Agus RasyidiBarokah Tokek Posted by: "Siwi LH" [email protected] siuhik Thu Apr 8, 2010 10:07 pm (PDT)
Barokah Tokek (setengah fiksi) by Siu Elha Sampeyan sudah pernah denger nggak, kalau harga seekor tokek dengan berat badan tertentu bisa mencapai sepuluh digit? Hmhhh… fenomena konon *konon adalah sumber yang tidak dapat dipercaya* itu sedikit banyak mengusik para pemimpi di negeri ini. Salah satunya sebut saja Mas Parjo. Mungkin karena ngiler mendengar berita (burung) itu akhirnya dia mulai memutar otak untuk menggapai impian dengan cara instan. Dengan jalan ghoib. Kalau orang Jawa bilang dimeleki, ditirakati, dipasani. Hingga hal-hal yang out of nalar pun dilakukannya. Dari melekan 40 hari 40 malam mencari wangsit keberadaan si tokek, tumpengan di kuburan (?), sampai menanam 4 ekor kepala sapi (kepalanya thok). Hubungannya apa saya juga ndak tahu. Wong cari tokek kok menanam kepala sapi? Tapi intinya dia pengen dapet si tokek dengan cara Ghoib. Jangan tanya nalar pada orang-orang seperti ini. Melihat kegilaan si adik, kangmasnya Mas Parjo yang notabene religius family pun jadi mecucu terus setiap didatangi sang adik. Karena topik obrolannya pasti tak jauh-jauh dari dunia pertokekan. Disindir halus Mas Parjo ini seperti orang yang tak punya perasaan, disindir kasar akhirnya mereka bertengkar juga. Pokoknya tidak ada manis-manisnya. Karena bagaimanapun kutub mereka berbeda. Hingga suatu hari Kangmasnya Mas Parjo kedhayohan (ketamuan) tamu yang tak lain dan tak bukan sahabat lamanya Mas Surya. Ndilalah disitu hadir juga Mas Parjo. Hal itu membuat girang Kangmasnya Mas Parjo karena memang selain sahabat Mas Surya ini bisa membuat adem suasana. Dimulailah wadulan dari Kangmasnya Mas Parjo. “Ini lho mas mbok dinasehati adikku ini, sepertinya kiblate wis keblinger ganti Tokek Jahannam Mas!” kata Kangmase Mas Parjo. Tapi ternyata Mas Surya malah lebih intens dengerin Mas Parjo yang sedang kojah dengan impian Tokeknya. “Nah ini mumpung ada Mas Surya mbok aku dikasih amalan apa yang bisa munculkan si Tokek ini Mas, syukur-syukur yang guede nanti bisa laku muahalll mas, wis ta urusan dengan Mas Surya, beres-beres!” kata Mas Parjo penuh gairah. “Mas Surya cuma manggut-manggut, “Oh gitu, sakjane gampang kok, modale cuma air dua liter, gak usah tumpengan, gak usah tanam kepala sapi, cuma nglakonine (pelaksanaannya) abot!” kata Mas Surya. Demi mendengar kalimat Mas Surya, kangmasnya Mas Parjo tambah mecucu dua centi, sementara Mas Parjo semakin berbinar-binar dengan penuh antusias. “Lo kan, Mas Surya aja mau kok ngasih syarat, sampeyan aja yang riwil kang!,” kata Mas Parjo sambil ngelirik Kangmasnya. “Lha terus syarate apa mas? Aku sanggup wis! Wong melekan 40 hari 40 malem di Makam Ki Ageng Semlikithi aja tak lakoni kok, opomaneh syarate sampeyan mas!” tantang Mas Parjo. “Yo wis kalau tekad sampeyan sudah bulat, gini… jadi air dua liter tadi buat wudhunya sampeyan, trus sampeyan tiap malem sholat hajat, do’anya fokuskan kalau memang si Tokek ini barakah buat sampeyan dunia akherat ya muga-muga Gusti Allah ngijabahi,” kata Mas Surya kalem. Di balik pintu Kangmase Mas Parjo mesam-mesem penuh arti. Sementara Mas Parjo semakin bergairah karena ternyata syarate tak seberat yang dibayangkannya. “Trus aku harus nglakoni berapa hari, berapa bulan, juga berapa rakaat mas sholate?” tanya Mas Parjo. “Ya sekuat sampeyan, semakin banyak dan semakin khusyu’ ya semakin baik. Semoga barakahnya si Tokek ya cepat sampai,” masih dengan kalem Mas Surya menjawabnya. “Yo wis mas aku tak pulang! mulai malem ini tak lakoni syarate sampeyan,” kata Mas Parjo dengan semangat makantar-kantar. *** Singkat cerita, tepat seminggu Mas Parjo silaturahmi ke rumah Mas Surya. “Eh Mas Parjo, monggo…monggo silahkan duduk, wah njanur gunung ki, ada perlu ini keliatannya? “ Mas Surya menemui di ruang tamunya. “Ngg… Nganu mas, Alhamdulillah… sudah dapet rejeki!” kata Mas Parjo. “Wah sudah dapet tokek besar ini?” dengan sedikit canda mas Surya menjawabnya. “Ngng.. nganu mas… bukan dari tokek, tapi saya dapet orderan jual beli motor, lumayan seminggu ini sudah laku dua,” jawab mas Parjo. Mas Surya tersenyum puas, sambil menggoda, “Lha jadi tokeknya gimana? ” tanyanya. “Ah Mas Surya jangan gitu to? Saya malu mas, kalau inget-inget malam itu nanem kepala sapi, hehehe…kapok Mas!, Alhamdulillah walaupun hasilnya tidak segede kalau jualan tokek itu tapi hanya di awang-uwung lebih baik begini mas, sedikit tapi barakah, rasanya adem mas.” sahut Mas Parjo dengan wajah semringah. *** Pesan moral : saya salut dengan cara Mas Surya menyelesaikan masalah Mas Parjo yang dengan win-win solution, tidak ada pihak yang merasa digurui ataupun dinistakan walaupun jelas-jelas Mas Parjo bisa divonis keblinger *lebih dari salah*. Dan endingnya sangat indah, ketika mas Parjo menemukan kembali relnya menuju keberkahan… Ujung 07.04.10 Salam Hebat Penuh Berkah Siwi LH cahayabintang. wordpress.com siu-elha. blogspot.com YM : siuhik ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

