From: Yogas Kenangan Natal beberapa tahun lalu....
Gerimis sejak sore belum juga berhenti. Udara dingin menebar. Orang lebih suka diam dalam rumah atau tidur. Menikmati kesejukan yang jarang terjadi di Surabaya. Aku berjalan memasuki deretan rumah yang sebagian besar sudah menutup pintu. Sepi. Kampung ini biasanya ramai kini lengang. Tidak ada satu anak pun yang masih berkeliaran di gang. Aku berjingkat-jingkat menghindari genangan air. Tubuhku sudah setengah basah. Tapi aku tidak peduli. Aku sangat suka berjalan ditengah gerimis. Ada suasana nikmat yang tidak dapat dijelaskan. Selain itu satu-satunya payung yang kami miliki tadi dibawa kakakku yang langsung pulang setelah misa. Aku tidak langsung pulang sebab mau menemui seorang teman dulu. Maka terpaksa tidak membawa payung, sebab arah kami berbeda. Kakakku tadi melarangku untuk pergi. Dia mengatakan lebih baik pulang dulu. Tapi aku yakin kalau sudah sampai di rumah pasti bapak tidak mengijinkan keluar rumah lagi, sebab sudah malam. Maka aku berjalan di tengah gerimis. Misa Natal dipimpin oleh romo paroki. Beliau berkotbah tentang makna kelahiran Yesus dan aplikasinya bagi manusia saat ini. Menurut beliau Natal adalah saat penting dalam sejarah keselamatan manusia. Allah hadir ke dunia untuk memberikan suka cita pada manusia. Apakah aku juga bisa hadir untuk membawa suka cita bagi sesama? Kotbah itu membuatku berpikir apakah aku sudah hadir dan memberi suka cita pada sesama? Tiba-tiba aku teringat pada temanku. Maka setelah misa selesai aku memutuskan untuk pergi ke rumah temanku. Rumah yang kutuju sudah tertutup rapat. Sebetulnya ini hanya sebuah ruang ukuran 3X4 m berdinding tripleks dalam sebuah deretan panjang. Ada enam atau tujuh rumah seperti itu yang berjajar menghadap tembok rumah tetangga. Jalan masuk ke rumah mereka hanya sebuah lorong tidak lebih dari 1 m lebarnya. Kuketuk pintu tripleks. Beberapa kali ketukan baru pintu dibuka. Wajah temanku muncul di balik pintu yang tidak terbuka sepenuhnya. Dia terkejut melihatku berdiri dengan tubuh setengah basah. Aku langsung masuk. Kami duduk di tikar. Dua adiknya tertidur berdesakan di sebelahku. Orang tuanya tidur di "ruang lain" yang dibatasi oleh kain. Wajah ayahnya menyembul dari balik kain. Melihatku sejenak dan bertanya ada apa kok malam-malam. Aku hanya tersenyum. Aku sudah beberapa kali main kesini sehingga sudah dikenal oleh keluarga ini. Temanku juga sudah sering main ke rumahku bahkan tidur disana. "Ada apa?" tanya temanku "Tidak ada apa-apa." Jawabku. "Tadi aku dari gereja dan beli martabak di Blauran." Aku mengeluarkan bungkusan dua martabak yang kubeli di tepi jalan. "Andik dan Tina tidak dibangunkan?" temanku menggoyang-goyangkan kedua tubuh adiknya. Tidak berapa lama mereka sudah duduk dengan mata setengah terpejam. Namun segera terbuka ketika melihat ada martabak di depannya. Tidak lama ibu dan bapaknya juga keluar dan duduk bersama kami. "Kok bawa martabak malam-malam begini?" tanya ibunya "Tadi dari misa Natalan," Sebetulnya keluarga ini adalah keluarga Katolik. Namun mereka jarang sekali ke gereja sebab tidak mempunyai uang transport dan pakaian yang pantas untuk ke gereja. Memang tidak ada aturan bahwa orang harus memakai baju bagus kalau ke gereja. Namun keluarga ini merasa malu bila harus ke gereja dengan pakaian yang mereka miliki. Mereka merasa menjadi orang asing ditengah orang yang berpakaian bagus. Mereka juga merasa kurang diperhitungkan kehadirannya. Kalau ada salam damai orang enggan bersalaman dengan mereka sebab mereka kumuh. Kalau toh ada yang mau bersalaman itu hanya formalitas dan keterpaksaan saja. Ini bukan teori tapi memang kenyataan. Aku melihatnya sendiri. Maka aku tidak pernah menyalahkan kalau mereka jarang sekali ke gereja. Hanya aku bermimpi mungkinkah suatu saat nanti aku bisa mendirikan gereja untuk kaum miskin. Sehingga keluarga seperti ini bisa datang ikut misa tanpa merasa canggung dan malu. Tidak merasa disepelekan oleh sesamanya. Tapi ini hanya mimpi, sebab gereja kaum miskin hanya ada di desa-desa yang miskin. Memang kalau pendapatku ini aku katakan pada romo atau frater yang di paroki pasti mereka tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa gereja terbuka untuk siapa saja. Bahkan Yesus sangat peduli pada kaum miskin. Tapi kenyataan berbicara lain. Aku pernah ketakan pada romo dan frater kalau mereka datang dengan pakain kumuh apakah masih bisa diterima di gereja? Gedung gereja yang indah saja sudah membuat keluarga ini takut untuk masuk. Jangan-jangan mereka hanya akan mengotori gedung gereja saja. Para romo juga lebih suka berkunjung ke rumah orang kaya daripada kaum miskin. Saat itu romo melotot padaku, tapi ketika kutanya apakah beliau pernah berkunjung ke rumah temanku? Ternyata tidak. Padahal aku sudah beberapa kali mengatakan pada beliau tentang keluarga teman ini. "Kamu kok repot-repot membawa martabak." Kata temanku. "Aku ingin kita merayakan Natal bersama." Jawabku. "Toh di rumah aku juga tidak bisa merayakan Natal." Dalam keluargaku hanya kakak yang Katolik. Temanku tampak sedih. Sebetulnya dia ingin sekali ke gereja pada malam Natal ini. Aku sudah mengajaknya berangkat bersama. Dia kusuruh ke rumahku dulu baru berangkat dengan kakak. Tapi tadi sore kutunggu tidak datang-datang. Maka aku berangkat berdua bersama kakak. Aku sudah tahu pasti alasannya adalah tidak punya baju. Apalagi saat natal seperti ini dimana semua orang memakai baju baru atau bagus. Pernah kami hanya duduk di balik pagar gereja sebab malu untuk masuk. Kami takut akan menjadi tontonan orang bila misa natal dengan pakaian yang kami punya. Pernah kami membayangkan tidur di gua Natal, sehingga meski memaki pakain buruk pun orang akan datang. Kami akan diterima. Tapi sayang di gua hanya diisi patung. Orang hanya tertarik pada patung dan cerita tentang Yesus yang miskin daripada kami yang miskin. Orang lebih bersemangat berkunjung ke replika gubuk Maria dan Yoseph daripada ke gubuk kami yang nyata. Orang hidup dalam alam bayangan. Tidak nyata. "Yuk kita makan." Ajakku setelah melihat ibu selesai memotong-motong martabak menjadi beberapa potongan. Tanpa diperintah dua kali adik-adiknya sudah mengambil yang paling besar. Kami mengobrol sampai agak larut. Martabat sudah habis beberapa waktu yang lalu. Kedua adiknya sudah tidur kembali. Aku pamit. Diluar hujan sudah agak reda. Tinggal gerimis tipis. Udara semakin dingin. Aku berjalan menyusuri jalanan yang semakin sepi. Rumahku masih cukup jauh. Aku merasakan kebahagiaan meski harus berjalan kaki sekitar 40 menit lagi, sebab uangku sudah habis untuk beli martabak. Natal kali ini memberiku pengalaman indah. Aku tidak yakin apakah aku sudah bisa mengaktualisasikan kotbah romo paroki atau belum. Bagiku yang penting aku bisa mengadakan pesta natal bersama temanku. salam gani ======================================= From: Sammy Lee SELAMAT HARI NATAL FOR SAMUA (1 Korintus 13 Versi Natal) oleh: Sammy Lee yang tapisah jauh diperasingan Osetaralia. Kalu kita hias tape rumah deng sempurna deng slinger aneka warna, buah-buahan, bola-bola berkilauan, dan bintang gemerlapan, Mar nyanda ada kasih terhadap keluarga dan teman-teman, Kita cuma sama jo dengan perhiasan nyanda bernyawa. Kalu kita tasibu didapur momasa segala macam masakan, Babakar segala macam kukis voor hari Natal, Bekeng siap itu nasi jaha, sayur pangi deng sagala macam penganan, Kong so ator tu meja pe fasung deng segala rupa bunga bertaburan, Mar nyanda tunjung sayang pa kita pe famili dan handai taulan, Kita nyanda lain nyanda bukang, cuma jo koki upahan. Kalu kita bekeng sup Natal yang harum dan sadap nyanda tandingan, Manyanyi akang lagu-lagu Natal pa dorang dirumah yatim piatu, Kong kase sumbang samua harta voor dorang anak-anak miskin itu, Mar nyanda buktikan cinta pa kita pe kawanua deng para birman, Nyanda guna nyanda untung biar cuma sadiki Kalu kita pajang perhiasan deng renda-renda, deng kadou-kadou lei, Komplit deng kandang Betlehem dan malaikat dan kartu Natal, Tambah deng hambur doi babon diwarong beli samua tu mahal, Atau manyanyi lagu-lagu gereja riki gargantang tabongkar, Mar nyanda pusatkan perhatian pa Tuhan Yesus, Berarti kita pe pandangan kabur nyanda tafokus. Kasih berarti berenti dari babakar kukis datang polo pa tu anak, Kasih berarti taro disei dulu itu perhiasan kase sun pa itu tuama, Kasih berarti tetap ramah tamah nyanda bafeto biar so lalah, Kasih berarti nyanda mangiri pa birman pe pohon natal biar lebe fasung, Kasih nyanda batoreba pa anak-anak biar bekeng sibu en bingung, Kasih nyanda cuma kase hadiah pa dorang yang boleh balas, Mar salalu bersuka dan bersyukur biar lemari dapur so abis beras, Kasih menahan biar so bantahan, Maski lei bukan orang Ratahan, Kasih itu panjang sabar, penuh percaya, penuh harapan, Kasih nyanda pernah gagal, Biar so lewat hari Natal. Video games boleh rusak, kalong mutiara boleh ta ilang, Hele hadiah mobil Honda atau Mercy boleh ancor baku tabrak, Mar pemberian Kasih selalu kekal en de pe harga nyanda takurang! Selamat Hari Natal dan semoga Tahun Baru ini membawa kebahagiaan damai dan sukses kepada semua. Sammy Lee [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

