From: "T[O]M[O]N[E]" <[EMAIL PROTECTED]> Pertanyaan Tentang Cinta
Amsal 22 : 11 Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja. ************************************************************** Para lelaki datang dan pergi. Para lelaki menjelang, lalu sunyi. Tapi tak seorang pun di antara mereka yang meninggalkan cinta buat Yani. Karenanya, Yani terus mereka-reka, macam apakah gerangan cinta? Lalu Yani pun bertanya kepada bundanya, seperti apakah rasanya cinta. Maka seperti anda dan semua warga bumi, tak pernah benar-benar jelas memaknai kata sifat berjumlah lima huruf itu: cinta! Sempat ia mengira, ia lahir karena cinta kedua orang tuanya. Tapi pada akhirnya, ia tahu, betapa perhitungan untung rugi lebih berat mewarnai kehidupan kedua orang tuanya ketimbang gambaran kemulyaan mengenai cinta yang melulu cuma memberi zonder berharap menerima imbalan. Ya, seperti matahari itulah. Seperti bumi itulah. Juga seperti bulan dan bintang. Memberi kehangatan, kehidupan, sekaligus keindahan, selama beribu-ribu tahun tanpa mengeluh. Tapi mereka yang menyala-nyala mengatakan cinta, termasuk kedua orang tuanya, senantiasa berkalkulasi tentang seberapa banyak memberi dan seberapa besar menerima dari pasangannya masing-masing. Karenanya, rumah para pembual cinta lebih banyak diwarnai oleh keributan dari pada tawa bahagia. Atau..., sekali sekala, atas nama etiket, mereka membungkus bara dalam rumah dengan senyum yang artifisial. Ah, siapa yang tabah mengejar cinta, jika urusan perut, kehormatan, jabatan, dan rengekan anak sedemikian menggoda? "Ada nggak, sih?" Yani bertanya kepada Don, kekasihnya, pada sebuah senja di Utara Jakarta. Langit masih hitam kendati tadi urung hujan. Angin daratan Asia yang basah, ternyata tak kuasa mencairkan gugusan mendung yang menggantung di langit. "Apa?" tanya Don pura-pura bego. Angin yag lembut membelai rambut Yani yang sebahu. Matanya yang jernih memandang Don, minta jawaban segera. "Cinta." Don masih diam. Mata Don kemudian mengukur kesungguhan atas pertanyaan kekasihnya itu, juga melalui pandang mata perempuan muda itu. "Ada nggak?" "Ada." "Di mana?" "Di tempatnya yang rahasia." "Di mana itu?" "Diceruk terdalam jiwamu." "Begitu dekat,..." "Sekaligus jauh." "Kok?..." "Sebab jiwa, adalah juga semesta yang tak ketulungan luasnya." "Lebih luas dari bumi?" "Ya." "Lebih luas dari matahari?" "Bahkan lebih luas dari segenap galaksi." "Mana mungkin aku bisa menjangkaunya?..." "Jangan putus asa, mungkin saja kamu bisa menemukannya." "Caranya?" "Carilah." "Jangan bercanda, aku juga terus mencarinya." "Ke mana kamu mencarinya?" "Pada tiap lelaki yang datang kepadaku." "Ketemu?" "Nggak." "Hua ha ha..." "Nggak lucu, aku serius, Don!" "Aku juga serius." "Kenapa kau mentertawakanku?" "Karena dijamin nggak bakal ketemu." "Sok tahu lu!" "Barangkali karena aku memang lebih tahu ketimbang kamu mengenai perkara cinta." "Jangan bertele-tele, tunjukan aku ke mana aku harus mencari cinta." "Kenapa harus mencari pada orang lain, sedang ia bersama dirimu sendiri?" "Lalu apa faedahnya kekasih?" "Macam aku?" Yani yang sedang dilanda amarah cuma melotot menyaksikan Don yang masih cengar-cengir. "Kekasih adalah teman bagimu untuk mencari cinta." "Lalu apa perasaanmu kepadaku?" Don diam sejenak. Ia pandangi wajah kekasihnya lekat-lekat. Lalu katanya... "Bohong kalau aku nggak sayang kepadamu." "Lantas apa artinya sayang?" "Sayang cuma salah satu pancaran cahaya cinta. Dialah yang membuatku cemas saat aku tahu kamu dihadang hujan, saat kamu sedang sakit. Dialah yang membimbingku mengarungi belantara ibu kota untuk menjemputmu sepulang kerja. Dialah juga yang mendorongku untuk menghiburmu saat kau sedang berduka." "Begitu juga perasaan yang ada pada kedua orang tuaku dan pasangan suami istri di dunia ini? Cuma sekedar sayang?" "Aku bukan petugas sensus yang tahu segalanya tentang manusia. Tapi setahuku, milyaran manusia telah gagal mengejar cinta." "Apa buktinya?" "Bumi yang kita diami tak pernah menjadi sorga, ia malah kian menjadi siksa bagi penghuninya." "Kenapa?" "Sebab banyak yang menterjemahkan cinta dengan membabi-buta. Kita mengatasnamakan cinta, padahal yang kita kerjakan adalah sekedar memenuhi dorongan naluri binatang yang berujung pada pengejaran kenikmatan tidur, makan, dan bersetubuh." "Lalu...?" "Ditambah lagi oleh dorongan yang dimiliki tiap manusia untuk bermegah-megah, sombong, iri, dengki, berkuasa, maka sesungguhnya cinta itu pun makin tersembunyi." "Siapa yang menyembunyikannya?" "Kita sendiri. Kita telah membangun kebun binatang di jiwa kita. Kita telah menutupi taman jiwa dengan belukar keserakahan kita." "Bukankah begitu adanya kewajaran hidup kita?" "Makanya cuma sedikit yang mengenal cinta." Angin mendesir menggoyangkan dedaunan kelapa. Layar-layar perahu nelayan di Teluk Jakarta berkebaran bersama senja. Sepasang kekasih itu masih juga sibuk membicarakan cinta. "Don..." "Ya." "Aku kepingin benar mengenal cinta." "Sungguh?" "Ya." "Kenalilah dulu pemiliknya." "Siapa gerangan yang memilikinya?" "Dialah yang menggerakkan lidahmu untuk berkata-kata. Membuka telingamu untuk mendengar. Menggerakkan kemauanmu untuk bertindak. Memfungsikan otakmu untuk menyerap pengetahuan. Memberi kemampuan bagi matamu untuk melihat..." "Sudah..sudah, pusing aku." "Katanya mau mencari cinta. Mustahil kamu akan mengenal cinta jika tak pernah mengenal pemiliknya." "Iya, tapi tidak serumit ini." "Ini bukan matematika, kekasihku. Ini juga bukan Ilmu Sistem politik Rusia dan Eropa Timur yang membuat 90 persen mahasiswa di kelasmu mendapat nilai C waktu kau kuliah dulu. Perkara cinta dan pemiliknya, makin dipikir makin tak ketemu ujungnya." "Terus?" "Kerjakan saja semua kebaikan semampu kau mengerjakannya. Mudah-mudahan kau akan mengenal pemilik cinta." "Setelah itu?" "Setelah itu, mudah-mudahan kau akan mendapatkan cinta sesuai dengan kebaikan yang telah kau kerjakan." "Cinta itu kebaikan ya Don?" "Cinta bagai manikam yang memancarkan keluhuran, keagungan dan kemulyaan." Kemudian pemilik cinta menggerakan lidah, tubuh dan jiwa sebagian orang di senja itu untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, kalimat yang memuji dan mengharap kebaikan dari pemilik cinta. Don dan Yani ada bersama mereka. Mereka serempak dalam gerak dan kalimat yang terpuji. Hari mulai berangkat malam. Don dan Yani mampir di sebuah kedai untuk makan malam. Saat menunggu makanan datang, udara dipenuhi oleh suara para pembual cinta yang telah dikemas menjadi industri hiburan bernama sinetron. Usai makan, mereka pun berlalu dari tempat itu. Gerimis menjemput mereka di jalanan kota Jakarta yang saling silang. "Don..." "Ya..." "Aku malu." "Kenapa?" "Ribuan kata cinta pernah keluar dari mulutku, padahal aku tak tahu apa-apa tentang cinta." "Sebagian besar orang berbuat hal yang sama dengan dirimu, termasuk aku." Di sepanjang jalan, sepasang kekasih itu pun kembali menyaksikan sejumlah penggoda jiwa berupa papan reklame, apartemen, hotel, tempat hiburan, dan gedung parlemen. "Don..." "Hmm..." "Kamu mau nggak?" "Mau apa?" "Menemaniku mencari cinta." "Hmm..." Dua orang pengamen mencegat mereka di perempatan Blok M yang baru usai diguyur hujan. Lalu dari kaca jendela mobil yang mereka kendarai, terdengarlah suara pengamen itu yang menyanyikan sebuah lagu dari Koes Plus. Cinta buta... Cinta buta... Tanpa mata dan telinga... Bruk! Mendadak sebuah motor menubruk mobil yang dikendarai sepasang kekasih itu. Don bukannya marah, malah terbahak-bahak. "Kenapa, Don?" "Yang nabrak kita barangkali sedang dilanda cinta." [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [EMAIL PROTECTED] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

