From: yogitry
Perjamuan Kudus dalam Sejarah Perkembangan Gereja
1. Masa Jemaat mula-mula (Th 33M-378M)
Rasul-rasul Yesus yang selalu mengikuti dan juga mengalami sendiri, mengajarkan
kepada jemaat pertama untuk merayakan kematian Tuhan sampai Ia datang untuk
yang kedua kalinya. Upacara peringatan tersebut dinamakan "memecah roti".
Tentunya juga bersama dengan anggurnya, sebagai Tubuh dan Darah Kristus,
seperti yang Tuhan Yesus lakukan dalam Perjamuan Malam. Rasul Paulus, rasul
untuk bangsa non Yahudi, walaupun tidak mengalami saat bersama dengan Tuhan
Yesus secara fisik, telah mendapat pengajaran dariNya secara langsung dari
pimpinan Roh Kudus. Ia, yang tadinya pengajar hukum Taurat yang taat, bahkan
merayakan tidak pada hari sabtu, tetapi pada hari minggu.
Artinya, kita harus menguduskan diri setiap hari dihadapan Tuhan.
Dalam suratnya di korintus yang pertama, kita bisa mengetahui bahwa telah
terjadi perpecahan dalam jemaat dan juga tidak menghormati perayaan Perjamuan
Kudus sebagaimana mestinya, sehingga banyak jemaat yang sakit dan meninggal.
hal ini terjadi karena mereka menjadikan perjamuan kudus sebagai tradisi
belaka, bisa diubah sekehendak hati mereka dan tidak merayakan berdasarkan pada
makna aslinya, yaitu untuk memperingati kematian Tuhan sampai kedatanganNya
yang ke dua kali.
2. Masa Abad Pertengahan (Th 378M-1546M)
Pada Th 378 Masehi, terjadi perubahan besar dalam Jemaat "Jalan Tuhan" atau
Kristen mula-mula, menjadi Negara Kristen, karena pada tahun tersebut Agama
Kristen ditetapkan sebagai Agama Negara di Kekaisaran Romawi. Pemimpin Agama
Kristen adalah juga sebagai Raja.
Kerajaan Roma Katolik, yang memiliki kekuasaan di seluruh jazirah italia dan
juga punya pengaruh politik di benua Eropa.
Perayaan Perjamuan Kudus, atau "memecah roti", dalam kebaktian missa disebut
sebagai perayaan / Saktramen Ekaristi, yaitu menyambut Tubuh dan Darah Kristus.
Namun dalam perjalanan sejarah gereja katolik, banyak terjadi penyimpangan -
penyimpangan karena banyak hal. Keadaan jaman dahulu saya gambarkan demikian:
Hanya para imam dan bangsawan yang boleh memiliki Alkitab, awam tidak boleh.
Semua dogma yang sah hanya berasal dari tangan Paus dan Gereja Roma memiliki
hak untuk mengutuk, mengasingkan dan membasmi siapapun yang menentang ajaran
Gereja Katolik. Alkitab sebagai Firman Tuhan tidak lagi menjadi pertimbangan
yang utama.
Perubahan-perubahan terjadi juga dalam Sakramen Ekaristi ini, antara lain
adalah ajaran Trans Substansi (Th 1215M) yang mengajarkan bahwa Tuhan Yesus
memberi kuasaNya lewat Paus, Paus meneruskan ke Uskup dan Uskup meneruskan ke
para pastor, yaitu untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah
Kristus. Alkitab berkata bahwa semua orang yang percaya memiliki kuasa menjadi
anak Allah. Jadi, setiap orang percaya derajatnya sama di mata Tuhan.
Perubahan besar lainnya adalah larangan bagi kaum awam untuk meminum anggur
(menerima Darah Kristus) pada perayaan ekaristi (Diresmikan tahun 1414M).
Anggur hanya untuk para imam dan kaum bangsawan.
Walaupun secara manusiawi dan duniawi dapat dibenarkan dengan alasan ekonomis,
higienis, praktis, tetap saja tidak sesuai dengan Alkitab.
Darah Yesus adalah untuk mengampuni dosa manusia, siapapun orang itu, karena
semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Larangan ini jaman
sekarang tidak terlalu diperhatikan, tetapi masih dijalankan. Dalam misa
ekaristi di gereja katolik, biasanya umat hanya menerima Tubuh Kristus saja,
sedangkan DarahNya hanya lewat iman (Amin!).
Perubahan ini dan banyak lagi yang lain membuat para tokoh reformasi bangkit
dan protes kepada Gereja Katolik, maka lahirlah Gereja Protestan yang dipimpin
oleh Martin Luther, mantan biarawan Katolik yang melihat bahwa ajaran Gereja
Katolik tidak lagi sesuai dengan ajaran Alkitab.
3. Masa Reformasi (1546M - Sekarang)
Dalam bukunya, Martin Luther mengecam Paus dan kaum bangsawan dan mengatakan
dengan tegas bahwa orang yang telah dibabtis adalah umat kepunyaan Allah
sendiri dan disebut sebagai imamat yang rajani (I Pet 2:9). Artinya orang yang
telah percaya dan dibabtis sudah menjadi raja sekaligus imam di hadapan Allah
sendiri. Oleh karena itu, seharusnya tidak ada perbedaan antara paus, uskup,
imam, biarawan dengan raja, bangsawan, tukang-tukang serta petani. Hanya ada
satu Tubuh dan Kristuslah kepalanya.
Martin Luther menolak ajaran Trans Substansi dan mengajarkan tentang
Co-Existensi / Ko Substansi, yaitu secara kelihatan memang tetap roti dan
anggur, namun Tubuh dan Darah Kristus hadir dalam bentuk yang tidak kelihatan.
Jadi, perjamuan Kudus hanya dapat dirayakan dengan benar oleh iman (iman adalah
bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat - Ibr 11:1).
Setelah reformasi bergulir, banyak orang memiliki kerinduan untuk kembali
kepada apa yang telah diajarkan Alkitab. Kembali kepada Firman Allah. Namun,
karena masing-masing orang belum sepenuhnya menerima pimpinan Roh Kudus, tunduk
di bawah Kristus, satu-satunya kepala dalam tubuh jemaat, Tubuh Kristus
sendiri, akibatnya mereka hanya menerima sebagian dari kebenaran dan menolak
kebenaran lainnya.
Apakah ajaran Luther tentang Ko Substansi sudah diterapkan pada semua kalangan
Protestan? Nyatanya tidak. Banyak aliran Protestan di Indonesia yang malah
menganggap bahwa perjamuan Kudus hanya sekedar merayakan, tetapi menganggap
bahwa roti dan anggur hanya sebagai LAMBANG dari Tubuh dan Darah Kristus. Hal
ini sungguh tidak Alkitabiah. Tidak ada kata dari Tuhan Yesus maupun rasul
Paulus bahwa itu cuma lambang. Yesus dengan tegas mengajarkan bahwa dagingNya
adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Oleh karena
itu, banyak diantara jemaat protestan sendiri yang tidak merasakan manfaat yang
nyata dari Perjamuan Kudus.
Yesus adalah Allah yang maha kuasa. Dia ingin agar kita diselamatkan dari dosa
dan maut. Dia menyediakan segala yang kita perlukan lewat Perjamuan Kudus.
Pengampunan Dosa, Kesembuhan, Lepas dari penderitaan dan kemiskinan,
Dipersatukan dengan Allah sendiri, sehingga kita merasakan langsung
perlindunganNya, KasihNya, KebaikanNya, KekudusanNya. KuasaNya telah
disediakan, tinggal pilihan kita untuk menerimanya sesuai dengan janji firman
Allah (Alkitab).
Ciri-ciri Perjamuan Kudus yang benar:
- Dipimpin oleh Imam yang Kudus (dalam hidup dan tingkah lakunya)
- Mengerti benar makna Perjamuan Kudus, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh
Alkitab.
- Memiliki iman, bahwa apa yang diterima benar-benar Tubuh dan Darah Kristus,
bukan cuma lambang.
- Hanya orang dewasa yang boleh mengangkat roti dan cawan untuk diberkati
bersama-sama, karena anak-anak belum memiliki pemahaman yang lengkap tentang
Perjamuan Kudus.
- Bayi dan anak-anak boleh menerimanya, sesudah orang dewasa tersebut yang
mengucapkan doa iman.
Selamat Merayakan Perjamuan Kudus yang benar.
Tuhan Yesus memberkati.
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/