Suatu hari seorang perajurit bersama komandannya naik kereta api menuju
markas mereka di luar kota. Kerana tidak ada tempat duduk lain yang
kosong, maka mereka pun duduk berhadapan seorang wanita muda cantik
dengan neneknya.

Setelah beberapa lama, wanita muda dan perajurit itu saling menyukai
satu sama lain.
Mereka pun sering jeling menjeling dan berkenyit mata untuk menunjukkan
perasaan mereka. Tak berapa lama setelah itu, kereta api pun memasuki
sebuah terowong. Keadaan menjadi gelap. Tiba-tiba terdengar suara ciuman
yang diikuti oleh bunyi tamparan. Setelah kereta api tersebut keluar
dari terowong, keempat orang tadi duduk dengan tenangnya tanpa berbicara
sedikit pun. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing.

Si nenek berfikir dan berkata kepada dirinya sendiri, "Sangat memalukan
perajurit muda itu mencium cucuku, tetapi nasib baik cucu aku
menamparnya."

Si komandan pula tenggelam dalam lamunannya. "Tak sangka anak buahku ini
berani mencium gadis cantik itu, tetapi terbukti gadis cantik itu tak
suka padanya. Buktinya dia menampar anak buahku. Tapi sayang, aku yang
kena."

Gadis cantik itu pula berkata dalam hatinya, "Gembiranya aku kerana
akhirnya perajurit tampan itu berani menciumku, malangnya nenek pulak
menamparnya."

Si perajurit muda nampak tersenyum puas dengan muka penuh kegembiraan.
Dia berkata
kepada dirinya sendiri, "Hidup ini indah, aku bukan saja dapat mencium
seorang gadis cantik, tetapi sekaligus menampar komandan sendiri."

YUSRIZAL BIN IBRAHIM
-The difference between ordinary and extraordinary is that little
"extra".-

Kirim email ke