From: "Irnawan Silitonga" <[EMAIL PROTECTED]>
Renungan Keluarga: Kegagalan keluarga Samuel
".Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah
sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala
bangsa-bangsa lain" [ I Samuel 8:5 ].
Alkitab mencatat segala sesuatunya dengan jujur.
Kelemahan dan kegagalan setiap hamba Tuhan yang dipakaiNya dengan luar biasa,
juga tercatat dengan jelas. Semua ini dimaksudkan agar setiap kita dapat
belajar dari kegagalan para hamba Tuhan ini.
Pada umumnya, orang percaya bahwa tokoh PL yang paling luar biasa dipakai Tuhan
adalah Musa. Tetapi, nampaknya, Samuel disejajarkan dengan Musa, ketika Tuhan
berfirman dalam Yeremia 15:1 sebagai berikut, ".Sekalipun Musa dan Samuel
berdiri dihadapanKu.'.
Memang Samuel dipakai Tuhan dengan luar biasa. Tetapi Alkitab mencatat juga
kegagalan Samuel dalam membesarkan anak-anaknya, supaya kelak mereka dapat
melayani Tuhan seperti dirinya.
Ketika Samuel telah menjadi tua, dia mengangkat anak-anaknya laki-laki, agar
melayani Tuhan sebagai hakim atas orang Israel seperti dirinya. Tetapi
anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayahnya, sebagaimana tercatat demikian,
"mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan" [ I Sam.
8:1-3 ]. Sungguh menyedihkan melihat hamba Tuhan yang melayani Dia seumur
hidupnya, namun ternyata anak-anaknya tidak mengikuti jejak ayahnya. Mengapa
demikian ?
Kita tidak mengetahui dengan pasti, mengapa Samuel sebagai seorang bapa, gagal
dalam mendidik anak-anaknya. Mungkin kita mendapat sedikit penjelasan dari I
Sam. 2:11 yang berbunyi demikian, ".anak itu ( Samuel ) menjadi pelayan Tuhan
dibawah pengawasan imam Eli". Kita tahu bahwa imam Eli gagal mendidik
anak-anaknya. Karena Samuel ada dibawah pengawasan imam Eli, mungkin tanpa
sadar Samuel "mencontoh" bagaimana perilaku imam Eli terhadap anak-anaknya.
Kalau benar demikian, maka ternyata kelemahan seorang pendidik, dapat
diwariskan pada anak didiknya.
Apapun penyebab kegagalan Samuel dalam mendidik anak, nampaknya hal ini memberi
dampak yang buruk terhadap Israel. Para tua-tua Israel datang pada Samuel
meminta
raja. Dan salah satu alasan yang dikemukakan tua-tua Israel adalah karena
anak-anak Samuel tidak hidup seperti ayahnya [ I Sam 8:5 ]. Permintaan tua-tua
Israel ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat jahat di mata Tuhan, karena
ini berarti penolakan terhadap
DiriNya sebagai Raja [ I Sam. 8:7 dan 12:17 ].
Kegagalan hamba Tuhan yang luar biasa ini dalam mendidik anak, ternyata memberi
akibat negatif terhadap Umat Tuhan.
Kembali kita melihat betapa pentingnya mendidik anak-anak kita, agar kelak
mereka dapat melayaniNya, dan tidak menjadi batu sandungan bagi Umat Tuhan.
Para bapa perlu memikirkan ulang, makna mendidik anak dalam kaitannya dengan
pelayanan kepada Umat Tuhan. Karena, walaupun seorang bapa melayaniNya seumur
hidup, tetapi jika perjuangannya tidak diteruskan oleh anak-anaknya, maka
hasilnya mungkin sangat mengecewakan. Semoga keluarga-keluarga Kristen
menghasilkan generasi demi generasi yang melayaniNya.
=====================================
Renungan Keluarga Kegagalan keluarga Eli
"Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihanKu.mengapa engkau
menghormati anak-anakmu lebih dari padaKu." [ I Samuel 2:29 ].
Eli adalah orang yang melayani Tuhan, yaitu sebagai Imam bagi bangsa Israel.
Tetapi Imam Eli adalah seorang yang tidak memiliki ketajaman rohani. Begitu
tumpul penglihatan rohaninya, sehingga ia tidak dapat membedakan apakah
seseorang itu sedang mabuk atau
sedang berdoa [ I Sam. 1:14-15 ]. Ketumpulan rohaninya ini disebabkan ia
melayani Tuhan, tetapi menyimpan dosa. Dosa Imam Eli adalah keserakahan. Ia
melayani sebagai Imam, tetapi seorang yang tamak terhadap korban sembelihan
Tuhan, atau istilah sekarang adalah, cinta uang.
Melayani Tuhan dengan jabatan tertentu dalam jemaat, sambil menyimpan hati yang
cinta uang, adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Orang-orang Farisi di
zaman Tuhan Yesus adalah orang-orang yang cinta uang [ Lukas 16:14 ]. Kecintaan
orang Farisi terhadap uang adalah salah satu sebab utama mengapa mereka tidak
dapat mengenal, bahwa Yesus adalah seorang yang diutus Allah. Cinta uang
membutakan penglihatan rohani.
Penglihatan keledai dapat lebih tajam dari pada penglihatan rohani seorang nabi
yang cinta uang, dalam kasus Bileam [ Bilangan 22:21-34 ].
Jika seorang bapa telah tumpul secara rohani, bagaimana dengan anak-anaknya ?
Demikianlah yang terjadi dengan anak-anak Imam Eli. Mereka adalah anak-anak
yang tidak mengindahkan Tuhan [ I Sam. 2:12 ]. Dosa imam Eli ini sangat fatal.
Sebenarnya Imam Eli
tidak lagi dapat disebut melayani Tuhan, karena tidak mungkin orang dapat
mengabdi kepada dua tuan [ Lukas 16:13 ]. Dan dalam kondisi Imam Eli yang tidak
melayani Tuhan lagi, wajarlah jika ia lebih menghormati anak-anaknya dari pada
menghormati Tuhan.
Dan dosa yang inilah yang menyebabkan Tuhan mengutus nabiNya untuk menegaskan
bahwa keluarga Eli tidak dapat hidup lagi dihadapan Allah dan melayaniNya [ I
Sam 2:30-36 ].
Sungguh kegagalan yang sangat menyedihkan. Apalagi yang membuat suatu keluarga
hancur, selain tidak diperkenankan Tuhan melayaniNya. Semua ini berawal dari
dosa cinta uang. Tepatlah firman Tuhan yang mengatakan bahwa, "akar segala
kejahatan ialah cinta
uang" Dosa awal Imam Eli yaitu cinta uang, berkembang sedemikian menjadi dosa
lebih menghormati anak-anaknya dari pada Tuhan. Rupanya, perkembangan dosa
seperti ini, dapat membatalkan janji Allah yang pernah diucapkan untuk keluarga
Imam Eli [ I Sam. 2:30 ].
Semua ini seharusnya membuat kita, yang sedang melayaniNya, menjaga hati kita
agar tidak menjadi cinta uang. Kekayaan ataupun uang itu sendiri, tidaklah
jahat. Hati yang mencintai uang, itu yang sangat buruk. Juga, jangan kita
berpikir bahwa janji Tuhan tidak dapat dibatalkan. Dari kegagalan keluarga Imam
Eli, kita dapat melihat bahwa dosa cinta uang
yang dibiarkan berkembang, dapat membatalkan janji Allah. Semoga
keluarga-keluarga Kristen, terutama para bapa, memperhatikan hal ini.
=========================================
Renungan Keluarga: Kegagalan Keluarga Abraham
"Berkatalah Sarai kepada Abram: Engkau tahu, Tuhan tidak memberi aku melahirkan
anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat
memperoleh seorang anak. Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai" [ Kej. 16:2 ].
Nama Abram berarti bapa yang dimuliakan, dan setelah Allah mengadakan
perjanjian sunat dengan Abram, maka namanya diganti menjadi Abraham, yang
artinya bapa banyak bangsa. Karena banyak bangsa akan menjadi anak-anak
Abraham, oleh karena iman dalam Kristus.
Tetapi kita tahu bahwa Abraham belum mempunyai anak sampai mendekati usia 100
tahun, walaupun Allah telah berjanji bahwa keturunannya akan menjadi seperti
debu tanah banyaknya. Setelah menanti penggenapan janji Allah kurang lebih 12
tahun, maka Sarai ( Sara ) mengajukan usul untuk mendapatkan anak dengan cara
lain.
Apa yang diusulkan Sarai adalah suatu cara manusiawi agar janji Allah
tergenapi. Dan seperti ayat diatas, maka Abram mendengarkan perkataan Sarai.
Dengan kata lain, Abram setuju bahwa janji Allah digenapi dengan cara seperti
diusulkan Sarai. Bahkan Abram pernah
berkata, ".Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup dihadapanMu !" [ Kej. 17:17
]. Tetapi Tuhan tetap tidak setuju apabila "tangan" manusia turut campur dalam
penggenapan janjiNya. Janji Tuhan harus digenapi menurut cara, waktu, dan
dengan kekuatan Tuhan.
Kegagalan Abraham merupakan sesuatu yang sangat sering terjadi didalam
kehidupan orang percaya. Orang percaya tentu memperoleh janji Tuhan, baik
berupa perkara jasmani maupun rohani. Kegagalan banyak orang adalah berusaha
dengan kekuatan sendiri untuk menggenapi
janji Tuhan. Bagi banyak orang yang penting "mempunyai anak". Tidak persoalan ,
apakah itu "Ishak" atau "Ismael". Tetapi dihadapan Tuhan, yang penting bukan
hanya "punya anak", melainkan apakah itu "Ishak" atau "Ismael".
Sesuatu yang diperoleh orang Kristen dengan kekuatannya sendiri adalah
"Ismael", sedangkan yang dengan kekuatan Tuhan adalah "Ishak". Orang Kristen
yang memperoleh "Ishak" mendapat kemuliaan Tuhan, sedangkan orang Kristen yang
memperoleh "Ismael"
mendapat kemuliaan manusia. Masalahnya disini adalah apakah kita hidup
dihadapan Allah atau manusia. Jika kita hidup dihadapan Tuhan, maka kita akan
bekerja sama dengan Tuhan sedemikian sehingga kita memperoleh "Ishak", baik itu
berupa berkat jasmani atau rohani.
Mengapa Abram gagal ? Memang Abram pasti gagal, tetapi Abraham tidak. Abram
berubah menjadi Abraham setelah Allah mengadakan perjanjian sunat. Jika
keluarga-keluarga Kristen mengalami "sunat" Kristus, maka keluarga-keluarga ini
akan melahirkan "Ishak" pada waktunya, dan bukan "Ismael". Dan
keluarga-keluarga Kristen ini akan dipenuhi kemuliaan Tuhan dan bukan kemuliaan
manusia.
Gema Sion Ministry.
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/