From: Martinus Meiji Apakah "Moralitas Baru" Dapat Diterima Sebagai PerilakuKristen?
Moralitas baru mulai dianut secara luas di tahun 1960'an sebagai sistem nilai baru menggantikan moralitas lama yang dianggap sudah kuno/ kolot. Moralitas baru sesungguhnya bukanlah hal baru karena merupakan hasil pembenaran atas perilaku menyimpang dan ketidakpercayaan manusia selama berabad-abad. Para pembela 'moralitas baru' atau 'etika situasi', umumnya berpandangan bahwa alasan-alasan manusialah yang harus dijadikan dasar penentuan moralitas itu sendiri. Mereka menerima pewahyuan sebagai sumber nilai-nilai etika namun pada saat yang sama menolak norma/hukum tersebut, kecuali pada bagian perintah mengasihi Allah dan sesama. 'Etika situasi' tidak didasarkan pada apa yang dianggap benar atau salah, tapi pada apa yang dirasa cocok. Atas dasar apakah seseorang bisa menerima pewahyuan tapi hanya pada satu bagiannya saja? Ketika akal manusia mulai membuat penilaian pada wahyu Allah, orang kehilangan hak untuk mengklaim bagian manapun dari wahyu sebagai hal yang mengikat. Ajaran utama 'metode situasional' adalah kasih yang tidak bersandar pada kebaikan hakiki, yakni dasar penentuan salah dan benar, kasih dalam ,metode situasional, dapat 'berpikir', lemah, dan tak berdaya. Ia dengan jelas membedakan kasih dan kepatuhan, kebenaran dan kebijaksanaan. Walau 'moralitas baru' menjadi terkenal setelah mendapat dukungan dari pemuka-pemuka agama, namun dalam moralitas itu sendiri tidak terdapat nilai "Kristen". Sebuah etika baru dapat dikatakan memiliki nilai Kristen jika didasarkan pada Alkitab. Dari awal hingga akhir, Alkitab menunjukkan bahwa Allah mengharapkan tindakan nyata dari manusia ciptaan-Nya, dan harapan itu dituangkan dalam Perjanjian Lama melalui Sepuluh Perintah Allah. Para penganut 'etika situasi' biasanya mengatakan bahwa Kristus sendiri telah menghapuskan aturan-aturan dalam Perjanjian Lama dan menggantinya dengan satu hukum yaitu kasih. Kristus memang mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dan sesama adalah dua hukum yang terutama dan kita tidak boleh mengabaikannya, tapi untuk menggenapi perintah tersebut, Tuhan tidak membiarkan manusia tanpa aturan/hukum (Matius 22:35-40). Kristus dengan tegas mengatakan "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi; Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan menggenapinya (Matius 5:17). Lebih jauh Ia juga memperingatkan untuk tidak membatalkan perintah yang paling kecil sekalipun namun agar mematuhinya (Matius 5:19). Dalam menggenapi hukum itu, Kristus sangat menekankan pada ketaatan/kepatuhan hati, bukan pada bentuk ibadah yang terlihat dari luar. Pada khotbah dibukit, Kristus menyebutkan secara khusus hukum Perjanjian Lama dengan penekanan yang lebih dalam. Misalnya, bukan saja 'jangan membunuh'; 'jangan membenci' juga adalah perintah yang sama pentingnya (Matius 5:21-22). Contoh lainnya, Dia menetapkan hukum tentang perzinahan (5:27-28), perceraian (5:31-32), mengambil sumpah (5:33-37), memberi sedekah (6:1-4), berdoa, (6:5-8), berpuasa (6:16-18). Kristus tidak membatalkan Hukum; Ia menunjukkan bahwa ketaatan sejati haruslah berasal dari dalam sebagaimana kepatuhan yang terlihat di luar. Mengasihi Allah dan sesama adalah dua perintah terutama, bukan karena Allah tidak mengharapkan manusia mentaati perintah lainnya, namun karena perintah yang lain tidak mungkin bisa dipenuhi jika hati manusia masih memberontak terhadap penciptaNya. 'Etika situasi' dimaksudkan untuk menunda, mengabaikan, atau merusak prinsip dasar karena merasa dirinya dapat memberi lebih banyak kasih dibanding melalui ketaatan/kepatuhan. Etika tersebut secara jelas merusak gambaran kasih dalam Alkitab "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah Nya. Perintah-perintahNya itu tidak berat (I Yohanes 5:3). Kasih menurut Alkitab, tidak terpisahkan dari kepatuhan pada firman Allah. Yesus berkata, "Jika engkau mengasihiKu, engkau akan mengikuti perintah-perintahKu" (Yohanes 14:15). 'Etika situasi' tidak bisa begitu saja berkata bahwa hukum kasih telah menggantikan hukum-hukum lainnya dalam Alkitab, karena keduanya berjalan seiring. 'Moralitas baru' begitu populer karena menolak semua aturan hukum kecuali kasih. Moralitas tersebut dipakai untuk membenarkan perselingkuhan, aborsi, homoseksualitas, mencuri, mabuk-mabukan, dan penggunaan obat bius. Seseorang dapat merasionalisasi berbagai penyimpangan perilaku atas nama kasih karena tidak dituntun Alkitab, padahal ia tidak mengetahui apa sebenarnya mengasihi itu! Injil Yesus Kristus membebaskan seseorang dari keterikatan hukum melalui anugerah keselamatan oleh kemurahan-Nya, jadi bukan karena hasil ibadah. Injil ini memberikan hidup baru bagi orang percaya sehingga seseorang dengan suka cita melakukan perintah-perintah Allah. Orang-orang Kristen mengalami janji-janji Kristus, "Kamu adalah sahabatKu, jika kamu melakukan perintahKu (Yohanes 15:14). Dikutip dari The Bible Has the Answer, by Henry Morris dan Martin Clark, diterbitkan oleh Master Books ====================================== From: "Eric Gasper" <eric...> SERUPA dengan YESUS - Good Story Beberapa tahun yang lalu, sekelompok salesmen menghadiri pertemuan sales di Chicago. Mereka telah meyakinkan istri-istri mereka bahwa mereka akan mempunyai cukup waktu untuk makan malam bersama di rumah pada hari Jumat. Namun, manager sales menghabiskan lebih banyak waktu daripada yang telah diperkirakan dan pertemuan berakhir lebih lambat daripada yang telah dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket pesawat dan tas mereka di tangan, mereka berlari menerobos pintu airport, tergesa-gesa, mengejar penerbangan mereka pulang. Ketika mereka sedang berlari-lari, salah satu dari para salesman ini tidak sengaja menendang sebuah meja yang digunakan untuk menjual apel. Dan apel-apel itu beterbangan. Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang, mereka semua akhirnya berhasil masuk ke dalam pesawat dalam detik-detik terakhir pesawat itu tinggal landas. Semua, kecuali satu. Dia berhenti, menghela napas panjang, bergumul dengan perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan menyelimuti dirinya untuk gadis yang menjual apel. Ia berkata kepada rekan-rekannya untuk pergi tanpa dirinya, melambaikan tangan, meminta salah satu temannya untuk menelpon istrinya ketika mereka sampai di tempat tujuan untuk memberitahukan bahwa ia akan mengambil penerbangan yang berikutnya. Kemudian, ia kembali ke pintu terminal yang berceceran dengan banyak sekali buah apel di lantai. Salesman ini merasa lega ketika ia tiba disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini buta! Gadis tersebut sedang menangis sesegukan, air matanya mengalir turun di pipinya, dan gadis itu sedang berusaha untuk meraih buah-buah apel yang bertebaran di antara kerumunan orang-orang yang bersliweran di sekitarnya, tanpa seorang pun berhenti, atau pun cukup peduli untuk membantunya. Salesman itu berlutut di lantai di sampingnya, mengumpulkan apel-apel tersebut, menaruhnya kembali ke dalam keranjang dan membantu memajangnya di meja seperti semula. Seketika itu, ia menyadari bahwa banyak dari apel-apel itu rusak, dan ia mengesampingkan apel yang rusak ke dalam keranjang yang lain. Setelah selesai, pria ini mengeluarkan uang dari dompetnya dan berkata kepada si gadis penjual, "Ini, ambillah $20 untuk semua kerusakan ini. Apakah kau tidak apa-apa?" Gadis itu mengangguk, masih berlinang air mata. Pria itu melanjutkan dengan, "Saya harap kita tidak merusak harimu begitu parah." Ketika pria ini mulai beranjak pergi, gadis penjual yang buta ini memanggilnya, "Tuan..." Pria ini berhenti, dan menoleh ke belakang untuk menatap kedua matanya yang buta. Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau Yesus?" Ia terpana. Kemudian, dengan langkah yang lambat ia berjalan masuk untuk mengejar penerbangan berikutnya. Dan pertanyaan itu terus menerus berbicara di dalam hatinya, "Apakah kau Yesus?" Apakah orang-orang mengira engkau Yesus? Bukankah itu tujuan hidup kita? Untuk menjadi serupa dengan Yesus sehingga orang-orang tidak dapat melihat perbedaannya ketika kita hidup dan berinteraksi di dalam dunia yang buta dan tidak mampu melihat kasih, anugrah dan kehidupanNya.. Jika kita mengakui bahwa kita mengenal Dia, kita harus hidup, berjalan, dan bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus adalah lebih dalam daripada hanya sekedar mengutip kata-kata dari Alkitab dan pergi beribadah di gereja. Mengenal Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari demi hari. Anda adalah seperti buah apel tersebut di mata Allah meskipun kita rusak dan menjadi cacat ketika kita terjatuh. Allah berhenti mengerjakan apa yang sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari dan membayar penuh semua kerusakan kita. Mari mulai jalani hidup sesuai dengan harga yang telah dibayarkanNya. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [EMAIL PROTECTED] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!) -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

