From: "Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]> Pasmina Impian (Oleh : Lesminingtyas)
Sudah beberapa bulan yang lalu saya memimpikan untuk bisa memiliki Pasmina, selembar kain untuk pemanis tampilan diri. Saya selalu membayangkan betapa menariknya saya kalau mengenakan kain yang memang lagi ngetrend di kalangan perempuan berkelas. Setelah sekian lama mengumpulkan sisa-sisa uang belanjaan, saya mempunyai selembar uang yang saya hitung-hitung pas untuk membeli Pasmina yang dipajang di toko kain di sebelah gereja. Pasmina yang manis itu memang sudah lama saya incar. Setiap pulang dari gereja, saya mampir ke toko itu sekedar untuk merasakan lembutnya kain impian saya atau sekedar memandangi Pasmina yang begitu ingin saya miliki sambil membayangkan betapa indahnya kelak jika melilit di punggung saya. Seperti biasa, setiap hari Minggu saya pergi ke gereja untuk mengikuti kebaktian yang pertama. Dari rumah saya sudah merencanakan untuk membeli Pasmina sepulang dari gereja nanti. Dengan hati yang berbunga-bunga, saya pergi ke gereja mengenakan baju terbagus yang saya punya dengan sepatu terbaru yang sudah saya semir mengkilat sejak semalam. Tak lupa parfum kelas menengah saya semprotan ke tubuh saya untuk menambah kesempurnaan performa. Seperti biasa, saya naik angkot jurusan Cibinong - Pasar Anyar, Bogor. Selama di angkot saya duduk sangat berhati-hati supaya baju yang telah saya setrika lengkap dengan cairan pewangi itu tidak kusut. Pokoknya minggu pagi itu saya ingin tampil habis-habisan, supaya tampak cantik dan mempesona. Dalam perjalanan itu saya membayangkan teman-teman di gereja nanti pasti akan terkagum-kagum melihat saya yang tampil beda. Tetapi tiba-tiba, "bleg" seseorang telah meletakkan bungkusan besar kedalam angkot. Sedetik kemudian sepasang kaki beralas sandal jepit usang dan penuh lumpur mendekati kaki saya dan bahkan salah satunya berada tepat diatas sepatu saya. "Aduh..yach" keluh saya spontan sambil menahan amarah. Tapi kejengkelan saya segera berakhir setelah saya mendengar suara penyesalan "Punteun Neng, Umi nggak sengaja. Maap ya Neng, Umi memang sudah lamur" (Umi adalah panggilan untuk ibu yang biasa dipakai di Arab dan juga di daerah Pasundan, Jawa Barat). Suara parau dan gemetar itu membuat saya merinding dan memaksa saya mengalihkan pandangan kearah suara itu. "Ya, ampun Tuhan, saya telah menyakitinya" kata saya dalam hati sambil memandang haru perempuan yang sudah mulai rapuh termakan usia, dengan kulit yang berlipat-lipat dan kotor itu. Nafasnya yang tersengal-sengal membuat dadanya yang dibungkus kain kumal itu bergerak lebih cepat dari pada orang-orang biasanya, seakan lengkap mengisahkan cerita kemiskinan yang dijalaninya. Saya baru sadar bahwa suara saya telah membuatnya merasa bersalah. Sayapun segera menenangkannya "Nggak apa-apa kok mi, saya sudah biasa" Tapi biarpun saya sudah menunjukkan sikap yang memaafkan, perempuan tua itu belum habis juga rasa bersalahnya. Ia berusaha menarik ujung selendangnya, membungkuk dan meraih ujung sepatu saya. Dengan selendang miliknya, perempuan itu berusaha membersihkan lumpur tebal yang menempel di ujung sepatu saya. Secara reflek sayapun menarik kaki saya, berusaha menjauh. Saya risih dengan perlakuan dan sikap Umi yang merendahkan dirinya. Tangan sayapun menggapai dan menarik tangan Umi ke atas sehingga ujung sepatu saya benar-benar tak tersentuh lagi oleh tangannya yang kurus, pucat dan dingin itu. Untuk menunjukkan ketulusan saya yang telah melupakan dan memaafkan kejadian tadi, saya berusaha mengajaknya bicara. "Umi mau kemana ?" tanya saya lembut. "Biasa neng, mau jual opak ke pasar" jawab perempuan tua itu sambil membetulkan bungkusannya yang begitu besar. "Ini terbuat dari apa, mi" tanya saya berbasa-basi, sambil menunjuk lempengan-lempengan tipis berwarna krem yang ada di bungkusan milik Umi. Dalam logat Sunda yang kental, perempuan itupun menjawab "Namina oge opak, dijieunna tina sampeu, atuh neng !". Saya hampir tak mengerti kata-kata Umi, saya hanya menangkap bagian depannya saja yang kira-kira artinya "namanya opak", tapi selebihnya saya benar-benar tidak mengerti. Supaya nggak diajak bicara Bahasa Sunda yang lebih panjang lagi, saya jawab saja "O..." sambil pura-pura tahu. Tapi tampaknya mata perempuan itu tidak bisa dibohongi. "Ieu teh opak neng. Dijienna tina sampeu. Sanggeus diparut laju diaseupan, terus didedetkeun" Umi berusaha menjelaskan. "Ieu sarebu tilu, dua rebu genep" tambahnya. Saya makin tidak mengerti tetapi saya tidak tahan untuk terus berpura-pura, dan sayapun bertanya "Apa mi ?" Umi tampak kecewa dengan pertanyaan saya tetapi tetap berusaha berbicara pada saya "Lamun neng hayang meser lobaan, sarebu opat oge dipasihan. Sok diborongan atuh neng, biar Umi gancang baralik. Ieu aya delapan puluh, lamun borongan, neng ngabayaran ku Umi dua puluh rebu wae. Kumaha neng, daek nyak ?" Merasa didesak dengan pertanyaan, "kumaha" (bagaimana) yang berarti Umi menunggu jawabannya, maka sayapun mencari-cari pertolongan Pak Supir untuk menjelaskan apa yang dibicarakan oleh Umi tadi. "Itu bu, kata Umi itu namanya opak, terbuat dari singkong yang diparut terus dikukus dan ditekan-tekan. Sebenarnya harganya seribu tiga, tapi untuk ibu boleh seribu empat. Katanya opak itu semuanya ada 80, terus ibu disuruh memborongnya seharga dua puluh ribu saja, supaya Umi bisa cepat pulang" Walaupun sedikit lega dengan translate yang telah dilakukan oleh Pak Supir, timbul kegelisahan yang lain dalam diri saya. Di satu sisi saya ingin menolong perempuan renta itu, tapi di sisi lain uang saya pas-pasan. Kalau saya menolong Umi dengan memborong dagangannya, berarti saya tidak bisa memiliki Pasmina yang sudah lama saya impi-impikan. Tapi kalau saya tetap membelanjakan uang saya untuk selembar Pasmina, berarti saya tidak bisa meringankan beban perempuan tua itu. Perang batinpun berkecamuk. Kerongkongan sayapun tercekat, bahkan untuk menelan ludah saja rasanya sakit sekali. Sempat terlintas di pikiran saya tentang bagaimana seseorang harus membuat planning secara matang untuk melakukan sesuatu. Kalau saya mempertahankan rencana saya untuk membeli pasmina dan tidak menolong perempuan miskin itu, saya pikir itu merupakan tindakan orang yang paling bijaksana karena memang bertemu dan menolong Umi tidak ada dalam rencana saya. Tetapi perasaan sebagai orang yang paling bijaksana itupun segera terusik dengan kesadaran bahwa rencana manusia tidak selalu sama dengan rencana Allah. Naluri saya telah mendesak supaya saya segera meluluskan permintaan Umi. Tapi sedetik kemudian saya masih berusaha menawar kata hati saya dengan meyakinkan diri bahwa menolong orang bisa dilakukan kapan saja, tidak harus sekarang dan tidak harus mengorbankan rencana yang sudah saya dibuat matang-matang. Naluri sayapun memberontak dan menakut-nakuti saya "Kapan kamu bisa ketemu dengan perempuan ini lagi ? Tahukah kamu, sampai berapa lama lagi Umi bisa bertahan hidup ? Apakah penampilanmu lebih berharga dari hatimu ? Apakah selembar pasmina lebih berharga dari perempuan renta ciptaan Tuhan ? Bukankah kamu sering bilang betapa pentingnya menghargai kerja keras ? Bukankah perempuan ini sudah bekerja keras dan bukan hanya bermanja-manja meminta belas kasihan seperti layaknya pengemis yang malas ? Bukankah kamu sering menggunakan Amsal 3 : 28 untuk mengingatkan sesamamu akan pentingnya memberi ? Bukankah kamu setiap hari membaca Matius 25 :31-46 yang kamu tulis rapi di atas meja kerjamu ?" Pertanyaan-pertanyaan itu semakin gencar menteror perasaan saya hingga dada saya terasa sesak. Tanpa menunda-nunda lagi, saya menarik selembar uang kertas yang semula telah saya persiapkan untuk membeli pasmina. "Aya kembaliannya khan Mi ?" saya mencoba ikut-ikutan berbahasa Sunda walau hanya sepotong. "Wah..teu aya neng, uang pas wae, atuh !" pinta perempuan itu "Nggak ada lagi Mi. Saya cuma punya uang itu" "Kumaha atuh, neng ? Umi mah uang sarebuan oge teu gaduh, apalagi tilu puluh ribu !" Kata Umi itu sambil menunjukkan dompetnya yang kumal dan hanya berisi beberapa keping uang recehan. Saya jadi berpikir, kalaupun nenek itu memberikan uang kembalian, sayapun tetap tidak bisa membeli pasmina yang saya impi-impikan. Saya jadi ingat beberapa waktu yang lalu salah seorang teman kantor saya mengirimkan gambar via email. Gambar itu mengisahkan seorang pemuda yang memiliki 2 keping biskuit. Saat dia mau memakannya, seorang anak kecil datang menghampiri dan meminta biscuit itu. Si pemudapun memberi setengahnya. Satu keping biscuit diberikan kepada anak kecil itu dan sisanya hendak ia makan sendiri. Saat biscuit yang tinggal sekeping itu hendak dimakannya, datang seorang nenek-nenek renta yang menghampiri dan meminta makanan kepadanya. Pemuda itupun membelah biscuit miliknya menjadi 2 potong, satu potong untuk si nenek, sedangkan sisanya langsung dimakan sendiri. Seketika itu si nenek berubah menjadi peri cantik. Peri itu memberi kesempatan kepada si pemuda untuk mengajukan satu permintaan. Pemuda itupun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mengatakan bahwa sejak lama ia memimpikan sebuah mobil. Sekejap kemudian peri itu mengabulkannya dengan memberi sepotong mobil, bagian depannnya saja dengan dua roda depan, tanpa body ataupun ban belakang. Tentunya pemuda itu kaget karena mobil yang diberikan oleh peri cantik itu tidak bisa dimanfaatkannya. Karena pemuda itu hanya memberikan setengah dari apa yang dimilikinya, maka iapun hanya mendapatkan setengah dari apa yang diinginkannya. Saya ingat betul visualisasi yang lucu tetapi sarat makna itu. Dengan sedikit menahan senyum, saya berkata dalam hati "Ampun, Umi Peri nu Geulis, hamba tak mau pasmina yang panjangnya hanya separo saja !" Tanpa membuang-buang waktu lagi, saya berkata "Sudahlah Mi, ambil saja kembaliannya" Tapi perempuan tua itu malah bengong tak percaya. Sayapun, ingin sekali mengatakan "Sudahlah, terima saja berkat dari Tuhan saya. Pagi ini Tuhan Yesus sudah meminta saya untuk mengasihi nenek, dsb, dst." Tapi sayang, saya tidak punya cukup banyak waktu karena saya harus segera turun. Dengan gugup saya katakan "Sudahlah Mi, terima saja. Anggap itu berkat dari Tuhan. Sudah ya Mi, saya harus buru-buru turun, mau ke gereja nih" Saya memang sengaja mengucapkan kata "gereja" dengan volume yang agak keras untuk menggantikan kata "Yesus" yang mungkin masih asing bagi Umi. Satu hal yang saya inginkan, Umi itu mendengar dan tahu bahwa saya adalah murid Kristus. Saya ingin Umi mengatakan "Kalau muridnya saja bageur (baik), apalagi Yesus yang menjadi Gurunya, pasti hebat, euy !" Maksud baik saya menolong Umi dengan memborong opak itu ternyata tidak selalu mendatangkan pujian untuk saya. Justru sebaliknya, saya mendapat kesulitan dengan barang dalam bungkusan plastik hitam besar itu. Saat saya memasuki gerbang gereja, seorang satpam gereja meminta saya untuk masuk ke pos penjagaan untuk diperiksa. Mungkin petugas keamanan gereja itu kuatir kalau saya adalah anggota jaringan teroris yang membawa bahan peledak ke lingkungan gereja. "Waduh, masak sudah tampil secantik ini, masih saja disangka teroris ?" pikir saya dalam hati. Sejenak saya lega setelah satpam membuka bungkusan itu, karena saya bisa membuktikan bahwa barang yang saya bawa itu bukanlah barang terlarang. Tapi kelegaan saya justru dibalas dengan kata-kata satpam yang bernada mengejek "Oalah.....Mbak ini mau memuji Tuhan atau mau jualan opak sih ?" Muka saya kontan merah padam. Saya benar-benar tidak siap diejek orang, karena memang dalam kontrak "perbuatan baik", Tuhan tidak memberitahukan pasal-pasal yang menyatakan bahwa saya harus siap diejek orang setelah mengasihi sesama saya. "Tapi, sudahlah ini resiko dari sebuah keputusan" pikir saya. Dengan muka yang sudah saya buat setebal tembok, sayapun menitipkan bungkusan itu di pos Satpam. "Untung, tadi satpam memanggil saya ke sini. Kalau tidak dititipkan pada satpam, betapa malunya saya masuk ke gereja sambil menenteng-nenteng bungkusan opak" pikir saya menghibur diri. Selama kebaktian berlangsung, saya masih gundah memikirkan bagaimana cara membawa pulang bungkusan besar bin aneh itu. Tetapi lamunan saya segera buyar saat Pendeta berteriak nyaring "Ukuran penghakiman di akhir jaman, bukan tergantung seberapa sering kita pergi ke gereja, tetapi Allah akan melihat apakah kita mau datang menolong Yesus yang haus, lapar, telanjang, tak punya tumpangan, sakit dan dipenjara..." Sesaat kemudian Pendeta meminta jemaat untuk menyanyikan lagu NKB (Nyanyikan Kidung Baru) no. 199 yang berjudul Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan. Lagu itu betul-betul menyadarkan saya bahwa perbuatan saya pagi itu belum seberapa. Genap sudah kesadaran saya saat Pendeta hendak memberikan berkat pengutusan, yang sebelumnya didahului dengan nyanyian Kidung Jemaat No. 424 yang juga merupakan lagu favorit saya yang syairnya demikian : Yesus menginginkan daku bersinar baginya, dimanapun kuberada , ku mengenangkanNya. Reff : Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus Bersinar, bersinar, aku bersinar terus. Yesus mengingingkan daku menolong orang lain Manis dan sopan selalu, ketika ku bermain Reff : Kumohon Yesus menolong, menjaga hatiku Agar bersih dan bersinar meniru Tuhanku. Reff Setelah selesai melakukan saat hening, saya melangkahkan kaki keluar dari gereja dan merasa bersinar terang. Tanpa pasmina menghias di bahu, saya merasa tetap bisa tampil menarik dan mempesona karena Tuhan telah menolong, menjaga hati saya sehingga bersih dan bersinar. "Bersinar, bersinar aku bersinar terus !" syair itu terus terngiang di telinga saya. Dalam perjalanan pulang, hampir setiap orang yang ada di angkot melirik ke arah bungkusan besar yang ada di tangan saya. Bungkusan yang seakan menunjukkan pemiliknya adalah orang udik yang miskin itu memang sangat kontras dengan pakaian yang saya kenakan. Walaupun semua orang di angkot itu melihat saya dengan pandangan aneh dan sedikit merendahkan, tetapi saya terus bernyayi dan bernyayi "Bersinar, bersinar aku bersinar terus !" [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [EMAIL PROTECTED] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

