Hafalan Pak Didi
Eramuslim - Rabu, 19/05/2010 12:54 WIB

Oleh Nurudin


“Selamat datang di mushola kami, mushola Baiturrohiim. Silahkan anda pilih
tempat sholat di mana anda suka, asal jangan di ujung kiri shaf pertama.
Tempat itu sudah dibooking secara ekslusif oleh pak Didi.”


Sambutan diatas sebenarnya hanyalah candaan saja. Jelas, aku hanya bergurau
meskipun ada benarnya juga. Tentu saja di mushola kami -dan juga mushola
manapun-, siapapun bebas beribadah di sebelah manapun tak peduli jamaah
tetap ataupun yang kebetulan singgah. Sedangkan benar yang aku maksudkan
adalah bahwa di mushola kami, tempat di ujung kiri shaf pertama hampir tak
pernah ditempati oleh jamaah lain ( selalu lebih dulu di tempati oleh pak
Didi ), seakan tempat itu sudah ‘dibooking’ secara ekslusif oleh pak Didi.


Pak Didi, lelaki berusia lebih dari 60 tahun yang nikmat penglihatannya
kini sudah diambil kembali oleh Sang Pemilik Sejati ini memang selalu
menempati tempat tersebut. Wajar jika pak Didi mendapatkan shaf pertama
karena beliau selalu ( sering ) menjadi orang pertama yang hadir di
mushola. Terlebih jika sholat subuh, beliaulah yang selalu melantunkan
sholawat, membangunkan jamaah lain yang masih terlelap dalam tidurnya. Dan
ujung kiri adalah tempat yang paling mudah dijangkau olehnya yang selalu
datang dari pintu sebelah kiri, berjalan meraba tembok dan berhenti ketika
jangkauan tangannya menyentuh dinding bagian depan.


Pak Didi, pria santun yang beberapa waktu lalu pernah aku tulis kisahnya
lantaran rumus 90 langkah menuju mushola nya. Pak Didi yang tetap istiqomah
sholat berjamaah di mushola, meskipun untuk sampai di sana beliau harus
meraba dan menghitung langkah kakinya karena kedua mata fisiknya tak mampu
lagi membedakan gelap dan terang. Bukan, bukan karena tak ada keluarga yang
mengantarkan, tapi karena pak Didi lebih senang berangkat ke mushola
sendiri ( khususnya untuk sholat Subuh, sedang untuk sholat-sholat lainnya
pak Didi sering diantar oleh istri atau cucunya ). Pak Didi yang telah
membukakan kesadaranku, memberiku semangat untuk terus sholat berjamaah di
mushola. Dan jika kini aku mencoba kembali menulis tentangnya, semua karena
‘hoby’ barunya.


Seminggu terakhir, pak Didi sedang rajin menghafalkan ayat-ayat suci Al
Quran. Kalau surah Yaasiin sudah lama beliau hafal. Yang sekarang sedang
menarik minatnya untuk dihafalkan adalah surat An Nisaa’ ayat 59–60. Pernah
aku bertanya ada apa dengan ayat ini, sehingga beliau tergerak untuk
menghafalkannya, apakah ayat-ayat sebelumnya sudah hafal semua ataukah ada
pengalaman khusus dengan ayat ini? Dengan tersenyum ramah ( salah satu ciri
khasnya ) beliau katakan bahwa sebenarnya ayat-ayat lainnya belum hafal,
tapi belaiu tertarik untuk menghafal ayat tersebut lantaran beliau pernah
mengikuti sebuah pengajian yang kebetulan membahas ayat tersebut.


Bagaimana pak Didi belajar menghafal, sedangkan membacapun beliau tak
bisa?. Adalah Haji Sidik atau terkadang pak Minong yang sering mendampingi
pak Didi menghafal, sambil menunggu datangnya waktu Isya. Dan meski sudah
tergolong ‘sepuh’, daya ingat pak Didi ternyata masih cukup kuat. Itu
kuketahui ketika kemarin malam aku dimintanya untuk mendampingi beliau
menghafal surat An Nisa ayat ke-59 dan 60. Kebetulan malam itu hanya ada
aku dan pak Didi, jamaah lainnya yang biasa mengaji sudah pada pulang,
barangkali ada satu keperluan sehingga mereka baru datang kembali beberapa
saat sebelum azan Isya berkumandang. Dua ayat yang cukup panjang ini mampu
dihafal pak Didi dengan baik. Aku menyimak hafalan pak Didi sambil membuka
Al Quran. Hampir semuanya betul, hanya ada beberapa yang tajwidnya kurang
pas ( menurutku ).


Selanjutnya pak Didi minta agar aku membacakan ayat selanjutnya. Dan
Subhanallah, hanya beberapa kali kubacakan, pak Didi langsung bisa
menghafalnya. Bahkan, secara tak sengaja akupun jadi ikut menghafalkan,
meskipun baru satu ayat. Alhamdulillah.


Satu hal yang kudapat dari belajar menghafal bersama pak Didi malam itu.
Semangat pak Didi yang menggebu, dan ini membuatku merasa malu. Aku
teringat masa kecil di kampung dulu, almarhum Romelan mengajari kami
menghafal juz Ama. Hampir semua surat-surat di juz ke-30 berhasil kami
hafalkan meskipun baru sebatas hafalan tanpa mengerti arti dan
kandungannya. Tapi kini, Astaghfirulloh! Tinggal beberapa surat yang masih
kuingat, itupun terbatas pada surat-surat yang biasa kubaca di setiap
sholat.


Pernah beberapa waktu yang lalu, aku mencoba menghafalkan kembali
surat-surat pendek ditambah dengan artinya. Namun sayang, hafalanku
terhenti di surat Al ‘Ashr. ‘Kesibukan’ duniawiku menjadi alasannya.
Astaghfirulloh, ampuni aku ya Allah.


Dan malam itu, ketika pak Didi meminta ( tepatnya mengajakku ) menghafal
bersama, muncul sebuah keinginan untuk kembali membenahi hafalanku yang
dulu. Bukan hanya hafal bacaannya, tapi juga artinya. Dengan mengerti
artinya, mudah-mudahan kedepannya bisa memahami kandungannya, insya Allah.
Terima kasih pak Didi, kembali untuk kedua kalinya engkau telah membukakan
kesadaran sekaligus memberikan semangat padaku. Semoga Allah menetapkan
hidayah itu padamu, juga kepadaku. Amin.


***


Tangerang, 19 Mei 2010


Kudedikasikan tulisan ini untuk pak Didi, semoga engkau adalah orang yang
dimaksudkan oleh Rosululloh dalam sabdanya berikut ini.


Dari Anas r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah 'Azza wa jalla berfirman: "Jikalau Aku memberi cubaan
kepada hambaKu dengan melenyapkan kedua matanya -yakni menjadi buta-,
kemudian ia bersabar, maka untuknya akan Kuberi ganti syurga kerana
kehilangan keduanya yakni kedua matanya itu." (Riwayat Bukhari)

Kirim email ke