From: Yulia 

Pelarangan Perayaan Natal Dan Ibadah Pos PI GPdI Di Kec. Mundu, Kab Cirebon

Pos PI GPdI berada di Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon dengan 
pengerja Gereja Nn. N. Dari informasi yang diterima, Pos PI ini dilarang oleh 
INTEL dari Kepolisian Cirebon untuk tidak mengadakan perayaan Natal yang akan 
diadakan pada hari Rabu, 15 Desember 2004 yang lalu dan untuk selanjutnya tidak 
boleh mengadakan 
kegiatan ibadah.
Dua hari sebelum pelarangan, pada hari Senin, 13 Desember 2004, Pdt. PH selaku 
Gembala Sidang menyampaikan pemberitahuan kepada Kapolsek bahwa hari Rabu, 15 
Desember 2004 akan mengadakan Perayaan Natal di Pos PI GPdI Desa Bandengan, 
Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Kapolsek menanggapi pemberitahuan tersebut 
dengan mengatakan "OK dan Siap".

Tetapi pada hari Selasa pagi, 14 Desember 2004, sekitar pk 10.00 Wib seorang 
Intel dari kepolisian datang ke Pos PI GPdI dan bertemu Nn.N, dan memintanya 
datang ke Balai Desa Bandengan Mundu. Karena dijelaskan bahwa dia hanya sebagai 
pengerja Gereja, akhirnya Pdt PH dipanggil ke Balai Desa untuk bertemu dengan 
Kepala Desa dan Intel dari Kepolisian tersebut.
Dalam pertemuan ini, Intel tersebut menyampaikan bahwa besok (hari 
Rabu,15/12,red) Gereja tidak boleh mengadakan Natal dan untuk selanjutnya semua 
kegiatan ibadah tidak boleh diadakan berdasarkan SKB 2 Menteri No. 1. Tahun 
1969.

Perlu diketahui bahwa Pos PI ini sudah berdiri 3 Tahun dengan jemaat sekitar 10 
orang setiap kali ibadah. Selama ini tidak ada masalah dari warga setempat. Dan 
pihak Gereja pun sudah melaporkan diri kepada RT setempat. 

Mohon doakan !!! 
*diambil dari terangdunia.com 
http://www.terangdunia.com/viewer_berita.php?id=1014*
=======================================
From: Mundhi Sabda Lesminingtyas 

"Jangan Beri Uang!"
Oleh : Lesminingtyas

Seperti biasa, seusai jam kantor saya bersama teman bergegas pulang. Sore itu 
agak berawan dan udara Jakarta membuat kami benar-benar gerah. Ingin sekali 
rasanya merogoh uang ribuan di kantong dan  membeli teh botol dingin sekedar 
untuk memuaskan tenggorokan. Niat itu segera saya batalkan karena uang di 
kantong tinggal pas-pasan untuk naik bis umum kembali ke rumah. Maklum, sebagai 
pekerja sosial kami harus berpikir tujuh kali sebelum membelanjakan uang supaya 
gaji kami cukup untuk menyambung hidup selama
sebulan.

"Perjuangan hidup kok nggak ada ujungnya. Sejak kecil sampai sarjana, kita 
harus mati-matian belajar. Setelah lulus kita harus mati-matian mencari 
pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, kita masih harus mati-matian bekerja 
keras supaya dinilai berprestasi" saya memulai pembicaraan dengan menguraikan 
betapa beratnya hidup ini.
"Nah, setelah menerima gaji, kita juga harus mati-matian berjuang supaya uang 
kita cukup untuk hidup sebulan" sambung teman saya sambil tertawa cekakakan.

Karena kantor kami berada di Jl. Letjend Suprapto bagian selatan, kamipun harus 
bersusah payah dan bermandi peluh menapaki satu persatu anak tangga di jembatan 
penyeberangan, ke arah utara. Kami berdua menunggu Metromini 03 jurusan Pasar 
Senin - Rawamangun, di Pangkalan Asem, di seberang jalan.
Cukup lama kami berdua berdiri menunggu metro mini lewat. Tanpa permisi, debu 
dan asap kendaraan pun hinggap di tubuh kami. Sesekali kami hanya menyeka debu 
yang terhempas oleh laju kendaraan, supaya tidak bercampur dengan keringat yang 
tak kalah banyaknya.

Saat moncong Metromini 03 mulai tampak, sayapun melambaikan tangan untuk
menghentikannya. Laju metromini yang cukup kencang membuat pengemudi tidak bisa 
menghentikan mini bis itu tepat di depan kami. Kami pun terpaksa berlari 
mengejarnya. Mungkin karena diburu setoran, sopir itu tidak menghentikan 
metromini itu secara total. Walaupun kami perempuan, pengemudi itu tidak mau 
tahu. Kami terpaksa berlari-lari dan  layaknya kondektur yang menggapai 
pinggiran pintu metromini, meloncat masuk dan bergelantungan di pintu metromini 
yang tidak betul-betul berhenti.

Beberapa detik setelah duduk dan nafas kami pun yang masih terengah-engah 
karena baru saja berlari, tiba-tiba seorang pemuda gondrong setengah mabuk, 
masuk ke dalam metromini. Pemuda itu berdiri di bagian depan, kurang lebih satu 
setengah meter dari tempat duduk  kami. Dengan suara yang tidak jelas, pemuda 
itu berorasi dengan mengeluarkan sumpah serapah kepada pemerintah yang telah 
melakukan KKN dan membuat penderitaan di negeri ini. Mulut dan setiap gerakan 
tubuh pemuda itu mengeluarkan bau yang sangat menyengat,
menandakan bahwa alkohol dan rokok adalah nafas kehidupannya. Matanya yang 
merah mulai terlihat beringas, ketika ia melihat para penumpang apatis dan 
tidak satupun yang menghiraukannya.

Belum puas membawakan puisinya yang berisi cacian dan makian, ia pun 
mengeluarkan jurus "intimidasi" dengan memberikan kesaksian bahwa ia telah lama 
hidup sebagai anak jalanan. Ia juga mengatakan bahwa baru saja keluar dari 
penjara karena kasus pembunuhan.

Setelah menutup "pementasannya" dengan salam bernada menakut-nakuti, ia 
menghampiri dan menadahkan tangannya kepada penumpang satu persatu. Sebelum 
pemuda itu menghampiri saya, uang yang telah saya siapkan untuk membayar 
ongkos, secepat kilat saya masukkan kembali ke kantong. Teman saya yang takut 
tekanan, memberikan uang ribuan yang sedianya untuk ongkos. Saat pemuda itu 
menatap saya dengan sorot mata mengancam, sayapun hanya tersenyum dengan sikap 
waspada.

"Kenapa sih, pelit amat? Dari pada dipelototin preman kayak tadi, mendingan 
kasih saja uang seribuan, dan selesai" teman saya menasehati.
"Memangnya negeri ini milik nenek moyangnya? Enak saja, mua hidup enak tapi 
tidak mau bekerja keras. Maunya hanya menadahkan telapak tangan saja. Dia itu 
tidak bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberikan tubuh yang kuat untuk 
bekerja keras. Kita saja yang perempuan harus bekerja membanting tulang untuk 
setiap rupiah, kenapa laki-laki tadi yang badannya lebih tegap, maunya cuma 
santai? Orang seperti itu tidak boleh dikasih uang, tetapi harus dididik" jawab 
saya.

"Ngapain harus repot-repot mendidik orang lain, mendingan kasih uang dan 
selesai urusan" teman saya berpendapat.
"Siapa bilang, memberi uang berarti selesai urusan?" tanya saya "Kalau memberi 
uang berarti kita menginvestasi kemalasan.. Kalau mendidik, berarti kita 
menginvestasi perubahan. Raja Salomo berkata bahwa tangan yang lamban membuat 
miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya" lanjut saya mengutip Amsal 
10: 4.
"Ah, nggak tahulah! Yang saya tahu Tuhan mengajarkan kita untuk memberi kepada 
orang yang meminta" teman saya mencoba mengatasnamakan Tuhan.
"Memberi memang wajib, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan orang yang 
meminta, bukan berdasarkan keinginannya saja. Kalau orang butuh didikan dan 
arahan, jangan dikasih uang dengan cuma-cuma karena hal itu justru akan 
menjerumuskan" saya berpendapat.

Saat metromini ngetem di depan ITC Cempaka Mas, kembali seorang anak jalanan 
umur belasan tahun masuk ke dalam metromini. Anak jalanan yang berambut kotor 
dan telanjang kaki itu, membagikan amplop-amplop kosong kepada setiap 
penumpang. Walaupun ada beberapa penumpang yang tampak jijik dan tidak mau 
menyentuh amplop, tetapi anak itu tetap nekat meletakkannya di atas pangkuan 
penumpang. Tanpa penjelasan ini itu, anak jalanan menyanyikan lagu yang hampir 
tak bernada, yang diiringi dengan tepuk tangannya sendiri, dengan tempo 
sesukanya. Syair lagu tersebut kira-kira menggambarkan bahwa ia
seorang yatim, karena ibunya telah meninggal dan ayahnya pergi entah ke mana.

Ketika menyanyikan lagu ke dua, saya kaget sekali karena anak itu menyanyikan 
lagu Sekolah Minggu "Happy ya, ya, ya". Yang agak menyebalkan, anak jalanan itu 
 menyanyikan lagu semaunya, dengan  tatapan mata yang liar, seakan lupa bahwa 
ia sedang memuji Tuhan dan menjual suaranya kepada penumpang. Ia sama sekali 
tidak menunjukkan keinginannya untuk menyenangkan Tuhan dan memuaskan para 
penumpang melalui lagu yanag dibawakannya. 
"Benar-benar pengemis terselubung" kata saya dalam hati.

Hati saya semakin gemas ketika lagu kedua itu mengundang tertawaan dan cemoohan 
beberapa mahasiswi berjilbab yang baru saja pulang dari kampus berlebel Islam 
di sekitar Cempaka Putih. Bahkan seorang mahasiswa sempat bergurau "Katanya 
happy, kok lusuh kayak gitu?". Tak ketinggalan, temannya menimpali "Katanya 
anak Tuhan, kok minta-mintanya sama kita sih?"

"Memuji Tuhan tanpa memahami maksud dan isi lagu pujian, memang bisa menjadi 
batu sandungan bagi orang lain" saya berbisik kepada teman saya. Teman saya 
tidak memperhatikan komentar saya karena ia sibuk membuka dompet dan menarik 
selembar uang ribuan untuk dimasukkan ke dalam amplop putih, dekil dan kumal 
itu.
"Jangan berikan uang, karena itu bisa memanjakannya. Berikan dia didikan dan 
bimbingan supaya ia bisa memiliki kemerdekaan untuk memilih kehidupaan" saya 
menyarankan.
"Jangan biarkan si miskin berlalu dengan tangan kosong" kata teman saya dengan 
gaya  berkhotbah.
"Siapa yang bisa memastikan kalau anak itu miskin?" tanya saya setengah 
berbisik.
"Sudahlah, jangan biarkan orang yang meminta sesuatu, pergi dengan tangan 
hampa" teman saya meralat berkhotbahnya untuk mempengaruhi saya.
"OK, OK, lihat saja nanti!" kata saya.

Ketika anak jalanan itu menghampiri saya, secepat kilat saya menangkap 
pergelangan tangannya supaya ia tidak lekas-lekas pergi "Adik suka Sekolah 
Minggu?" bisik saya. Anak itupun mengangguk tetapi tampak ragu. Sorot matanya 
jalang, tak sedikirpun mengarah ke wajah saya yang sedang mengajaknya bicara. 
"Minta guru Sekolah Minggu untuk mengajarimu memuji Tuhan dengan benar, biar 
kamu benar-benar bisa merasakan dan memancarkan suka cita dari dalam hati" saya 
menasehati.

Sebelum anak itu pergi, saya memasukkan bookmark yang bertuliskan "Say Yes for 
Children" ke dalam amplop yang sedianya akan dipakai untuk menampung uang 
sedekah" Saya berpesan supaya bookmark itu diberikan kepada orang tua atau guru 
Sekolah Minggunya. Saya berharap orang dewasa di sekitar anak jalanan itu 
membaca pesan yang ada di bookmark yang berbunyi "Anak-anak mempunyai hak untuk 
hidup dengan penuh suka cita dan pengharapan semanusiawi mungkin" (Children 
have the right to experience life with as much joy and hope as humanly 
possible).

Saya juga berharap mereka bisa membaca seruan yang ada di sisi lainnya yang 
berbunyi "Hentikan tindakan salah dan eksploitasi terhadap anak-anak" (Stop 
Harming and Exploiting Children). Dengan membaca pesan-pesan singkat itu, saya 
berharap orang dewasa di sekitar anak jalanan dapat memperlakukan anak-anak 
sesuai haknya.

Sebelum metro mini melanjutkan perjalanan, saya kembali berbisik kepada anak 
itu "Kalau kamu lapar, tidak punya baju  dan tidak bisa sekolah, kamu harus 
bilang kepada pak pendeta di gerejamu. Kalau kamu meminta-minta di jalanan, 
Tuhan Yesus akan sedih dan malu, karena melihat kamu malas" saya wanti-wanti. 
"Ya! Seharusnya gereja tidak tinggal diam. Gereja harus proaktif  menghadirkan 
Kerajaan Allah di dunia, yang ditandai dengan
pembebasan rakyat dari kebodohan, kemiskinan, kesejahteraan lahir dan batin" 
kata saya dalam hati.

"Dasar gila! Masak ada anak minta uang, cuma kamu kasih book mark! Ingat Matius 
25 : 31-46!" teman saya masih berkhotbah. Beberapa menit setelah metromini 
meninggalkan ITC Cempaka Mas, kami berdua segera turun di halte Pulomas, dekat 
perempatan Coca Cola, Cempaka Putih.Tak ketinggalan, anak kecil itupun turun 
dan menghampiri perempuan setengah baya yang berbadan segar dan gagah. Beberapa 
detik kemudian, anak itu meraih teh botol yang baru saja disedot perempuan itu. 
Sebelum kembali menikmati basonya,
perempuan itu memesankan semangkok baso untuk anak laki-laki yang telah 
menyerahkan setumpuk amplop kepadanya.

Dengan sorot mata yang rakus, perempuan itu membuka satu persatu amplop dan 
mengambil setiap lembar uang yang ada di dalamnya.
"Berikan uangmu, maka baso akan memuaskan lidahku!" sindir saya kepada teman
yang telah memberikan uang kepada anak itu "Kita boleh saja memberikan bantuan 
untuk yang lapar, telanjang dan perlu tumpangan. Tapi tidak berarti harus 
memberi uang kepada setiap pengemis atau anak jalanan. Kita harus memberi 
bantuan kepada orang miskin, tetapi tidak boleh memanjakan dan membuatnya 
tergantung. Bantuan kita harus memerdekakan" kata saya yang merasa menang 
setelah melihat bukti bahwa anak kecil itu telah telah
dimanfaatkan oleh ibunya.
"Lihat tuh! Uang pemberianmu itu merupakan investasi kemalasan,  kebodohan dan 
masa depan yang suram untuk anak itu. Dengan kegiatan mengemis terselubung yang 
dilakukan oleh anak itu, ibunya malah berpangku tangan dan tidak bisa 
mengendalikan keinginan perutnya" saya berganti mengkhotbahi.

"Bisa saja perempuan itu tidak punya modal untuk usaha dan tidak punya keahlian 
untuk bekerja seperti kita" teman saya menduga-duga "Jadi tidak ada pilihan 
lain, selain mempekerjakan anaknya" lanjutnya.
"Itulah jadinya kalau orang tidak mensyukuri karunia dan talenta yang diberikan 
oleh Tuhan" saya tetap tidak memberikan toleransi untuk orang yang 
bermalas-malasan.
"Siapa tahu perempuan itu tidak punya talenta apapun" teman saya masih berusaha 
membela.
"Semua orang diciptakan Tuhan lengkap dengan karunia dan talenta. Hanya saja, 
tidak semua orang mau memanfaatkannya. Lihat saja, tubuh perempuan itu gagah 
dan kuat. Saya yakin kalau mau menjadi tukang cuci dan setrika, ia pasti kuat 
melayani beberapa keluarga" saya.
"Tapi kan upah mencuci dan setrikan hanya menghasilkan uang sebulan sekali.
Padahal perempuan itu maunya mendapat uang setiap hari" teman saya 
berargumentasi.
"Nah itulah masalahnya. Kalau sudah merasakan enaknya mencari uang dengan 
meminta-minta, maka ia tidak mau bekerja keras membanting tulang. Dan kamulah 
salah satu sponsor yang memupuk 'jiwa pengemis' mereka. Semakin banyak orang 
seperti kamu, maka akan semakin banyak anak jalanan dan pengemis. Untuk saat 
ini mungkin kamu merasa bahwa kamu telah menolong, tetapi sebenarnya kamu telah 
mematikan semangat juangnya untuk memperbaiki kehidupan. Justru dengan 
bimbangan dan pendidikan yang tidak memanjakan,
anak jalanan dan pengemis itu bisa belajar dan membekali diri sehingga mereka 
mempunyai banyak pilihan hidup, bukan hanya sebagai pengemis atau anak jalanan 
saja" saya masih terus menceramahi teman saya.

"Tapi anak tadi kan ngamen, bukan mengemis!" teman saya mencari pembenaran.
"Kalau mau menjual suara lewat ngamen, harus professional dong! Jangan asal 
bunyi ecek-ecek, terus menadahkan tangan. Kalau kita memang melihta anak 
jalanan yang berbakat di bidang musik atau tarik suara, seharusnya kita 
memberikan dia kesempatan untuk berlatih vocal dan musik, bukan memberikan 
uang" saya masih terus menyarankan.
"Tapi dengan uang pemberian dari kita, siapa tahu mereka bisa manfaatkan untuk 
mengembangkan bakat mereka" teman saya tidak mau kalah.
"Siapa yang bisa menjamin bahwa uang pemberian itu tidak berpengaruh buruk?
Lagi pula pengemis atau anak jalanan itu belum tentu miskin. Bisa jadi mereka 
menderita pauperism, sehingga walaupun memiliki materi yang cukup, mereka tetap 
merasa miskin" saya sedikit berteori.

Ketika bis yang menuju rumah saya datang, sayapun segera melambaikan tangan 
kepada teman saya sembari berteriak "Ingat : STOP BERI UANG, BERI MEREKA (anak 
jalanan) KESEMPATAN"

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke