PUNAI DI TANGAN atau BURUNG DI UDARA?
-- MENGAPA SAYA MEMILIH MEGA? --
Eka Darmaputera
PENDAHULUAN
Mengapa saya memilih Mega? Saya akui, judul tersebut terdengar provokatif. Tapi pasti
tidak salah. Kita - sebagai bangsa dan sebagai gereja - telah tiba di satu titik, di
mana kita mesti mempunyai pilihan yang jelas. Tidak bisa lagi main "netral-netral"an.
Di sini, terus terang, saya iri kepada gereja Roma Katolik.
Mengapa saya memilih Mega? Apakah karena saya anggota PDIP? Tidak! Saya memang anggota
PDIP. Tapi bukan karena itu, saya memilih pasangan ini. Saya memilih Mega, demi Tuhan,
bukan sebagai partisan partai politik tertentu. Bukan pula secara oportunistik Di mana
saya memilih yang paling populer dan kira-kira akan menang. Para konglomerat,
khususnya yang "hitam", memang begitu. Tapi pilihan saya ini, kita tahu, justru sedang
merosot deras popularitasnya. Jadi mengapa saya memilih "dia", sementara orang banyak
meliriknya pun tidak?
Saya memilih Mega, karena alasan-alasan (yang saya anggap) "obyektif' dan "realistis".
Obyektif', karena saya punya dasar-dasar yang rasional untuk itu. Dan "realistis",
karena saya seperti kita semua - mengetahui, keduanya bukanlah calon-calon yang
"ideal". Namun demikian, pasangan inilah yang "terbaik" di antara yang "buruk". The
best among the worst.
Toh, saya akui, tidak mungkin saya bisa obyektif 100 persen. Tak seorang pun bisa.
Bagaimana pun, pilihan saya itu, pada akhirnya, tidak mungkin terlepas dari realitas
dan perspektif saya sebagai seorang Kristen, sebagai seorang keturunan Cina, sebagai
seorang aktivis, sebagai seorang Pancasilais, dan karenanya seorang yang inklusif,
pluralis, dan "committed" kepada NKRI.
Pada waktunya saya akan menjelaskan lebih lanjut makna dari semua yang saya katakan
itu. Tapi sebelum itu, perkenankanlah saya menjawab dulu pertanyaan yang kemungkinan
besar mengganjal di benak dan hati Anda. Yaitu, pantaskah dalam forum seperti ini,
kita menyebut nama? Sebagai "gereja", khususnya gereja-gereja Protestan, Wan maunya
kita ini serba netral, serba aman - walau, sebagai konsekuensinya, kita lalu menjadi
serba tidak jelas dan tidak tegas dan, yang memrihatinkan, tidak terkoordinasi.
Jawab saya adalah, mengapa tidak?! Why not? Pertama, dengan sadar dan sengaja, saya
memberi judul presentasi saya ini, "Mengapa saya memilih Mega?". Maksudnya, saya tidak
mengatas-namai siapa pun, kecuali mewakili diri saya sendiri. Itu sebabnya saya tidak
memilih judul, misalnya, "Mengapa GKI harus memilih Mega?" . Atau, "Anda cuma punya
satu pilihan: Mega!". Tidak.
Karenanya, seperti nampak pada judulnya, presentasi ini pada hakikatnya adalah sebuah
kesaksian; sebuah upaya berbagi (= sharing). Tidak lebih, tidak kurang. Bukan fatwa.
Bukan kampanye.
Saya ingin bersaksi dan berbagi dengan Anda, hal-hal yang saya anggap benar, baik,
penting, dan perlu untuk Anda ketahui. Jadi, mengapa tidak boleh bersaksi dan berbagi?
Kalau Slamet Rahardjo Djarot boleh bersaksi di televisi, mengapa ia memilih Amien
Rais, mengapa saya tidak boleh bersaksi di hadapan Anda mengenai pilihan saya?
Bahwa Anda sudah punya pilihan yang lain, itu sepenuhnya adalah hak dan kebebasan
Anda. Tak sedikit pun saya bermaksud mengusiknya. Bahkan, bila berkenan, saya ingin
mengajak Anda bertukar pandangan dan berbagi argumentasi mengenai perbedaan tersebut.
Siapa tahu, Anda lebih benar dari pada saya.
Presentasi saya ini tidak terutama saya tujukan kepada Anda yang telah mempunyai
pilihan yang mantap dan pasti. Melainkan dengan penuh kerendahan hati, saya tujukan
bagi Anda -- saudara-saudari saya seiman dan sebangsa -�yang: (a) masih bingung dalam
menentukan pilihan; atau (b) sudah mempunyai pilihan, tapi sebenarnya berdasarkan
pertimbangan yang (saya anggap) salah dan/atau informasi yang kurang lengkap.
STRATEGI
Bagaimana saya tiba pada pilihan saya? Pertama, saya mempunyai perhitungan matematis
yang amat sederhana untuk tiba pada pilihan itu. Begini. Saya tahu, banyak
suadara-saudara saya seiman yang telah mantap memilih SBY. Mengenai ini saya tidak
merasa terganggu, walau saya mempunyai catatan dan penilaian sendiri tentang pasangan
SBY-Kalla ini.
Perhitungan saya begini. Dengan atau tanpa suara Anda, artinya Anda memilih dia atau
tidak, pasangan ini akan lolos ke putaran kedua. Jadi yang harus menjadi concern utama
kita sekarang, menurut pendapat saya, adalah pasangan mana yang mesti kita perjuangkan
untuk lolos ke 20 September nanti. Ada tiga kemungkinan yang paling realistis,
pasangan AR-SY, pasangan W-SW, dan pasangan M-HM.
Nah, pertanyaan kita menjadi sedikit lebih sederhana. Apa anda ingin Amien Rais yang
menang? Atau Wiranto? Atau Mega? Kalau saya, pertanyaan seperti ini mudah sekali untuk
kita jawab. Di antara tiga alternatif itu, pasangan M-HM tidak dapat tidak - dari
perespektif kita - adalah yang paling kita kehendaki untuk lolos.
Tapi ini tidak mudah Kans M-HM untuk lolos, sampai sekarang, adalah fifty-fifty - atau
malah kurang. Karena itu, kalau kita memang betul-betul yakin akan pilihan kita, kita
harus berjuang, bekerja keras, untuk mengusahakan tambahan suara. Bahkan, demi
strategi kita, saya ingin Anda yang telah mantap memilih SBY - paling tidak untuk
putaran ini - mengalihkan suaranya untuk M-HM. Bukan karena pilihan Anda itu salah,
tapi agar 20 September nanti yang maju adalah pasangan-pasangan yang paling kita
kehendaki Sementara itu, pilihan Anda - SBY-YK - toh saya yakin akan maju, walaupun
kali ini suara Anda bukan untuk mereka.
Jadi strategi kita, menurut pendapat saya, adalah untuk putaran pertama ini, paling
jauh adalah pasangan yang kita kehendaki maju, dan paling tidak (sekiranya pun M-HM
gagal) pasangan yang tidak kita kehendaki jangan sampai maju. Menghadapi putaran
kedua, kita akan memikirkan strategi yang lain lagi. Ini akan kita lakukan pada
waktunya.
PASANGAN YANG PADU
Setelah strategi kita jelas, tentu saja saya harus mempertanggungjawabkan mengapa saya
memilih Mega, Pertanyaan ini ingin saya letakkan dalam kerangka pertanyaan yang lebih
substansial. Bagaimana sih gambaran kita mengenai siapa presiden dan wakil presiden
yang "ideal" itu? Ini tidak sulit dijawab.
Bagi saya, dan saya kira kita semua setuju, (a) keduanya - capres dan cawapres - itu
harus merupakan sebuah "simbiosis" yang baik. Mitra yang sejajar. Penolong yang
sepadan. Maksud saya, mitra yang lain itu tidak boleh hanya "dicomot", sekadar demi
bisa meraup suara sebanyak-banyaknya. MisaInya, karena yang satu "Jawa" maka yang lain
sebaiknya "non-Jawa"; atau karena yang satu "militer" yang lain "sipil"; atau karena
yang satu "islami" yang lain "nasionalis". Sebab yang mesti lebih dipertimbangkan
adalah: apakah, sekiranya terpilih, mereka berdua akan merupakan pasangan yang
benar-benar "padu".
Sebab itu menarik sekali mendengar Pak Hasyim Muzadi mengatakan, bahwa ia menerima
"lamaran" Megawati, justru untuk menghilangkan dikotomi antara "nasionalis" dan
"Islam", serta untuk mengintegrasikan pekik "Merdeka!" dan "Allahhu Akbar'. Menarik
pula kesaksian pribadinya, mengapa ia menampik lamaran calon yang lain. Karena ia
tidak mau digulung tanpa daya oleh mesin politik yang telah keburu luar biasa kuat
dari pelamarnya itu. Ia ingin menjadi "equal partner" - yang aktif, saling mengisi dan
saling menyempurnakan. Dan ini, ia lihat mungkin ia lakukan, bila berpasangan dengan
Megawati dan tidak dengan Wiranto.
Jadi, bila Anda mau menilai, mana di antara lima pasangan yang ada yang sebaiknya Anda
pilih, lihat dan nilailah mana di antara mereka yang betul-betul bisa menjadi sebuah
"pasangan" yang harmonis, efektif dan produktif selama 5 tahun bekerja-sama nanti.
Sebab kalau tidak, maka rakyatlah nanti yang harus menanggung "excess baggage"
dibebani untuk memecahkan persoalan antar-mereka, bukan mereka yang memecahkan masalah
rakyat. Megawati dan Hasyim Muzadi, sepanjang saya mengenai mereka, memiliki
nilai-nilai dasar (= basic values) yang sama. MisaInya dalam mereka melihat dan
menyikapi masalah kemajemukan, kesatuan dan persatuan, perlakuan terhadap kelompok
minoritas, dan lain-lain.
Kemudian, masih ada tiga persyaratan pokok lagi yang harus dipenuhi oleh presiden dan
wakil presiden yang "ideal". Tapi mengenai ini, rasanya saya tidak perlu berbicara
panjang lebar, sebab telah dimuat dalam "Surat Penggembalaan BPMS GKI Menjelang Pemilu
Presiden 2004", yang diberi judul "Jangan Salah Pilih!". Saya akan mengutip yang
pokok-pokok saja.
AKSEPTABILITAS DAN KREDIBILITAS
Dua syarat ini dibutuhkan, khususnya dalam hubungan fungsi presiden sebagai "kepala
negara". Dengan "akseptabilitas", saya maksudkan, yang bersangkutan diterima oleh
rakyat dengan ikhlas sebagai presiden mereka, secara lintas etnis, lintas suku, lintas
ras, lintas daerah, lintas agama, dan sebagainya.
Konsekuensinya, yang bersangkutan haruslah orang yang berkepribadian inklusif, punya
komitmen nasional, seerta menghargai dengan sepenuh hati realitas kemajemukan
masyarakat kita.
Dan "kredibel", artinya: tidak boleh mempunyai cacat di bidang pelanggaran HAM berat,
serta tindakan-tindakan diskriminatif baik yang bersifat primordial, sosio-ekonomis,
maupun ideologis.
KAPABILITAS
Syarat ini mutlak dipenuhi oleh setiap pemimpin, apa lagi oleh seorang presiden,
Khususnya, dalam hubungan dengan fungsi yang ditentukan dalam UUD kita bahwa presiden
adalah "kepala pemerintahan" (berbeda dengan Singapura, misalnya).
Karena itu, yang patut kita pilih adalah calon yang kita yakini punya visi
kenegarawanan, kemampuan kepemimpinan, serta keterampilan manajerial yang memadai.
Kalau pun kualitas ini tidak dapat dipenuhi secara optimal oleh yang bersangkutan -
tidak dapat kita jadikan tuntutan mutlak, sebab bagaimana pun jabatan presiden adalah
jabatan politis, bukan profesi. Bnd. Ronald Reagan -- , kekosongan ini harus diisi
dengan membentuk sebuah tim kerja, yaitu kabinet yang kompak dan terdiri dari
tenaga-tenaga ahli.
Saya sangat setuju bahwa Indonesia membutuhkan sebuah pemerintahan yang kuat dan
efektif. Tapi mesti diingat, bahwa pemerintahan yang kuat sama sekali tidak identik
dengan kekerasan. Juga tidak ada hubungannya dengan figur militer atau sipil.
Pemerintahan yang kuat dan efektif akan lahir secara alamiah melalui legitimitas -
bukan sekadar legalitas -- dari rakyat, karena keteguhan prinsipnya, integritas
moralnya, dan keberhasilannya membangun semangat kebersamaan. Latar belakang yang kuat
dari Hasyim Muzadi dalam "Gerakan Moral Nasional", menurut saya, sangat membantu.
Dalam hubungan ini perlu pula saya sebutkan, betapa vitaInya sebuah pemerintahan yang
demokratis dan bersih itu. Karenanya, calon yang kita pilih wajib mempunyai komitmen,
keberanian dan kemampuan untuk memberantas segala bentuk korupsi dan penyelewengan.
Kita harus mewaspadai calon yang patut kita duga mempunyai kepentingan melindungi diri
dari kemungkinan tindakan hukum karena perbuatannya di masa lalu!
SIMPATI INTERNASIONAL
Syarat yang ketiga tidak kurang pentingnya khususnya dalam realitas politik global
dewasa ini. Dalam era globalisasi ini, kita betul-betul membutuhkan seorang presiden
yang diterima dan memperoleh simpati dunia internasional. Paling sedikit, tidak
berpotensi menghadapi masalah dalam hal ini.
Saya ingat apa yang pernah terjadi pada seorang presiden terpilih Austria. Ia terpilih
secara demokratis. Tapi beberapa negara Eropa dan Amerika menolaknya, karena ia
dianggap punya latar-belakang hitam sewaktu pemerintahan Nazi. Negara-negara ini tentu
tidak berhak menolak hasil pemilu. Tapi mereka mengancam bahwa presiden terpilih ini
tidak pernah akan diberi visa masuk ke negara-negara tersebut.
Hanya beberapa bulan, presiden terpilih itu akhirnya terjungkal. Ya, faktor presepsi
serta apresiasi dunia internasional tidak dapat lagi kita pandang remeh, atau kita
nafikan dengan mengobarngobarkan sentimen-sentimen nasionalisme yang sempit!
SEMUA PERLU KITA CERMATI
Menurut pengamatan saya, yang sangat mengkhawatirkan adalah bahwa banyak sekali dari
antara kita yang menentukan pilihannya, "hanya" berdasarkan dukungan serta simpati
kepada si "calon presiden" semata-mata. Ini jelas tidak memadai dan bisa membuat kita
kecele. Sebab kita tahu, bahwa si capres itu nanti, bila terpilih, tidak akan bekerja
sendiri. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah, bahwa yang bersangkutan bisa
menjadi "capres" atau "cawapres", setelah melalui proses "deal-deal" dan transaksi
politik yang panjang yang terjadi di balik pintu tertutup.
Dengan perkataan lain, yang bersangkutan bisa menjadi "capres" karena memberikan
konsesikonsesi politik. Konsesi-konsesi ini, karena tersembunyi, hanya bisa kita
tebak-tebak. Tapi jelas sekali, inilah yang nanti akan menentukan secara praktis
kebijakan-kebijakan yang diambil. Konsesi-konsesi inilah yang akan "mencencang" kaki
dan tangan si presiden terpilih. Dalam tahapan demokrasi di Indonesia sekarang ini,
faktor ini justru jauh lebih penting ketimbang, misaInya, platform atau janji-janji
manis para calon. Saudara percaya bahwa Hamzah Haz akan berhasil membebaskan biaya
pendidikan dari SD sampai ke SMA? Amien Rais akan berhasil membersihkan korupsi dalam
waktu 5 tahun?
Jadi apa-apa saja yang perlu sekali kita cermati dan analisis di samping figur
capresnya? Tak pelak lagi, adalah cermati figur "cawapres"nya (di samping
memperhatikan apakah keduanya benar-benar dapat menjalin sinergi yang harmonis).
Kemudian, yang juga tak boleh dilupakan adalah: cermati partai-partai apa saja yang
diajak berkoalisi. Ingatlah, partai-partai ini tak akan memberi dukungan, bila mereka
tak memperoleh keuntungan apa-apa.
Dan, last but not least, periksa pula "Tim Sukses"nya. Mengapa Tim Sukses penting?
Karena "tim sukses" ini -paling tidak beberapa di antara mereka - itulah nanti yang
akan membentuk "inner circle" - menjadi orang-orang terdekat - pembisik-pembisik -- di
sekitar presiden.
Jadi, misaInya, saya dapat mengenal siapa Wiranto lebih jelas, bukan terutama karena
Partai Golkarnya, atau karena Solahudin Wahid-nya, tapi antara lain berdasarkan
partai-partai mana saja yang mendukungnya (a.l. PKPB), dan orang-orang yang ada di Tim
Suksesnya (a.l. Jendral Fahrurozy dan Letjen. Suadi Marasabesy). SBY more than
alright, tapi kenalkah kita siapa YK atau PBB dengan YM-nya?
Sekiranya semua ini kita lakukan, maka bagaimana kira-kira hasil yang akan kita
peroleh? Berdasarkan semua kriteria yang saya sebutkan itu, saya akan mengemukakan
hasil penilaian ("obyektif') saya atas semua calon. Angka yang akan saya berikan ada
tiga macam, yaitu: -- angka 3 untuk kategori "baik sekali"; -- angka 1 untuk kategori
"sedang-sedang saja"; dan angka 0 untuk "kurang/diragukan". Inilah hasilnya:
WIRANTO
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 0
Kapabi 1
Internasional 0
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 0
MEGA
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 3
Kapabi 1
Internasional 3
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1
SBY
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 3
Internasional 3
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1
AMIEN
Cawapres 3
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 3
Internasional 1
Partai Pendu. 0
Tim Sukses 1
HAMZAH
Cawapres 1
Aksepta/Kredibi 1
Kapabi 1
Internasional 1
Partai Pendu. 1
Tim Sukses 0
RASIONAL DAN PROPORSIONAL
Hasil di atas menunjukkan bahwa pasangan Mega-Hasyim memperoleh angka tertinggi.
Pertanyaannya adalah: apakah hasil ini sesuai dengan kenyataan yang kita lihat? Saya
tahu ada banyak sekali ketidak-puasan -- bahkan kekecewaan - terhadap prestasi dan
kinerja Megawati selama 3 tahun ia menjadi presiden. Bahkan banyak yang sudah "patah
arang" sehingga tiba pada kesimpulan, "siapa saja asal jangan Mega lagi". Ini dapat
saya mengerti.
Saya pun menyimpan amat banyak kekecewaan, dan dalam pelbagai kesempatan dan forum
mengemukakannya secara terbuka Kelambanannya bergerak. "Human dan Public Relation"nya
yang amat buruk. Ketidak-pekaannya memanfaatkan kesempatan. Dan yang paling
mengecewakan, tentu saja adalah dibiarkannya korupsi kian meluas dan mengakar
menggerogoti hampir semua sektor dan aras kehidupan. Saya juga gemas karena
keluguannya dan kekakuannya. Mbok ya bisa acting sedikit seperti SBY atau AR, Sebagai
orang kristen tentu kita juga amat kecewa dengan lolos dan diundangkannya SISDIKNAS
yang kontroversial itu, walau jelas ini berada di luar kontrolnya. Dengan jujur saya
kemukakan, bahwa sekiranya saja dalam pemilu ini ada pilihan lain yang lebih baik,
pasti saya tidak akan memilih Mega! Pasti!
Kalau kita memilih, tentu saja kita akan memilih yang terbaik, yang ideal. Tapi ketika
kita diperhadapkan pada pilihan antara "yang buruk" dan "yang buruk", maka - apa boleh
buat - pilihan kita lalu jadi terbatas pada memilih "yang lebih kurang buruk"nya. Dan
itulah situasi yang kita hadapi sekarang.
Pertanyaan yang paling pokok adalah: Apakah memilih Mega tidak berarti sama dengan
melanggengkan keadaan sekarang? Apakah tidak lebih baik bila - demi perubahan -- kita
memberi kesempatan kepada yang lain? Tanggapan saya adalah: cara berfikir seperti ini
hanya benar, apabila kita memang berada dalam situasi jalan buntu yang benar-benar
buntu. Bila Anda berada di persimpangan jalan, dan diperhadapkan pada pilihan: ke
kanan mati, ke kiri juga mati tapi masih ada kemungkinan hidup - walau amat kecil --
maka, benar, pilihan kita tentu adalah belok kiri.
Tapi apakah keadaan kita sekarang dapat digambarkan seperti itu? Di sini, kita dapat
mempunyai pendapat yang berbeda. Tapi anjuran dan imbauan saya adalah: marilah kita -
secara kristiani bersedia lebih rasional dan proporsional menilai pemerintahan
sekarang.
PUNAI DI TANGAN
Pertama-tama perlu saya tekankan, bahwa saya sendiri merasa amat tidak puas dengan
prestasi dan kinerja pemerintahan Mega-Hamzah. Banyak hal yang seharusnya dilakukan,
tidak dilakukan. Kalau saya harus memberi nilai antara 1-10, maka nilai yang akan saya
berikan untuk pemerintahan ini paling banter adalah "5'. Merah.
Namun demikian, ini belum cukup bisa menjadi alasan, untuk kita mengatakan tentang
Mega, "Enough is enough" Alasan saya sebagai berikut:
(a) prestasi pemerintahan ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Memberi kesan buruk,
karena "public relation" Mega yang amat buruk. Dan masyarakat lebih banyak dicekoki
dengan informasi-informasi negatif, ketimbang kenyataan yang sebenarnya. Fondasi
ekonomi, stabilitas politik dan keamanan sebenarnya telah berhasil dibangun cukup
mantap.
(b) Tentu saja, yang belum baik masih jauh lebih banyak. Ya! Tapi jangan kita lupakan,
pemerintahan ini baru berjalan 3,5 tahun. Dan ia dimulai dari situasi kemelut politik
yang luar biasa pada waktu itu. Naiknya Mega adalah hasil kompromi politik, sehingga
baik susunan kabinetnya maupun kebijakan-kebijakan nya tidak dapat lain ya mesti
dijalankan secara kompromistis. Jadi, pemerintahan sekarang ini sebenarnya "bukan"lah
pemerintahan Mega, melainkan pemerintahan "koalisi pelangi" yang terbangun secara
oportunistis pada waktu itu. Kegagalan pemerintahan ini sebenarnya adalah kegagalan
bersama.
(c) Dalam suasana kekecewaan ini, yang agak sering kita lupakan adalah sekiranya saja
bukan Mega, tapi SBY atau Wiranto atau Amien Rais yang jadi presiden selama ini,
pastikah mereka akan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang kini mereka limpahkan
tangungjawabnya kepada Mega soal pendidikan, pengangguran, KKN, hukum, dan sebagainya?
Situasi Indonesia kita ini telah demikian parah dan kompleksnya sehingga saya yakin,
tak satu malaikat pun sanggup menyelesaikan masalah Indonesia dalam 3 tahun!
(d) Jangan mudah percaya kepada janji-janji sorga! Kalau ada sinshe atau obat yang
menjanjikan kesembuhan untuk semua penyakit, ini justru alasan yang kuat untuk tidak
mempercayainya! Yang kita hadapi sekarang ini adalah, memilih antara "janji-janji"
manis yang sama sekali belum terbukti, dan, "kenyataan-kenyataan" yang walau
mengecewakan tapi sebenarnya tidak buruk-buruk amat, yang kita alami selama ini.
Menurut saya, karena toh Mega tidak buruk-buruk amat, dan ada tanda-tanda bahwa
kelemahan itu akan dapat diisi kalau tidak oleh Hasyim Muzadi, oleh suatu susunan
kabinet yang tepat, maka jauh lebih bijaklah bila kita berpikir sederhana seperti
nasihat orang-orang tua kita: "Jangan melepaskan punai di tangan, karena mengharapkan
burung terbang tinggi di angkasa". Kalau salah pilih RT atau RW atau Lurah, masih
okelah. Tapi kalau salah pilih presiden, pertaruhannya sungguh sangat besar.
Kini perkenankanlah saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah permintaan yang
sederhana, tetapi sebenarnya inti yang paling hakiki dan paling penting dari semua.
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR TUHAN SENDIRI YANG MENETAPKAN HAMBA-NYA UNTUK
MEMIMPIN NEGERI TERCINTA;
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KJ7A PEKA DAN DENGAR DENGARAN TERHADAP
KEHENDAK TUHAN, BETAPA PUN MUNGKJN BERLAWANAN DENGAN JALAN PIKIRAN ATAU KEPENTINGAN
KJTA PRIBADI,
JANGANLAH BERHENTI BERDOA, MEMOHON AGAR KJTA TIDAK SALAH PILIH, DAN AGAR RAKYAT
INDONESIA JUGA TIDAK SALAH PILIH!
Tanpa bermaksud mengklaim apa-apa, apa lagi menyampaikan "fatwa", saya hendak bersaksi
bahwa saya tiba pada pilihan saya itu, tidak semata-mata berdasarkan
pertimbanganpertimbangan akaliah saya, tetapi juga setelah melalui pergumulan doa yang
panjang dan sungguh-sungguh. Baru kemudian saya diberi tahu oleh beberapa kawan, bahwa
banyak saudarasaudara seiman yang juga menggumuli ini dalam doa dan puasa mereka, dan
... tiba pada pencerahan yang sama.
Bagaimana bila ada saudara yang lain yang juga berdoa tapi "mendengar" jawaban yang
berbeda? Mungkin saja! Allah kita maha bebas, maha berdaulat, dan maha kuasa! Bebas,
berdaulat dan berkuasa untuk berbuat apa saja, Yang penting, Anda berdoa. Mohon agar
Roh Kudus memampukan Anda memanfaatkan akal sehat serta hati nurani Anda untuk
mengenali kehendak Allah!
Jakarta, medio Juni 2004
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/