Ass. Ww
Yang penting dalam ziarah kubur adalah mendoakan yang telah meninggal agar 
diampuni dosanya dan dimasukkan ke surga.
Jangan sekali-kali meminta keberkahan kepada orang yang telah mati karena 
hanya kepada Allah SWT kita memohon dan hanya kepada Allah SWT  kita 
meminta baik meminta kemudahan rezki, kemudahan memecahkan persoalan, 
kemenangan umat Islam atau dihapuskannya kezaliman dari muka bumi dll.
Memang ada persoalan ketika kita ragu karena yang kita ziarahi ternyata 
semasa hidupnya kafir, munafik, musyrik, pemakan riba atau membengkokkan 
jalan Allah SWT seperti menjalankan demokrasi, kapitalisme, sekulerisme, 
liberalisme, pluralisme, hak azasi manusia, moderatisme dll jalan yang 
sesat.. Artinya kalau Al Qur'an sudah menunjukkan orang-orang itu 
menjalankan hal yang membawanya pada ketentuan masuk neraka jahanam kekal 
selama-lamanya, akankah kita berdoa pada Allah SWT agar Allah SWT tidak 
menghukumnya ? Tentu kita akan dianggap bodoh dan tidak tahu Al Qur'an. 
Oleh karenanya Nabi Muhammad SAW melarang mendoakan orang kafir, musyrik, 
munafik dan pemakan riba sebab jika itu kita lakukan sama saja menyematkan 
pada diri kita sebutan orang bodoh yang tidak paham Al Qur'an.
Wassalam
Djarot D. 

alamat email: [email protected]



"Agus Rasyidi" <[email protected]> 
04/16/2010 02:14 PM
Please respond to
[email protected]


To
<[email protected]>
cc

Subject
[Ar-Royyan-9643] Fw:  Apabila Makam Keramat Membela Diri







 

Apabila Makam Keramat Membela Diri

http://www.eramuslim.com/oase-iman/abdul-mutaqin-apabila-makam-keramat-membela-diri.htm

Jumat, 16/04/2010 07:48 WIB
Oleh Abdul Mutaqin

Ada kuburan bisa “membela diri” di Tanjung Priok. Ribuan orang yang 
bernafsu  akan menggusur makam keramat terkena tulah. Korban berjatuhan. 
Luka-luka dan  konon korban jiwa tak terelakkan. 

Masyarakat dan pengagum sohibul makam tersinggung. Harga diri dan 
ketakziman  pada tokoh yang wafat abad ke 18 itu menggerakkan mereka 
melakukan  perlawanan.

Terlanjur, mereka terlanjur menganggap makam itu keramat, sehingga tidak 
boleh ada upaya paksa untuk menodai kekeramatannya. 

Terlanjur, aparat Satpol PP terlanjur taat pada penguasa, sehingga resiko 
berhadap-hadapan dengan batu, kayu bahkan clurit dan pedang mereka hadapi. 
 Banyak darah berceceran. Banyak kepala yang bocor dan kulit terluka robek 
dan  lebam.

Banyak mobil dibakar. Yang pasti banyak amarah meluap-luap. Saling 
menerkam.  Saling melempar. Saling memukul dan melukai. Melihat tayangan 
kerusuhan di  televisi itu, terasa begidik. Salah satu pasalnya adalah; 
kuburan yang  dikeramatkan dan putusan pengadilan.

Dari sisi iman, saya percaya bahwa orang rela mati demi keimanannya.

Saya percaya, masih banyak umat Islam yang begitu takzim pada seorang 
ulama  meskipun ketakziman itu berpindah pada kuburannya. Mengingat 
jasanya yang besar  dan kiprahnya bagi kelanggengan dakwah Islam. 

Makamnya diziarahi dan do’a dikirimkan. Karena begitu takzimnya, bahkan 
do’a  dan permintaan berbalik arah. Karena anggapan keramatnya, do’a dan 
permintaan  dalam ziarah bukan lagi dipanjatkan untuk kesejahteraan 
penghuni kubur. Malah  mereka yang datang, mereka yang hidup, mereka yang 
segar bugar, meminta  “sesuatu” kepada orang mati. Dan seolah dalam kasus 
Priok, para pengagum itu  bahkan rela mati demi kekeramatan kuburan. 
Terlanjur, mereka terlanjur  menganggapnya keramat.

Bila dicermati, banyak keprihatinan yang menggelikan yang ditunjukkan 
sekelompok orang Islam di negara kita. Ulama yang masih hidup dan 
berkhidmat  dalam satu lembaga yang memberikan nasehat dari berbagai 
kerusakan malah disebut  (maaf) ”tolol”, ”goblok” hanya karena tidak 
sejalan dengan fahamnya yang  liberal. 

Dinasehati bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, lebih banyak mudharatnya, 
 termasuk kategori tabdzir malah diplintir sebagai fatwa mubadzir dan 
fatwa  pesanan pihak asing. Maka, fatwa ulama menjadi bahan tertawaan, 
ejekan dan  dianggap angin lalu oleh sebab ulama memberi nasehat atas 
perilaku seronok dan  porno seperti dalam kasus tayangan televisi atau 
film.

Tapi kasus makam keramat Mbah Priok, adalah kebalikannya. Tanpa arwah 
beliau  berfatwa apa-apa pun, orang rela berkelahi untuk menjaga 
muru’ahnya. Terlanjur,  mereka terlanjur menganggapnya keramat. Mengapa? 
Karena mereka menggangapnya  kuburan keramat seperti iman atau aqidah.

Pernah satu kali saya diajak tanpa sengaja ikut berkunjung ke makam Mbah 
Priok. Hanya saja, saya tidak berkenan masuk sebagaimana lazimnya para 
peziarah.  Bukan karena ”anti” ziarah. Bukan. 

Tapi karena ada peraturan nomor lima yang harus dipatuhi oleh para 
peziarah  yang terpampang di muka gerbang makam ulama kelahiran Palembang 
itu. Peraturan  nomor lima itu, saya duga akan menodai keyakinan saya 
apabila saya patuhi.  Peraturan nomor lima itu ”mengahantui” iman saya, 
sebab berbunyi :

”Dilarang mendo’akan sohibul maqam kecuali meminta do’a kepada shohibul 
maqam. Di sini maqam wali Allah, jangan meminta do’a sembarangan ...”

Kepada pengurus makam saya meminta penjelasan sekedar klarifikasi. Apa 
kira-kira maksudnya, jangan-jangan hanya persepsi saya yang keliru. Dengan 
cukup  fasih, pengurus makam yang masih belia itu menjelaskan:

”Yaa ..., kita jangan mendo’akan Mbah Priok. Kita yang harus minta do’a 
kepadanya”.

”Mengapa begitu?”, saya seolah penasaran.

”Beliau kan wali. Sudah jaminan surga. Tidak pantas dido’akan. Kita lah 
yang  pantas meminta do’a kepadanya sebab kita belum jaminan masuk surga”.

”O, begitu ya. Terima kasih”.

Saya tidak berkenan masuk tetapi tetap melanggar peraturan nomor lima. 
Saya  tetap berdo’a kepada Allah di luar gerbang makam memohonkan kebaikan 
untuk Mbah  Priok semoga ajasa-jasanya menyebarkan Islam di Jakarta bagian 
utara menjadi  catatan amal soleh yang mengantarkannya kelak ke Firdaus. 

Saya tidak berkenan meminta apapun kepada arwahnya. Alhamdulillah, saya 
tidak  merasa kualat sampai hari ini. Saya masih sehat dan masih bisa 
menulis meskipun  butir terakhir dari peraturan itu ada berbunyi:

”Demikian. Berhati-hatilah mengenai nazar dan janji-janji kepada pengurus 
maqam dan patuhilah peraturan-peraturan yang tertera di papan ini 
(melanggar  kualat)”.

Soal kuburan memang soal orang mati. Tetapi justeru banyak orang hidup 
tergelincir dan terpelanting terpuruk ke dalam kubangan syirik dalam 
aqidah.  Bahkan tragedi di makam Mbah Priok kemarin, sudah menjurus kepada 
syirik sosial  pula berupa anarkhisme dan kesewenang-wenangan. Wajarlah 
jika Rasulullah sendiri  wanti-wanti soal kuburan dan ziarah.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa  sallam telah melaknat pelakunya (yakni orang-orang yang suka 
mengagungkan  kuburan). Terkadang beliau menyatakan, “Demikian besar murka 
Allah kepada  kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid.” 
Rasulullah  Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan mereka agar 
mendapatkan murka dari Allah  Subhanahu wa Ta'ala karena apa yang mereka 
perbuat termasuk perbuatan maksiat.  Yang demikian ini terdapat di dalam 
kitab-kitab Shahih. 

Terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang (dengan keras) 
 perbuatan tersebut, terkadang mengutus seseorang untuk menghancurkannya, 
terkadang menyebutkan bahwa hal itu termasuk dari perbuatan Yahudi dan 
Nasrani,  terkadang beliau menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku 
sebagai  berhala.” Terkadang menyatakan, “Jangan kalian menjadikan 
kuburanku  sebagai tempat ied.”

Wajarlah pula dalam riwayat Imam Nasa’i, lain waktu Rasulullah pernah 
menegaskan soal ini, "... (Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah 
kubur,  maka (sekarang) barangsiapa yang ingin berziarah maka berziarahlah 
dan jangan  mengatakan perkataan yang keji."

Ziarah kubur sebagaimana tuntunan Nabi, bermanfaat untuk mengingat mati. 
Sebab sesungguhnya, rumah masa depan bagi kita hanya seluas 1 x 1 meter 
persegi.  Itulah kubur dengan kematian sebagai pintunya. 

Itulah peristirahatan sementara bukan yang terakhir sebelum sampai pada 
akhirat menuju pintu surga atau neraka. Karenanya jangan sampai soal kubur 
malah  membuat peziarah semakin tidak mungkin masuk surga sebab jatuh ke 
jurang syirik  yang teramat dalam sebab taqdis pada kuburan yang 
menyimpang.

Huru-hara, korban luka, darah berceceran, manusia menyiksa manusia karena 
soal persepsi kuburan keramat dan alasan pengadilan telah terbukti 
menyengsarakan banyak orang di dunia. 

Dari sisi nalar sehat, saya tidak percaya hal itu telah terjadi. Saya 
tidak  percaya aparat yang menikmati gaji dari uang rakyat, mementung 
rakyatnya  sendiri. Saya juga tidak percaya, kelompok masyarakat muslim 
menyerang tanpa  memikirkan hati nurani dan akhlak yang diajarkan 
agamanya.

Mengenang Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Allahuyarham, patutlah  kita 
bermunajat, ”Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ’aafihi wa’fu ’anhu  ...”. 
Cukup. Selebihnya adukan segala persoalan dan permintaan hanya kepada 
Allah subhanahu wa ta’aala. Wallaahu a’lam.

Ciputat, April 2010

[email protected]

Kirim email ke