From: "MundhiSabda Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>

Laki-Laki di Sekitarku- 4
(Oleh Lesminingtyas)  

Ketika kantor menugaskan saya untuk melakukan compare study di Universitas Pajajaran 
Bandung untuk beberapa saat, ada beberapa peristiwa yang terjadi di antara teman 
pergaulan saya di bis jemputan, yang terlewatkan dari pengamatan saya. Begitu saya 
kembali bekerja, beberapa teman memberi tahu saya bahwa ada masalah serius yang 
terjadi selama kepergian saya. Para pengurus paguyuban itu memberitahu saya bahwa Pak 
Harun; seorang sopir mikrolet yang nebeng di bis jemputan itu menjalin hubungan khusus 
dengan mahasiswi berjilbab yang juga menjadi pelanggan tetap bis yang sama.  

Para pengurus meminta saya untuk melakukan sesuatu supaya perselingkuhan mereka tidak 
makin jauh. Semula saya hanya berpikir "What do I care ?". Saya pikir saya tidak punya 
tanggung jawab moral sedikitpun atas sikap dan perbuatan orang-orang yang tak seiman. 
Saya pikir biarlah mereka menanggung dosa dari perbuatan yang dilakukannnya. Tetapi 
ketika saya tahu bahwa yang melakukan perselingkuhan itu laki-laki yang telah 
berkeluarga, saya disadarkan bahwa ada 2 atau bahkan 3 pihak yang akan menjadi korban. 
Dua korban pertama adalah istri dan anak-anak Pak Harun. Bisa jadi kalau mahasiswi itu 
menyadari apa yang sedang terjadi, Nenengpun akan merasa bahwa dirinya adalah korban.  

Pertama-tama saya mengajak Neneng untuk berbicara empat mata. Atas nama perempuan, 
saya menyarankan supaya Neneng tidak menjalin hubungan khusus dengan Pak Harun supaya 
tidak ada perempuan lain yang disakiti. Namun ketika Neneng merasa bahwa apa yang 
dilakukannya syah-syah saja, sayapun berkata "Coba Neneng bayangkan seandainya yang 
melakukan hubungan khusus itu ayah Neneng. Kira-kira bagaimana perasaan ibu Neneng dan 
juga perasaan Neneng sendiri sebagai anak ?" Saya berharap pertanyaan itu bisa membuat 
Neneng lebih peduli terhadap penderitaan perempuan lain. Tetapi tampaknya Neneng telah 
larut dalam permainan Pak Harun. "Sebenarnya saya melakukan ini semua karena saya 
kasihan sama Pak Harun. Saya kasihan karena setiap hari Pak Harun bekerja dari subuh 
hingga sore, tapi sedikitpun ia tidak mendapatkan perhatian dari istrinya" kata Neneng 
sok pahlawan.

"Neneng sudah kenal istri Pak Harun ?" saya bertanya. Neneng hanya menggeleng.

"Kalau Neneng belum kenal, dari mana Neneng tahu permasalahan Pak Harun dengan 
istrinya ?" saya kembali bertanya.

"Pak Harun sering berkeluh kesah pada saya" jawab Neneng.

"Kalau kita mau membantu Pak Harun dan istrinya menyelesaikan masalah, kita tidak 
mungkin hanya mendengar cerita dari satu pihak saja. Kalau Neneng benar-benar ingin 
menolong mereka dengan tulus dan tanpa pamrih, alangkah baiknya kalau Neneng 
berkenalan dengan  istri Pak Harun" saya memberi saran. 

"Tapi Pak Harun setiap hari menceritakan dengan sungguh-sungguh penderitaannya. Setiap 
pulang narik mikrolet Pak Harun tidak pernah disambut dan dilayani dengan baik. 
Istrinya yang tidak punya pekerjaan setiap hari hanya menganggur di rumah dan 
pura-pura sibuk ngurus anak." Neneng merasa tahu segalanya.

"Neneng pernah menjadi istri ?" saya bertanya. Neneng hanya menggeleng.

"Neneng perlu tahu, saya yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi istri saja tidak 
berani mengatakan bahwa saya lebih baik dari istri Pak Harun. Sangat salah kalau 
dikatakan bahwa istri yang tidak mencari nafkah itu tidak bekerja atau menganggur. 
Asal Neneng tahu saja, perempuan yang menjadi ibu rumah tangga itu bekerja tanpa 
batasan jam kerja dan kalau dihitung-hitung pasti lebih dari 8 jam per hari. Kalau 
saya bekerja di kantor paling-paling 8 jam per hari dan itupun saya sudah merasa lelah 
sekali. Walalupun demikian saya yakin bahwa saya bisa menjadi karyawan  teladan, tapi 
untuk menjadi ibu rumah tangga mungkin saya tidak lebih baik dari orang lain. Sangat 
mungkin istri Pak Harun itu lebih hebat dari saya. Dan satu hal yang tidak bisa saya 
percaya adalah soal istri Pak Harun yang berpura-pura sibuk mengurus anak. Selama 
masih waras, saya yakin  tidak ada seorang ibupun yang berpura-pura mengurus anak" 
kata saya panjang lebar. 

"Saya tahu itu Bu, tapi sebagai istri khan tetap wajib mengabdi dan memenuhi  
kebutuhan lahir dan batin suaminya" kata Neneng tak simpati.

"Soal itu saya rasa harus take and give. Kalau Pak Harun memperlakukan istrinya dengan 
 dengan penuh kasih sayang, saya rasa dengan sendirinya Pak Harun akan mendapatkan apa 
yang ia inginkan" saya berpendapat "Tapi kalau sedikit saja tidak puas sama istri 
kemudian pindah ke lain hati, itu namanya laki-laki ganjen !" lanjut saya sambil 
tertawa. 

Sambil tersenyum Neneng berkata "Mungkin Bu Ning sulit  mengerti karena latar belakang 
keyakinan kita berbeda. Saya hanya mau bilang bahwa dalam agama kami, laki-laki bisa 
beristri lebih dari satu dan itu merupakan ibadah"

"O.....jadi kalau Pak Harun mau poligami, Neneng sudah siap nich ?" tanya saya sambil 
tertawa supaya Neneng lebih rileks. Neneng tidak menjawab tetapi malah ikut tertawa. 
"Ih, kalau saya mah ogah, Neng !" kata saya "Saya yang sudah tua dan punya anak tiga 
saja mending nganggur dari pada punya suami tapi dimadu. Neneng yang masih single, 
muda dan cantik kok mau-maunya sih berhubungan dengan laki-laki yang sudah beristri ?" 
tanya saya masih sambil tertawa.

"Tapi buat kami itu semua adalah ibadah, Bu !" kata Neneng sambil tersenyum. 

"Memangnya dalam agama Neneng kalau menikah dengan laki-laki yang belum beristri itu 
bukan termasuk ibadah ?" saya mengajak Neneng berpikir  "Neng, saya kasih tahu saja ya 
: menjadi istri pertama saja belum tentu hidup bisa enak, kenapa pula kepingin menjadi 
istri kedua ? Terus kelak hanya karena alasan ibadah juga Neneng harus siap berebut 
kasih sayang dengan istri ketiga dan keempat ?" lanjut saya.

"Namanya juga ibadah, pasti tidak mudah untuk dijalani" kata Neneng sambil membetulkan 
kerudungnya.

"Sorry ya, Neng...saya cuma mau berbagi pengalaman. Dulu waktu saya masih gadis, saya 
kepingin punya pacar  bujangan, yang masih muda pula ! Memangnya sekarang Neneng nggak 
kepingin punya pacar teman sekampus ? Apa enaknya sih Neng, pacaran sama orang yang 
lebih pantas jadi bapak atau kakek Neneng ?" tanya saya santai.
"Kelebihan laki-laki tua itu pada kantongnya !" jawab Neneng sambil tertunduk malu.    
  

Walaupun Neneng belum mau merubah pendiriannya, saya tidak pernah merasa kecewa. Yang 
penting saya sudah menyampaikan apa yang suharusnya saya katakan.  

Pada kesempatan lain saya mendekati Pak Harun untuk mencari tahu sudah sejauh mana 
hubungan mereka. Namun dengan berbagai dalih Pak Harun meyakinkan bahwa hubungannya 
dengan Neneng; mahasiswi yang seumur dengan anaknya itu dilakukan semata-mata karena 
ia menganggap Neneng sebagai anaknya. "Saya hanya kasihan karena Neneng selalu 
mengeluh kalau uang kuliahnya tersendat-sendat dan uang sakunya terlalu mepet. Makanya 
saya pikir tidak ada salahnya saya memberikan uang supaya Neneng bisa jajan di kampus 
dan  membayar kuliahnya dengan lancar" kata Pak Harun. 

"Menolong itu memang baik. Sangat juga setuju kalau Pak Harun peduli terhadap 
kesulitan orang lain. Tapi Pak Harun sendiri dulu pernah bercerita  bahwa penghasilan 
Pak Harun Rp. 70,000 per hari. Kalau beberapa orang di bis ini tahu bahwa Pak Harun 
memberikan uang kepada Neneng Rp. 40,000 - 50,000 per hari, berapa yang Pak Harun bawa 
pulang untuk anak istri ? Sebenarnya saya tidak mau ikut campur, tapi saya 
membayangkan kalau Pak Harun itu ayah saya. Saya tahu persis bagaimana perasaan istri 
dan anak-anak Pak Harun kalau mereka tahu yang sesungguhnya" saya mengajak Pak Harun 
menilik perasaan  istri dan anak-anaknya.

"Tapi mereka sudah biasa dengan penghasilan saya yang naik turun. Istri dan anak saya 
tahu kalau lagi sepi saya hanya membawa pulang uang segitu, jadi saya pikir nggak 
masalah" jawab Pak Harun mencari pembenaran. 

"Kalau istri dan anak-anak Pak Harun begitu mensyukuri seberapapun rejeki yang Pak 
Harun peroleh, sudah seharusnya Pak Harun menghargai sikap mereka. Tapi kalau Pak 
Harun mendapatkan uang lebih, apakah Pak Harun tidak ingin melihat mereka lebih 
bersyukur lagi ? Kalau lagi sepi, biarlah mereka mensyukuri rejeki yang sedikit. Tapi 
kalau lagi ramai dan Pak Harun mendapatkan rejeki yang lebih banyak, mengapa Pak Harun 
tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut menikmatinya ?" kata saya.

"Menurut saya kalau dengan Rp. 20,000 - 30,000 mereka sudah cukup, buat apa saya kasih 
Rp. 70,000. Lagi pula saya tidak mengurangi jatah mereka kok. Uang yang saya kasih ke 
Neneng itu khan uang jajan dan rokok saya" kata Pak Harun tanpa rasa bersalah.

"Kalau mereka sudah bisa hidup dengan Rp. 20,000 - 30,000 per hari, Pak Harun khan 
bisa memberikan Rp. 70,000 dan ajari istri Pak Harun untuk menabung Rp. 20,000- 
40,000/hari buat masa depan anak-anak. Saya cukup salut karena Pak Harun bisa 
mengurangi jajan dan rokok, tetapi alangkah bijaksananya kalau uang jajan dan rokok 
yang tidak terpakai itu bisa dimanfaatkan untuk keluarga, bukan untuk orang lain" saya 
menyarankan.  

"Kenapa Bu Ning mempermasalahkan apa yang saya lakukan kepada Neneng, sedangkan istri 
saya saja tidak pernah bilang apa-apa" kata Pak Harun merasa benar.

"Jawabannya gampang Pak : Karena istri Pak Harun tidak tahu yang sebenarnya" jawab 
saya singkat "Saya yakin Pak Harun tidak pernah menceritakan yang sesungguhnya kepada 
istri Pak Harun. Kalau menurut saya pribadi, apapun yang kita lakukan tetapi kita 
tidak berani berterus terang kepada pasangan, itu merupakan perselingkuhan. Maaf ya, 
saya terpaksa ikut campur karena saya tahu betapa hancurnya hati perempuan kalau ia 
tahu suaminya berselingkuh. Sebagai teman, saya ingin mengingatkan Pak Harun supaya 
lebih bijaksana lagi dan sebisa mungkin menomorsatukan keluarga" lanjut saya.

"Apa salahnya kalau saya membantu Neneng karena saya menyayangi dia seperti anak saya 
sendiri ?" Pak Harun tetap ingin mencari pembenaran.

"Sekarang saya tanyakan, berapa uang saku yang Pak Harun berikan untuk anak-anak Pak 
Harun ? Saya yakin uang saku anak-anak Pak Harun lebih kecil dari uang yang diberikan 
kepada Neneng. Kalau seperti itu namanya Pak Harun bukan menyayangi Neneng sama 
seperti anak Pak Harun, tetapi melebihi. Nah, apakah Pak Harun juga ingin anak-anak 
Pak Harun meminta belas kasihan kepada orang lain karena uang ayahnya lebih banyak 
diberikan kepada teman perempuannya ?" saya mengajukan pertanyaan yang betul-betul 
menyudutkan Pak Harun. 

"Sekarang saya tanya lagi, berapa uang Pak Harun  yang diberikan kepada Neneng untuk 
membeli baju lebaran ?" saya bertanya seakan menelanjangi Pak Harun.

"Tiga ratus lima puluh ribu rupiah" jawab Pak Harun pelan.

"Hah...350 ribu ?! Saya yakin seyakin yakinnya kalau Pak Harun sekali saja belum 
pernah membelikan baju lebaran semahal itu untuk istri Pak Harun" jawab saya 

"Ya, karena istri saya memang bukan pesolek. Kalaupun saya kasih uang jutaan, paling 
banter dia membeli sarung dan kebaya atau malah daster. Jadi buat apa saya beri uang 
banyak-banyak ?"

"O.....jadi Pak Harun itu kepingin lihat perempuan pakai baju-baju bagus nich ? Kenapa 
nggak nonton Indonesian Model di TV aja ?" tanya saya menggoda supaya Pak Harun tidak 
tegang "Kalau istri Pak Harun bukan pesolek, seharusnya disyukuri karena ia tidak 
boros atau menuntut Pak Harun untuk memberi uang lebih hanya untuk mempercantik diri. 
Nah, kalau selama ini istri Pak Harun hanya pakai daster, apa salahnya Pak Harun 
membeli baju yang mahal untuknya, bukan untuk Neneng" saya tetap tidak setuju dengan 
tindakan Pak Harun. 

Karena Pak Harun tetap berkeras, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya hanya 
berpesan "Hati-hati ya Pak Harun, banyak orang bilang Neneng itu punya semboyan 'Ada 
uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang' jadi mulai sekarang siap-siap 
saja untuk kembali menororsatukan keluarga. Suatu saat nanti ditendang Neneng, Pak 
Harun punya tempat untuk berkeluh kesah". Pak Harun hanya tertawa tak menghiraukan 
kata-kata saya. Pak Harunpun tetap menjalankan hubungan khususnya di bis bersama 
Neneng 

Beberapa bulan telah berselang. Entah sudah berapa lama saya tidak pernah 
menyinggung-nyinggung masalah perselingkuhan itu dengan Pak Harun. Sampai suatu saat 
Pak Harun jatuh sakit dan untuk sementara tidak bisa bekerja. Ketika pertama kali Pak 
Harun kembali bekerja, sayalah orang pertama yang ditemui Pak Harun.

"Seharusnya dulu saya mendengar teguran Bu Ning. Sekarang uang saya sudah 
habis-habisan seperti ini, Neneng sedikitpun tidak menghiraukan saya. Kemarin saya 
harus masuk rumah sakit dan menghabiskan uang hampir sejuta. Saya harus utang kanan 
kiri dan sekarang keluarga lagi prihatin. Utang untuk biaya berobat saja belum lunas, 
kemarin telepon  rumah dicabut karena 3 bulan nunggak  tidak terbayar. PLN juga sudah 
memberikan surat peringatan untuk mencabut aliran listrik karena sudah 5 bulan saya 
belum membayar" Pak Harun berkeluh kesah. 

"Pas Neneng nengok ke rumah sakit, dia bisa kenalan  sama isri Pak Harun dong?" saya 
bertanya dengan suara pelan

"Boro-boro nengok, menelpon saja nggak mau ! Padahal uang yang saya berikan untuk dia 
sudah lebih dari Rp. 3 juta !"

"Nah, sekarang ketahuan khan...pemberian Pak Harun itu bukan tanpa maksud ?" saya 
menggoda Pak Harun dengan telunjuk, seperti orang tua memperingatkan anak kecil "Kalau 
Pak Harun menyanyangi Neneng seperti anak sendiri dan memberi tanpa pamrih, pasti Pak 
Harun tidak mau mengingat-ingat lagi berapa yang sudah diberikan. Lagi pula Pak Harun 
tidak akan sakit hati kalau Neneng tidak menelpon atau menengok" lanjut saya sambil 
tertawa.

"Tertawa sih tertawa Bu, tapi tolong dulu pinjami saya uang biar listrik di rumah 
tidak dicabut !" kata Pak Harun meminta tolong. 

"Soal pinjam uang itu sih gampang ! Tapi sebelumnya saya mau tanya, Pak Harun jangan 
memotong atau memprotes pertanyaan saya, tapi cukup menjawab dalam hati" saya 
mengajukan syarat. Karena Pak Harun tidak bereaksi, sayapun mengajukan beberapa 
pertanyaan.

"Apa yang dilakukan Pak Harun selama 5 bulan, sehingga rekening listrik tidak terbayar 
?" Pak Harun hanya tersenyum.

"Kenapa Pak Harun mengeluhkan biaya rumah sakit yang tidak sampai  sejuta, sedangkan 
Pak Harun mampu memberikan 3 juta untuk Neneng ?" Pak Harun mau menjawab tapi saya 
cepat-cepat mengangkat jari telunjuk tepat di depan bibir saya supaya Pak Harun 
mendengarkan pertanyaan saya selanjutnya.

"Dulu apa kata Pak Harun ketika saya mengingatkan untuk menabung ?" saya kembali 
bertanya.

"Sekarang siapa yang setia mendampingi Pak Harun dalam kesulitan ? Apakah mahasiswi 
yang memakai baju 350 ribu, ataukah perempuan berdaster yang tidak pesolek ?" Walaupun 
dengan tertawa Pak Harun menujukkan sikap protes. Tetapi saya tak kurang akal untuk 
menundukkannya "Eit, nggak boleh protes, saya belum selesai bertanya. ! Kalau Pak 
Harun protes, berarti pinjaman uang dibatalkan !" saya mengancam. Pak Harunpun diam 
sambil tersipu-sipu karena malu. 

"Pertanyaan saya yang terakhir : Bersediakah Pak Harun meminta maaf kepada istri dan 
anak-anak Pak Harun atas penghianatan Pak Harun terhadap mereka ? Sekarang Pak Harun 
boleh menjawab" kata saya.

"Wah, yang terakhir itu yang paling berat. Saya belum melakukan apa-apa kok disuruh 
meminta maaf.  Agama saya saja membolehkan laki-laki beristri empat, kok Bu Ning 
melihat saya seperti itu saja sudah sewot. Masak saya mau meminjam uang saja kok malah 
disuruh pakai minta maaf kepada istri dan anak-anak, pakai maksa lagi" kata Pak Harun 
sambil tertawa.

"IMF saja memberi syarat sebelum mengucurkan pinjaman, sekarang boleh dong saya minta 
Pak Harun memenuhi permintaan saya !" jawab saya sambil tertawa.

"Bolehlah Bu Ning kasih syarat, atau kalau perlu minta bunga juga boleh asal jangan 
menyuruh saya untuk meminta maaf kepada anak dan istri" kata Pak Harun mengajukan 
pilihan lain. Atas nama Kasih sayapun meminjamkan uang kepada  Pak Harun tanpa 
mempersulitnya lagi. "Agama saya melarang saya membungakan uang. Jadi, ambil uang ini 
kemudian akui kesalahan dan bertobatlah !" kata saya. 

Beberapa bulan telah berselang, namun keberuntungan tampaknya belum berpihak kepada 
Pak Harun. Setiap bertemu dengan saya, Pak Harun berkata "Maaf saya belum mendapat 
rejeki untuk mengembalikan uang Bu Ning"

"Kalau Pak Harun minta maaf kepada istri dan anak-anak Pak Harun, pasti rejeki Pak 
Harun akan semakin lancar. Paling tidak pengampunan dari istri dan anak-anak akan 
membuat Pak Harun tenang bekerja. Lagi pula kalau mereka sudah memaafkan dan tahu 
kesulitan Pak Harun yang sebenarnya, mereka akan lebih giat lagi mendoakan Pak Harun" 
jawab saya.  

Memang setiap hari saya dan Pak Harun selalu pulang bersama-sama, naik bis jemputan 
dari Jakarta ke Bogor. Tapi sayang sekali, hati kami teramat jauh. Kami hampir tidak 
pernah sehati dalam memandang perempuan dan anak-anak. Jadi, saya hanya berani 
mengatakan bahwa Pak Harun adalah laki-laki di sekitar saya, tidak lebih. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke