Seri : Info Palestina
Kamis, 03 Juni 2010, 21:44 WIB 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Selain Mavi Marmara, ada satu lagi kapal pengangkut 
bantuan kemanusiaan untuk Gaza yang namanya cukup terkenal. Kapal itu bernama 
Rachel Corrie. Saat ini, Kapal Rachel Corrie sedang berlayar menuju Gaza, 
setelah bertolak dari Malta pekan lalu. Siapakah Rachel Corrie?

Dia adalah aktivis muda yang berjuang keras untuk membebaskan Gaza dari 
cengkeraman rezim zionis Israel. Corrie meninggal pada usia 23 tahun pada 16 
Maret 2003 karena dilindas buldozer Israel. Saat itu, dia berupaya menghentikan 
penggusuran paksa rumah milik warga Gaza oleh Israel.

Untuk menghindari penggusuran, perempuan asal Washington itu pun pasang badan. 
Langkah ini pun harus dibayar mahal. Buldozer Israel kemudian menabrak dan 
melindasnya berkali-kali. Tubuh Corrie pun hancur. Dia menjadi martir bagi 
perjuangan membela Gaza.

Setelah menamatkan SMA, Corrie kemudian melanjutkan studinya ke The Evergreen 
State College. Di sinilah dia kemudian bergabung dengan gerakan kemanusiaan 
bernama Olympia Movement for Justice and Peace. Dari situ, dia lantas masuk 
International Solidarity Movement (ISM).

ISM didirikan tahun 2001, dan menjaring manusia dari berbagai penjuru dunia 
untuk menjalankan aksi damai melawan kekejaman zionis Israel. Gerakan ini 
berupaya untuk menekan Israel dan tentaranya supaya menghentikan penjajahan 
terhadap Palestina.

Untuk melancarkan aksinya, Corrie, kemudian berangkat ke Rafah di Jalur Gaza 
pada tahun 2003 dan mengikuti pelatihan selama dua hari untuk menjalankan aksi 
damai. Begitu menyaksikan banyaknya rumah warga Palestina yang dihancurkan 
Israel, dia sangat geram. Dia juga menyaksikan betapa setiap hari warga 
Palestina dibunuh oleh Israel.

Corrie merekam semua kejadian ini dalam email yang dikirimkan kepada 
keluarganya di Washington. "Wahai kawan dan keluarga, saya sudah dua pekan satu 
jam di Palestina. Saya masih kesulitan berkata-kata untuk bisa menggambarkan 
kondisi yang saya lihat di sini. Sungguh ini kondisi paling sulit buat saya 
untuk memikirkannya sambil duduk dan menuliskan kembali setelah berada di 
Amerika," begitu bunyi salah satu email Corrie yang dikirim 7 Februari 2003.
sumber : www.republika.co.id

Kirim email ke