From: Donny Adi Wiguna 

ORANG MUDA

1 Pet 5:5-7  Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada 
orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang 
lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang 
rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, 
supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu 
kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Absalom, pemuda yang gagah dan tampan. Rambutnya hitam tebal, dadanya bidang, 
langkahnya mengayun tegap. Siapa pun yang memandangnya pasti terpesona, dan 
hati para gadis segera terbetot oleh sinar matanya yang ramah dan lembut. 
Sungguh mahluk lelaki yang indah ciptaan Allah! Dia pun memiliki adik perempuan 
yang tak kalah indahnya, Tamar namanya. Simbol kecantikan bagi seluruh negeri, 
membuat semua laki-laki tersihir terpaku
di muka wajahnya yang jelita. Inilah pasangan kakak-adik yang sungguh setimpal, 
serasi dalam kecantikan dan keceriaan. Tambah lagi, mereka ini anak-anak 
bangsawan, yang dihormati semua orang.
Bagaikan gula mengundang semut, semua mata pemuda pemudi di negeri itu 
memandang pada pasangan yang jelita nan rupawan ini. Para pemudi berkhayal 
didekap Absalom, sedang para pemuda selalu mencuri-curi pandang pada Tamar. Tak 
kurang dari anak-anak raja pun memandang pada mereka, walaupun mereka masih 
saudara seayah berlainan ibu. Salah seorang dari anak-anak raja itu bernama 
Amnon, ia sangat tergila-gila pada Tamar dan darah
mudanya bergejolak setiap kali melihat saudarinya sendiri. Sebegitu besar 
gairahnya, sampai Amnon tidak bisa mengendalikan diri lagi.

Hari itu, Amnon berpura-pura sakit. Ia meminta agar Tamar boleh datang 
memberinya makan. Dengan keceriaan dan hati yang baik, Tamar datang dengan hati 
senang untuk membuat roti dengan tangannya sendiri, roti yang enak untuk 
kakaknya yang sakit. Tapi apa yang dilakukan Amnon? Ia tidak tahan lagi. Saat 
itu hanya ada mereka berdua, di kamar tidur, di atas pembaringan. Bagaikan 
singa muda yang kelaparan, Amnon menerkam Tamar.
Memperkosa adiknya sendiri, memetik bunga indah yang baru mekar ini.

Apakah selesai sampai di situ? Tidak.
Ternyata, setelah berhasil menikmati tubuh yang molek itu, setelah segala nafsu 
disalurkan dengan penuh kepuasan, perasaan cinta berubah menjadi benci. 
Tahu-tahu Amnon melihat Tamar tak lebih dari seorang perempuan hina yang 
membiarkan dirinya sendiri ternoda, dan ia menjadi tidak suka padanya. Amnon 
sudah puas, sekarang lebih penting baginya untuk melindungi diri sendiri dari 
kemarahan orang tua. Toh tidak mungkin untuk menjadikan
Tamar -- adiknya sendiri -- menjadi istrinya. Apa kata rakyat nanti?
Bagaimana mungkin anak raja melakukan perbuatan hina?

Maka Amnon mencampakkan bunga yang telah dipetiknya, mengoyakkan kehidupan 
ceria dari seorang gadis bernama Tamar. Ia mengusir gadis itu keluar seperti 
mengusir seorang pelacur, lalu mengunci pintu di belakangnya. Tamar hancur 
hatinya. Luluh tubuhnya, sementara rasa sakit akibat perkosaan itu masih belum 
juga reda. Hal ini segera diketahui oleh kakaknya, Absalom. Ia murka. Ia 
dipenuhi dendam. Ia menunggu kesempatan. Dua tahun kemudian, Absalom membalas 
dendamnya, ia tak segan untuk membunuh Amnon, saudaranya.

Betapa ironinya. Di manakah orang tua mereka? Anak-anak muda ini sama sekali 
tidak menghormati orang tua. Amnon tidak peduli pada orang tuanya.
Absalom tidak mengacuhkan orang tuanya. Mereka adalah anak raja -- bahkan raja 
masih hidup -- tetapi perilaku mereka tidak lebih dari berandalan yang tak 
segan menumpahkan darah. Amnon menumpahkan darah keperawanan Tamar. Absalom 
menumpahkan darah Amnon. Tidakkah mereka seharusnya tunduk kepada orang tua?

Kisah ini belum selesai sampai di situ. Absalom yang takut pada hukuman raja 
karena membunuh saudara sendiri melarikan diri ke luar negeri selama tiga 
tahun. Lama di pengasingan, setelah itu ia kembali di bawah pengampunan raja. 
Apakah Absalom berterimakasih? Tidak. Sebaliknya, ia memulai usaha 
pemberontakan. Empat tahun lamanya Absalom mempersiapkan diri, setelah itu ia 
menyatakan diri sebagai raja, mendepak ayahnya
sendiri. Tidak cukup dengan itu, ia juga mempersiapkan diri untuk mengejar raja 
tua yang melarikan diri, dengan niat untuk membinasakan. Disebut apakah seorang 
anak yang berikhtiar untuk membunuh ayahnya sendiri, padahal seumur hidupnya ia 
telah menerima kebaikan yang besar dari ayahnya?

Dan terjadilah perang besar di antara rakyat yang menyertai raja tua melawan 
rakyat yang menyertai raja muda. Tidak kurang dari dua puluh ribu orang mati 
mengenaskan akibat kekacauan dalam keluarga, yang dimulai dari anak-anak yang 
tidak tunduk pada orang tuanya. Dan di penghujung perang, seorang membawa 
berita kematian anak kepada bapaknya sendiri. Perang besar dimenangkan, namun 
bagi sang ayah yang tersisa hanyalah tragedi yang amat menyedihkan. Tidakkah 
tragedi ini mengajarkan kita semua sesuatu untuk
bersikap terhadap orang tua? Dengan segala ketampanan, kekuatan, dan kepandaian 
yang ada, orang-orang muda seharusnya selalu ingat bahwa segala kelebihan itu 
tidak menjadikan mereka lebih daripada orang tua.
Demikianlah yang dinasihatkan Rasul Petrus: hai orang-orang muda, tunduklah 
kepada orang-orang yang tua. Nasihat ini mengikuti nasihat bagi para penatua 
untuk menjadi gembala dengan memberi teladan; sekiranya yang tua baik dalam 
memberi teladan dan yang muda tunduk dalam perbuatan, tentu mendatangkan 
ketenteraman. Sayangnya, seperti Absalom, banyak orang muda yang congkak dengan 
ketampanan, dengan kepandaian, atau kekuatannya. Dengan segala kelebihan itu, 
mudah sekali untuk menjadi tinggi hati. Dan ketika diri sudah dikuasai 
kesombongan, kedurhakaan pun bekerja tanpa halangan. Ujung-ujungnya adalah 
kematian, suatu tragedi. Menyedihkan.

Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. 
Semua orang yang congkak nampaknya lupa -- atau tidak mengakui -- bahwa segala 
ketampanan, kepandaian, dan kekuatan yang mereka miliki bukanlah hasil kerja 
mereka sendiri, melainkan karunia. Jika wajah tampan atau cantik, itu adalah 
pemberian Tuhan melalui orang tua. Jika otak pandai, itu adalah pemberian 
Tuhan. Jika tubuh kuat, itu pun pemberian.
Tak ada seorang pun yang dapat menentukan bagaimana dirinya dilahirkan, atau 
apa saja bakat-bakat yang dimiliki. Itu bukan pilihan kita, bukan hasil usaha 
kita. Bagaimana kita dapat menjadi sombong oleh semua karunia ini?
Jauh lebih baik untuk bersikap rendah hati, memulai sikap dari pemahaman bahwa 
hidup kita bergantung kepada Allah. Jika ada wajah tampan dan cantik, jika ada 
otak yang pintar atau otot yang kuat, biarlah semuanya ini memuliakan Tuhan 
yang telah menyediakannya. Allah mengasihani setiap keberadaan mereka yang 
rendah hati, mengerti bagaimana dunia mungkin mencemooh mereka karena 
kerendah-hatiannya. Allah bahkan mengangkat mereka
yang merendahkan diri di bawah tangan-Nya yang kuat, Ia meninggikan mereka pada 
waktunya, saat segala sesuatu dinyatakan dengan terbuka.

Jika saja saat itu Absalom dan Tamar menyerahkan diri mereka kepada Allah, 
bergantung hanya kepada Allah, mungkin jadinya akan sangat berbeda. Allah kita 
bukanlah Allah yang tinggal diam melihat kejahatan, bukan Allah yang tidak 
peduli pada perbuatan biadab penuh nafsu seperti perilaku Amnon terhadap Tamar. 
Allah pasti meninggikan mereka -- tak ada hal yang memalukan sebagai korban. 
Bagi orang yang bersedia meletakkan segala pengharapan nya kepada Allah, ia 
akan menerima kehidupan dari Allah, menurut cara dan waktu Allah.

Apakah kehidupan ini mengkhawatirkan? Bila kita hanya memandang pada masalah 
saja, memang yang kita lihat hanyalah kesusahan dan kejahatan. Bila kita 
membiarkan kekuatan dan kemampuan menguasai diri dan jatuh dalam kesombongan, 
kita akan cenderung menyelesaikan masalah dengan kekuatan kita sendiri. Kalau 
memang harus membunuh, tak ada pantangan lagi, lakukan saja. Kalau harus 
menyakiti, apa boleh buat, lakukan saja. Semakin kita menikmati kekuatan itu, 
semakin jauh pula posisi kita dari Tuhan.
Mungkin, saat itu tahu-tahu kita sedang berusaha untuk menggulingkan Tuhan dari 
kehidupan kita, lantas kita menyatakan diri menjadi raja atas kehidupan. Dengan 
segala kepandaian, semua kehebatan rasio, kita mengusir segala ajaran lama dari 
orang tua. Bahkan ada orang yang dengan pongahnya menyatakan Allah sudah mati 
dalam kehidupannya; ia tidak lagi membutuhkan Allah. Ia menyatakan diri sebagai 
orang yang hebat, super. Dan ia menjadi
gila oleh pikirannya sendiri.

Seperti Absalom hendak membinasakan ayahnya, demikianlah banyak orang modern 
hendak mengenyahkan segala ajaran dari masa lalu, menjadi liberal dalam segala 
sesuatu. Mereka berusaha mendobrak segala norma-norma lama, dimulai dari 
keluarga. Anak-anak muda berhubungan badan dengan bebasnya, mereka hidup 
bersama tanpa menikah. Sebagian menjadi orang tua tunggal yang membiarkan 
anak-anaknya diajar untuk berbuat sebebasnya, sehingga seringkali anak-anak itu 
hidupnya tidak jauh berbeda: menjadi orang tua tunggal juga. Peristiwa Amnon 
dengan Tamar menjadi peristiwa yang biasa, bahkan dibicarakan dengan penuh 
semangat seperti hal yang amat menarik hati. Keluarga-keluarga runtuh dalam 
hawa nafsu, orang kawin dan cerai tanpa merasa malu.

Keruntuhan keluarga mendatangkan pula keruntuhan masyarakat. Kecongkakan 
merajalela, setiap orang hidup untuk menonjolkan dirinya sendiri saja. Tak ada 
lagi perhatian yang murni, yang tersisa adalah individu-individu yang hidup 
sendiri-sendiri, sekalipun mereka hidup dalam keramaian kota metropolitan. Satu 
sama lain tak lagi saling mempedulikan, kecuali ada
yang nampak menonjol untuk dilihat atau dinikmati. Seperti rakyat yang 
menyertai Absalom, orang masa kini mengikuti pemimpin yang tampan rupanya dan 
manis tutur katanya, bukan apa yang dipilih dan ditetapkan Allah. Inikah 
kebebasan yang sesungguhnya? Bebas untuk menyerang dan membunuh raja sendiri, 
ayah sendiri?

Tanpa Tuhan, kehidupan di dunia adalah kehidupan yang mengerikan. Seorang muda 
lain bernama Ahitofel adalah pemuda yang cerdas dan bersemangat, tetapi ketika 
usulnya yang baik ditolak oleh Absalom, ia menggantung diri.
Ketika tidak ada apa-apa di dunia yang dapat dijadikan kebanggaan, hidup tidak 
ada artinya. Lebih baik mati. Sampai kini pun, masih amat banyak anak muda yang 
berusaha menjadi sesuatu, yang berani mereka bayar dengan nyawa. Lebih baik 
mati daripada tidak menjadi apa-apa di dalam dunia! Sehebat itulah kecongkakan 
menguasai hidup, kesombongan yang sudah melayang tinggi jauh di atas awan di 
mana tiada tempat keras untuk berpijak.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Serahkan juga congkakmu serta segala sesuatu yang menjadi andalanmu, segala 
kekayaan dan kepandaian dan kekuasaan serta kekuatan yang menjadi tumpuan 
hidupmu. Bergantung kepada Tuhan membutuhkan pegangan dua tangan untuk menahan 
tarikan masalah dunia. Inilah makna dari percaya kepada Tuhan, yaitu 
menyerahkan diri sepenuhnya dalam tangan Tuhan, bersandar hanya pada karya 
Allah yang menyelamatkan dan memelihara. Bapa memelihara anak-anak-Nya dengan 
setia, Ia tidak akan membiarkan cobaan datang melampaui kekuatan, sebaliknya 
memberikan jalan keluar sehingga kita dapat
menanggungnya.
Bukankah sungguh ajaib, bahwa kita memiliki Allah Bapa sebaik ini dalam 
kehidupan?
Terpujilah TUHAN!

Ref. 2 Sam 13-18; 1 Kor 10:13

1Pe 5:5-7  Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada 
orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang 
lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang 
rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, 
supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu 
kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

Untuk didiskusikan:
1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud dalam nasihat kepada orang muda untuk 
tunduk kepada orang tua? Mengapa hal ini perlu dinasihatkan?
2. Apa artinya Allah menentang orang yang congkak? Bagaimana Ia mengasihani 
orang yang rendah hati?
3. Diskusikanlah, bagaimana kita dapat merendahkan diri di bawah tangan Tuhan 
yang kuat. Bagaimana prakteknya di dalam kehidupan kita?
4. Apa yang mungkin menghambat kita untuk menyerahkan segala kekuatiran kita 
kepada Tuhan?
================================================
From: "indyah kusumawati" <[EMAIL PROTECTED]>

visit this web, pliz!


Silahkan kunjungi web-site http://www.donghaeng.net/english/main.htm
walaupun sederhan, tp sangat memBERKATi saya!, dan semoga anda juga!
Tuhan Berkati, 
Regards, 


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke