From: "ronnie speedking"

"Saran Simpatik Pdt. Dr. Jan S. Aritonang"
http://www.hidayatullah.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1469&mode=&order=0&thold=0%3Cb

Pada tahun 2004 ini, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia dan 
dosen Sejarah Gereja di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, bernama Dr. Jan 
S. Aritonang menerbitkan sebuah buku tebal berjudul "Sejarah Perjumpaan Kristen 
dan Islam di Indonesia" (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004). Buku ini menarik 
karena - disamping dilengkapi dengan data-data sejarah yang melimpah - juga 
disertai dengan saran dan harapan untuk mengatasi konflik
Islam-Kristen di Indonesia. Saran-saran itu ditujukan kepada pihak Kristen dan 
Islam.

Berikut ini diantara sejumlah saran yang ditujukan kepada pihak Kristen dan 
catatan yang kita berikan terhadapnya.

(1) Orang Kristen tidak perlu ragu bahwa keselamatan ada di dalam dan oleh 
Yesus Kristus. Sekali orang Kristen meragukan, merelatifkan, atau melepaskan 
keyakinan yang sangat mendasar ini, patutlah dipertanyakan apakah ia masih 
dapat dan layak disebut atau menyebut diri sebagai orang Kristen. Tetapi, 
keyakinan itu tidak boleh membuat orang Kristen merasa lebih selamat atau lebih 
unggul dari umat beragama lain.
Sebab, Yesus Kristus tidak datang untuk mendirikan sebuah agama dan tidak dapat 
dikuasai atau dipenjarakan oleh sebuah agama yang namanya Kristen.
Umat Kristen bukanlah pemilik tunggal keselamatan. Tidak zamannya lagi 
mempertahankan semboyan extra ecclesiam nulla salus (di luar gereja tidak ada 
keselamatan). . Syndrom anak tunggal, yaitu kebanggaan semu sebagai 
satu-satunya umat yang selamat, patutlah ditinggalkan. Tugas gereja dan orang 
Kristen adalah memberitakan Injil keselamatan itu, bukan mengkristenkan orang 
lain.

Dengan saran seperti itu, Pdt Jan S. Aritonang telah memasuki wilayah teologi 
yang sensitif, terutama bagi kaum Kristen sendiri. Ia tetap menyarankan kaum 
Kristen memegang teguh keyakinannya terhadap Yesus Kristus, tetapi pada saat 
yang sama, ia menyatakan, bahwa bukan hanya orang Kristen yang selamat. Paham 
ini lebih dekat ke gagasan "teologi inklusif" yang mewarnai Konsili Vatikan II. 
Dimana dinyatakan, bahwa kebenaran ada di dalam
Kristen tetapi juga ada pada agama lain. Ia mengajak kaum Kristen melepaskan 
klaim Teologi Eksklusif, extra ecclesiam nulla salus. Tetapi, masalahnya, bukan 
hanya antara agama Kristen dan non-Kristen. Di antara sesama kaum Kristen 
sendiri, doktrin extra ecclesiam nulla salus itu menjadi perdebatan panas. 
Gereja manakah yang selamat? Apakah hanya Gereja Katolik atau ada Gereja lain 
yang selamat? Gereja Protestan lahir belakangan setelah para
reformis Kristen melancarkan pemberontakan terhadap Gereja Katolik.

Pada 31 Oktober 1517, Marthin Luther (1483-1546) memberontak pada kekuasaan 
Paus dengan cara menempelkan 95 poin pernyataan (ninety-five Theses) di pintu 
gerejanya, di Jerman. Ia terutama menentang praktik penjualan "pengampunan 
dosa" (indulgences) oleh pemuka gereja. Pada 95 theses-nya itu, Luther juga 
menggugat keseluruhan doktrin supremasi Paus, yang dikatakannya telah 
kehilangan legitimasinya akibat penyelewengan yang dilakukannya. Tahun 1521, 
Luther dikucilkan dari Gereja Katolik. Namun, Luther berhasil
mendapatkan perlindungan seorang penguasa di wilayah Jerman dan akhirnya 
mengembang kan gereja dan ajaran tersendiri terlepas dari kekuasaan Paus.
Luther bahkan menyebut Paus sebagai "Anti-Kristus" (anti-Christ). Ia 
menyatakan, bahwa kekuatan anti-Kristus adalah Paus dan Turki secara bersamaan. 
Kekuatan jahat tentunya memiliki tubuh dan nyawa. Nyawa dari kekuatan 
Anti-Kristus adalah Paus, daging dan tubuhnya adalah Turki.
(Antichrist is the Pope and the Turk together. A beast full of life must have a 
body and soul. The spirit or soul of Antichrist is the Pope, his flesh and body 
the Turk).

Seperti kita tahu, pertentangan Protestan dan Katolik telah melahirkan lembaran 
hitam dalam sejarah keagamaan di Eropa. Pihak Katolik sendiri setelah ratusan 
tahun bertahan dengan klaim kebenaran seksklusifnya, akhirnya melemah. Reverend 
Michael Parise menulis buku kecil berjudul "Apakah Kita Satu-satunya Gereja 
yang Benar?" (Jakarta: Penerbit Obor,
1996). Ditulis dalam buku ini, bahwa "Gereja adalah Katolik." Bagaimana orang 
Katolik memandang jutaan orang Kristen non-Katolik, dirumuskan dalam buku ini: 
"Mereka tentu dapat masuk surga dan memperoleh keselamatan, meskipun itu 
menjadi lebih sulit tanpa bimbingan dan sakramen-sakramen Gereja." Jadi, kaum 
Protestan yang non-Katolik bisa masuk surga tetapi lebih sulit. Selanjutnya 
dikatakan, bahwa Gereja Katolik mau mengakui Protestan, sejauh 
persekutuan-persekutuan Protestan memelihara dan menyebarluaskan
unsur Gereja Katolik Roma, dan menjadi sesama rasul di jalan menuju 
keselamatan. Tetapi, tanpa persatuan iman yang nyata dalam semua unsur penting 
dari Gereja Kristus, persatuan belum mungkin terjadi antara Gereja Katolik dan 
Protestan."

Soal klaim kebenaran antara Protestan dan Katolik ini sesungguhnya lebih rumit 
dibandingkan klaim Islam dan Kristen. Jika Pdt Jan S. Aritonang meminta kaum 
Kristen tidak ragu-ragu terhadap keyakinannya bahwa keselamatan ada di dalam 
dan oleh Yesus Kristus, maka bisa ditanyakan, keselamatan itu melalui Gereja 
yang mana? Melalui Gereja Katolik atau Protestan?

Bagi kaum Muslim, saran Pendeta Aritonang itu tentu tidak mudah dilaksanakan. 
Kaum Muslim yang meyakini kebenaran konsepsi Tauhid Islam, pasti pada saat yang 
sama menolak kepercayaan lain yang bertentangan dengan konsep Tauhid. Jika kaum 
Muslim meyakini bahwa Allah adalah Satu, Tidak Beranak dan tidak diperanakkan, 
bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, bukan Tuhan atau anak Tuhan, maka tentu 
akan sangat sulit bagi kaum Muslim untuk tidak menyatakan, bahwa konsepsi yang 
menyatakan Tuhan punya anak adalah konsep yang salah. Problemnya, sangat 
berbeda dengan yang ada di dalam Kristen. Al-Quran memuat begitu banyak ayat 
yang memberikan kritik terhadap konsepsi ketuhanan Kristen. Bahkan, sejak awal, 
al-Quran telah mengkritik keras konsepsi teologis kaum Kristen tersebut. 
Penyebutan Isa a.s. sebagai 'Anak Allah' disebut al-Quran sebagai kesalahan 
serius. (QS Maryam:89-92, al-Maidah 72-75).

Apakah konsepsi dan keyakinan itu harus diubah? Tentunya sangat sulit dan tidak 
mungkin. Al-Quran akan tetap seperti itu, sampai akhir zaman. Al-Quran memang 
satu-satunya Kitab Suci yang isinya banyak memberikan kritik terhadap agama 
lain, khususnya Yahudi dan Nasrani. Namun, dalam sejarah Islam sudah terbukti, 
konsepsi Tauhid dan eksklusif kaum Muslim, tidak melahirkan sejarah kekejaman 
terhadap agama lain, sebagaimana sejarah Gereja melahirkan sebuah institusi 
yang sangat kejam bernama INQUISISI. Sebagian kalangan Muslim - karena 
terpengaruh cara pandang dan fenomena sejarah Kristen -
percaya bahwa klaim kebenaran mutlak terhadap kebenaran satu agama, akan 
melahirkan kejahatan, dan menjadikan agama sebagai hal yang jahat. Dalam 
pengantarnya terhadap Buku Pendeta Aritonang ini, Prof. Azyumardi Azra mengutip 
pendapat Charles Kimball melalui bukunya, When Religious Become Evil (2003) - 
"Saat Agama Menjadi Jahat". Menurut Kimball ada lima tanda saat agama menjadi 
jahat. Yang pertama, adalah adanya klaim-klaim kebenaran mutlak (absolute truth 
claims). Dikatakan oleh Azyumardi: "Setiap agama -
khususnya Kristen dan Islam - mengandung klaim-klaim kebenaran yang merupakan 
landasan keimanan, di mana seluruh struktur dan institusi agama berdiri. Ketika 
penafsiran-penafsiran tertentu terhadap klaim-klaim kebenaran itu dipandang dan 
dipahami secara rigid dan literal, dan sebagai satu-satunya kebenaran yang 
menuntut keseragaman, maka inilah awal dari
bahaya yang merusak agama, membuat agama menjadi jahat, dan akhirnya merusak
kehidupan manusia."

Pendapat Azyumardi yang mengutip Kimball itu sebenarnya rancu dan keliru. Di 
dalam Islam, ada hal-hal yang memang satu dan seragam, disamping ada hal-hal 
yang berbeda. Jika ditelaah, misi Rasulullah Muhammad saw adalah menyeru kepada 
umat manusia, agar mengakui kebenaran Islam, dan mengakui kenabian beliau 
sebagai Utusan Allah SWT. Karena itulah, beliau dan kaum Muslimin sesudahnya 
bersemangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Jika bukan karena 
semangat itu, Islam tidak akan sampai ke Indonesia, sampai ke Minangkabau, 
dimana nenek moyang Prof Azyumardi Azra berasal. Apakah karena semangat 
kebenaran eksklusif itu lalu Islam menjadi jahat?

Kristen juga dulu memiliki semangat yang sama. Tapi, bisa dilihat dan 
dibandingkan, bagaimana cara dan dampak yang dilakukan para dai Muslim dan 
misionaris Kristen di Indonesia. Jadi, masalahnya bukan pada semangat dan 
keyakinan eksklusif akan kebenaran agama, tetapi pada aspek modus.
Pengalaman sejarah Kristen tidak dapat digeneralisasi menjadi pengalaman semua 
agama. Seorang psikolog Barat, Scott Peck, menyatakan: "Sekali kata 'religion' 
disebutkan di dunia Barat, ini akan membuat orang berpikir tentang: . 
inquisisi, tahyul, lemah semangat, paham dogmatis, munafik, benar sendiri, 
kekakuan, kekasaran, pembakaran buku, pembakaran dukun, larangan-larangan, 
ketakutan, taat aturan agama, pengakuan dosa, dan kegilaan. Apakah semua ini 
yang Tuhan lakukan untuk manusia atau apa yang manusia lakukan terhadap Tuhan. 
Ini merupakan bukti kuat bahwa percaya kepada Tuhan sering menjadi dogma yang 
menghancurkan." (Scott Peck, The Road Less Travelled, (London: Arrow Books Ltd, 
1990), hal. 237-238. Pendapat Peck dikutip dari tulisan Dr. Fatimah Abdullah 
berjudul "Konsep Islam sebagai Din, Kajian terhadap Pemikiran Prof. Dr. SMN 
al-Attas, di Majalah Islamia, edisi ke-3, tahun 2004).

Kembali ke saran Pdt. Aritonang, ia tampaknya ingin mengerem laju semangat 
menggebu-gebu sebagian kalangan misionaris Kristen yang berambisi 
mengkristenkan seluruh bangsa Indonesia. Menurut Aritonang, diantara kalangan 
Protestan, memang ada kelompok yang sangat agresif dan triumfalistik, terutama 
beberapa yang baru muncul sebagai tiruan dari
induknya di Barat, terutama di Amerika Serikat. Kalangan Kristen pun sering 
terganggu oleh penampilan dan cara-cara mereka berkiprah.

Saran lain Pdt Aritonang terhadap umat Kristen adalah, agar: 
(2) Umat Kristen tidak lagi mencemooh ajaran, kitab Suci, atau tokoh-tokoh 
Islam, dan tidak membiasakan diri merujuk atau menafsir al-Quran dengan tujuan 
mencari pembenaran atas Kitab Suci atau ajaran Kristen. 
(3) Umat Kristen perlu mempertimbangkan perasaan umat Islam ketika hendak 
mendirikan rumah ibadah.
(4) Umat Kristen juga perlu mempertimbangkan perasaan umat Islam ketika hendak 
mengadakan acara-acara ibadah atau perayaan keagamaan, baik di gedung gereja, 
gedung pertemuan umum, atau melalui media massa. 
(5) Tidak perlu bersikap alergik dan traumatik terhadap kaum Muslim yang 
berbicara tentang
penerapan Syariat Islam. Pdt. Jan S. Aritonang juga mengimbau agar kaum Kristen 
bersikap lebih simpatik dan bersahabat terhadap kaum Muslim:
"Memandang mereka sebagai seteru, pihak yang mengancam, atau pun yang harus
ditaklukkan demi Injil atau demi apa pun, adalah tindakan bodoh dan tidak 
terpuji."

Saran-saran Pdt. Jan S. Aritonang itu tampak cukup simpatik. Beberapa 
diantaranya pernah saya sampaikan dalam berbagai kesempatan. Sayangnya, Pdt. 
Aritonang kurang menampilkan karya-karya kaum Kristen yang menyudutkan Islam. 
Padahal, buku-buku tentang itu sangat banyak dan melimpah. Sebagai contoh, 
sejumlah buku dan brosur misonaris Kristen yang menggunakan judul-judul Islam, 
untuk mengelabui umat Islam. Misalnya, buku-buku karangan Pendeta R. Mohammad 
Nurdin yang berjudul: Kebenaran Yang Benar (Asshodiqul Mashduq), Keselamatan 
Didalam Islam, Selamat Natal Menurut Al-Qur'an,
Rahasia Allah Yang Paling Besar, Ya Allah Ya Ruhul Qudus, Aku Selamat Dunia dan 
Akhirat. Juga buku Upacara Ibadah Haji karya H. Amos, dan buku-buku karya 
Pendeta A. Poernama Winangun yang berjudul seperti Riwayat Singkat Dan Pusaka 
Peninggalan Nabi Muhammad, Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Menyelamatkan.
Misi Kristen juga menggunakan brosur-brosur yang menggunakan nama-nama Islam, 
seperti Brosur: Membina Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama, Yang dikeluarkan 
oleh Dakwah Ukhuwah (P.O. BOX 1272/JAT Jakarta 13012).

Menindaklanjuti saran-saran Pdt Aritonang, seyogyanya, kaum Kristen sendiri 
aktif menangani masalah yang disarankan oleh Pdt Aritonang, agar kaum Muslim 
tidak memahami kaum Kristen secara "gebyah uyah". Kita paham, bahwa pendapat 
dan saran Pdt Aritonang belum tentu diapresiasi oleh kalangan Kristen sendiri, 
apalagi oleh kalangan "New Christian Right" yang berafiliasi dengan kalangan 
Gereja Kristen fundamentalis di AS. Kalangan ini sangat bersemangat - dengan 
dana yang melimpah ruah - mengkristenkan Indonesia,
seperti ambisi mereka membangun sebuah Menara Doa di Jakarta.

Meskipun secara umum, saran-saran Pdt Aritonang patut diapresiasi dan ditelaah 
oleh kaum Muslim lebih lanjut, namun banyak juga hal bisa dicatat dan dikritik 
dari buku Pdt Aritonang ini. Misalnya penggunaannya terhadap istilah "Islam 
garis keras" terhadap beberapa kelompok Islam. Penggunaan istilah itu 
sesungguhnya bermasalah. Siapa yang keras dan siapa yang lunak?
Apanya yang keras dan apanya yang lunak? Juga, sarannya kepada kaum Kristen dan 
Islam, agar "di dalam kedua umat ini terbangun kesediaan untuk mengakui 
keterbatasan masing-masing dalam hal agama, bahkan dalam memahami wahyu, 
firman, dan kehendak Tuhan Allah. Dengan demikian bisa membebaskan diri dari 
sikap memutlakkan." Untuk memperkuat pendapatnya, Aritonang mengutip pendapat 
Djohan Effendi, tokoh Islam Liberal: "Sebagai makhluk yang bersifat nisbi, 
pengertian dan pengatahuan manusia tidak mungkin mampu menjangkau agama sebagai 
doktrin kebenaran secara tepat dan menyeluruh."

Saran Pdt. Aritonang ini bertentangan dengan sarannya agar kaum Kristen jangan 
meragukan bahwa keselamatan ada di dalam dan oleh Yesus Kristus.
Tampak di sini, Pdt Aritonang tidak begitu yakin dengan pendapatnya sendiri.
Saran ini pun tidak patut disampaikan kepada kaum Muslim, sebab, kaum Muslim 
diperintahkan meyakini kebenaran dari Allah dari sekali-kali tidak boleh 
meragukan kebenaran itu. Pendapat Djohan Effendi adalah pendapat kaum Skeptik - 
dengan tokohnya Sextus Empiricus - yang tidak pernah meyakini sesuatu hal, yang 
selalu "delaying judgement". Pendapat kaum skeptic ini selalu kontradiktif. 
Jika manusia nisbi dan tidak mampu memahami kebenaran secara menyeluruh, maka 
artinya, dia sendiri juga harus ragu terhadap
statemen yang dibuatnya sendiri.

Dalam pandangan Muslim, pendapat kaum Skeptik ini sebenarnya menghina Allah.
Sebab, itu berarti Allah menurunkan wahyu yang tidak dapat dipahami oleh 
manusia. Ketika menurunkan al-Quran, Allah paham, bahwa al-Quran diturunkan 
kepada manusia, dan manusia pasti mampu memahami sebagai manusia, bukan sebagai 
Tuhan. Namun, Allah juga memerintahkan agar kaum Muslim meyakini kebenaran 
al-Quran, yang tidak ada keraguan di dalamnya. Akal manusia mampu memahami 
kebenaran secara menyeluruh, dalam batas manusia. Karena itu, ada haq dan ada 
bathil. Jika orang tidak pernah yakin mana yang haq dan mana yang bathil, maka 
dia sendiri masuk dalam golongan bingung (golbin). Justru
al-Quran diturunkan untuk menjadi petunjuk, untuk menjadi furqan, yang 
membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Kaum Muslim diperintahkan 
meyakini bahwa Nabi Isa bukan Tuhan atau anak Tuhan. Beliau a.s. adalah 
manusia, Utusan Allah. Perintah itu begitu jelas dan gamblang. Kaum Muslim 
diharamkan memakan daging babi dan meminum khamr. Larangan itu juga jelas dan 
tidak perlu diragukan. Zina adalah haram. Keputusan Allah ini sangat jelas. 
Yang haq dan bathil itu jelas. Yang haram itu jelas, yang halal juga jelas. 
Diantara keduanya ada perkara syubhat. Agama Islam adalah agama yang jelas dan 
kebenarannya dapat dipahami oleh umat manusia. Dari dulu sampai sekarang 
milyaran umat manusia yang memeluk Islam tidak bingung. Jika Djohan Effendi dan 
sejenisnya bingung dan tidak paham kebenaran, itu adalah urusannya sendiri. 
Biarlah di akhirat nanti dia melaporkan kepada Tuhannya, bahwa selama hidup di 
dunia, dia tidak dapat menjangkau kebenaran. Padahal, Allah sudah berfirman: 
"Al-Haqqu min Rabbika falaa takuunanna minal mumtarin." Al Haq itu datang dari 
Tuhanmu, maka janganlah kamu termasuk dari golongan yang ragu. (QS 2:147). 
Wallahu A'lam. (KL, 20 November 2005).
======================================
From: "Daniel Alamsjah" <[EMAIL PROTECTED]>

Sebuah Panggilan

Ajaiblah Allah yg kita sembah didalam Tuhan Yesus Kristus! 3 tahun sudah aku yg 
jebolan  SR (Sekolah Rakyat), yg tidak pernah masuk sekolah Alkitab, Tuhan 
panggil utk melayani disebuah desa terpencil dilereng gunung 
Merbabu-kab.Magelang. tepatnya didusun Wates,
desa Jambewangi, kec.Pakis - Magelang.
Hari Natal nanti adalah tahun ke -3 aku melayani didesa ini, Tuhan telah 
mempercayakan padaku 8 kk ( +- 25 jiwa) di-tengah2 dusun2 yg belum mengenal 
Kristus, disanalah aku membuktikan pada jemaat yg kulayani bahwa kita mempunyai 
Allah yg heran dan ajaib! Paling tidak aku meyakinkan jemaat yg kulayani bahwa 
Allah yg disembah anak-2 Tuhan dikota  sama yg disembah oleh anak2 Tuhan 
dipedesaan.
Betapa tidak ketika aku mulai masuk didesa ini :
� belum ada sarana rumah ibadah, kini Tuhan kita yg ajaib itu sudah memberikan 
sebuah rumah ibadah yg mungil, walaupun belum lengkap sarana perlengkapannya 
utk ibadah 
� Tuhan memberkati anak-2-Nya dalam segala usaha pertanian dan peternakannya.

Pada tgl.20 Desember  2004 yad, jam 2 siang, kami akan merayakan Natal utk yg 
ke -3 kalinya, suatu pertanda Tuhan yg kita sembah dalam Yesus Kristus adalah 
Tuhan yg heran dan ajaib dan penuh kuasa.
Kalau aku merenungkan perjalanan hidup ku,, aku yg pernah menjadi Anak Negara 
ketika masih kanak2 karena kenakalanku, didalam rumah anak2 nakal itulah aku 
mengenal Kristus melalui seorang hamba Tuhan  yg setia melayani kami setiap 
minggu, karena kami hidup
terisolir waktu itu.

U N D A N G AN
Untuk Sahabat2 yg dikasihi Tuhan, melalui media ini kami mengundang Saudara2 
utk ikut merayakan Natal bersama saudara2 kita dipedesaan pada tgl.20 Desenber 
yad, alami Natal yg berbeda dipedesaan dengan pemandangan lereng Merbabu yg 
indah serta udara yg
sejuk, Khotbah Natal akan dilayani oleh : Bp. Mohamad Zein Sanjaya, yg oleh 
kasih anugerahNya Tuhan Yesus Kristus telah menangkapnya dari seorang yg 
memusuhi
umat Tuhan dan kini  menjadi pelayan Tuhan.
Untuk informasi hubungi :
Bp daniel alamsjah , Telp(0293) 788297
Email : [EMAIL PROTECTED]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [EMAIL PROTECTED]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
WebSite: http://jnm.clear-net.com (Webmaster wanted!)
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke