From: "Mundhi Sabda Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>

Kisah Batin Seorang Ibu Menjaga "Hasil Tenunan"
Oleh Job Palar
-- Resensi Buku TANGAN YANG MENENUN* di Sinar Harapan edisi Sabtu, 28 Mei
2005--- 

Jakarta - Jika sebuah kisah dituturkan dengan menggunakan kata ganti orang 
pertama "saya", pastilah kisah yang mengalir adalah pengalaman batin dari si 
pencerita itu sendiri. Kisah-kisah yang hadir dalam buku Tangan yang Menenun 
ini adalah juga sebuah kisah batin dari seorang ibu yang berstatus orang tua 
tunggal tapi berperan ganda-ayah sekaligus ibu dari anak-anaknya.

Tulisan "Mengapa Kita Tidak Kaya?" telah dihadirkan harian ini di halaman 11
pada Sabtu, 17 Juli 2004. Namun, versi koran dengan versi tulisan di buku ini 
tentu berbeda, baik dari segi kedalaman maupun panjang-pendeknya tulisan.

"Allah menenun sejak anak-anak berada dalam kandungan" (Mazmur 139:13), inilah 
dasar dari segala perkara, prahara, dan suka cita yang tertuang dalam buku. 
Tampak jelas, benang merah dari isi buku ini adalah bagaimana seorang ibu 
berusaha mempertanggungjawabkan dan menjaga "hasil tenunan" Allah agar menjadi 
seperti yang Allah inginkan. Kali ini, "hasil tenunan" itu berwujud dalam 
bentuk seorang anak bernama Dika.

Ada tawa bahagia, ada duka nestapa, ada air mata dalam kisah-kisah interaksi 
"saya" dan Dika dalam buku ini. Pembaca juga akan disuguhkan beberapa fragmen 
rumah tangga yang tak sepenuhnya terang. Namun bahasa yang disajikan penuh 
kelugasan dan jauh dari kesan dirumit-rumitkan.

Tentu pembaca akan bertanya, "Apa peran si ayah atau suami?", "Mengapa dikisah 
ini ada, lalu di kisah lain lagi seperti lenyap tersedot pusat bumi alias 
hilang?" Ada kesamaran alur yang mungkin dapat direka-reka oleh pembaca, 
bagaimana sebenarnya "jalan cerita" yang terjadi sehingga tokoh " saya" dalam 
kisah-kisahnya akhirnya memilih menjadi orang tua tunggal.
Setidaknya, status "orang tua tunggal" dipatrikan sendiri oleh pengarang, 
Lesminingtyas, yang akrab dipanggil Ning atau Mbak Ning.

Dalam beberapa fragmen interaksi ibu-anak memang terselip peran seorang suami, 
namun peran itu muncul lebih banyak sebagai tokoh antagonis.
Setidaknya tokoh suami atau ayah hadir di situ sebagai orang yang justru 
menjadi katalis hubungan batin antara ibu dan anak, namun bukan dalam sisinya 
yang positif. Lengkaplah sebuah drama keluarga.

Menurut pengakuan pengarang dalam bukunya, dia memiliki tiga anak, tapi dalam 
buku ini hanya "jagoan" pertamanya saja yang muncul, si Dika. Entah kalau 
"jagoan-jagoan"-nya yang lain akan muncul juga dalam buku-buku Ning selanjutnya.

Bagi para orang tua, buku ini pasti bisa menjadi salah satu acuan dalam 
mendidik anak. Buku ini seperti memberikan trik bagaimana menerapkan 
makna-makna yang abstrak bagi seorang anak kecil berumur sekitar 4 tahunan. 
Makna-makna abstrak itu bahkan terkadang tak bisa dipahami oleh seorang dewasa 
sekali pun.

Makna mengampuni, menang tanpa harus mengalah, dosa, cabul, dan berbagai makna 
yang rasanya cukup berat untuk dipahami oleh seorang anak, dicoba diterapkan 
oleh sang ibu dengan segala kelembutan, jauh dari kesan penyesalan dan luapan 
kemarahan. Pedoman semua itu adalah Alkitab, padahal untuk banyak orang Alkitab 
itu pun adalah buku yang begitu sulit untuk dipahami. Namun, kiat-kiat memahami 
isi Alkitab di sini bisa hadir secara
begitu aplikatif.

Emosi kemarahan bercampur kasih yang makin dalam bisa terpancar begitu kuat 
dalam fragmen kehidupan "Astaga, Anakku Mencuri!" atau "Astaga, Anakku Bicara 
Kotor!". Kelucuan bisa muncul dengan begitu polosnya dalam "Donat Ayu". 
Pencarian makna kehidupan akan sangat kentara dalam fragmen "Mengapa Kita Tidak 
Kaya?".

Pada fragmen "Astaga, Anakku Mencuri!" malah terasa sekali interaksi tiga pihak 
beroposisi-ayah, ibu, anak-, namun bisa selesai dengan solusi yang sangat cair 
dan berujung pada makin indahnya hubungan ibu-anak. Ke mana sang ayah? Ya itu, 
tadi. Sang ayah hanyalah katalis yang makin memperat hubungan batin ibu dan 
anaknya.

Namun, memang terasa membingungkan untuk memahami suasana batin si anak saat
si ibu selalu memperhadapkan fakta bahwa "Tuhan akan marah." atau "Tuhan 
menginginkan", atau "Tuhan merencanakan.". Setidaknya, sebagai pembaca, 
letupan-letupan kejutan yang terjadi karena perkembangan setiap 
tokohnya-terutama Dika-akan menjadi kurang terasa karena kalimat-kalimat 
seperti di atas akan selalu muncul di permukaan untuk diperhadapkan pada 
kejutan-kejutan itu.

Pernyataan ini bukan hendak merendahkan makna kehadiran Tuhan yang mewarnai
hubungan batin ibu-anak, atau yang melingkupi seisi buku. Hanya saja, model 
penulisannya bisa dipertimbangkan agar arah pemikiran pengarang tidak mudah 
terbaca.

Sebuah buku yang telah menjadi milik publik tentu dipertimbangkan untuk bisa 
dibaca oleh semua khalayak. Untuk pembaca yang belum punya anak atau belum 
menikah sekali pun, buku ini sangat bisa menjadi referensi karena menjabarkan 
makna kehidupan nan bersahaja, dan hubungan emosional yang naik-turun dari ibu 
dan anak ini begitu patut untuk direnungkan. (SH/job palar)

**********************************************************************
* "TANGAN YANG MENENUN" adalah buku yang mengisahkan perjuangan orang tua
tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan. Informasi
buku ini bisa dilihat di www.mangucup.net atau www.mangapulsagala.com atau
http://bogor.bpkpenabur.or.id/mambo/ atau hubungi [EMAIL PROTECTED]
atau SMS ke 08151661312



[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke