From: "Dewi Kriswanti" <[EMAIL PROTECTED]>
PERLINDUNGAN TERHADAP ANGIN RIBUT
Bacaan : Yesaya 32 : 1-8
"... seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap
angin ribut seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu
yang besar, di tanah yang tandus." (Yes. 32:2)
Bayangkanlah jika kehidupan ini tanpa dihiasi oleh angin, jika kehidupan ini
tanpa dihiasi oleh angin maka cuaca yang ada di bumi ini akan kacau. Angin
adalah hal yang sangat penting di dalam menciptakan sesuatu yang berguna. Angin
dapat memutar kincir, sehingga olehnya tenaga listrik dihasilkan, dan banyak
hal-hal berguna lainnnya yang dapat dihasilkan oleh angin. Tetapi angin juga
dapat menyebabkan kehancuran, dan kerusakan di muka bumi ini, jika yang datang
angin badai atau angin ribut.
Angin badai atau angin ribut adalah gambaran yang dapat kita berikan untuk
keadaan atau situasi kehidupan saat ini. Kehidupan sekarang yang kita jalani
saat ini adalah kehidupan yang di dalamnya berisi ketidakpastian, kepura-puraan
dan kemunafikan. Dan hanya di dalam Yesus Kristus kita dapat berlindung dari
serangan angin ribut yang melanda kehidupan kita. Yesus Kristus yang merupakan
tampat perlindungan bagi kita terhadap angin ribut membuktikan.
1.Dia adalah jaminan kehidupan iman kita. Yesus Kristus adalah jaminan terhadap
kehidupan iman kita. Di dalam iman yang hidup maka kita akan melihat mujizat
dan kuasa Allah dapat bekerja. Berarti iman kita tidak dapat bersumber kepada
kekuatan kita, kepada harta kita, dan kepada manusia, tetapi yang harus menjadi
sumber dan dasar dari iman kita adalah Yesus Kristus.
2.Dia adalah sumber kedamaian kita. Angin ribut yang melanda kita merupakan
gambaran dari sesuatu yang merusak, sesuatu yang mendatangkan malapetaka,
bahkan maut dan kematian. Sehingga olehnya kita menjadi takut dan bingung dalam
mencari tempat perlindungan. Hanya kepada Yesuslah perjalanan hidup kita akan
manis, dan terasa teduh bathin kita jika Dia menjadi tempat perlindungan bagi
kehidupan kita.
3. Dia adalah jaminan keselamatan kita. Sesungguhnya masih ada angin ribut yang
lain yang tidak disadari dan dilihat oleh orang, yaitu "angin ribut" maut dan
api neraka. Hanya satu pribadi yang dapat kita jadikan sebagai tempat berteduh
dan berlindung, dan Alkitab juga mengatakannya bahwa pribadi tersebut adalah
Yesus Kristus.
Sekarang apalagi yang akan kita tunggu? Masihkah kita menunggu yang lebih baik
lagi dari Yesus Kristus? Tidak ada! Allah tidak memiliki dua Juruselamat untuk
menyelamatkan manusia. Jadi sekaranglah saatnya untuk percaya kepada Tuhan,
jangan tunggu besok, karena mungkin sudah terlambat. Sekaranglah saatnya,
berikanlah yang terbaik yang ada pada diri kita saat ini. Supaya hal-hal yang
menakutkan dan menggetarkan hati kita tidak menerpa kita, tetapi yang terjadi
adalah hembusan angin yang sejuk yang menyegarkan jiwa dan roh kita untuk
selamanya. (Ariel)
Doa:Dalam pencobaan kami selalu berseru dalam namaMu Tuhan Yesus. Amin!
YESUS KRISTUS ADALAH TEMPAT PERLINDUNGAN TERHADAP ANGIN RIBUT YANG MELANDA
KEHIDUPAN
==============================================
From: Dewi Kriswanti
Ceritakan pada Dunia Untukku
Oleh: John Powell, S.J.
Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris
memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy.
Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya.
Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.
Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat.
Dia terus-menerus mengajukan keberatan.
Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.
Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan
agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?"
Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.
"Oh," sahutnya.
"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan."
Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.
"Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya.
Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu."
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.
Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.
Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.
Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah
parah.
Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya.
Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya
yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.
Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar
tegas.
"Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung.
"Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya
tinggal beberapa minggu lagi."
"Kamu mau membicarakan itu?"
"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"
"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?"
Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira
bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal
yang 'utama' dalam hidup ini."
Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.
"Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor.
Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor
mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya.
Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering
memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan
pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.
"Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya",
Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai
serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ
vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun.."
Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras
mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan
untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau
hal-hal sejenis itu."
"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal
penting," lanjut Tommy.
"Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang
paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya,
meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau
mencintai mereka.
Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya.
"Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya."
"Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja."
"Pa, ini penting sekali."
Korannya turun perlahan 8 cm. "Ada apa?"
"Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu."
Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku
belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol
semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."
"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy.
"Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami
rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu
sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai
terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.
"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya
memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada
waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah
saya berhenti mencari-Nya."
"Tommy," aku tersedak,
"Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari.
Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan
membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan,
melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."
"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke
kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru
kamu ceritakan?"
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu.
Tentu saja, karena ia harus berpulang.
Ia melangkah jauh dari iman ke visi.
Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata
kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.
Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.
Saya tak akan mampu hadir di kuliah Pastor," katanya.
"Saya tahu, Tommy."
"Maukah Pastor menceritakannya untuk saya?
Maukah Pastor menceritakannya pada dunia untuk saya?"
"Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."
(Sebarkan e-mail ini untuk membantu Pater John menyebarkan cerita Tommy pada
dunia).
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/