From: saumiman_saud 

KERJA TERUS, TERUS KERJA
Oleh : Pdt. Saumiman Saud*)
      
      Kerja terus dan terus kerja, kapan berhentinya?  Suatu pertanyaan yang 
selalu terngiang ditelinga kita bukan?  Ada orang bilang ia harus kerja sampai 
tua kalau tidak sia-sia hidupnya, sebaliknya ada yang bilang kalau kerja terus 
sampai tua juga sia-sia, kapan santainya?.  Ada lagi orang yang bekerja pagi, 
siang, sore dan malam, dan istirahatnya kalau sudah jatuh sakit, dan ada yang 
lebih ekstrem lagi biarlah kerja terus dan terus kerja sampai mati, yang 
penting banyak uang masuk, jadi uang dicari terus, namun tidak pernah 
memakainya.
            Kita juga sering mendengar orang mengatakan bahwa "Waktu adalah 
uang", namun  Jack Collis dalam bukunya Work Smarter Not Harder tidak setuju 
dengan prinsip ini.  Menurut beliau, pada kenyataannya justru "Kerja adalah 
sama dengan uang", bila anda berpendapat bahwa waktu adalah uang cobalah 
berhenti bekerja, dan periksalah berapa banyak uang yang datang dengan 
sendirinya.  Dengan kata lain "kerja" itu sangat penting,  sehingga tidak heran 
ada orang yang sampai setengah mati kerja hanya untuk sesuap nasi, itu tidak 
salah, ketimbang ia tidak mau kerja tetapi tetap perlu sesuap nasi.  

      Di dalam dunia yang penuh persaingan bisnis ini, masing-masing orang 
diperhadapkan dengan berbagai perlombaan, untuk menciptakan prestasi dan 
prestise yang paling tinggi. Semua orang ingin sukses, semua orang ingin 
berhasil,  tidak ada yang bercita-cita untuk gagal, dan bukan hanya itu bila 
perlu apabila saya berhasil maka engkau yang harus gagal, sebab engkau akan 
menjadi saingan bila engkau juga berhasil. Zaman sekarang ini, kalau orang 
bekerja selama dua belas sampai lima belas jam sehari bukan merupakan barang 
aneh lagi. Sebaliknya hal ini malah telah menjadi seperti suatu "keharusan".  
Bahkan sisa pekerjaan dari kantor di bawa pulang ke rumah sebagai bahan lembur. 

      Istilah "Cukup" dan "Puas" seakan-akan tidak berlaku lagi.  
Jadi yang muncul dalam benak masing-masing orang yakni bersaing, bersaing, dan 
bersaing terus. Jika kita tidak mau kerjakan pekerjaan ini orang lain mau.  
Jika kita tidak terima pekerjaan itu, orang lain menerima. Jika kita minta 
harga yang lebih mahal, orang lain 
berani memberikan harga yang lebih murah! Jika kita berani terima pekerjaan itu 
dengan untung yang minimal, orang lain berani menerimanya dengan tidak untung 
sesenpun atau rugi, yang penting pekerjaan itu harus menjadi miliknya. Inilah 
hal-hal umum yang sedang terjadi di  kalangan dunia bisnis.  Mereka menganggap 
bahwa tujuan utama bekerja adalah mencari uang dan kekayaan, namun lain dengan 
konsep Alkitab, Allah mengajar kita bekerja untuk Allah.  
             Bekerja bagi Allah merupakan suatu kegiatan kita untuk memenuhi 
Amanat dan tujuan hidup Sorgawi. Bekerja merupakan suatu pelayanan sekaligus 
merupakan ibadah.  Tuhan Yesus mengatakan "Marilah kepada-Ku, semua yang letih 
lesu dan berbeban 
berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan 
belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan 
mendapat ketenangan. sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan 
(Mat 11:28-30)".  "Kelegaan" yang dilukiskan oleh Tuhan Yesus di sini adalah 
kelegaan atau ketenangan 
roh kita, suatu kelegaan atau kepercayaan kepada janji-janji dan persediaan 
Allah untuk berbagai kebutuhan kita yang paling dalam, paling pribadi, dan 
paling didambakan .  Ini berarti bahwa waktu bersenang dan bersantai, kebebasan 
dari bekerja; sesungguhnya dimulai di pekerjaan. Semua ini akan terjadi tatkala 
kita berhenti mengandalkan pekerjaan kita dan mulai mempercayakan Tuhan Yesus 
untuk menyediakan berbagai kebutuhan kita.

           Sebuah kisah yang benar-benar terjadi, pada suatu hari di penghujung 
tahun 1969, di dalam sebuah perpustakaan penelitian dari Universitas California 
di Berkeley, seorang pemuda tiba-tiba mengamuk. Ia masuk perpustakaan sambil 
berteriak histeris kepada 
rekan-rekan mahasiswa yang terheran-heran, ":STOP!,STOP! Anda sudah mulai 
mendahului saya!" Pemuda ini kemudian ditangkap, tetapi kejahatan apakah 
sebenarnya yang telah dilakukannya? Tidak ada. Ia hanya stress!! "Orang lain 
sudah mulai mendahului saya" katanya. 
      Sementara anda mulai bekerja, orang lain berolah-raga, mereka telah 
mendahului anda. Sementara orang lain dipromosikan naik pangkat, mereka telah 
mendahului anda.  Sementara orang lain membaca buku yang anda belum baca, orang 
itu telah mendahului anda. 
Sementara tetangga baru membeli mobil mewah, orang itu telah mendahului anda.
Sementara banyak sementara yang orang lain telah mendahului anda. 

             Jadi tidak pernah ada rasa puas dan ini cenderung menjadikan 
pekerjaan kita sebagai berhala. Kita begitu diikat, seakan-akan kalau tanggal 
merah saya tutup toko, orang lain sudah mendahului anda. Berapa banyak orang  
yang terjebak dalam kasus ini? 
Apalagi kalau hari minggu tutup toko, langganan semuanya bisa lari, lalu anda 
tetap membuka toko sehingga tidak ada waktu datang ke gereja. Kita sering 
mendengar ada orang dengan bangga bercerita kepada temannya, bahwa sudah 
bertahun-tahun ia tidak pernah 
mengambil cuti. Atau mereka begitu sibuk sehingga waktu untuk istirahat sehari 
sajapun tidak ada. Lalu teman-temannya mulai mumuji dia, wah hebat; ini dia 
yang paling giat. Sementara yang lain menasihati dia, kerja tidak usah dipaksa, 
ia merasa ini suatu 
kebanggaan. Sebab ia bisa bekerja "mati-matian".
                Saya bersyukur sebagai hamba Tuhan di gereja sudah disediakan 
waktu sebulan untuk cuti, dan tahun ini setiap hamba Tuhan di gereja diharuskan 
mengambil cuti tersebut. Namun sayang, bagi saya cuti itu berarti menghabiskan 
dana,  mungkin suatu saat 
gereja juga memikirkan kompensi cuti buat hamba Tuhannya. Saya mengajak kita 
mengubah konsep bahwa cuti jangan diartikan dengan malas bekerja. Tetapi 
istirahat untuk memperbaharui semangat. 

                  Memang, dalam waktu yang singkat sumber utama identitas orang 
Kristen adalah dilihat dari pekerjaannya. Biasanya sesudah kita berkenalan 
dengan seseorang dengan menyebut nama, kita biasanya menjelaskan apa pekerjaan 
kita. Baru-baru ini saya sempat berkenalan dengan tetangga yang ada di seberang 
rumah (kebetulan masih kampung), lalu saya tanya "Mas, apa kerja anda?  dengan 
malu dan suara yang agak kecil hampir tidak kedengaran oleh telinga ia menjawab 
"Cleaning service di sebuah klinik". Ia agak sungkan menyebut pekerjaannya, 
coba bandingkan dengan orang yang mempunyai 
jabatan yang tinggi misalnya direktur atau pimpinan perusahaan, biasanya dengan 
bangga dan suara yang agak keras ia menyebutkan pekerjaannya. 
                Selain itu ada semboyan yang berbunyi "Kita belum melayani 
Tuhan benar-benar bila kita tidak berjuang mati-matian." 
Dengan letih tetapi bangga kita cenderung untuk berjuang habis-habisan daripada 
diam berkarat. Padahal menurut saya kedua-duanya sama tak masuk akal.  Kerja 
bagi orang percaya identik dengan pelayanan.  Masalahnya adalah bagaimana 
konsep kita terhadap 
pekerjaan itu?  Apa tujuan utama kita bekerja? Menjadi kayakah atau ada yang 
lain?

      Saya pikir orang kristen harus mempunyai konsep yang benar dahulu tentang 
pekerjaan itu, bukan sekadar untuk mencari kekayaan. Berbahaya sekali apabila 
kita mempunyai konsep yang keliru ini, kita boleh menghalalkan segala 
pekerjaan, yang penting kaya.  Namun kalau tujuannya merupakan pelayanan itu 
lain soal, itu berarti segala pekerjaan yang kita lakukan haruslah yang sesuai 
dengan kehendak Tuhan.
                Menurut Markus 6:30-34, Yesus dengan sengaja mencari kelegaan 
sesudah letih melayani orang lain. Ia juga menganjurkan kepada murid-murid-Nya 
melakukan hal yang sama.  Kehidupan Yesus sungguh seimbang, Ia melaksanakan 
semua tugas yang dipercayakan Allah Bapa kepada-Nya dengan sempurna.  Bila 
begini cara Yesus hidup, maka dengan sendirinya kita perlu teladani.  
Seandainya hari ini anda sudah terlanjur membentuk kebiasaan bekerja yang 
kelewat batas tanpa istirahat, maka mungkin akan "sangat sulit" bagi anda untuk 
merubahnya. Tetapi, ingatlah bahwa "sangat sulit" bukan berarti tidak bisa  
atau mustahil!!  Tetapi "sangat sulit" itu berarti bisa berubah, asalkan kita 
mau mencobanya.

      Ada dua cara untuk memanfaatkan waktu yang senggang tatkala kita sudah 
berlelah kerja selama ini :

1.      Berhentilah menjejali pikiran dengan seluk-beluk kehidupan yang tiada 
habis-habisnya ini, soalnya memang tidak pernah habis.
      Juruselamat kita Yesus Kristus dengan tegas mengatakan bahwa kita tidak 
dapat melayani Allah dan manusia pada saat yang sama. 
Tetapi betapa kerasnya kita berusaha untuk mengatasi ini! Perkataan Tuhan Yesus 
di dalam Matius 6 dapat kita simpulkan menjadi : "Jangan memaksa diri melakukan 
apa yang hanya dapat ditangani oleh Allah." 
Setiap pagi anda harus dengan sengaja memutuskan untuk tidak membiarkan rasa 
kuatir, rasa takut, rasa cemas, rasa was-was yang senantiasa menyita waktu anda 
dan merampas saat santai anda. Buang semua itu, untuk memulai pelayanan kita 
hari ini. Sebagai orang 
Kristen tentunya kita membuka setiap hari dengan saat teduh dan membaca 
Alkitab, sehingga sejak pagi hari saja kita mengisi diri kita dengan firman 
Tuhan.

                 2. Mulailah mengambil waktu untuk bersantai, karena waktu yang 
                     disediakan saat senggang adalah untuk santai.
      Sesudah menciptakan dunia, Allah beristirahat, nah kita sekarang 
diperintahkan untuk meniru-Nya.  Lihat Efesus 5:1 "Sebab itu jadilah 
penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih"  
Bahasa Yunani dari "Jadilah penurut-penurut" diterjemahkan dari "mimeomai", 
melalui kata ini nantinya muncul istilah "Mimik atau meniru". Kata jadilah 
"penurut-penurut' ini muncul dalam 
bentuk "terus-menerus" dan memberi kesan kebiasaan tetap atau artinya 
selama-lamanya harus menurut.  Jadi kesimpulannya kita harus menjadi 
penurut-penurut Allah secara terus-menerus; termasuk di dalam mengambil waktu 
senggang ini,agar supaya istirahat bisa hadir 
di dalam kehidupan kita. Tempatkanlah Yesus Kristus di pusat kehidupan kita, Ia 
harus berada di tempat yang seharusnya sebelum kita dapat mengharapkan dunia 
kita berputar mulus.
              Pada suatu malam seorang bapak yang kecapaian setelah membanting 
tulang seharian berjalan terseok-seok ke rumahnya. Ia baru melewatkan hari yang 
penuh dengan tekanan, desakan dan tuntutan di tempat kerjanya. Ia sangat 
mendambakan saat rileks dan penuh ketenangan. Dengan letih ia mengambil surat 
kabar dan berjalan menuju kamar belajar. Baru saja ia membuka sepatu, tiba-tiba 
anak lelakinya yang baru berusia lima tahun melompat ke atas pangkuannya. 
Wajahnya berbinar-binar dengan riang. "Hai, Pa.............yuk kita main!" 

      Bapak ini sangat mengasihi anaknya, tetapi kebutuhan akan sedikit waktu 
untuk diri sendiri saat itu lebih besar daripada untuk bermain dengan si kecil. 
Tetapi bagaimana caranya mengatur hal ini? 
Ketika itu surat kabar sedang memuat berita hangat mengenai satelit bulan dan 
gambar yang besar planet bumi. Sang ayah mendapat ide lalu menyuruh anaknya 
mengambil gunting dan transparent tape. Dengan cepat digunting-guntingnya 
gambar bumi tadi dalam bentuk yang tidak beraturan lalu memberikan tumpukan 
teka-teki gambar itu kepada sang anak. "Coba kau sambung-sambung kembali 
potongan ini. Setelah selesai kamu boleh kembali, lalu kita bermain 
bersama-sama, Okey"
      Dengan segera anak itu berlari ke kamarnya sementara si ayah menarik 
nafas lega. Tetapi kurang dari sepuluh menit kemudian si anak sudah muncul  
membawa gambar yang sudah selesai direkat dengan sempurna. Dengan 
terheran-heran ayahnya bertanya: Bagaimana caranya kau melakukannya dengan 
begitu cepat nak?" "Ah gampang ayah, di 
balik gambar ini kan ada gambar orang. Bila orang itu dipersatukan, bumi juga 
akan bersatu."

            Demikianlah halnya hidup ini bila kita menempatkan manusia dengan 
benar, akan terjadi hal-hal yang mengherankan dengan dunia kita ini; terutama 
dengan diri kita sendiri.  Saya menjamin bahwa pada analisa akhir atas hidup 
anda yaitu pada saat anda berhenti dan menoleh pada cara anda menghabiskan 
waktu, maka penggunaan waktu senggang akan jauh lebih penting daripada untuk 
membanting tulang. Jangan menunggu sampai penyakit sudah datang, baru menikmati 
hidup ini.  Jangan tunggu sampai sudah tinggal sisa hidup kita baru 
sungguh-sungguh menikmati waktu senggang.  Saya hendak mengutip apa yang 
dikatakan salah seorang pendeta di Surabaya. Beliau mengatakan sewaktu muda 
orang-orang bekerja mati-matian menjual tenaga (kesehatan), lalu setelah 
uangnya banyak, masa tuanya penuh penyakit, dan saat itulah orang berusaha 
mati-matian untuk membeli lagi kesehatan. Jadi sepertinya sia-sia bukan? 

      Orang Kristen yang bertanggung jawab untuk bekerja, tentunya juga ia akan 
memilih pekerjaan yang baik dihadapan Tuhan dan manusia.  Kekristenan tidak 
mengajar kita menjadi penganggur, sebab Allah kita bukan "penganggur", tetapi 
Allah kita justru Allah yang bekerja sepanjang sejarah dengan karya ciptaan-Nya 
sungguh ajaib. Kerja bukan dosa, asalkan kita mengerjakan segala sesuatu yang 
berkenan dihadapan Allah.  Jikalau pandangan kita semua tentang pekerjaan sudah 
mengarah ke arah pelayanan bagi Tuhan, maka apapun profesi atau kerja kita 
asalkan tidak bertentangan dengan Tuhan; maka lakukanlah dengan penuh 
tanggung-jawab, dengan demikian tidak ada yang merasa malu dengan pekerjaannya; 
sebab semuanya ditujukan untuk kemuliaan nama Tuhan, bukan untuk diri sendiri 
lagi.
            Memang di dalam dunia realita ini orang-orang bekerja sesuai dengan 
tingkat pendidikan yang ada, tidak mungkin orang yang buta huruf lalu bekerja 
sebagai manager atau direktur, kecuali perusahaannya itu warisan orang tua.  
Saya tidak mengatakan orang 
yang buta huruf atau yang miskin akan gagal terus, tetapi asalkan ia rajin dan 
giat; banyak sekali contoh konkret yang sudah sering kita lihat; mereka yang 
seperti ini tidak sedikit yang akhirnya menjadi konglomerat. 

      Prinsip utamanya sebagai orang kristen tentunya "kerja dengan penuh takut 
kepada Tuhan".   Kerja itu penting; namun istirahat itu juga penting.  Marilah 
kita ambil jalan tengah yakni mementingkan kedua-duanya, dengan demikian maka 
tidak ada alasan lagi bahwa pekerjaan kita menghalangi kita melayani Tuhan.  
Saya mengerti sekali bagi anda yang hidup di Amerika ini, rasanya setiap hari 
itu penuh dengan pekerjaan. Yang di computer, hari-hari penuh dnegan projek dan 
deadline. Suami -isteri harus kerja, apalagi ada beban membayar uang cicilan 
rumah, semakin tertekan untuk bekerja mati-matian. Saya juga mengerti kalau 
anda ada yang bekerja harus berdiri selama 8 jam, kalau masih kuat tambah lagi 
pekerjaan lain yang 8 jam lagi, jadi di dalam satu hari anda berjuang 16 jam. 
Kemudian sesudah pulang ke rumah harus lagi mengurus pekerjaan yang di rumah, 
dari mulai bersih-bersih rumah sampai cuci pakaian, belum lagi mengurus 
anak-anak. Saya tidak tahu anda istirahatnya berapa lama? Nah kalau hal ini 
berjalan terus-menerus, timbul pertanyaan 
pula, uang yang anda cari itu untuk apa? Untuk membayar dokter pada waktu anda 
sakit?  Sekali lagi, kerja itu penting, kesehatan itu juga penting, mari jaga 
keseimbangannya.

      *) Saumiman Saud adalah rohaniwan di Gereja Injili Indonesia San Jose, 
California, penulis buku MENGENAL DIA LEBIH DALAM (terbitan Kairos- 2004) dan 
DINAMIKA KEHIDUPAN ORANG PERCAYA (Terbitan Yasinta 2004),  dapat dikontak 
dengan email : 
[EMAIL PROTECTED]

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke