From: Suzianty Herawati 

Dikutip dari buku:  UCAPAN PAULUS YANG SULIT
Oleh : Manfred T. Brauch
Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara - Malang - 1997
Halaman 153 - 160
BAB 26

Apakah Kita Semua Harus Berkata-kata dengan Bahasa Roh?
Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih 
daripada itu, supaya kamu bernubuat. 1 KORINTUS 14:5
Ucapan Paulus dalam 1 Korintus 14:5 dan pembahasan sekitarnya mengenai 
kehadiran dan fungsi karunia-karunia rohani dalam diri orang-orang beriman 
telah menimbulkan banyak pertanyaan: Apa kedudukan "bahasa roh" di dalam 
jemaat? Apakah orang-orang yang telah mendapatkan karunia rohani ini menjadi 
orang Kristen yang lebih saleh, lebih terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, 
dibandingkan mereka yang belum mendapatkannya? Apakah Paulus bermaksud 
mengatakan bahwa semua orang Kristen harus mendapatkan karunia ini? Atau 
sebaliknya semua orang harus berpartisipasi dalam pekerjaan nubuat, dan 
memberikan tempat yang tidak penting untuk "berkata-kata dengan bahasa roh"?
Beberapa orang Kristen, atas dasar teks ini dan teks-teks lainnya, merasa lebih 
tinggi, atau lebih lengkap, karena mereka memiliki karunia bahasa roh, dan 
bersama-sama Paulus berharap bahwa saudara-saudara seiman mereka dapat memiliki 
pengalaman yang sama ini. Orang-orang Kristen lainnya, atas dasar teks yang 
sama, menganggap glossolalia ini (dari bahasa Yunani glossai "lidah") 
perwujudan dari iman yang primitif dan tidak dewasa, dan menganggap ketiadaan 
karunia atau pengalaman ini sebagai tanda kedewasaan yang lebih besar. Yang 
lainnya lagi, melihat iman yang bersemangat dan antusias, dan juga kesaksian 
dari beberapa orang yang memiliki karunia berkata-kata dengan bahasa roh, 
merasa bahwa mereka tidak berjalan seiring dengan Roh Allah dan sungguh-sungguh 
merindukan atau mencari pengalaman Roh yang akan menimbulkan semangat pada iman 
yang statis.
Masalah di atas, yang sedikit banyak sudah ada di sebagian gereja sepanjang 
sejarah gereja telah muncul kembali akhir-akhir ini dalam sebuah bentuk yang 
dikenal dengan nama gerakan kharismatik (dari kata bahasa Yunani charisma 
"karunia"). Karena gerakan ini telah masuk ke dalam semua golongan gereja dan 
mempengaruhi orang-orang beriman dalam hampir semua tradisi Kristen, kita 
sangat perlu mengerti ucapan Paulus yang sulit ini.
Sebuah definisi singkat tentang istilah-istilah yang digunakan oleh Paulus akan 
bermanfaat. Dua aktivitas yang dipertentangkan dalam ucapan sulit ini adalah 
"berkata-kata dengan bahasa roh" dan "bernubuat." Fenomena "bahasa roh" yang 
dinyatakan oleh Paulus sebagai karunia (bahasa Yunani, karisma) dari Roh Kudus 
ini (1 Korintus 12-14) harus dibedakan secara jelas dari fenomena yang 
menyertai pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-12).
Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memampukan murid-murid Yesus untuk 
"berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain" (glossai Kisah Para Rasul 2:4, 11) 
sedemikian rupa sehingga para pendengarnya, yang terdiri dari orang-orang dari 
berbagai kelompok bahasa di seluruh daerah Yunani Roma, mendengar mereka 
berbicara mengenai kabar baik tentang Yesus (Kisah Para Rasul 2:6, 8) dalam 
bahasanya masing-masing (bahasa Yunani, dialekton "dialek/bahasa"). Di sini 
jelas terjadi pernyataan dan pendengaran yang penuh keajaiban di mana artinya 
yang jelas terungkap dan diterima pendengar.
Penafsiran Paulus tentang fenomena ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut 
harus dimengerti sebagai pernyataan yang jelas tentang kebesaran Allah. Ia 
mengutip nubuat dalam Yoel 2:28-32, di mana pencurahan Roh Kudus itu 
menimbulkan nubuat (Kisah Para Rasul 2:17-18).
Di Korintus, di pihak lain, fenomena bahasa roh yang dirisaukan Paulus 
diidentifikasi sebagai "bahasa yang tidak dimengerti": tidak seorangpun 
mengerti hal ini (1 Korintus 14:2); bahasa itu perlu ditafsirkan jika ingin 
membangun jemaat (14:5); bahasa ini dikontraskan dengan "kata-kata yang jelas" 
(14:9, 19) dan "banyak macam bahasa...tidak ada satu pun di antaranya yang 
mempunyai bunyi yang tidak berarti" (14:10); bahasa ini tidak mencakup akal 
budi (14:14); orang lain tidak tahu apa yang dikatakan (14:16).

Paulus membandingkan karunia "bahasa roh" ini dengan karunia "nubuat". Kita 
harus berhati-hati sejak awal untuk tidak memberikan gagasan yang terbatas pada 
kata nubuat. Kata ini tidak hanya berarti "meramalkan masa yang akan datang." 
Nubuat kadang-kadang mencakup unsur peramalan ini (baik di antara nabi-nabi 
Perjanjian Lama maupun nabi-nabi Kristen), tetapi aspek ini tidak eksklusif 
ataupun utama. Nabi-nabi Israel terutama menunjukkan Firman Allah pada 
kenyataan yang sekarang. Ini juga merupakan aspek utama dari pemberitaan Injil 
dalam kekristenan awal yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul, nubuat Yoel 
(bahwa "anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat" Kisah Para Rasul 
2:17-18) terpenuhi dalam pernyataan tentang apa yang telah dilakukan Allah 
dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:22-36). Dalam 1 Korintus 11, berdoa dan 
bernubuat dibicarakan sebagai dua aspek khas dari orang Kristen dalam ibadah 
jemaat. Doa ditujukan kepada Tuhan, sedangkan nubuat berarti menunjukkan Firman 
Tuhan kepada jemaat yang beribadah. Dalam 1 Korintus 14:19-33, aktivitas 
nabi-nabi Kristen diartikan menyampaikan isi wahyu ilahi kepada jemaat demi 
pengajaran dan dorongan. Tujuan perkataan nabi ini sangat penting daam kontras 
antara nubuat dengan berkata-kata dalam bahasa roh, yaitu untuk membangun, 
menasihati, dan menghibur (1 Korintus 14:3). Kita dapat meringkas perbedaan di 
atas sebagai berikut: Paulus memahami "bahasa roh" sebagai ucapan yang 
bersemangat dan penuh gairah, tetapi tidak jelas tanpa penafsiran. Tempatnya 
yang asli dan sesuai adalah dalam doa (1 Korintus 14:2, 16). Ia memahami 
"nubuat" sebagai pernyataan wahyu yang bersemangat (mungkin mencakup Injil, 
yaitu tindakan Allah di dalam Kristus, dan pengungkapan yang lebih jauh dari 
tujuan Allah berdasarkan kejadian itu), yang disampaikan pada gereja dalam 
bentuk perkataan yang jelas untuk pertumbuhannya yang terus menerus. Dengan 
latar belakang dan definisi ini kita sekarang siap untuk mengikuti argumentasi 
Paulus tentang ucapan yang sulit ini.

Konteks yang lebih luas terdapat sebelum bab 12-14, di mana Paulus membicarakan 
masalahmasalah dalam kehidupan masyarakat gereja, khususnya dalam konteks 
ibadah. Prinsip yang utama dan pokok untuk tindakan Kristen adalah prinsip 
kemajuan rohani. Semua kehidupan dan tindakan Kristen seharusnya diatur oleh 
pertanyaan: Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah hal ini menimbulkan 
keselamatan dan/atau pertumbuhan iman mereka? Apakah ini baik untuk mereka? (1 
Korintus 8:1, 9, 13, 9:12, 19-22; 10:23-24, 31-33; 11:21, 33). Prinsip ini 
terus berlanjut sebagai lintasan pedoman dalam pembahasan Paulus tentang 
kedudukan dan fungsi karunia rohani dalam 1 Korintus 12-14. Fokus dari 
pembahasan tersebut adalah manfaat relatif dari "bahasa roh" dan "nubuat" (bab 
14). Tetapi Paulus menggunakan "nubuat" untuk membahas apa yang nampaknya 
merupakan masalah inti di Korintus: sikap meninggikan karunia berkata-kata 
dengan bahasa roh sedemikian rupa sehingga karuniakarunia lainnya dan juga 
orang-orang yang memiliki karunia itu diremehkan. Orang-orang yang menggunakan 
bahasa roh jelas melihat karunia ini sebagai tanda kerohanian yang lebih tinggi.
Pandangan semacam ini biasanya muncul secara alamiah di antara sekelompok orang 
beriman di Korintus yang merasa yakin bahwa mereka telah dibebaskan dari semua 
hubungan tanggung jawab dan masalah etika praktis (Lihat pembahasan tentang 
"orang-orang yang tinggi rohani" di Korintus dalam bab 15-17 di atas. Dalam 
ibadah, orang-orang yang tinggi rohani ini merasa bangga dalam fenomena wahyu 
sebagai pengesahan terakhir bahwa mereka bebas dari eksistensi yang terikat 
pada bumi, termasuk kata-kata yang rasional dan jelas. Pertanyaan Paulus kepada 
mereka dalam hal ini, seperti juga pertanyaan yang lebih awal sehubungan dengan 
masalah lain, adalah: Bagaimana peranan karunia ini untuk keselamatan atau 
untuk membangun orang lainnya, dan bukan hanya diri sendiri? (1 Korintus 14:4). 
Dasar untuk mengatasi masalah ini dijelaskan dengan teliti dalam bab 12-13. 
Singkatnya, pemikiran Paulus berkembang sebagai berikut: Ada bermacam-macam 
karunia untuk orang beriman, tetapi semuanya itu berasal dari Roh Allah (1 
Korintus 12:4-6). Implikasinya adalah tidak seorang pun memiliki alasan untuk 
merasa bangga! Perwujudan dari Roh yang satu ini dalam bermacam-macam karunia 
itu adalah demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Jadi, dimilikinya 
karunia khusus itu bukanlah demi keuntungan pribadi seseorang. Rohlah yang 
menentukan bagaimana karunia itu dibagikan (1 Korintus 12:11). Karena itu, 
pemilik dari satu karunia tertentu tidak mempunyai alasan untuk merasa lebih 
disukai secara khusus atau dalam pengertian tertentu lebih tinggi daripada 
seseorang yang tidak memiliki karunia yang sama.

Rangkaian pemikiran ini kemudian ditunjang oleh gambaran jemaat sebagai tubuh 
Kristus, yang dibandingkan dengan anggota tubuh manusia yang hidup (1 Korintus 
12:12-27). Tujuannya yang utama adalah untuk menyatakan bahwa walaupun ada 
bermacam-macam orang dan karunia dalam gereja, tidak boleh ada perpecahan; 
masing-masing bagian harus memperhatikan bagian yang lainnya (1 Korintus 12:25).
Setelah menekankan penting dan absahnya semua anggota tubuh, dan juga 
karunianya yang bermacam-macam, Paulus kemudian melanjutkan dengan menunjukkan 
bahwa sehubungan dengan prinsip-prinsip yang membimbing kehidupan dan tindakan 
Kristen yaitu agar orang-orang lain dapat diselamatkan dan dibangun beberapa 
panggilan dan karunia lebih utama, lebih mendasar dari yang lain, dan 
memberikan sumbangan yang lebih langsung dan besar terhadap tujuan itu. 
Walaupun Paulus memulai daftar panggilan karunia itu dengan cara menyebutkan 
satu demi satu ("pertama rasul, kedua nabi, ketiga guru" 1 Korintus 14:28), ia 
tidak melanjutkan penyebutan itu pada daftar karunia yang tersisa. Pelayanan 
rangkap tiga dari kata itu yaitu kesaksian Rasul yang mendasar bagi Injil, 
pemberitaan Injil nabi pada gereja, dan pengajaran tentang arti dan implikasi 
praktis dari Injil jelas merupakan yang utama, sedangkan aktivitas-aktivitas 
lainnya yang ditandai oleh karunia-karunia itu (1 Korintus 14:28) bersifat 
tergantung dan sekunder terhadap pelayanan tersebut. Penyebutan bahasa roh di 
urutan terakhir tidak harus berarti bahwa karunia inilah yang "paling kecil" 
berdasarkan urutan hirarkisnya (karena kelima karunia itu tidak diberi nomor). 
Lebih mungkin Paulus menyebutkannya paling akhir karena bagi jemaat yang 
antusias di Korintus kata ini terletak di paling atas. Tetapi, sudah jelas 
bahwa "bahasa roh" ini termasuk ke dalam sekelompok karunia yang satu tingkat 
lebih rendah daripada pelayanan nubuat. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup 
Paulus dalam Korintus 12:31, "Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia 
yang utama." Dapat diduga dari lanjutannya dalam bab 14 bahwa pemberitaan nabi 
(khotbah) dan pengajaran adalah "karunia-karunia yang utama" itu.

Desakan untuk memperoleh karunia-karunia yang utama diikuti oleh panggilan 
menuju daya tarik yang lebih besar, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang 
lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31 "jalan yang lebih baik lagi," Alkitab versi 
RSV). Yang lebih baik lagi daripada berusaha memperoleh karunia-karunia yang 
lebih utama, menurut Paulus, adalah mengikuti jalan kasih (1 Korintus 13:1). 
Karena, seperti ditunjukkannya dengan sangat mengesankan di bab 13, karunia 
yang kecil maupun besar suatu hari akan lenyap. Tetapi kasih abadi. Paulus 
mungkin mengungkapkan panggilan yang luar biasa terhadap kasih ini karena ia 
mengetahui bahwa kasih itu secara murni ditujukan kepada orang lain dan akan 
menjadi kekuatan yang memberi semangat untuk mencari karunia-karunia yang 
membangun orang lain. Karena itu "kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu 
memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat" (1 Korintus 
14:1). Sekarang kita sudah siap untuk membahas secara khusus hakikat, fungsi, 
dan manfaat relatif dari bahasa roh dan nubuat (di dalam ucapan yang sulit 
itu). "Bahasa roh" adalah bahasa hati, yang ditujukan kepada Allah (1 Korintus 
14:2). "Nubuat" adalah kata-kata Allah yang ditujukan kepada manusia untuk 
menasihati dan menghibur (1 Korintus 14:3). "Bahasa roh" pada pokoknya 
merupakan masalah pribadi; bahasa roh ini membangun diri sendiri. "Nubuat" 
merupakan masalah umum, nubuat ini membangun jemaat (1 Korintus 14:4).

Paulus menegaskan perlunya dimensi pribadi dan juga dimensi umum dari 
karunia-karunia yang berlawanan tersebut ketika ia mengungkapkan harapannya 
agar mereka semua memiliki karunia bahasa roh, dan kemudian segera melanjutkan 
harapan itu dengan harapa yang lebih besar, "tetapi lebih daripada itu, supaya 
kamu bernubuat" (1 Korintus 14:5). Pengalaman pribadi yang menggairahkan, 
khususnya dalam keakraban hubungan doa seseorang dengan Allah, tidak seharusnya 
ditolak ("Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh" 1 
Korintus 14:39). Paulus mengetahui nilainya dari pengalaman pribadi (1 Korintus 
14:18). Dalam konteks ibadah jemaat sekalipun, bahasa roh ini bisa bermanfaat 
jika dijelaskan melalui penafsiran (1 Korintus 14:5) sehingga orang-orang lain 
dapat "dibangun" (1 Korintus 14:16-17). Karena "bahasa roh" itu dikenal sebagai 
karunia Roh dan diberikan oleh Roh Allah, Paulus dapat mengatakan, "Aku suka, 
supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh." Ini akan merupakan bukti 
bahwa Roh bekerja di dalam diri mereka. Walaupun demikian, prinsip pelaksananya 
(yaitu demi kebaikan orang lain) membawanya tanpa syarat kepada pilihan 
terhadap pemberitaan nubuat, "Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka 
mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, 
daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:19).
Analisa ini membawa kita pada ringkasan kesimpulan sebagai berikut: Tidak 
satupun karunia Roh bersifat mutlak; hanya kasih yang mutlak. Karena itu, 
memiliki atau menggunakan karunia yang manapun bukan merupakan tanda kedewasaan 
rohani. Seseorang yang beriman harus terbuka terhadap karunia Roh dan jika 
mereka menerimanya, mereka harus menggunakannya dengan rasa syukur dan rendah 
hati. Setiap pencarian karunia tertentu secara sungguh-sungguh harus dipimpin 
oleh keinginan untuk melibatkan diri dalam membangun jemaat sehingga seluruh 
umat Allah benar-benar dapat menjadi alternatif ilahi bagi masyarakat manusia 
yang sudah rusak.


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke