manusia.
Penulis menerima keputusan itu dan perubahan rancangan pernyataan tersebut,
juga diterima oleh Rabi Eli Bakshiloron. Ketika tiba di Tel Aviv, penulis
bersama Rabi Eli langsung menuju kantornya di Yerusalem. Di tempat itu, penulis
dan Rabi Eli menandatangani pernyataan bersama itu di depan publik dan media
massa. Ini menunjukkan bahwa, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar
di
Indonesia –bahkan menurut statistic sebagai organisasi Islam terbesar di dunia-
menolak terorisme dan pengunaan kekerasan atas nama agama sekalipun. Karena
itu, kita mengutuk peledakan bom di Bali dan menganggapnya sebagai "tindak
kejahatan/ kriminal" yang harus dihukum.
Keseluruhan penolakan penulis itu, bersumber pada pendapat agama yang tercantum
dalam literatur keagamaan (Al qutub al-muqarrahrah), jadi bukannya isapan
jempol penulis sendiri. Mengapa demikian? Karena Islam adalah agama hukum,
karenanya setipa sengketa seharusnya diselesaikan berdasarkan hukum. Dan karena
hukum agama dirumuskan sesuai dengan tujuannya (Al amru bima qa shidiha), maka
kita patut menyimak pendapat mantan ketua Mahkamah Agung Mesir, Al Asmawi.
Menurutnya, "hokum barat" dapat dijadikan "hukum Islam", jika memiliki tujuan
yang sama. Hukum pidana Islam (zarimah), menurut Al Asmawi, sama dengan hokum
pidana barat, karena sama berfungsi dan bertujuan menahan (defences) dan
menghukum (punishment).
*****
Namun, mengapa terorisme dan tindak kekerasan yang lain masih juga dijalankan
oleh sebagian kaum muslimin? Kalau memang benar kaum muslimin melakukan
tindakan-tindakan tersebut , jelas bahwa mereka telah melanggar ajaran-ajaran
agama. Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan sekian banyak jawaban, antara
lain rendahnya mutu sumber daya manusia pada para pelaku tindak kekerasan dan
terorisme itu sendiri. Mutu yang rendah di kalangan kaum muslimin, dapat
dikembalikan kepada aktifitas imperalisme dan kolonialisme yang begitu lama
menguasai kaum muslimin. Ditambah lagi dengan, orientasi pemimpin kaum muslimin
yang sekarang menjadi elite politik nasional. Mereka selalu mementingkan
kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat Islam yang elitis.
Apa pun bentuk dan sebab tindak kekerasan dan terorisme, seluruhnya
bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini adalah kenyataan yang tidak dapat
dibantah, termasuk oleh para pelaku kekerasan dan terorisme yang
mengatasnamakan Islam. Penyebab lain dijalankannya tindakan-tindakan yang telah
dilarang Islam itu -sesuai dengan ajaran kitab suci Al Quran dan ajaran nabi
Muhammad SAW- adalah proses pendangkalan agama Islam yang berlangsung sangat
hebat. Walau kita lihat, adanya praktek imperialisme dan kolonialisme atau
kapitalisme klasik di jaman ini terhadap kaum muslim, tidak berarti proses
sejarah itu memperkenankan kaum muslim untuk bertindak kekerasan dan terorisme.
Harus kita pahami, bahwa dalam sejarah Islam yang panjang, kaum muslim tidak
menggunakan kekerasan dan terorisme untuk memaksakan kehendak. Lalu,
bagaimanakah cara kaum muslimin dapat mengadakan koreksi terhadap
langkah-langkah yang salah, atau mencari "responsi yang benar" atas tantangan
berat yang dihadapi? Jawabannya, yaitu dengan mengadakan penafsiran baru
(re-interpretasi). Melalui mekanisme inilah, kaum muslimin melakukan koreksi
atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat sebelumnya, maupun memberikan responsi
yang memadai atas tantangan yang dihadapi. Jelas, dengan demikian Islam adalah
"agama kedamaian" bukannya "agama kekerasan". Proses sejarah Islam di kawasan
ini, adalah bukti nyata akan hal itu, walaupun di kawasan-kawasan lain, masih
juga terjadi tindak kekerasan –atas nama Islam— yang tidak diharapkan. Mudah
dalam prinsip, namun sulit dalam pelaksanaan bukan?
Jakarta, 31 Desember 2002
Original Message :
Gus Welirang <[email protected]>