From: "MundhiSabda Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>

Donat Ayu
(Oleh Lesminingtyas) 

"Bu, kalau sudah gajian nanti, Ibu mau nggak beliin Donat Ayu buat Dika ? Jangan donat 
Dika terus, sekali-sekali boleh dong makan donat yang enak" pinta Dika; anak saya. 
Saya dan Dika memang menyebut Dunkin Donnut dengan sebutan "Donat Ayu", untuk 
membedakan donat murahan yang dijual di pinggir jalan, yang kami namai "donat Dika". 

Setiap menyebut soal donat, kami selalu teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, 
ketika Dika berumur belum genap 4 tahun. Waktu itu kami masih tinggal di rumah 
kontrakan yang bertetangga dengan seorang direktur operasional bank swasta terkenal. 
Tetangga kami itu kebetulan mempunyai anak perempuan, 1 tahun lebih tua dari Dika, 
yang bernama Ayu. Anak itu cantik seperti Mamanya yang kebetulan mengajar di sebuah 
Perguruan Tinggi swasta di Bogor.  

Keluarga kaya dan terdidik itu tentunya sangat menarik perhatian para tetangga yang 
kebanyakan hanya hidup pas-pasan sebagai buruh pabrik garment atau pegawai rendahan. 
Mungkin saya dan para tetangga harus mendongakkan kepala untuk melihat keluarga Ayu 
yang sering keluar masuk kompleks tempat tinggal kami dengan mobil keluaran 
terbarunya.  

Anak-anak  seumuran Dika yang tinggal di satu gang dengan kami senang sekali bermain 
di depan rumah Ayu. Walaupun tidak bisa menyentuh barang-barang mainan Ayu, anak-anak 
itu tampaknya sudah cukup kalau bisa mengintipnya dari luar pagar besi yang sengaja 
dikunci dari dalam. Dari luar pagar, anak-anak biasanya melihat Ayu bermain boneka 
Barbie yang mahal, robot yang bisa digerakkan dengan remote control, kereta api kecil 
yang mengeluarkan asap,  atau beberapa mobil balap "tamia" yang berkejar-kejaran di 
lintasannya. Keluarga Ayu sengaja tidak membukakan pintu karena takut kehadiran 
anak-anak itu akan mengotori rumahnya. Beberapa kali saya menangkap sorot mata kedua 
orang tua Ayu yang memandang bahwa lantai marmer mereka lebih berharga dari pada kaki 
anak-anak tetangganya. 

Suatu sore, seperti biasa Dika dan beberapa temannya berdiri berjajar di luar pagar 
rumah Ayu. Seperti biasa juga, setiap saya pulang dari kantor saya harus turun dari 
ojek di depan rumah Ayu. Sore itu selain pandangan "haus" pada alat-alat permainan Ayu 
yang serba mahal dan mewah, anak-anak seperti tak kuasa menahan air liurnya yang 
hampir menetes. Sejenak kemudian, saya mendengar Ayu dari dalam pagar berkata 
"Wuek..Ayu punya Dunkin Donnat banyak nih !" Ayu memamerkan donatnya sambil mencibir.  

Walaupun tidak mengeluarkan suara, anak-anak itu menjulurkan tanganya ke dalam pagar, 
memohon supaya Ayu membagikan donatnya. Ayu tidak bergeming, justru semakin 
terang-terangan mempermainkan teman-temannya "Wuek.wuek..!" kata Ayu sambil melenggak 
lenggokkan badannya. 

"Mbak Ayu pelit !" kata Dika. Saya hanya mengangkat telunjuk  ke dekat mulut saya 
sebagai isyarat bahwa saya tidak setuju dengan perkataan Dika.

"Biarin, wuek, wuek.! Kalau lu mau, ambil saja !" kata Ayu sambil menggeser piring 
donatnya menjauhi pagar supaya tidak terjangkau anak-anak.

"Dika, ayo pulang sama Ibu" ajak saya sekaligus ingin mengakhiri pemandangan memilukan 
itu. 

Mendengar suara saya, Mama Ayupun keluar dan menegur Ayu "Ayu, masuk.kamu cuma punya 
donat satu saja, dipamer-pamerkan !"

"Ye..Mama bohong ! Kita kan punya donat 3 kardus di kulkas" jawab Ayu. Mama Ayu hanya 
bisa membuang muka supaya saya tidak melihat wajahnya yang merah padam karena malu. 
Saya tidak merasa terganggu melihat keangkuhan Mama Ayu. Saya justru kasihan, karena 
dosen yang cantik itu ternyata tidak bisa menjadi dosen bagi anaknya sendiri. Dosen 
itu telah merusak mental anaknya dengan mengajarkan kebohongan dan ketidakpedulian, 
hanya karena takut kehilangan beberapa potong donat saja. Hanya gara-gara materi yang 
tidak seberapa nilainya, Mama Ayu telah menanamkan "bom waktu" yang bisa membawa 
dampak buruk yang luar biasa pada sikap mental anaknya.  

 "Dika, ayo pulang ! Kasih dadah untuk Mbak Ayu" kata saya mengajak Dika pulang. Dika 
menggandeng tangan saya sambil terdiam. Karena tidak mau berpamitan, sayapun mewakili 
Dika "Dadah Mbak Ayu.......Dadah Mamanya Mbak Ayu.Dika mau pulang dulu" kata saya 
sambil menggerak-gerakkan tangan Dika ke arah Ayu dan Mamanya.. 

Anak-anak yang semula bagaikan pengemis-pengemis kecil itupun pulang ke rumah 
masing-masing dengan muka masam. Saya tahu, sesampai di rumah, Dika pasti akan ngambek 
karena keinginannya untuk mencicipi donat tidak terpenuhi. Sebenarnya mudah saja, saya 
tinggal membelikan donat untuk Dika dan selesai. Tetapi saya tidak mau memperlakukan 
Dika sehingga begitu mudahnya bisa memuaskan keinginannya. Kesempatan itu justru saya 
gunakan untuk melatih Dika bagaimana dia harus mengendalikan diri dan belajar menuda 
pemenuhan keinginannya. 

Cukup lama saya memberi pengertian kepada Dika, bahwa dalam hidup ini apa yang kita 
inginkan belum tentu dapat dicapai. Sayapun berjanji "Kalau Dika bisa menahan 
keinginan untuk makan donat sampai hari Minggu nanti, Ibu janji akan membelikan Dika 
donat yang banyak supaya bisa dimakan bersama teman-teman Dika"

"Suer ?" tanya Dika ingin kepastian.

"Ibu janji, tapi nggak usah pakai suer-suer-an segala !" jawab saya tegas "Tapi ingat, 
ada syaratnya" lanjut saya

"Syaratnya apa ?" tanya Dika penasaran

"Ibu hanya akan membelikan donat, kalau Dika bisa menghafal ayat-ayat emas yang 
ditugaskan oleh guru Sekolah Minggu" kata saya

"Yes !" jawab Dika antusias.  

Lima hari berselang, tibalah saatnya saya dan Dika saling memenuhi janji kami 
masing-masing. Sebelum pergi ke Sekolah Minggu, Dika sudah yakin sekali kalau dia akan 
mendapatkan hadiah donat yang saya janjikan. Saat berjalan menyusuri gang, Dika selalu 
mengundang teman-teman yang ditemuinya "Nanti siang sepulang  Dika dari gereja, kamu 
main ke rumahku, ya ! Ntar aku kasih donat dech !" begitu kata Dika setiap ketemu 
temannya. Saya agak grogi juga karena sudah lebih dari 10 anak yang Dika undang, 
sedangkan uang di dompet saya mepet sekali. 

Sejak awal kebaktian, saya selalu berdoa "Tuhan, bermukjizatlah supaya uang saya 
ditambahkan sehingga cukup untuk membeli donat untuk Dika dan teman-temannya" Saya 
membawa doa sambil menangis dalam hati. Saya benar-benar mengharapkan mukjizat Tuhan. 
Saya berharap Tuhan menggerakkan hati teman-teman gereja saya yang belum melunasi uang 
pembelian buku (dagangan saya-waktu itu). Tetapi saya hampir putus harapan karena 
setelah kebaktian usai, mukjizat yang saya harap tidak terjadi. Teman-teman saya hanya 
menyalami saya sambil berkata "Selamat Hari Minggu, sorry ya, baru bisa melunasi uang 
nanti akhir bulan" Saya yang selama hidup pantang untuk menagih utang hanya bisa 
memaksakan diri untuk tersenyum, walau hati saya semakin ciut dan terus memohon 
"Tuhan, tolong supaya saya tidak ingkar janji !" 

Begitu saya keluar dari gereja, Dika sudah berdiri menunggu di gerbang gereja sambil 
berteriak bangga "Ibu, Dika dapat hadiah ini karena hafalan ayat emasnya benar" seru 
Dika kegirangan sambil menunjukkan bookmark bertuliskan ayat-ayat emas. Saya berusaha 
tersenyum bangga sambil mengacungkan ibu jari saya untuk Dika. Saya berusaha tersenyum 
di depan Dika, walaupun hati saya semakin cemas, karena tidak mendapatkan uang 
tambahan untuk membeli donat yang sudah saya janjikan. 

Begitu keluar dari gerbang gereja saya  kaget sekali karena trotoar yang biasa dipakai 
mangkal tukang kue ape, pagi itu ditempati oleh penjual donat goreng. Saya sungguh 
tidak menyangka karena selama saya berjemaat di gereja itu, baru kali itu melihat 
gerobak donat goreng. Sayapun menawarkan kepada Dika "Dika mau pilih Dunkin Donnut 
seperti punya Mbak Ayu tetapi cuma 6, atau donat ini tapi dapat 30 biji ?" kata saya 
sambil berharap Dika mau memilih donat yang harganya Rp. 200/biji (waktu itu). Setelah 
Dika menghitung jumlah teman-teman yang telah diundang, Dikapun memutuskan untuk 
membeli donat goreng bertabur bubuk gula itu. Sejak saat itu Dika menyebut donat 
semacam itu dengan nama donat Dika. 

Begitu kami turun dari ojek di mulut gang tempat tinggal kami, anak-anak yang semula 
berdiri berjajar di luar pagar rumah Ayu, beramai-ramai menyambut Dika. "Sok, ka 
bumina Dika! Dika boga donat" kata Adi dengan logat Sunda yang kental, yang mengajak 
teman-temannya ke rumah Dika karena  Dika punya Donat."Dika mah, bageur teu koret !" 
masih dalam Bahasa Sunda Adi mengatakan bahwa Dika anaknya baik, tidak pelit.  

Melihat anak-anak mengikuti saya dan Dika, tanpa sepengetahuan orang-orang di 
rumahnya, Ayupun lari menyusul kami. Saat anak-anak masuk ke rumah kami, Ayu masih 
tetap berdiri di depan pintu seakan-akan bukan termasuk kelompok anak-anak itu. 
Sayapun segera menyuruh Dika "Ka, Mbak Ayu ajakin masuk gih !"

"Nggak usah ! Kemarin saja dia pelit, tidak mau membagi donatnya. Kalau kita main ke 
rumahnya, dia cepat-cepat menutup pagarnya. Sekarang biar saja dia di luar terus kita 
tutup pintu kita, biar dia kapok !" kata Dika memuntahkan dendamnya.

"Hush...sebagai anak Tuhan, Dika tidak boleh bersikap seperti itu" kata saya tegas. 
Kali ini saya tidak menunggu persetujuan Dika untuk mempersilakan Ayu masuk "Sini Mbak 
Ayu masuk ! Tapi rumah Dika jelek, nggak bagus kayak rumah Mbak Ayu !" ajak saya 
sambil menuntun tangan Ayu.  

Sambil menunggu bibi (pembantu) menata donat di piring besar, saya menarik Dika ke 
dalam kamar. "Dika, Ibu hanya ingin Dika menjadi anak yang baik. Ibu ingin Dika  bisa 
memperlakukan semua orang dengan baik. Dika juga harus bisa membalas kejahatan dengan 
kebaikan" saya berusaha menasehati. Tetapi tidak mudah bagi Dika untuk melupakan sikap 
Ayu. Sorot mata kebencian masih saja terpancar di wajah Dika. 

Saat saya kehabisan akal untuk menasehati Dika, saya tahu apa yang harus saya lakukan 
untuk menakhlukkan jagoan kecil saya itu. Biasaya Dika tidak berkutik lagi kalau saya 
sudah membuka Alkitab untuknya. Sayapun langsung membacakan Amzal 25 : 21 -22 yang 
berbunyi "Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, 
berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara di atas kepalanya, dan Tuhan 
akan membalaskan itu kepadamu".Semula saya pikir ayat itu bisa melunturkan kebencian 
Dika, tetapi ternyata Dika masih berusaha membantah "Tetapi Mbak Ayu kan orang kaya. 
Dia tidak lapar dan tidak haus, kenapa harus kita beri donat ?" 

Sayapun membuka Lukas 6 : 27-36 dan membacakannya kalimat demi kalimat demikian : 
"Tetapi kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata : Kasihilah musuhmu, berbuatlah 
baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; 
berdoalah bagi yang mencaci kamu. Barang siapa menampar pipimu yang satu, berikanlah 
juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga 
ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan jangalah 
meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu 
kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan 
jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu ? Karena orang-orang 
berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau  kamu 
berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu ? Orang-orang 
berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada
 orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu ? 
Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima 
kembali sama banyak. Tetapi kamu, KASIHILAH MUSUHMU" Saya memberi tekanan yang kuat 
pada dua kata terakhir itu. 

"Dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, 
maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi sebab Ia 
baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang 
jahat. Hendaklah kamu MURAH HATI, sama seperti Bapamu adalah murah hati" saya 
menyelesaikan pembacaan ayat-ayat itu dengan memberi tekanan yang kuat pada kata murah 
hati. 

Walaupun sorot mata kebenciannya sudah agak meredup, perasaan dingin masih tetap 
menghiasi wajah Dika. "Tapi Mbak Ayu kan bukan orang Kristen, kenapa Dika harus 
memperlakukan Mbak Ayu seperti yang Tuhan Yesus ajarkan?" tanya Dika belum mengerti.

"Alkitab memang tidak menuntut orang-orang yang bukan pengikut Kristus untuk tunduk 
mengikutinya. Tetapi sebagai anak Tuhan, kita harus tunduk pada Firman Tuhan dan 
mengasihi semua orang, baik untuk orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, maupun 
orang-orang yang tidak percaya" saya berusaha menjelaskan. 

Karena minat Dika untuk berbuat baik kepada Ayu belum juga muncul, sayapun berkata 
"Kalau Dika belum mau memaafkan Mbak Ayu, Dika tidak usah keluar dulu. Dika coba baca  
Lukas 6 ayat 27-36 ini berulang-ulang, sampai Dika merasa lega dan rela untuk 
membagikan donat kepada Mbak Ayu. Kalau nanti Dika sudah ingin sekali berbaikan sama 
Mbak Ayu, Dika baru boleh keluar" kata saya sambil meninggalkan Dika dengan Alkitab 
yang tetap terbuka.  

Beberapa menit kemudian, Dika keluar dan langsung mengulurkan tangan untuk meminta 
maaf kepada Ayu. Sayapun mencium Dika dengan bangga, sambil berbisik "Karena hari ini 
kamu hebat, besok kalau Ibu sudah gajian kamu boleh minta donat seperti yang Mbak Ayu 
makan kemarin" saya menghargai kemenangan jiwa Dika yang telah mengalahkan kebencian 
dan nafsu balas dendamnya. 

Sikap Mama Ayu sebenarnya merupakan hal yang biasa di dunia ini, tetapi tidak demikian 
seharusnya untuk anak-anak Tuhan. Saya teringat waktu kuliah di UKSW dulu. Waktu itu 
saya ditugaskan oleh Panitia Paskah untuk meminta sumbangan di perumahan dosen UKSW. 
Ketika saya mengetok pintu rumah seorang dosen mata kuliah Agama dan Etika Kristen (NB 
: dosen tsb berarti seorang Theolog), saya hanya disambut dengan kata-kata "Maaf Dik, 
semua uang dipegang istri saya dan saat ini istri saya sedang pergi". Belum sempat 
saya membalikkan badan, tiba-tiba seorang anak kecil menghambur keluar sambil berkata 
"Papa bohong ! Mama khan ada di dapur !" 

Walaupun saya tidak mendendam, tetapi saya tidak berminat sama sekali untuk mengambil 
mata kuliah dari dosen tsb (saya memilih dosen lain), karena saya yakin saya tidak 
bakal bisa mendapatkan nilai A hanya gara-gara saya tidak simpati, tidak bisa 
mempercayai kata-katanya lagi, dan saya takut tidak bisa menyerap ajaran2 yang 
diberikan.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70
http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke