Selamat pagi,
 
Beberapa waktu yang lalu Inggris digemparkan dengan ditemukannya seorang pria 
di daerah Kent, tampak ketakutan dan kebingungan, dan hingga saat ini, ia diam 
tanpa mengatakan satu patah kata pun. Tak seorang pun mengenal siapa dia. 
Sekarang ia dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Ketika dokter memberinya kertas 
dan pensil dengan harapan ia mampu menulis namanya, yang ia lakukan adalah 
menggambar sebuah grand piano dengan sangat detail hingga ke tutsnya. ia lalu 
dibawa ke kapel rumah sakit di mana di situ terdapat sebuah piano dan ketika ia 
menyentuh piano tersebut, ia memainkan sebuah komposisi klasik yang sangat 
indah. Ia mampu berjam-jam duduk di depan piano memainkan musik klasik. Hingga 
sekarang yang ia lakukan adalah bermain piano dan menulis komposisi, dan belum 
ada juga yang mampu mengidentifikasikan dirinya dengan bukti jelas. Sepertinya 
seorang pria yang sangat jenius, sayang ia sepertinya mengalami suatu trauma 
yang sangat berat hingga ia tak lagi mampu bicara. Karena tak
 bernama, akhirnya ia dijuluki sebagai "The Piano Man". Ia sangat mengingatkan 
kita pada David Helfgott, seorang pria Yahudi, pianis brilian yang juga 
menderita gangguan mental yang kisah hidupnya dituturkan secara cantik dalam 
film "Shine".
 
Sebenarnya, bukan hanya "Piano Man" yang tak mampu mengenal siapa sebenarnya 
dirinya, demikian juga orang lain di sekitarnya. Banyak filsuf mencoba 
mendefinisikan "Aku" dengan begitu rumit dan toh tidak pernah sampai pada 
kesimpulan yang jelas, akhirnya banyak dari mereka pun frustasi sendiri.. Hanya 
koma, bukan titik. Nietsche pun menghabiskan masa tuanya sebagai orang gila dan 
Kirkegaard begitu takut untuk menikah dan menyendiri hingga akhir hayatnya. 
Schopenhauer lebih mempercayai anjing pudelnya daripada manusia. Ayah saya 
sebelum bertemu Yesus Kristus, lebih mencintai anjing dan kucing daripada 
manusia. 
 
Tekanan, penderitaan, pergumulan, sikap negatif dan tuntutan-tuntutan dunia 
yang tak mampu kita kejar membuat kita kehilangan gambar yang jelas tentang 
siapa diri kita sebenarnya. 
Di masa kecil, ibu saya mendidik saya dengan sangat keras. Saya dituntut untuk 
berhasil dalam studi, saya masih ingat betapa saya sangat ketakutan kalau saya 
mendapat nilai jelek. Masa muda saya habiskan sebagian besar untuk membaca, 
belajar, merenung di rumah. Hanya ada sedikit teman akrab. Saya akan banyak 
teman kalau menjelang ujian karena tiba-tiba banyak yang membutuhkan bantuan 
saya untuk menolong mereka. Setelah itu, mereka akan melupakan saya.
 
Kurang pergaulan membuat saya tak mampu melihat dunia dengan baik. Saya tumbuh 
sebagai orang yang kaku dan keras kepala, sering terluka dan kurang kepercayaan 
terhadap manusia. Pernah di suatu hari saya berjalan di tengah hujan dan saya 
membawa buku Multinational Financial Management karangan Alan C. Shapiro yang 
tebal di tengah hujan. Yang saya lakukan bukannya menggunakan buku itu untuk 
melindungi kepala saya agar tak terkena tetesan hujan, tetapi saya justru 
mendekap buku itu agar jangan basah dan membiarkan punggung saya terkena hujan. 
Buku itu, menurut saya, tidak pernah melukai maka ia adalah sahabat dibanding 
manusia. Saya punya beberapa teman di dalam fantasi saya, yang tidak pernah ada 
di dunia nyata. Syukurlah saya masih sadar mereka hanya khayalan jadi belum 
seburuk scizophrenia John Nash.
 
Dalam pergaulan dengan lawan jenis, biasanya hanya sangat formal, dan kalau 
saya ingin mengenal lebih dekat, selalu berakhir dengan kekecewaan atau 
penolakan. Saya pernah menerima penilaian, komentar tentang saya yang sangat 
negatif dari seorang saudara seiman pria yang berada di gereja yang sama meski 
berbeda rayon, dan itu sangat melukai saya. Hampir tiap malam sejak itu, saya 
mencurahkan air mata saya di hadapan Allah (saya tahu banyak juga yang 
mengalami pergumulan ini) untuk memberi saya pasangan hidup yang bisa menerima 
diri saya apa adanya, mampu berkomunikasi dengan saya. Lalu, beberapa waktu 
kemudian ada seorang pria yang mengatakan bahwa dia mencintai saya, dan pria 
itu...seorang filsuf. 
 
Nah, saya yakin apa yang dialami Piano Man dan John Nash jelas jauh lebih buruk 
daripada saya, mungkin juga beberapa dari anda. Saya menulis bukan untuk sok 
konselor, tetapi sebagai teman yang mengerti karena mengalami. Dunia dengan 
segala tuntutan mereka bukan cermin kehidupan kita. Apapun yang orang katakan 
tentang kita, bukan mereka yang membuat kita menjadi ada. Kita ada karena 
diciptakan. Maka siapakah "aku", jelas penciptaku yang paling tahu. 
 
"Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan 
ibuku. Matamu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu, semuanya 
tertulis hari-hari yang akan dibentuk sebelum ada satupun dari padanya. " 
(Mazmur 139: 13,16).
Mazmur 139 seperti memberi darah baru mengalir dalam diri saya. Saya ada karena 
Allah mau saya ada dan Ia memiliki rencana dalam kehidupan saya. Aku berharga 
bukan karena kondisi fisik, intelektualitas maupun produktivitas dan segala 
ukuran dunia lainnya, tetapi karena Sang Pencipta adalah Bapaku dan ia 
mencintaiku. Saya di dalam Kristus, adalah anak Allah. Demikian juga anda. 
Seorang pendeta Korea dulunya adalah seorang yang merasa dirinya tak bernilai, 
hampir bunuh diri karena frustasi berusaha mengenal sebenarnya aku ini siapa 
dan untuk apa. Setelah menemukan fakta bahwa di dalam Kristus ia adalah anak 
Allah, hidupnya berubah total. Kini ia adalah gembala dari sebuah gereja yang 
besar.
 
Diri kita adalah apa yang Firman Allah katakan dan bukan apa yang dunia 
katakan. Yakobus mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah cermin yang 
sebenar-benarnya. Kalau kita memfokuskan diri pada kegagalan-kegagalan kita, 
kita akan tertekan dan frustasi. Kalau kita hanya mencoba berpikir positif ala 
New Age seperti diajarkan di sebuah tempat pelatihan di Jakarta dengan 
mengatakan pada pikiran kita "Aku bisa! Aku mampu! Tak ada yang bisa 
menghalangiku!" kita mungkin berpotensi menjadi Machiavelli atau Hitler. Tetapi 
kalau kita sadar bahwa kita ini tanah liat di tangan Sang Penjunan, yang 
sebagai Bapa jelas tak merencanakan masa depan yang buruk untuk anak-anakNya, 
maka kita akan menyerahkan diri kita, seluruh hidup kita ke tanganNya dan 
menemukan damai sejahtera.
 
Saya sekarang bahagia dengan diri saya.  beberapa wanita lain mungkin minder 
dengan keberadaannya yang tak seanggun Lady Di atau secantik Catherine 
Zeta-Jones. Saya merasa bangga dan tertawa ketika orang-orang yang saya temui 
mengatakan bahwa saya berjalan seperti John Nash dan mengerutkan dahi seperti 
Immanuel Kant. Mengapa marah, Nash dan Kant kan orang hebat, siap tahu Allah 
juga kelak mengaruniakan kepada saya kejeniusan seperti mereka? hehe..
 
Siapakah aku? Aku milik Kristus. Mungkin ada begitu banyak kekurangan dan 
kelemahan padaku, tapi hidupku bukan aku lagi dan Kristus hidup di dalamku. Dia 
yang akan membuat aku menjadi seperti Dia. Tugasku hanyalah percaya (Yohanes 
6:28,29).
 
Saudara, pujian manusia tak akan pernah mampu menutup celah kosong dalam hati 
kita. Demikian juga harta benda ataupun pasangan hidup. Ruang kosong itu adalah 
milik yang menciptakan kita. Sebagaimana seperangkat komputer yang bagus dan 
mahal tak akan berfungsi tanpa chip, hidup kita tak bermakna tanpa Kristus. 
Miliki Kristus, maka kita akan mengenal siapa kita dan mengapa kita ada. 
 
Be Happy, God Bless You..
 

                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke