MENCIPTAKAN MILOSEVICH-MILOSEVICH BARU?
=========================================

Semua elemen masyarakat telah bicara, pejabat-pejabat telah bicara :

"Jangan ada lagi konflik agama"
"Jangan ada lagi konflik SARA!"

Tetapi kenyataannya Lagi dan Lagi!
Respons mengenai hal-hal tersebut selalu saja terlambat dan terlambat
Rupanya himbauan tersebut tidak mempan.


Saya selalu miris melihat konflik/ kerusuhan/ perang dengan latar-belakang
SARA di bumi Indonesia ini. Mengapa hal itu terus menerus terjadi? Karena
hukum di indonesia ini tidak mampu membendungnya. Karena masih begitu banyak
kelompok "Kekuatan Lama" yang sengaja memelihara "konflik" tersebut untuk
melakukan tawar-menawar yang bersifat politis dengan pemerintah legitimate
dan sebagainya.

Saya miris, melihat anak-anak kecil di daerah konflik telah melihat,
mengalami dan merekam keganasan atas nama SARA. Si anak Kristen melihat
keluarga dan sobatnya terbunuh oleh golongan SARA lain; demikian pula si
anak Islam mengalami luka hati yang sama. Dengan sendirinya anak-anak dari
background SARA yang berbeda-beda ini mulai tertanam bibit-bibit kebencian
sejak belia. Dan saling mengklaim bahwa orang diluar SARA-nya itu semua
orang-orang biadab, mau menang sendiri, pembunuh, pemerkosa, pembinasa!

Bisa dibayangkan mungkin background pengalaman seperti inilah yang membuat
Milosevich menjadi salah satu "Serbian Strongman" melakukan genocide dalam
Perang Balkan. Milosevich bagi kaum militan Serbia adalah seorang pahlawan,
tetapi apakah ini berlaku Kroasia?. Milosevich menjadi figur yang begitu
menakutkan, sebagian banyak orang menyebutnya sebagai inkarnasi Hitler. Saya
membayangkan pula apabila anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dan
menjadi seorang PEMIMPIN, dia akan menjadi pemimpin yang membawa
 "luka-batin" masa kecil dengan membawa pula kebenciannya itu mempengaruhi
policy kepemimpinanannya. Dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya cukup sering
menyoroti "dendam masa kecil", ini sangat berbahaya jika itu dialami oleh
seorang pemimpin, kala itu saya menyoroti Mao dan Hitler; dan terhadap
Milosevich saya-pun mencurigai adanya background yang sama yaitu "kebencian
yang tertanam sejak masa kecil". Dan ternyata benar ada banyak
catatan-catatan konflik di Balkans yang tumbuh sejak tahun 1917 saat perang
dunia I berlangsung.

Konflik horisontal atau konflik komunal yang terjadi di Indonesia ini
sepertinya "sengaja" dipelihara oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Ada
banyak pendapat yang beredar atas tertembaknya pendeta Susianti Tinulele di
dalam gereja yang dilakukan oleh orang-orang tak dikenal yang baru-baru ini
terjadi di Palu, akankah isu ini menjadi indikasi bahwa Indonesia sudah
tidak aman dan perlu pemerintahan meliter yang berkuasa?. Ada juga pendapat
yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah indikasi dari Pemerintah yang
tidak becus menangai keamanan dalam negeri dan macam-macam pendapat lain.

Namun kita harus belajar dari Negara bekas Yugoslavia yang pecah menjadi
sejumlah negara baru dari pertumpahan darah. Kelompok Militan A membunuh
kelompok Militan B dan C dan sebaliknya. Masing-masing kelompok menganggap
kelompok lain sebagai ancaman yang membahayakan. Mereka kemudian mulai
berlatih dan mempersenjatai diri. Sebaliknya, kelompok saingannya juga akan
melakukan hal sama. Inilah tahap yang paling genting, yang mustahil bisa
diredam begitu saja. Di sini dalam sekejap kekerasan bisa berubah menjadi
pembasmian suatu kelompok dalam skala yang besar.

Bengitu banyak contoh hal-hal yang sepele-pun menjadi pemicu kerusuhan,
misalnya yang pernah terjadi di Ambon: perkelahian penumpang dengan seorang
kondektur angkutan kota telah menyulut "perang agama". Sepertinya tidak
masuk akal, tetapi itulah yang terjadi kekecil apapun masalahnya bisa
menjadi pemicu sebuah kerusuhan!. Kejadian-kejadian yang mirip terjadi
seperti diatas telah dan sedang terjadi di negara kita ini, di Maluku, di
Sulawesi, dan daerah-daerah lain.

Sebenarnya bibit-bibit kebencian terhadap kelompok SARA lain adalah warisan
dari Pemerintah Kolonial Belanda yang telah berhasil menanam benih-benih
perpecahan awal. Celakanya sistem inipun dipelihara dengan baik oleh
"Kekuatan Lama" sehingga rakyat Indonesia ini terbiasa sekali dengan
pengkotak-kotakan kelompok atas dasar SARA. Perang Balkan dan sejumlah
pergolakan lainnya, merupakan contoh paling pas atas kejadian-kejadian yang
menimpa bangsa kita sekarang ini.

Untuk bisa terbebas dari penjajahan dan politik devide et impera
(memecah-belah) warisan Kolonial Belanda dan telah terpelihara secara rapi
oleh elemen-elemen Orba, tak ada cara, kecuali melawannya lewat semangat
persatuan. Membuang semua kepentingan pribadi, kelompok, golongan, ras,
agama, dan kedaerahan. Demikian pula dengan seluruh problem yang dihadapi
bangsa kita saat ini, mulai dari persoalan ekonomi yang seolah sulit untuk
pulih kembali, kondisi keamanan yang kian tercabik-cabik, psikologi massa
yang sangat sensitif untuk cenderung berbuat anarkis, serta ancaman serius
terpecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Karenanya perlu digalakkan sebuah gerakan yang punya kepedulian atas apa
yang telah melanggar batas kehidupan bersama tersebut. Yaitu gerakan yang
mendalami akar-akar penyebab peperangan dan kekerasan. Maka kita semua
sebagai bagian dari bangsa yang sedang sakit ini, kita harus memberikan
andil "kesembuhan" bagi komunitas yang terkontaminasi dengan kebencian
terhadap saudara-saudaranya sendiri. Masing-masing kita membangun diri untuk
tidak mau dijadikan alat dari "Kekuatan Lama" untuk senantiasa menancapkan
cakarnya untuk berkuasa dan mempengaruhi Pemerintah Legitimate, dan dengan
leluasa mengobrak-abrik Negara Kesatuan ini. Jangan biarkan negara ini
terus-menerus akan membunuhi anak-anaknya sendiri.

Bangsa kita sekarang ini sedang kehiangan Api dan Jiwa Kebangsaan yang
dicetuskan pertama kali di tahun 1908 oleh Budi Utomo, sebuah gerakan
Gerakan yang dipelopori dr Wahidin dan dr Sutomo dan dilanjutkan oleh
peristiwa monumental Sumpah Pemuda tahun 1928. Betapa saat itu kaum muda
dari berbagai latar belakang etnis dan agama berperan aktif dalam organisasi
kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Islamieten Bond, Jong
Celebes, Jong Batak Bond dan sebagainya, dengan niat tulus dan murni telah
menanggalkan atribut-atribut garis primordial (agama, etnis, ras, golongan)
mereka demi mencapai kemerdekaan Indonesia. Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu
Bahasa!. Dan puncaknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus
1945, yang semuanya tidak terlepas dari peran historis generasi muda. Betapa
kaum muda menjadi pelopor penciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. Namun
karya monumental ini mulai terkikis oleh pemikiran/ faham-faham primordial
keagamaan. Mulai dari asssesoris, atribut/simbol-simbol keagamaan, sampai
ucapan salampun sudah menanggalkan konteks keindonesiaan kita.

Sekarang, kita kaum muda, hendaknya kembali menyalakan Api dan Jiwa
Nasinalisme seperti itu, yang menyatukan perbedaan-perbedaan bukan sebagai
suatu konflik tetapi menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai kekayaan
bangsa. Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia, Indonesia tanpa Budha
bukanlah Indonesia dan seterusnya. Indonesia memang aslinya lahir dari
sebuah keragaman yang dipersatukan oleh satu bahasa, dan kesatuan nusa
menjadi satu bangsa Indonesia. Saya kagum dengan ide kesatuan yang
dicanangkan di tahun 1928 itu, kelompok muda dengan semangatnya bisa
mencanangkan ide brillian "satu bangsa Indonesia", "satu bahasa Indonesia"
disaat-saat bangsanya sedang terjajah. Memproklamirkan kelahiran sebuah
bangsa yang tercipta oleh keragaman agama, etnis, ras, golongan. Sikap
kesatuan dan persatuan seperti yang dicanangkan di tahun 1928 ini terbukti
telah membangkitkan kesadaran rakyat dalam melawan kolonialisme dan
imperialisme. Paradoks yang kita temui sekarang adalah di alam merdeka ini
justru semangat tersebut tereliminasi oleh fanatisme, terutama fanatisme
agama. Kita sekarang ini seolah-olah membiarkan diri kita sebagai elemen
bangsa ini terjajah kembali.

Hal yang penting untuk kita lakukan adalah masing-masing kita turut andil
dalam memberikan pengertian "kesatuan bangsa" dimulai dari kelompok kita
yang terkecil dan terdekat, dimulai dari keluarga. Tolaklah segala
gerakan-gerakan membenci kelompok lain, etnis lain, agama lain. Jangan mau
menjadi alat "tawar-menawar" yang bersifat politis dengan menggunakan
atribut-atribut agama. Hal ini sangat krusial sekali dan harus menjadi
bagian dalam pendidikan. Pendidikan rumah sangat penting, kita semua harus
memperjuangkan nilai-nilai luhur inti kemanusiaan manusia mulai dari awal
dan dari bagian masyarakat yang terkecil yaitu dari keluarga. Didiklah
anak-anak kita untuk memahami humaniora/ sosiologi-budaya dan budi pekerti,
menghargai sesama walaupun mereka berbeda-beda latar belakang SARA nya.

Andai saja kaum muda ini bersatu dan kembali kepada nilai-nilai
keindonesiaan, mari kita lawan kekuatan lama yang sebenarnya dilakukan oleh
sekelompok orang yang itu-itu saja. Kerusuhan adalah adalah "Proyek" yang
sengaja dipelihara untuk "make money" dan untuk mendapat kepentingan
"politis" oleh orang lama yang itu-itu juga. Saya yakin "Kekuatan Lama" itu
bisa dilawan oleh persatuan kaum muda ini, jangan mau manjadi bagian dari
mereka. Jangan biarkan setiap konflik politik memakai cara-cara kekerasan,
pemberontakan, penculikan, pelanggaran HAM, penjarahan dan pembantaian SARA
seperti; Kerusuhan berbau SARA di Jakarta Mei 1998, Ambon, Malari, Poso,
Sampit, dll, dan berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan baik oleh oknum,
massa, dan aparat negara. Mari lawan kerusuhan!, dengungkan kebanggaan
sebagai Warga Negara Indonesia. Cintai negeri ini yang penuh anugerah, kaya
sumberdaya alam, kaya budaya, kebinekaan dst. Lawan kekacauan dengan
kebersamaan dan kasih.

Janganlah terbiasa dengan kekerasan! Jangan memberikan kesempatan anak-anak
kita/ generasi mendatang berpotensi menjadi Milosevich-Milosevich baru yang
menjadi pembantai sesamanya atas nama SARA!




Blessings,
Bagus Pramono
July 21, 2004



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke