From: GBI Buaran 

Syaloom! 
Apa kabar saudara seiman dalam Kristus? Kami berdoa semoga kiranya berlimpahkasih dan 
sukacita oleh kemurahan Tuhan kita Yesus Kristus.
 
Berikut ini kami posting artikel yang di tulis oleh Bapak Joshua MS, STh dan di muat 
dalam Harian Sore Ibukota "Sinar Harapan" edisi sabtu, 15 mei 2004. Artikel ini di 
posting dengan se ijin beliau. Kiranya dapat menjadi berkat. Selamat membaca.
 
Perempuan Itu Aku Panggil Ibu
Oleh: Joshua MS 

Entah sudah berapa kali aku berkunjung ke kampung sunyi ini, tetapi jumlah kunjungan 
ternyata tidak mampu mengikis rindu dan gundah yang  meronta-ronta. Setiap kali aku 
menginjakkan kaki di teras rumah tua itu, berbagai gejolak berkecamuk silih berganti. 
Lembar-lembar memory masa kecilku seperti potongan-potongan slide yang silih berganti 
bermunculan. Seperti sebuah adegan drama kehidupan, kenanganku di rumah tua ini seolah 
tak pernah pudar di lindas waktu.  

Dua puluh delapan tahun silam, kisah itu di mulai. Hari Selasa, tepat jam 10 pagi, 
seorang perempuan muda tak berpengalaman menghempas-hempaskan tubuhnya di atas dipan. 
Tak lama berselang, perempuan itu tergeletak tak berdaya setelah berjuang melawan 
kontraksi otot rahim. Perempuan itu telah hampir semalaman berjuang menahan rasa sakit 
untuk persalinan anak pertamanya. Entah berapa kali dia menjerit dan berteriak sangat 
keras. Tembok putih ruangan  praktek bidan desa itu bergema memantulkan gaung 
jeritnya. Hingga, ketika matahari pagi mulai meninggi, suara tangisan mungil seorang 
bayi memecah sunyi. Seorang bayi laki-laki mungil untuk pertama kalinya menyapa dunia 
dengan tangisan melengking. Perempuan itu beberapa saat tertegun.  

Seolah tidak merasakan lagi penderitaannya semalamam, perempuan itu menantikan anaknya 
di mandikan. Tidak sabar ia iangin segera memeluk eret-erat bayi itu. Ia tidak 
mempedulikan keringat yang mengalir deras dari pori-pori dahinya. Kebahagiaan memancar 
dari raut wajahnya yang kelelahan.  

Seperti sebuah badai bersama sambaran petir, menit-menit pertama yang penuh sukacita 
itu seketika buyar. Untuk pertama kalinya, perempuan itu terpaku dalam ketidak 
percayaan. Hatinya meronta dan menangis. Sedu sedan mengganti wajah riang beberapa 
menit yang lalu. Entah terbuat dari apa hati perempuan itu. Setelah sekian lama 
bergelut dengan sapaan penderitaan, sekarang dia harus merawat seorang bayi prematur.  

Sahabat penderitaan itu sesunguhnya mulai menyapanya sejak pertama kali menginjak 
rumah sang mertua. Seorang pemuda yang dia anggap sebelumnya berhati pangeran berbudi 
luhur, ternyata hanya pada saat mengucapkan janji nikah di altar gereja saja terlihat 
mempesona. Selebihnya, pemuda yang resmi menjadi suminya itu tidak lebih dari pemuda 
berandal yang tidak bertanggungjawab.  

Tidak tanggung-tanggung, pemuda itu seolah tidak merasa bersalah melemparkan apa saja 
yang dapat di jangkau tangannya. Mulai dari piring terbang hingga membanting pintu. 
Rumah itu menjadi saksi bisu kekerasan seorang suami. Tidak hanya sampai di situ, 
berkali-kali tamparan keras menimbulkan sembab di kedua belah pipi perempuan itu. 
Sekali waktu, tamparan keras membuat tidak hanya sekedar sembab, darah segar mengalir 
dari sela-sela bibirnya. Kekejaman suaminya itu semakin menjadi-jadi setelah mertuanya 
meninggal dunia. Seolah lepas kendali dan kerasukan, suaminya semakin tidak manusiawi. 

Mulai dari hidup tidak karuan, judi, mabuk-mabukan, sampai main perempuan, pemuda itu 
seolah-olah lupa bahwa dia telah punya seorang istri. Pulang ke rumah hanya untuk 
melampiaskan emosi yang tidak tersalurkan di luar sana.  Itulah suasana rumah tangga 
yang ada. Hingga suatu hari, karena usia kandungan, dengan berat hati perempuan itu 
meninggalkan rumah. Dengan air mata, perempuan itu kembali ke rumah orang tuanya. 
Entah karena apa, pesan pernikahan di altar gereja untuk tunduk pada suami sangat di 
hayatinya.  

Hari ketika aku, bayi prematur itu lahir, pemuda yang tak lain adalah ayahku itu entah 
berada di mana. Seharusnya dia menemani istrinya berjuang menentang maut. Setelah 
beberapa hari, laki-laki itu baru hadir dengan tidak bersimpati sedikitpun. Hingga 
bertumbuh jadi seorang anak normal setelah melewati masa kritis bagi setiap bayi 
prematur, aku tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang sebagai seorang ayah 
darinya.   

Setelah melalui masa kritis, aku bertumbuh menjadi seorang yang sangat tergantung. 
Baik kepada pertolongan dan bantuan medis, hingga ketergantungan kepada orang lain. 
Aku bertumbuh menjadi seorang remaja yang sangat rentan terhadap serangan penyakit.  
Hampir sepanjang tahun aku lalui dengan berbagai-bagai penyakit. Oleh kehadiran 
seorang perempuan yang  dengan setia selalu mendampingi masa-masa sukar, aku dapat 
bertahan. Entah akan apa jadinya, jikalau ketika suhu tubuhku di atas normal, 
perempuan itu tidak ada. Ketika paru-paru menyempit sehingga aku harus tidur dalam 
satu posisi dan megap-megap mencari oksigen, akan seperti apa aku tanpa kehadiran 
perempuan itu. Hampir setiap rasa sakit yang mendera semua sistem organ tubuhku, 
perempuan itu selalu ada si sebelah tempat tidur. 

Dengan beban yang sangat berat, perempuan itu merawat dan menjaga aku tanpa kontribusi 
seorang laki-laki yang di sebut ayah. Dengan segala keterbatasannya, dengan setia dia 
bekerja dan berdoa. Yang pertama untuk pertobatan laki-laki tanbatan hatinya, ayahku, 
dan yang ke dua untuk kesembuhanku. Dari keterbatasan perempuan yang hanya sempat 
mengenyam pendidikan SMP itu, ia bekerja dan berdoa tanpa putus asa. Hingga akhirnya, 
pada satu hari menjelang petang.  

Sore itu, seperti biasanya, aku tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu si 
sebuah Sekolah Menengah Atas milik pemerintah. Aku telah di terima di sebuah sekolah 
negeri. Aku sangat bersyukur, walaupun aku bertumbuh sebagai remaja yang kurang sehat, 
aku dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata. Hampir setiap kelas yang aku ikuti dari 
Sekolah Dasar hingga sekarang SMA selalu mencatatkan aku sebagai murid yang 
berprestasi. Aku tidak habis mengerti mengapa itu bisa terjadi, karena menurut catatan 
medis, seharusnya aku menjadi murid yang biasa-biasa saja di sekolah. Mungkin ini 
salah satu bentuk kemahaadilan Tuhan. Barangkali. 

Suasana rumah sore itu seperti biasanya sepi. Aku segera bergegas ke dapur. Setelah 
beberapa jam dalam perjalanan di bawah terik matahari, aku sangat kehausan. Ketika 
kakiku bergegas ke dapur, tanpa sengaja ekor mataku melirik ke arah sebuah kamar. 
Kamar yang hanya di tempati  ayahku untuk tertidur pulas. Sayup-sayup aku mendengar  
suara tangisan tertahan. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk mengintip 
dari celah-celah pintu. Sebuah pemandangan yang sangat tidak lajim. 

Ayahku sedang sujud berdoa dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Untuk pertama 
kalinya aku melihat laki-laki itu menangis. Belakangan aku mengerti bahwa ayahku telah 
mengalami sebuah perjumpaan supranatural dengan Tuhan. Ia adalah seorang yang selama 
ini hanya secara simbolik menjalankan agama yang di percayainya. Lewat sebuah 
kebaktian malam menjelang hari pentakosta, ia telah mengalami perjumpaan supranatural 
dengan Tuhan Yesus. Tanpa berdaya untuk membantah, ayah seolah di dorong dan di 
"paksa" untuk bertobat dari jalan-jalanya yang sesat.  

Setelah 16 tahun berdoa dan mencucurkan air mata, perempuan yang aku panggil ibu itu 
akhirnya menerima jawaban. Laki-laki tidak bertanggungjawab yang adalah ayahku itu, 
akhirnya mengenal siapa dirinya dan siapa Allah yang menciptakannya. Pengenalan itulah 
yang akhirnya menuntun laki-laki itu menjadi seorang suami yang baik. Lewat proses 
yang panjang, ia telah menjadi kepala rumah tangga yang sungguh sangat bijaksana.  

Jawaban doa yang paling membuat dia berbahagia adalah ketika oleh sebuah mujizad, 
Tuhan menyembuhkan aku dari semua sakit bawaan lahir. Peristiwa itu terjadi pada satu 
malam menjelang tidur. Malam itu, seperti biasanya setelah selesai belajar, aku hendak 
beranjak tidur. Tiba-tiba sebuah cahaya sangat terang, memancar dari sudut 
langit-langit kamar tidur tepat mengenai tubuhku yang terlentang di atas dipan. 

Sejujurnya, kami sekeluarga bukanlah keluarga Kristen yang religius. Dan 
pengalaman-pengalaman berbau religius bukanlah hal yang lajim dalam keluarga kami. 
Dari semua anggota keluarga, hanya ibu yang tekun dalam doa dan ibadah. Tetapi sungguh 
ajaib, sejak peristiwa malam itu, aku merasa tubuhku sangat sehat. Sejak peristiwa 
aneh dan ajaib malam itu, semua terapi medis secara total berhenti. Aku benar-benar 
dinyatakan sembuh.   

Aku menarik nafas dalam-dalam. Sebelum aku mengetuk kembali pintu rumah tua ini, ada 
sebuah kekuatan yang sangat kuat mendorongku untuk segera berlari ke dalam. Setelah 
melalui penerbangan yang melelahkan, dan perjalanan darat hampir setengah hari, 
akhirnya aku kembali ada di sini. Di teras rumah tua yang penuh kenangan. Bukan lagi 
sebagai bayi prematur berkulit keriput, bukan juga remaja pemalu yang sakit-sakitan, 
sekarang aku berdiri di teras rumah ini sebagai seorang pemuda gagah. Seorang pemuda 
bergelar sarjana. Seperti cita-cita dan doa perempuan berhati mulia itu, aku telah 
menyelesaikan 5 tahun masa belajar di sebuah seminari. 

Sayup-sayup langkah perempuan itu mendekat pintu. Tidak sanggup untuk lebih lama 
menunggu aku berlari menubruk tubuh ringkuhnya. Wajahnya yang semakin menua, tetap 
bersinar di sela-sela senyumnya yang tidak pernah berubah. Air mata hangat dari 
matanya menetes ketika memeluk keras-keras leherku. Ah,.Ibu! Betapa aku tidak lagi 
hanya sekedar berbahagia, tetapi rasanya aku adalah anak paling berbahagia saat ini. 
Ketika seorang laki-laki yang sedari tadi memandangiku dari jauh. Dari pintu kamarnya 
dia menatapiku dengan mata berkaca-kaca. Ah,. Ayah!  Setengah menjerit aku memangil 
namanya dan berlari menjagkau tubuhnya yang mulaimenua. Dalam tangis bahagia, aku 
memeluk erat-erat lehernya. Betapa aku adalah orang yang sangat berbahagia dan 
bersukacita hari ini. 

Dari Seorang Anak
Joshua MS
Jl. Raden Inten II Blok A/10-11 Taman Buaran Indah Klender Jakarta Timur 13470 
Phone               +6221 86601359
Mobile             +62818 724570
e-mail               [EMAIL PROTECTED]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/IYOolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke