REALITA HIDUP Meski sempat cek email dan buka internet, berpergian beberapa hari membuat saya ketinggalan berita karena tidak membaca koran lokal. Pulang dengan pesawat, seperti biasa Pramugari dengan ramah menawari majalah, dan saya memilih majalah TEMPO. Mata saya tertegun dengan sebuah ulasan tentang seorang pemulung yang membuat heboh KRL karena membopong mayat anaknya, dengan modal uang disaku hanya 4000perak. Kontan kisah ini membuat saya terharu dan hati ini menangis, terlebih ketika saya membandingkan kisah Pak Supriono itu dengan keadaan diri saya yang sedang duduk di kursi nyaman ini. Saya membandingkan si kecil yang ada di rumah dengan nasip Khaerunisa (3 thn) yang harus mati karena kemiskinan. Saya membandingkan berapa biaya anak saya dengan uang yang ada di saku Pak Supriono itu. Ya Tuhan, tentu ada banyak Supriono-Supriono lain dengan masing-masing ceritanya. Di negeri yang 'katanya' Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman, kita menjumpai cerita tragis macam ini, belum lagi berita-berita 'busung lapar' yang menimpa anak-anak kecil di negara ini. PASAL 34 UUD 45, berbunyi : 'Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.' bisa kita terjemahkan bahwa apa yang terjadi pada Supriyono dan anaknya adalah 'peng-abaian' dari undang-undang dasar :( --------------------------------------------------------- KUTIPAN BERITA : --------------------------------------------------------- DERITA SUPRIONO, DUKA INDONESIA Supriono, seorang pemulung, membawa mayat anaknya menyusuri jalan-jalan di Jakarta karena tidak mampu membiayai penguburannya. Ironis, di tengah masyarakat ibu kota yang gemerlap. Sri suwarni, warga Manggarai, Jakarta Selatan, terkejut bukan kepalang, kakinya gemetar. Supriono, pria yang perna mengontrak rumah petaknya, bertandang secara tiba-tiba dengan cara aneh, mengendong mayat anaknya. Tamu yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung itu mengaku kebinggungan mencari tempat untuk menguburkan anaknya, " kata Supriono kepada Sri, pada sebuah Magrib hari Minggu, 5 juni lalu. Awalnya, Sri mengira anak dalam gendongan Supriyanto itu tidur lelap. Apalagi Supriono, pria asal Muntilan, Jawa Tenggah, itu menggendong mayat Nur Khaerunisa, anaknya, seolah sedang meninabobokan. " saya piker dia mau jalan-jalan dan butuh ongkos," kata Sri kepada Tempo, jumat pekan lalu. Sri jadi lemas ketika di jelaskan bahwa anak dalam gendongan itu telah menjadi mayat. Pertemuan Supriono dengan Sri itu merupakan ending drama memilukan yang dialami pemulung kardus dan botol plastik bekas itu. Sekaligus menjadi akhir kisah sedih Supriono sepanjang hari, menyusuri jalan-jalan Jakarta dengan menggendong anaknya yang telah tiada. Tanpa diminta, Supriono pun bercerita kepada Sri Suwarni. *** Awal juni lalu adalah awal dari kegundahan Supriono. Anak bungsunya, Nur Khaerunisa, sedang sakit muntaber, sementara biaya berobat tidak ada. " Saya hanya membawanya sekali ke puskesmas, dokter menyuruh merawat inap, tapi saya tidak punya uang, " kata Supriono. Apa boleh buat, tubuh kecil tidak berdaya itu meringkuk di gerobak berukuran sekitar 2 meter persegi, berbaur dengan kardus dan botol plastik bekas. Dalam kondisi seperti itu, Khaerunisa masaih dibawa ayahnya bekerja memungut barang-barang bekas. Sebenarnya, dokter di puskesmas setiabudi, Jakarta Pusat, meminta Supriono membawa kembali anaknya untuk berobat. Kemelaratan yang mendera keluarga pemulung itu menbuat sang ayah menolak anjuran dokter. Sekali berobat ke puskesmas, dia harus membayar Rp. 4.000. meski biaya berobat itu sama dengan ongkos parkir mobil di Jakarta kota, Supriono tidak sanggup membayarnya karena ia hanya seorang pemulung. Sebagai pemulung, penghasilannya sekitar Rp. 10 ribu setiap hari. Uang itu harus cukup untuk biaya makan dia dan dua anaknya. Muriski Saleh dan Nur Khaerunisa. Bagaimana bisa mengobati anak, apalagi sampai menungguinya di puskesmas? Pekerjaan pemulung harus tetap dijalani. Khaerunisa yang lemas kesakitan terpaksa pula dibawa dalam gerobak, sesekali dicandai oleh kakaknya, Muriski saleh. Tuhan rupanya turun tanggan menyelamatkan gadis cilik tanpa dosa ini, setelah empat hari meringkuk dalam gerobak, Khaerunisa dipanggil menghadap ke haribaan-Nya. Pikul 07.00 pagi di hari Minggu, bocah berumur 3 tahun itu menghembuskan napas terakirnya di peraduan Tuhan, sebuah gerobak tua yang berada di sebuah "rumah" yang lapang tanpa atap dan dinding, di bawah kereta laying kawasan Cikini. Supriono berkabung, Muriski tak tahu adiknya meninggal, dan orang-orang sibuk lalu lalang. Supriono merogoh saku bajunya. Ada sedikit uang tersisa, tapi tak sampai Rp. 10.000. " jangankan menguburkan anak, untuk membeli kain kafan saja saya tidak mampu," katanya. Kemelaratan membuat Supriono nekat ingin membawa mayat Si bungsu ke Kampung Kramat, Bogor, menggunakan kereta rel listrik ( KRL ) Jabotabek. Disana, sebuah lokasi tempat kaumnya para pemulung bermukim, dia berharap mendapat bantuan penguburan. Jakarta tak memungkinkan hal itu. Begitu terlintas dalam pikiran Supriono. Mayat si bungsu pun dibawa menggunakan gerobak, alat kerja sekaligus tempat tidur kedua anaknya setiap hari. Dia menyusuri Jalan Cikini, Manggarai, menuju Stasiun Tebet. Mendekati Stasiun, Khaerunisa dibopong menggunakan kain sarung layaknya menggendong anak yang masih hidup, agar tidak terlihat sudah meninggal, wajah gadis mungil itu ditutup kain kaus. Sementara itu tangganya yang lainnya menuntun Muriksi Saleh, bocah enam tahun. Melihat pria menggendong anak dengan muka tertutup, seorang pedagang minuman iseng bertanya, "saya jawab anak saya sudah mati dan akan dibawa ke Bogor," kata Supriono berterus-terang. Keterusterangan ini membawa celaka, calon penumpang lain yang mendengar jawaban itu serontak geger. Hari gini gendong mayat naik KRL? Supriono pun digelandang bak pesakitan ke kantor polisi Tebet. Supriono lalu diperiksa di polsek Tebet, lebih dari empat jam duda cerai dengan Sariyem itu di interogasi aparat. Kesimpulannya, polisi tetap curiga, lalu memutuskan mengirim mayat Khaerunisa untuk di otopsi. Supriono tunduk dan menyerah. Tetapi di kamar mayat RSCM, dia menolak tegas anaknya di otopsi. Masalahnya, ia tidak punya uang untuk biaya otopsi itu, selain dia kasihan melihat mayat putrinya yang sudah tenang dibedah. Tubuh kaku Khaerunisa akhirnya tidak jadi dibedah, namun Supriono meneken surat pernyataan penolakan otopsi. Aneh bin ajaib ( atau karena Supriono seorang pemulung? ), mayat kecil itu diperbolehkan dibawa keluar rumah sakit dengan cara digendong. Ke mana sang anak harus dikuburkan? Pertanyaan itu menghujani pikiran Supriono. Dalam keadaan binggung, ia membopok mayat anaknya ke jalanan. Sejumlah sopir ambulans sempat menawarkan jasa untuk mengangkut mayat itu. Jasa? Ya, jasa di Jakarta berarti uamg. Sopir ambulans mengurungkan jasa itu begitu mendengar Supriono tidak punya uang untuk membayar. Orang kecil seperti ditakdirkan berteman dengan orang kecil. Para pedagan sekirat RSCM, beberapa orang lagi yang kebetulan ada di trotoar, mulai urunan memberi uang sekedarnya untuk Supriono. Merasa cukup punya uang dari sedekah, supriono memanggil sopir bajaj. Ia tiba-tiba teringat Sri Suwarni, pemilik rumah petak yang perna disewanya beberapa tahun lalu. Bajaj pun meluncur ke jalan Manggarai Utara VI,Jakarta Selatan, rumah petak Ibu Sri. Sri menetaskan air mata. Perempuan mana yang tidak menangis mendengar kisah sedih di hari Minggu itu? Tubuh mungil dalam balutan kain sarung warna merah kekuningan itu lantas direngkuh dari dekapan Supriono. Mayat itu lalu di baringkan diatas kasur tipis yang berada di ruang tamu rumahnya. Wanita berusia 40 tahun itu lalu meminta bantuan tetangganya. Warga setempat akhirnya dengan tulus urunan membantu mengurus jenazah, ada yang membeli kain kafan, ada yang memasang bendera kuning disudut-sudut gang, ada yang berdoa dan memandikan. Keesokan harinya, putri bungsu Supriono dimakamkan di Blok A6 No.3 Taman Pemakaman Umum ( TPU ) Menteng Pulo, bunga surga itu pun akhirnya bisa beristirahat dengan tenang, diantar orang-orang miskin yang kaya amal. *** Kisah Supriono, bak cerita dari negeri donggeng, menyentak banyak orang. Berbagai media cetak dan telivisi mengangkat berita itu menjadi headline. Berbagai kalangan menyatakan berniat menyumbang, dari sekedar memberi dana, memberi pekerjaan pada Supriono, sampai membiayai sekolah Muriksi Saleh. Pendek kata, cerita pilu pemulung itu mengusik naluri masyarakat yang kini semakin materialistis. Menurut Asisten Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekda DKI Jakarta, Rohana Manggala, kasus Supriono seharusnya tidak terjadi selama ini Pemda menyediakan pelayanan gratis bagi orang tidak mampu. "Syaratnya mudah, tinggal meminta surat keterangan tidak mampu dari RT/RW dimana dia berdomisili," katanya. Agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi, Rohana berharap pengurusan RT aktif melakukan sosialisasi soal ini. Siapa sebenarnya Supriono? " saya mengenal keluarga Supriono hanya sebentar. Tahun 2003 lalu mereka mengontrak rumah petak saya". Kata Sri Suwarni. Ketika itu, Supriono mengontrak sebuah kamar berukuran 6 meter persegi. Sewa rumah panggung berdinding papan tripleks dan seng bekas itu perbulan Rp. 140 ribu. Saat tinggal dirumah kantrakan, kata Sri, Supriono bersama istrinya Sariyem membawa banyak perabotan seperti televisi 20 inci dan kipas angin. Sri tidak mengikuti perkembangan Supriono sejak keluarga itu tidak lagi mengontrak rumahnya. Terakir kabar yang diterima Sri adalah Supriono bercerai dengan istrinya, yang memilih pulang kampung, sejak pisah dengan istrinya, Supriono hidup menggelandang dengan dua anaknya menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Dia sengaja membuat gerobak kayunya tertutup di bagian tengahnya untuk tempat tidur dan berlindung dua anaknya. Di bagian depan gerobak di buat kotak yang digunakan untuk menyimpan baju dan keperluan anaknya. "saya mangkal di halte depan Gereja ( Isa Almasih ) Cikini. Kalau lagi hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak kehujanan," tutur Supriono tentang "domisilinya" itu. Tuan-tuan pejabat di DKI, kalau domisili Supriono seperti itu, ke mana dia harus meminta surat keterangan tidak mampu?. Majalah Berita Mingguan TEMPO, edisi 13-19 Juni 2005 --------------------------------------------------------- http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0506/11/utama/1808028.htm POLITIKA Abad Gelap Kita Budiarto Shambazy Anda pasti sedih, marah, dan merasa ikut bersalah terhadap nasib yang dialami seorang pemulung bernama Supriono. Hari Minggu (5/6) lalu Supriono terpaksa menggendong jenazah anaknya yang baru berusia tiga tahun, Khaerunisa, di kereta rel listrik jurusan Jakarta-Bogor. Supriono tidak mampu menyewa mobil jenazah untuk memakamkan putri kesayangannya itu di Kampung Kramat, Bogor. Di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta dan dibawa ke kantor polisi karena dicurigai Khaerunisa merupakan korban kejahatan. Setelah jenazah diautopsi di RSCM, barulah polisi sadar bahwa Khaerunisa meninggal dunia karena penyakit muntaber. Telah empat hari Khaerunisa terserang muntaber dan Supriono hanya mampu satu kali membawa anaknya berobat ke puskesmas. Kenapa cuma satu kali? "Saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas meskipun biayanya hanya Rp 4.000. Saya hanya pemulung kardus, gelas, dan botol dengan penghasilan hanya Rp 10.000 per hari," kata Supriono, bapak dua anak yang tinggal di kolong perlintasan rel kereta api di wilayah Cikini, Jakarta Pusat, itu. Khaerunisa meninggal di dalam gerobak kotor, disaksikan ayah dan kakaknya, Muriski. Uang di saku Supriono tinggal Rp 6.000 dan itu tak mencukupi untuk membeli kain kafan, apalagi untuk menyewa ambulans. Sekarang ini banyak anak kalangan miskin yang menderita penyakit busung lapar yang merebak di mana-mana. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia dalam jumpa pers kemarin mengungkapkan bahwa wabah busung lapar disebabkan ketidakmampuan rakyat miskin membeli kebutuhan makanan untuk sehari-hari. Mereka tidak bisa membeli apa-apa setelah pemerintah menaikkan harga BBM tempo hari. Selain itu, pengucuran dana kompensasi BBM yang bertujuan membantu rakyat miskin juga bermasalah. Terbetik juga beberapa berita tentang upaya bunuh diri anak-anak sekolah dasar yang tidak mampu membayar uang sekolah. Kalaupun bisa sekolah, kelas-kelas pun banyak yang roboh atap atau temboknya. Juga terlalu banyak sudah wabah penyakit yang melanda anak-anak negeri ini. Demam berdarah, flu burung, campak, dan lain-lain yang kalau dibuat alfabetis mungkin sudah lengkap dari A sampai Z. Belum lagi bencana alam, mulai dari yang meraksasa seperti tsunami di Aceh sampai yang kecil seperti banjir yang tak pernah selesai di sekitar Kampung Melayu, Jakarta. Oh, ada lagi masalah yang menyangkut rasa aman kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Misalnya, ancaman dan ledakan bom telah menjadi hal yang biasa di Jakarta atau kota dan desa lainnya. Lalu kapan kita bisa senang menikmati hidup? Rasanya kok setiap hari ada saja satu kesulitan baru yang muncul secara tiba-tiba. Dan semua masalah itu biasanya berurusan dengan kinerja pemerintah kita. Pemerintahan baru sudah hampir delapan bulan memerintah, namun kelihatannya tidak banyak berbuat apa-apa. Mungkin memang bukan waktunya lagi berwacana dan membuat directives, pointers, atau matriks. Selain itu, rakyat lebih sering menyaksikan pemerintah yang jarang bekerja dan lebih banyak membuat masalah demi masalah. INI zaman modern dan kita pun ikut berbangga karena sudah mempunyai Satelit Palapa. Namun, ternyata tanpa sadar kita memasuki Abad Gelap di Indonesia tercinta. Abad Gelap ternyata bukan cuma terjadi di Eropa pada abad kelima. Dalam dunia budaya populer, Abad Gelap biasanya berkonotasi dengan sebuah pemerintahan dan masyarakat yang ternyata selalu diwarnai empat tren. Pertama, di Abad Gelap selalu saja terjadi kekerasan. Kita terbiasa dengan kekerasan karena hal itu sering terjadi di mana-mana, mulai dari merakit bom, memenggal kepala tetangga, sampai membakar maling sepeda. Kedua, Abad Gelap penuh dengan orang yang tamak. Lihat saja koruptor-koruptor kita yang pandai dalam urusan membantah, cerdik berpura-pura masuk ke rumah sakit, atau pandai berlindung di balik punggung kelompok etnisnya. Ketiga, Abad Gelap dicirikan oleh ketiadaan hukum. Dan orang Indonesia pasti jagonya dalam urusan tersebut, mulai dari melanggar aturan lalu lintas sampai melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Keempat, Abad Gelap diwarnai oleh masyarakat dan pejabat yang sering bersikap "barbar" atau tidak mengenal etika. Percayalah, di negara ini seluruh urusan sudah tidak ada etikanya. Abad Gelap membuat orang tidak peduli alias hanya memenuhi egoisme sendiri-sendiri. Hidup rakyat semakin susah, sementara si pemimpin lebih sering berkunjung ke luar negeri. Setelah masa Abad Gelap, Eropa menikmati pula masa keemasan yang bernama Pencerahan. Sementara otak kita tidak pernah dicerahkan. Abad Gelap dimulai sejak terjadinya reformasi. Hidup jauh lebih enak di zaman Orde Baru, Orde Lama, apalagi sewaktu kita baru saja selesai menjalani revolusi. Ada yang bilang, kalau Soeharto masih menjadi presiden, wabah busung lapar pasti tidak bakal terjadi. Supriono tidak perlu repot menggendong-gendong jenazah sang putri. Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, jangkauan tangan pemerintah dalam bidang kesejahteraan merasuk ke mana-mana, sampai ke tingkat desa. Ada PKK, posyandu, Dharma Wanita, dan ada pula pemuda Karang Taruna. Banyak yang sinis kepada lembaga-lembaga yang memang sering disalahgunakan demi menikmati kekuasaan saja itu. Namun, sekarang barulah kita merasakan bahwa ranting-ranting kekuasaan seperti itu ternyata ada manfaatnya. Di masa pemerintahan Presiden Soeharto penyakit busung lapar praktis sudah tidak ada. Kini kualitas kesehatan masyarakat miskin kita mungkin lebih buruk dibandingkan dengan rakyat di Benua Afrika. Penyakit busung lapar mungkin masih ada pada masa pemerintahan Presiden Soekarno yang disebut dengan Orde Lama. Namun, rasanya siapa pun tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan tanah kuburan jika meninggal dunia. Generasi dua presiden, Soekarno dan Soeharto, setiap kali bertemu tidak pernah lupa saling bertanya, "Eh, bagaimana nasib rakyat kita?" Generasi selanjutnya biasanya setiap ketemu juga saling bertanya, "Eh, bagaimana nasib kita?" Itulah mental para penguasa Abad Gelap kita. Tidak ada istilah "rakyat kita", yang ada cuma kita, orang kita, teman kita, saudara kita, dan suku kita. ( e-mail: [EMAIL PROTECTED] ) --------------------------------------------------------- Masyarakat dan Aparat Pemerintah Sudah Tidak Peduli Lagi Salemba, Warta Kota PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta-Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seoran pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya. Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah. --------------------------------------------------------- http://www.poskota.co.id/poskota/headline_contents.asp?id=5295&file=index PEMULUNG NAIK KRL BAWA MAYAT ANAK DIAMANKAN POLISI - TEBET - Seorang pemulung panik karena tidak punya uang sewa ambulans untuk mengubur jenazah anak perempuannya yang meninggal karena muntaber. Ia nekat membopong mayat balitanya untuk dimakamkan di Bogor dengan menumpang KRL di Stasiun Tebet Jakarta Selatan, pemulung itu diamankan ke kantor polisi, Minggu siang. Kisah mengharukan ini menimpa Supriono,38, bapak dua anak. Putri bungsunya yang meninggal dunia pada Minggu pagi (5/6) bernama Nur Khoirun Nisa, berusia 3 tahun 2bulan. Melihat anak kesayangannya meninggal, pria yang biasa mencari barang bekas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi sedih. Supriono pun nekat membawa jenazah putrinya untuk dimakamkan didekat rumah temannya di Bogor, tetapi menyewa ambulans atau mobil untuk membawa mereka ke Bogor, juga butuh biaya yang tidak sedikit. Bersama Nurizki Saleh,6, anak pertamanya, ia memutuskan pergi ke stasiun KA Tebet dengan tujuan Bogor. Tubuh kaku Nur Khoirun Nisa yang memakai kaos bergambar Dora diselimuti lalu digendong pakai kain. Di Stasiun Tebet, calon penumpang yang saat itu sedang menunggu kedatangan kereta api tidak menaruh rasa curiga terhadap Supriono. Heboh pun muncul saat seorang pedagang teh botol yang hendak naik kereta api secara tak sengaja melihat wajah Nur Khoirin Nisa dibalik gendongan kain. Anak bapak sakit kok ditutupin pakai kain, kata penjual teh botol. Dengan polosnya, Supriono mengaku kalau anaknya sudah meninggal. Mendengar jawaban itu, pedagang teh botol kaget dan ia langsung berteriak mayat, ada orang membawa mayat, dalam waktu singkat, puluhan calon penumpang di Stasiun KA Tebet pun geger. Seorang warga menghubungi Polsek Tebet, Supriono yang merasa dirinya tidak bersalah akhirnya dimintai keterangan di Polsek Tebet. kepada petugas, duda yang megaku mendapat penghasilan Rp.10.000 per hari dari usahanya memungut barang bekas itu berterus terang bahwa anaknya meninggal karena muntah berak. Tapi saya tidak punya uang untuk menguburnya. Jenazah anak saya mau dimakamkan di Bogor, kata Supriono. Dijumpai di RSCM, pria in menambahkan, kedua anaknya itu merupakan buah pernikahan dengan Turiyem. Karena tidak kuat hidup miskin, Turiyem mengajukan cerai. Anak-anak ikut sama Supriono. Takdir rupanya berkehendak lain, putri pertamanya meninggal akibat sakit. [Non-text portions of this message have been removed] -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

