From: Irnawan Silitonga 

Renungan Keluarga: Allah adalah Keluarga ( 2 )

".Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita." [ Efesus 1:3-14 ].

Didalam renungan keluarga ini, kita akan melihat bagaimana Allah, yang adalah 
Keluarga Sejati itu, memiliki kehendak dan rencana. Kehendak dan rencanaNya ini 
dilaksanakan bersama-sama secara Keluarga, sebagaimana yang diuraikan dalam 
Efesus 1:3-14.

Dalam ayat 5 diuraikan bagaimana Allah Bapa, ".menentukan kita dari semula oleh 
Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya". 
Bapa yang memiliki Anak TunggalNya, kita lihat disini, menghendaki kita juga 
agar menjadi anak-anakNya. Karena kehendak Bapa ini, Yesus tidak malu menyebut 
kita saudaraNya, seperti tertulis dalam Ibrani 2:12, ".Aku akan memberitakan 
namaMu kepada saudara-saudaraKu.". Namun hubungan Yesus dengan Allah Bapa 
tetaplah unik dan berbeda. Itu sebabnya Ia tidak berkata tentang Allah sebagai 
Bapa kita, melainkan Bapamu dan BapaKu. 
Tetapi, sebagaimana tertulis pada ayat 5, penentuan dan penetapan kita sebagai 
anak-anakNya, adalah melalui Yesus Kristus. Artinya, Yesus perlu mengalami 
kematian di kayu salib dan mencurahkan darahNya untuk pengampunan dosa, serta 
dibangkitkan dan naik kesorga, sebelum kita dapat dilahirkan oleh Roh dan 
menjadi anak-anakNya. 

Bukan hanya dilahirkan oleh Roh, tetapi kita juga dimeteraikan dengan Roh 
Kudus. Pemeteraian kita dengan Roh Kudus ini merupakan suatu jaminan / panjar ( 
dp =
down payment ), bahwa kita akan menerima keseluruhannya yaitu penebusan yang 
menjadikan kita milik Allah [ ayat 14 ]. 

Kita lihat disini bagaimana Allah yang adalah Keluarga, secara bersama-sama 
menjalankan kehendakNya, dimana tujuan akhirnya adalah, ".in the dispensation
of the fullness of the times He might gather together in one all things in 
Christ.[ 1:10, The New KJV ].
Jadi, inilah misteri ( rahasia ) kehendakNya, yaitu pada dispensasi kegenapan 
waktu, Ia dapat mempersatukan segala sesuatu didalam Kristus. 
Tetapi, yang akan kita renungkan disini adalah bagaimana Allah menjalankan 
rencana dan kehendakNya secara Keluarga. Oleh sebab itu, kita yang melayaniNya, 
dalam arti menjalankan kehendakNya dimuka bumi ini, haruslah melakukannya 
secara keluarga.
Bapa, Ibu dan anak-anak didalam suatu keluarga Kristen, haruslah berfungsi 
sesuai peranannya dalam keluarga, untuk melayani Tuhan dan menggenapi 
kehendakNya. 

Didalam Efesus 1:3-14, kita lihat bagaimana Bapa merencanakan, Anak 
melaksanakan dan Roh menolong serta memberi kekuatan, sehingga kehendakNya 
jadi, demikian
juga diharapkan terjadi didalam suatu keluarga Kristen. Apabila didalam suatu 
keluarga kristen, hanya salah satu anggotanya saja yang melayani Tuhan, maka 
hal ini belum sejalan dengan rencanaNya. Bahkan, jika bapa, ibu dan anak-anak 
aktif didalam kegiatan kekristenan, tetapi tidak bekerja sama sebagai tim yang 
sehati sepikir, maka barangkali ini belum dapat disebut sebagai melakukan 
kehendakNya. Kita perlu
merenungkan hal ini, terutama para bapa sebagai kepala keluarga. 
Gema Sion Ministries.        
============================================================
From: "irnawan silitonga" <[EMAIL PROTECTED]>

Renungan Keluarga : Allah adalah Keluarga ( 3)

".Akulah Allah Yang Mahakuasa ( El Shaddai ), hiduplah dihadapanKu dengan tidak 
bercela" [ Kej. 17:1 ]. 

Telah kita ketahui bahwa Allah yang menyatakan Diri sebagai Ibu terungkap 
didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari 
El,
yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. 
Tetapi kata Shaddai dan kata Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun 
bermakna sama
yaitu buah dada ( seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10 ). Jadi, 
El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, 
seperti
seorang Ibu yang menyusui anaknya. 

Dalam konteks yang bagaimana El Shaddai pertama kali menyatakan DiriNya ? 
Kejadian 17:1 adalah pertama kali Allah menyatakan Diri sebagai El Shaddai, dan 
disini El Shaddai menegur Abram agar hidup dihadapanNya dengan tidak bercela. 
Memang Abram telah gagal, ketika ia mendengarkan usul Sarai untuk menghampiri 
Hagar.
Sekalipun Ismael diberkati juga, namun perjanjian Allah tetap akan diadakan 
dengan Ishak yang akan dilahirkan Sarai ( 17:20-21 ). Jadi, El Shaddai memenuhi 
kebutuhan Abram seperti seorang Ibu memenuhi kebutuhan anaknya, namun dengan 
cara memberi teguran. 
Tetapi, teguran El Shaddai adalah teguran yang penuh berkat serta memenuhi 
kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya. Dalam Kejadian 
17, teguran El Shaddai memulihkan Abram. Sejak saat itu, Abram berubah menjadi 
Abraham, dan perjanjian sunat-pun dimulai. Demikian juga dengan Naomi, yang 
dipulangkan dari daerah Moab oleh teguran El Shaddai (Rut 1:20 ). Sekalipun 
Naomi menganggap dirinya
mengalami malapetaka, namun justru melalui teguran El Shaddai, maka 
kehidupannya dipulihkan dan ia mendapat anak melalui Rut, yang pada gilirannya 
menurunkan raja
Daud. 

Dari kasus-kasus yang telah disebutkan diatas, El Shaddai memenuhi kebutuhan 
umatNya dengan cara memberi teguran. Tetapi, El Shaddai juga memenuhi kebutuhan
umatNya dengan banyak cara lain sesuai kondisi. Dalam kasus berkat Ishak kepada 
Yakub, El Shaddai diharapkan memberi keturunan dan membuat Yakub menjadi 
sekumpulan bangsa-bangsa ( Kej. 28:3 ). Tetapi, yang harus diingat ialah 
pertama kali El Shaddai menyatakan DiriNya adalah memberi teguran. 
Pengertian-pengertian
selanjutnya haruslah dibangun diatas pengertian pertama kali. Mengapa hal ini 
perlu ditegaskan ?

Karena fungsi dan peran El Shaddai dalam keluarga Kristen, terutama dijalankan 
oleh seorang isteri atau ibu. Seorang isteri atau ibu memang diharapkan dapat 
memberi teguran-teguran yang memenuhi kebutuhan, bukan seperti "teguran" Sarai 
kepada Abram yang ternyata melahirkan Ismael. Jika seorang isteri Kristen 
memiliki karakter seperti El Shaddai, maka teguran-tegurannya, baik kepada 
suami atau kepada anak-anak, akan memulihkan dan memberkati keluarga. Jika 
sebaliknya yang terjadi, maka teguran seorang isteri atau seorang ibu akan 
menjadi kritikan-kritikan pedas yang merusak, bahkan mungkin ia digelari 
"perempuan cerewet". 

Seorang suami juga perlu belajar menerima teguran-teguran dari isterinya, 
begitu juga anak-anak. Karena seorang isteri atau ibu, akan memulihkan dan 
memberkati keluarga melalui teguran-tegurannya, sepanjang karakternya bertumbuh 
menjadi seperti El
Shaddai. Semoga demikian yang terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen.
Gema Sion Ministry. 


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke