Saturday, June 19, 2004
Nama Saya Bandia Bukan Pandia
Oleh Esther LS
Siang itu udara terasa agak gerah, namun sebagaimana biasa setiap sabtu siang,
kami sudah bersiap-siap menyambut tamu-tamu Tuhan di ibadah tunawisma di
Yayasan Kasih Bersaudara (YKB) di Jalan Raden Saleh Lantai 2 di pusat Jakarta.
Dulunya, ibadah diadakan di kolong jembatan kereta api di Cikini. Kelompok kami
bernama Metamorfosa yang khusus melayani tunawisma. Namun, kondisi di lokasi
makin lama makin riskan. Beberapa kali ada orang yang mencoba memancing
kerusuhan sewaktu kami beribadah.
Akhirnya, kami beribadah di Lantai 2 Kentucky Fried Chicken, Cikini. Lalu kami
mendapat izin sewa tempat di Jl. Raden Saleh itu.
Tiba-tiba seorang ibumengenakan daster bermotif bunga yang sudah usangmasuk
tergesa seraya membimbing seorang anak lelaki kecil yang juga dekil.
Seketika ingatan terhadap ibu ini mengentak sesaat, lalu keluar seruan: Apa
kabar Ibu Pandia, sudah lama tidak kelihatan, darimana saja selama ini? Lalu
sedikit bingung ia menjawab seadanya, Yaa
saya baru tahu dari orang-orang
kalau tempat ibadah sudah pindah ke sini, kan saya tidak tinggal di kolong
lagi, katanya.
Sesaat kenangan setahun lalu melintas di ingatan. Setahun lalu, usai ibadah
anak-anak yang diadakan di kolong jembatan kereta apidi Cikini, ibu ini datang
berkeluh kesah sambil tersedu, bercerita tentang kesulitannya membesarkan Ucok
yang masih kecil. Saat itu, Ucok juga sedang terserang batuk dan demam.
Ia mengungkapkan kesulitannya bertahan hidup di jalanan dan risau dengan
pendidikan Ucok kelak. Ia lalu memohon agar dibantu untuk menitipkan anak
tersebut ke panti asuhan supaya pendidikannya dan masa depannya lebih terjamin.
Selama beberapa waktu sejak peristiwa itu, kami ramai memperbincangkan
keinginan ibu Pandia di milis. Ada yang mencoba mencarikan kesempatan pekerjaan
untuk ibu itu sebagai pramuwisma di rumah temannya, sementara beberapa lagi
mencoba mencari informasi tentang alternatif panti asuhan yang mungkin bisa
menampung anak lelaki kecil itu.
Sayangnya, solidaritas yang muncul di antara kita sontak menyurut lagi karena
tiba-tiba ibu Pandia pun raib entah ke mana. Ada cerita ia tidak lagi tinggal
menumpang di bedeng-bedeng di kolong jembatan itu. Ke mana ia pergi, tak ada
yang tahu?
Setahun sudah kehilangan jejak beliau, tak heran munculnya ibu Pandia di
kebaktian sore itu membuat ingatan setahun lalu meruak kembali. Usai kebaktian,
kucoba mengajak ibu Pandia berbincang-bincang lagi tentang keberadaannya selama
ini, sembari mengamati Ucok kecil yang sedang mengikuti kelas sekolah Sabtu,
kebaktian anak.
Ibu Pandia
Ucok sudah besar ya sekarang, celutukku seraya mengamati Ucok yang
sedang tertawa riang mewarnai aktifitas sekolah sabtu.
Ya
betul setahun lalu dia kelihatan kurus dan kecil, banyak orang nggak
percaya kalau dia Ucok yang sakit-sakitan dulu
Ibu Pandia sejak kapan tinggal di Jakarta, asalnya dari Sumatera ya, dari Karo
ya?
Ha...bukan, dulu saya memang pernah kerja dan hidup di Jambi. Ada rumah petak
cuma nggak kerasan di sana. Lalu, aku ketemu anakku laki-laki, yang sudah
besar, sudah 16 tahun tak ketemu. Tapi ya katanya anak, ya, kuterima saja
sekalipun lupa-lupa ingat, tapi belakangan nggak tahan soalnya anak itu suka
bawa teman anak-anak muda ke rumah jadi saya tinggalkan rumah lalu pergi, dan
hidup di jalanan. Ia berkisah kalau dulu pernah beberapa kali kawin, tapi
cerai, anak-anaknya entah di mana ia kurang tahu.
Lho..kok ibu pakai nama Pandia, itu kan salah satu marga dari Suku Karo di
Sumatera Utara, dan mengapa anak itu disebut dengan Ucok?
Nama saya BANDIA
..Be
bukan Pandia..wong saya itu orang Jawa, asalnya dari
Yogya kok.
Sembari menutupi rasa malu karena telah salah sangka selama ini, saya menggumam
Ooooh
Nah
Ucok itu memang orang Batak, imbuhnya lagi.
Haaa
.kok bisssa bu, bukankah Ucok anaknya Ibu?
Bukan, dia bukan anak saya sendiri, saya memang merawatnya sejak ia lahir,
tapi ibu bapaknya orang Batak, dari Borong-borong (mungkin maksudnya kota
Siborong-borong di Tapanuli Utara). Nama ibunya Rosida sejak hamil ia sudah
bilang mau memberikan anak itu ke saya jadi waktu ia lahir, suster yang
merawatnya membawa orok itu ke saya sembari bilang.Ini si Ucok sudah lahir.
Jadi ya namanya sampai sekarang dipanggil Ucok saja
Ibu bapaknya dimana sekarang?
Ngga taulah..
Lalu, ibu sekarang tinggal di mana?
Di Pedongkelan dekat Kelapa Gading, sewa rumah petak
Ibu kerja apa saja sekarang?
Ngamen di prapatan jalan dekat situ, mangkal. Kalau capek aku suruh si Ucok
menggantikanku nyanyi. Nyanyinya juga cuma bisa dua lagu, Heppi ye ye ye ye dan
yang satu lagi Dengar Dia Panggil Nama Saya (sembari beliau menyanyikan lagu
itu dengan suara sumbang dan nada yang sudah berantakan).
Lalu apa Ibu nggak ingin kerja, msalnya membantu pekerjaan rumah tangga?
Wah, si Ucok itu kan suka jajan, suka nggak cukup
Jadi kalau mengamen dapat berapa sehari?
Empat puluh atau lima puluh ribu
Wah lumayan juga ya
Ya, cuma saya itu suka malaslah kalau dapat segitu. Saya bisa dua tiga hari
tidak mengamen, di rumah saja
Perbincangan itu pun usai seiring dengan selesainya ibadah sekolah Sabtu untuk
anak. Ia pun bergegas pulang.
Tinggal saya yang tercenung panjang, ingat akan realitas orang-orang
terpinggirkan di Jakarta ini. Bagaimana cara kita mengulurkan tangan untuk
mengurai persoalan Bandia-Bandia yang terserak di sekitar Jakarta?
Betapa kompleks permasalahannya. Ada soal hilangnya atau hancurnya nilai-nilai
keluarga yang suka diagung-agungkan dalam standar manusia beradab, apalagi
beragama.
Ada soal pemanfaatan anak bawah umur demi mencari sesuap nasi, sebaliknya di
sisi lain ada sentuhan kasih dari seorang Ibu yang rela mengasuh anak terbuang
sekalipun ia sendiri terbuang dari masyarakatnya.
Lalu, saat tebersit keinginan untuk mencoba memanusiakan dengan merumahkan
atau mencarikan pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga (misalnya):
Bukankah terbukti itu hanya akan mengekang ekspresinya sebagai pribadi merdeka?
Bukankah sudah jelas upah sebanyak tiga ratus ribuan sebulan itu sudah tidak
lagi relevan dibanding dengan penghasilannya di jalanan yang bisa meraup
empat-lima puluh ribu sehari ditambah dengan kemerdekaan diri yang tetap
menjadi hak mereka seutuhnya?
Lalu bagaimana kita akan mengubah cara pandang mereka agar terbebas dari
jalanan dan menjalani hidup yang lebih layak, lebih manusiawi? Bagaimana?
Apakah kita cukup berdiam diri dengan potret yang terpampang di pelupuk mata?
Cukupkah dengan khotbah tentang hidup yang benar seminggu sekali? Adakah bentuk
pendampingan lain?
Aku termangu
.
Sementara itu, ada sayup-sayup terngiang suara, semakin lama semakin nyata dan
semakin jelas terdengar:
segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk
Aku.
Aku masih saja termangu panjang
Akhir Mei 2004
Penulis adalah anggota kelompok Metamorfosa
posted by job at 2:43 AM 0 comments
Saturday, June 12, 2004
Nyanyian Seorang Gorga
Oleh Job Palar
Wartawan Sinar Harapan
Nunga leleng hutadingkon tano hatubuankon,
laho ahu mangaranto tu na dao
arga do bona ni pinasa
(Sudah lama kutinggalkan tanah kelahiranku,
aku pergi merantau ke tempat yang jauh
Tanah kelahiranku inilah (ternyata) yang paling berharga)
Selanjutnya dengan bergaya, dia berjalan. Hendak ditunjukkan bahwa dia baru
saja melanglang buana dari Eropa sana.
Ada kawan memanggil:
Gorga, Gorga. Ho doi?
(Gorga, Gorga. Kaukah itu?)
Sejak itulah, Bonar Gultom memiliki nama baru, Gorga. Adegan di atas terjadi di
sebuah pertunjukan di Kota Medan, pada 1969. Untuk pertama kalinya, Bonar
Gultom muda diminta membuat sebuah pertunjukan besar berupa opera rakyat dengan
memanfaatkan seni, musik, dan budaya Batak sebagai latar belakang.
Pertunjukan itu berjudul Arga Do Bona Ni Pinasa, yang menampilkan sebuah
kisah tentang perbenturan budaya yang pada masa itu memang sedang
hangat-hangatnya menjadi tema sosial.
Alkisah seorang pemuda yang meningkat dewasa, tapi merasa bosan dengan semua
yang ada di sekelilingnya. Dia berusaha untuk meninggalkan semua itu dan
berhasil. Dia melanglang buana, merantau mencari pengalaman, dan melihat
hal-hal yang baru yang menurut pengertiannya semula pasti lebih bagus dari
tanah asalnya.
Pemuda bernama Gorga ini ternyata tak sanggup mengingkari kenyataan, hujan emas
di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimana pun
keadaannya, negeri sendiri tetaplah yang terbaik.
Pemuda bernama Gorga itu saya yang ciptakan, dan saya yang perankan sendiri.
Saya harus mengarang ceritanya sendiri berikut lagu-lagunya. Leila Sitompul
memerankan sebagai kekasih Gorga, bernama Marlinang. Keterusanlah sampai
sekarang si Marlinang itu menjadi istri saya, Bonar Gultom berkisah dengan
wajah cerah.
Sampai sekarang istri saya masih disapa Ibu Marlinang dan saya Pak Gorga.
Bonar Gorga Gultom mengisahkan dengan penuh semangat bagaimana dia harus
menciptakan gerak dan mempersiapkan panggung dengan dibantu oleh 120 orang
anggota gereja. Mulai dari situlah timbul rasa kepercayaan diri. Anugerah yang
diberikan Tuhan, menyanyi dan mencipta lagu, makin disadarinya. Bonar mulai
berani memimpin paduan suara di gereja.
Pengakuannya, bakat menyanyi turun dari sang ibu. Hasrat menyanyi Bonar kecil
yang meluap-luap melahirkan kisah-kisah nan unik.
Suatu hari, saat ia sedang belajar di ruang kelasnya di Kelas 1 HIS (Hollands
Inlandsche School), terdengarlah di ruang sebelah murid-murid sedang belajar
bernyanyi. Tanpa sadar, saya ikut nimbrung, nyanyi keras-keras. Guru saya
kaget. Dia ingin marah, tapi tak jadi, mungkin karena suara saya yang bagus,
Bonar terbahak.
Tapi akibat peristiwa itu, saya jadi sering maju ke depan kelas untuk
bernyanyi.
Yang paling berkesan baginya, adalah peristiwa di Siborong-borong saat Jepang
berhasil mengusir Belanda dan ganti berkuasa, tahun 1942. Saat itu, Bonar
berumur delapan tahun.
Tentara-tentara Jepang datang untuk menculik dirinya. Latar belakang
penculikan tak lain hanya karena tentara-tentara itu senang mendengarkan dia
bernyanyi.
Bocah bernama Bonar ini dibawa keliling-keliling kota, ke restoran-restoran.
Dia dinaikkan ke atas meja dan disuruh menyanyi lagu apa saja, baik itu
lagu-lagu Batak, lagu-lagu gereja, maupun lagu berbahasa Jepang.
Waktu itu yang ketakutan ibu saya. Saya sendirian kan nggak mengerti rasa
takut. Jepang-jepang itu suruh saya menyanyi, karena saya suka, ya, menyanyilah
saya, katanya.
Tapi ibu saya nggak kehilangan akal. Dia suruh anak-anak muda kampung untuk
mengikuti Jepang-jepang itu.
Bonar kecil begitu menikmati semua petualangan yang terjadi hanya karena
kegemarannya bernyanyi. Sebaris-dua baris lagu berbahasa Jepang masih
diingatnya.
Bonar Gultom tak pernah terpikir sebelumnya mampu mencipta lagu. Ia menganggap
kemampuan itu di luar jangkauannya.
Saya mulai mencipta lagu setelah majelis gereja dan pimpinan GKPI datang
meminta saya membuat pertunjukan tentang Gorga itu. Mereka meminta saya membuat
suatu pertunjukan yang jangan bersifat gereja agar cakupannya luas, padahal itu
acara cari dana untuk gereja, katanya.
Anehnya, saya rencanakan itu semua nggak sampai satu bulan. Entah kenapa, saya
begitu terinspirasi.
Prestasi dan Kesetiaan
Prestasi akademik Bonar Gultom sangat baik, terutama untuk bidang penguasaan
bahasa. Bonar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Sempat pula ia
mendapat nilai sepuluh untuk bahasa Jawa Kuna, namun sekarang yang dia ingat
hanya satu-dua kata saja.
Setamat SMA di Medan, Bonar Gultom harus menghadapi tantangan yang cukup berat.
Belum jelas baginya, hendak ke manakah kaki ini akan melangkah selanjutnya.
Bapak saya pensiun dari camat, dana terhenti. Tapi terus terang, Tuhan itu
sayang sama saya. Saya merasakan betul itu, kata Bonar.
Prestasi yang sangat bagus di sekolah ditambah kemampuan menyanyi yang makin
terasah membuat Bonar mendapat perhatian yang begitu besar dari para guru.
Salah satu gurunya bertanya,Bonar, kau mau ke mana setelah lulus SMA?
Nggak tahu, Pak
Bagaimana kalau kau masuk sekolah guru saja.
Saya kurang minat jadi guru, Pak.
Kalau begitu kamu mau ke mana?
Kalau boleh, saya mau kerja saja, Pak.
Entah apa yang menggerakkan para guru di SMA itu. Mereka kemudian berkumpul
untuk membuat surat lamaran dalam bahasa Belanda, lalu dikirimkan ke seluruh
perusahaan-perusahaan di Medan.
Eh, berhasil! Ada maskapai perkebunan, namanya NV Vereenigde Deli
Maatschappijen, yang memanggil saya untuk wawancara, Bonar berkisah masih
dengan nada terheran-heran.
Namun, garis hidupnya menyiratkan hal lain. Wawancara itu bukan sekadar
wawancara penerimaan pegawai.
Kau kok masih muda malah mau kerja? si Belanda yang mewawancarai Bonar
bingung. Berceritalah Bonar bahwa orang tuanya sudah tak sanggup membiayainya
lagi. Sekonyong-konyong, muncullah pertanyaan yang menjadi tonggak penting
kehidupan seorang Bonar Gultom.
Kau masih mau sekolah? Belanda itu bertanya.
Aku mau! Bonar menjawab mantap.
Kami rasa kami membutuhkan seorang ekonom, kau mau?
Mau sekali!
Waktu itu, tahun 1956. Bonar masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di
Salemba. Diakuinya, masuk universitas saat itu memang tidak sesulit sekarang.
Dia cukup memperlihatkan ijazah SMA-nya yang dihiasi angka-angka akademik yang
bagus itu, langsung diterima
Pembayaran Rp 24.000 per tahun langsung dibayar si Belanda itu. Saat itulah,
saya semacam menjalani ikatan dinas. Si Belanda ini hebat. Dia menghitung semua
dengan terperinci apa saja yang saya butuhkan, sampai hal-hal kecil, kata
Bonar.
Bonar menunjukkan kesetiaan yang luar biasa atas segala yang diberikan
perusahaan yang membiayainya itu. Riwayat kariernya tercatat dengan jelas.
Perusahaan tempat Bonar mengabdi memang diambil alih oleh pemerintah Indonesia,
tapi Bonar tetap berkarya di sana, sampai masa kerjanya habis di Bandung.
Saya menciptakan lagu Sunda waktu saya di sana, katanya sambil mempraktikkan
kefasihannya berbahasa Sunda.
Arbab
Kemampuannya makin terasah saat dia kuliah. Bonar mendapat kesempatan menjadi
asisten dari dedengkot paduan suara gereja, E.L. Pohan.
Kita konser tiap tahun. Pak Pohan mempercayai saya untuk memimpin di setengah
konser. Kalau dia menjadi dirigen lagu-lagu gereja, giliran saya lagu-lagu
daerah. Jadi saya asisten dirigen dia, kata Bonar.
Bonar Gultom juga memperlihatkan kehebatan teknik bernyanyi dengan menyabet
beberapa gelar dalam festival-festival bergengsi. Sebut saja, Juara I Menyanyi
Seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia (1958 dan 1960) dan Juara I
Menyanyi Seriosa Bintang RRI baik di Medan maupun di Jakarta (1968).
Bonar Gultom mengaku tidak memiliki bekal formal dalam menciptakan lagu atau
mengaransir lagu. Cuma, saya memiliki kepekaan jika mendengar suatu lagu. Saya
langsung bisa dapat nada untuk suara sopran, alto, tenor, atau bas, apalagi
kalau lagunya bagus.
Bonar Gultom telah menciptakan sekitar 120 lagu. Lagu-lagu ciptaannya menjadi
langganan lagu wajib dalam berbagai lomba paduan suara.
Lagu Bonar Gultom yang melegenda di kalangan paduan suara adalah Arbab. Lagu
itu begitu kental dengan nuansa Batak, dengan nada yang lincah dan
melonjak-lonjak.
Harmonisasi pembagian suaranyasopran, alto, tenor, basbegitu enak terdengar.
Jika paduan suara menyanyikan dengan suara yang tepat mengena pada nada, akan
terasa seperti orkestra. Harmonisasi yang indah inilah yang membuat lagu Arbab
menjadi semacam lagu wajib bagi paduan-paduan suara gereja, bukan saja dari
tanah Batak.
Saya sendiri nggak bisa bilang persis dari mana datangnya ide lagu itu, tapi
saya yakin dari Tuhan, katanya.
Lagu Arbab saya ciptakan dalam perjalanan menuju TVRI untuk rekaman kaset.
Lokasinya waktu itu di Kesawan.
Seorang saudagar Cina begitu ingin merekam suara Bonar dan kawan-kawan. Baru
ada beberapa lagu. Bonar berpikir keras di perjalanan. Lagu apa yah buat
ditambah di rekaman?
Tiba-tiba, berloncatan nada-nada disertai syair dari mulut Bonar.
Da tama endehononku
pamujionku di Debatangku
Ooooo
Lagu yang kemudian menjadi lagu kebangsaan paduan-paduan suara itu pun
terlahir ke Bumi. Paduan-paduan suara gereja banyak yang menyanyikan lagu itu
namun sudah dalam versi bahasa Indonesia. Edisi bahasa Indonesia pun tetap
hadir dengan sangat baik dan tak kehilangan roh-nya. Tak lain karena Bonar
sendirilah yang melakukan penterjemahan.
Tanggal 30 Juni 2004, Bonar Gultom genap berusia 70 tahun. Sebuah perayaan
untuk menghormati dedikasinya sedang disiapkan oleh handai taulan.
Bernyanyi menjadi suatu anugerah yang mengiringi dan sering kali mengubah
perjalanan hidupnya. Dengan penuh rasa syukur, Bonar Gultom bertutur, Tuhan
telah mengizinkan saya menikmati hidup ini, sehat, masih bisa saya mencipta
lagu, mengajarkan, dan menyanyikannya. Saya juga memiliki keluarga yang horas,
selamat, sehat, dan cucu yang sehat-sehat untuk saya mengisi hari tua ini.
Pencapaian Bonar Gultom sampai saat ini sangat tepat tergambar lewat syair
lagunya sendiri, Arbab, versi bahasa Indonesia:
Jiwaku ingin bernyanyi,
serta tubuhku menari-nari
Menunjukkan sukacita
Atas kasih Tuhan kepadaku
Dan, Bonar Gultom pun terus bernyanyi
.
posted by job at 2:40 AM 0 comments
Sunday, June 06, 2004
Dari Disensor Jepang, Dibom Sekutu, sampai Kerusuhan Ambon
Oleh Izaac Tulalessy
Wartawan Sinar Harapan
JAKARTA-Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja
Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal
ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi
dan melayani.
Berdasarkan bukti-bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29
Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai
Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang.
Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam
Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 1022 terungkap bahwa suatu tempat di
mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota
Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai rumah Allah atau pintu gerbang
surga.
Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya
sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya rumah Allah atau
pintu gerbang surga.
Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja
yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan
oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh
pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala.
Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun
diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.
Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi
berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada
sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16.
Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon
menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat
Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon.
Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk
ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua
anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon.
Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok
berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan
guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.
Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada
tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut
Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937.
Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di
tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat
sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus
merupakan pihak pelaksana program tersebut.
Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan
masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan.
Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat
Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.
Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan
umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat
yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di
antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang.
Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan.
Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang
dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.
Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan,
bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini
masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal
2224 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur
akibat dibom sekutu.
Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi
ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR
Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.
Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung
berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan
di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan
(RMS) pada tahun 1950.
Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat
sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau
Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.
Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang
memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk
mencari bentuk pelayanan baru.
Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti
gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja
permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya
pada tanggal 31 Oktober 1955.
Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat
ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya
terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran
injil. Pelopor kegiatan ialah ibu-ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen
Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil
GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan
Maluku pada tanggal 31 Desember 1956.
Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada
tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi
Jemaat GPM Bethel.
Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat
daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan
daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan
pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963
sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang
daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung,
serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah
pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya
efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan
unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri
dari 3040 keluarga.
Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor
pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat
sebanyak 6.925 jiwa. Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari
1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu
Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke
tempat lain, ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh
kepada SH di Ambon.
Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan
pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat
dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan
Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial
dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM).
Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi
yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih
menonjol, jelasnya.
Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah
pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat
sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan
Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.
Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat
terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES
melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan
Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan
Remaja.
Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh
Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam
rangka pelaksanaan tugas tersebut.
Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui
persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang
dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam
maupun di luar jemaat.
Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah
lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari oleh
Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus
posko-posko bantuan logistik bagi jemaat-jemaat yang membutuhkan bantuan
darurat karena ditimpa kerusuhan.
Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini
semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan
melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap
masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan.
posted by job at 2:36 AM 0 comments
Saturday, May 29, 2004
Leukemia Ini Tak Akan Membuatku Berhenti Bersyukur
Oleh Keyta Sihombing
Duniaku saat ini adalah kotak isolasi berukuran sekitar 2x2 meter persegi di
Rumah Sakit PGI Cikini. Sudah lima minggu aku berada di sini. Dokter telah
memvonisku terkena leukemia.
Aku mengingat setiap momennya sampai vonis itu turun. Sebelumnya, aku menderita
sakit maag yang sangat akut. Sebulan aku diopname karena demam terus-menerus di
RS PGI Cikini. Aku harus mengikuti tes USG (Ultra Sonografi) untuk melihat apa
sebenarnya yang terjadi dalam tubuhku, belum cukup juga ternyata untuk
mengetahui apa sakitku. Aku harus menjalani endoskopi. Ternyata ada batu kecil
di empedu.
Lima minggu aku menghuni rumah sakit, sampai akhirnya aku diizinkan pulang ke
rumah.
Tiga hari kemudian, tulang belakangku terasa sangat sakit. Aku menangis. Tulang
belakangku seperti dipukul-pukul balok. Aku tak kuat. Aku tak mengerti sakit
apa aku ini dan kenapa rasa sakit yang mengerikan ini menyerangku.
Aku ajak kakakku, Mekarti, ke dokter ahli tulang. Tadinya, kami hendak ke
dokter di Pasar Minggu, terasa lebih mudah karena rumahku di kawasan Halim
Perdanakusuma itu juga. Dokternya tidak bertugas di hari Rabu itu. Dia baru ada
di hari Jumat.
Tak mungkin aku menunggu. Aku sudah tak tahan. Akhirnya aku ke RS PGI Cikini
ini. Aku dianjurkan ke dokter endoskopi, namun oleh bagian endoskopi aku
dirujuk ke bagian rematik.
Serangkaian tes kujalani lagi. Dokter memvonisku anemia karena aku kekurangan
darah merah, dan darah putihku banyak. Ternyata sel darah merahku
(haemoglobin-Hb) rendah. Aku disuruh opname. Aku menolak. Aku trauma dengan
ritual infus-menginfus ini. Sebulan lebih diinfus, tanganku bengkak. Aku
memilih pulang saja.
Namun, kondisiku menjadi begitu dilematis. Aku bergumul dengan rasa sakitku
yang semakin menjadi. Dua hari kemudian aku mendatangi rumah sakit lagi.
Ternyata, Hb dalam tubuhku makin rendah.
Aku kembali menghuni rumah sakit. Hari ketiga aku dites BMP (diambil sampel
sumsum tulang belakang). Kemudian, dokter akan memindahkan aku ke ruang
isolasi. Aku sangat sedih. Loh kok aku jadi mengidap penyakit menular, Dok?
asumsiku jika ditempatkan di ruang isolasi berarti aku terkena penyakait
menular. Aku bilang, Dokter tolong jujur, aku sakit apa?
Profesor Karmel yang juga adalah dokter yang menanganiku (berikutnya aku sapa
dengan Profesor) berkata,Kau terkena leukemia. Hasil periksa darah,
terutama sampel yang diambil dari sumsum tulang belakang, memperjelas penyakit
apa yang kuderita. Penyakit ganas yang menyerang sumsum tulang belakangku dan
akan menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini juga dikenal dengan kanker darah.
Ketika dibilang leukemia aku tidak kaget. Aku hanya terdiam. Ada rasa tak
percaya. Aku ini pendonor darah, Dok. Terakhir, aku donor daran bulan Desember
2003. Nggak mungkinlah aku sakit itu, kataku.
Tiba-tiba di dalam hatiku, bahkan sampai detik ini, ada keberanian untuk
menghadapi segala sesuatunya. Aku merasa tak gentar, mungkin karena aku sudah
tidak merasa sakit lagi.
Tapi, aku masih bingung, kenapa aku harus masuk ke ruang isolasi. Agar kau
tidak terkena kuman-kuman yang di luar ini. Kau harus steril. Semua barang yang
ada di sekitar kau harus steril juga, makanya kau masuk ke ruang ini, demikian
penjelasan Profesor. Aku mengerti sekarang.
Setelah masuk ke ruang isolasi, aku diberi tahu akan menjalani kemo
(kemoterapi). Komentar awalku,Apa itu itu kemo?. Aku pernah denger, tapi kan
definisi dan penjabaran kemo itu apa, reaksinya seperti apa, bentuknya kayak,
aku nggak mengerti. Saat Profesor menjelaskan bahwa nanti saya akan lemas,
panas tinggi, pusing, dan lain-lain. Di situ ada rasa sedikit takut.
Aku langsung nggak mau dikemo. Satu bulan kemudian badanku makin lemah. Tapi
aku berdoa, Ya Tuhan, aku beriman padaMu.
Profesor, aku tak perlu kemo, aku mau pulang saja.
Kalau Keyta mau pulang, silakan, kata Profesor.
Namun, apa daya. Aku tak bisa pulang. Tulang-tulangku makin sakit, dan tubuhku
melemah. Berdiri saja aku susah. Keluargaku yang membawaku pulang.
Setelah itu, ada seorang teman yangmenganjurkan aku ke dokter di Rumah Sakit
Darmais. Namun, apa yang terjadi. Sang dokter malah menegurku,Kok dibiarkan
begini? Kenapa nggak dikonsultasi sama psikolog bahwa kamu tuh nggak mau
dikemo? Kamu nih memang harus dikemo.
Tapi saya tetap bersikukuh. Aku meyakini bahwa Tuhan pasti sembuhkan aku. Terus
terang saja, aku jadi keras hati.
Tapi kondisi badanku tak bisa sekeras hatiku. Kondisiku makin drop. Aku malah
lemas dan tak bisa bergerak. Bercak-bercak merah di badan mulai muncul.
Akhirnya, aku minta pindah ke RS Darmais. Namun, keadaan berbicara lain. Mobil
yang membawaku nggak bisa menembus rumah sakit karena banjir yang terjadi di
Grogol dan sekitarnya. Akhirnya aku balik lagi pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku kembali ke Darmais. Ternyata, aku nggak ditolong lagi,
tapi dianjurkan langsung ke RS Cikini karena yang menangani aku tuh seorang
profesor. Profesor Karmel. Akhirnya, aku menyerah. Aku balik ke RS Cikini dan
bersedia untuk dikemo.
Saat menjalani kemo, aku nggak ada merasa takut. Aku yakin Tuhan besertaku. Aku
serahkan diriku padaNya. Aku kuatkan diriku dengan berkata pada diriku sendiri
bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milik Tuhan Yesus.
Puji Tuhan, selama kemo tujuh hari tujuh malam itu, aku nggak merasa apa pun.
Rasa lemas, muntah-muntah, demam, dan lain-lain itu nggak ada. Aku merasa Tuhan
menjamahku.
Ketika mau menjalani kemoterapi, aku memuji-muji Tuhan sekencang-kencangnya.
Tubuhku dimasuki jarum suntik cukup lama, sekitar setengah jam, dan aku terus
bernyanyi.
Mungkin orang lain berpikir aku kesepian di ruang isolasi ini. Tapi tidak, aku
tidak kesepian. Dorongan besar dalam diriku untuk sembuh membuat semangatku
selalu bernyala-nyala di dunia kecil-ku ini.
Pada dasarnya aku kan periang, suka membuat lelucon, suka ngomong. Dan aku
seringkali menghabiskan waktuku dengan bernyanyi-nyanyi dan berpoco-poco di
kamar ini. Aku bilang pada orang-orang, aku kuat kok.
Memang, saat aku pulang ke rumah sebelum masuk ke sini lagi, aku sempat
menonton The Passion of the Christ. Aku mendapat kekuatan.
Saat ini usiaku sudah 39 tahun, November nanti usiaku akan masuk kepala
empat. Aku tujuh bersaudara, kakak tertuaku, Mekarti, dan adik bungsuku yang
sangat rajin mengurusku selama di sini. Tanpa mereka, aku tak tahu bagaimana
jadinya.
Teman-teman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang juga begitu hebat
mendukungku melewati masa-masa sulit ini. Aku aktif di gereja dari tahun 1992
sebagai guru sekolah minggu. Aku ikut paduan suara. Aku berlatih musik
kolintang padahal aku orang Batak. Lucu dan membangkitkan semangat rasanya,
kalau aku mengenang masa-masa itu.
Menurut kawan-kawan dan orang sekitarku, aku bisa menghidupkan suasana jika ada
di tengah teman-teman. Dan saat ini, teman-temanlah yang membuat semangatku
tetap hidup. Aku sangat bersyukur atas hal ini.
Aku juga memuji syukur padaNya karena aku merasa pribadiku berubah. Aku merasa
lebih bertumbuh secara rohani. Aku sekarang tak mudah marah. Ada suster yang
kadang ngeselin, namun berbagai hal yang aku telah lalui ini membuatku selalu
ingin berdamai. Aku juga sekarang mendoakan orang lain yang sudah
menecewakanku, aku mengampuni mereka bahkan meminta mereka diberkati dan
diampuni Tuhan.
Dalam doa, aku mengucap syukur karena aku menyadari penderitaan Yesus lebih
dahsyat dariku. Aku jelas nggak ada apa-apanya. Dan salah satu doaku yang
terpenting adalah aku mengucap syukur karena diberi kekuatan menahan rasa sakit.
Aku juga tidak menyesal atas semua ini. Aku tetap setia padaNya, keluargaku
jadi makin dekat denganku, teman-temanku benar-benar membangkitkan gairah
hidupku.
Pernah aku dapat telepon dari Australia, dan si penelepon mengajak berdoa
bersama. Astaga, pikirku, kok bisa sampai ke sana kabarnya. Ternyata
teman-temanku telah menyebarkan berita tentang aku lewat milis-milis Kristen di
Internet.
Dana bantuan pun mengalir untuk menebus obat-obatku. Pekerjaan Tuhan sungguh
hebat, dan aku betul-betul merasakannya.
Dan jika Tuhan izinkan aku keluar dari sini, aku akan bersaksi tentang apa yang
Dia buat untuk aku.
Ruang Isolasi IK II Gedung M2
Rumah Sakit PGI Cikini
posted by job at 2:35 AM 0 comments
Saturday, May 22, 2004
Gadis Kecil Itu Bernama Isaya
oleh Peter Purwanegara
Aku teringat waktu itu aku masih bekerja di kedai kopi dengan posisi sebagai
pelayan. Karena untuk menyelesaikan kuliah ternyata memerlukan biaya yang tidak
sedikit.
Aku bekerja di kedai tersebut karena ajakan temanku, Benny. Aku pikir aku punya
waktu
dan masih perlu uang, maka kuterima ajakan tersebut.
Menjelang akhir tahun, tiba-tiba Benny menyodorkan sebuah brosur dengan ajakan
membantu anak-anak kecil di dunia ketiga seperti di Asia, Amerika Latin, atau
Afrika, yang dikelola oleh sebuah organisasi Kristen. Anak-anak kecil yang
hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Mereka tak cukup makanan, tak cukup air
bersih, tak ada obat-obatan dan mungkin mereka tidak akan pernah mendapatkan
pendidikan pula.
"Ben, apa kau pikir aku kebanyakan uang ?"
"Ala, apa sih beratnya menyumbang dua puluh dolar sebulan. Kamu menyumbang dua
puluh dolar sebulan tidak membuat kamu jatuh miskin. Dan kau harus berpikir
bahwa sumbangan ini untuk menyelamatkan hidup seorang anak kecil" kata Benny
dengan mencoba mempengaruhiku.
Aku terdiam. Aku tidak mengerti ucapan Benny itu. Aku hanya berpikir, karena
uangku pas-pasan. Dan dalam hal sumbang-menyumbang, aku sudah memberi
persembahan setiap Minggu di gereja. Masak sekarang mau ditambah lagi?
"Nih kamu tanda tangani di bawah sini. Dan kalau kamu nggak ada uang sekarang
pakai uangku dulu," kata Benny. Aku seperti terhipnotis mendengar ajakan Benny
tersebut.
Sekitar dua minggu kemudian aku mendapatkan balasan dari organisasi Kristen
tersebut, disertai dengan sebuah foto dari seorang gadis kecil berusia lima
tahun yang tinggal di sebuah negara di Afrika. Gadis kecil itu bernama Isaya.
***
Waktu terasa berlalu dengan cepat, aku pun telah lulus dari kuliahku. Aku masih
berhubungan dengan Benny. Kami tidak hanya bertemu di gereja tetapi juga di
tempat bekerja. Kami bersama-sama bekerja di perusahaan kimia tambang emas.
Sebagai sarjana yang baru lulus, tak ayal lagi aku bekerja mulai dari tingkat
pemula. Demikian pula dengan Benny, dan kami bersyukur atas berkat Tuhan ini.
Gaji tidak begitu besar, tapi uang tersebut dapat kami gunakan sesuai dengan
kebutuhan kami.
Benny cukup aktif dalam pelayanan gereja. Dia pula yang sering mendorong aku
untuk ikut pelayanan, ikut persekutuan dan mengingatkanku tidak patah semangat
untuk membiayai Isaya, gadis kecil yang hanya kukenal lewat foto.
Karena kesibukanku, sehingga aku tak terasa setiap bulan menyisihkan sebagian
dari
gajiku untuk gadis kecil itu, yang dulunya aku merasa enggan untuk membantunya.
Bulan demi bulan telah lewat, musim demi musim berlalu. Tiga tahun sudah
berlalu. Menjelang hari Natal sebuah kartu dikirim dari Afrika. Ternyata Isaya
yang mengirim kartu Natal melalui organisasi Kristen tersebut. Selain selembar
kartu Natal yang ditulis
oleh Isaya sendiri, tulisan tangannya agak kurang beraturan, tetapi aku masih
dapat membacanya, di dalam amplop tersebut juga terdapat sebuah foto Isaya yang
memakai seragam sekolah.
Tuan Christian yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Saya telah menerima surat
balasan tuan Christian. Saya tidak lupa berdoa untuk kesehatan tuan Christian.
Tuhan memberkati.
Terima kasih pula untuk boneka yang tuan Christian berikan. Saya menyukainya.
Saya bermimpi suatu hari saya dapat bertemu dengan tuan Christian.
Isaya
Foto Isaya aku letakkan di atas lemari es bersama foto-foto yang sebelumnya
telah dikirim oleh organisasi Kristen tersebut setiap tahunnya.
Lagi-lagi Benny yang membuatku tidak habis pikir. Kebetulan kami berdua akan
dikirim ke kantor cabang kami yang berada di Afrika selama tiga minggu. Lalu
Benny mengusulkan padaku untuk mengunjungi anak-anak yang kami bantu melalui
organisasi Kristen itu.
"Kapan lagi kamu bisa ke Afrika?" tanya Benny. "Ini kesempatan namanya."
"Ben, kita ke Afrika bukan dalam rangka bersosialisasi tetapi masih banyak
pekerjaan yang harus kita selesaikan." kataku mengingatkan Benny.
"Apa salahnya sih kalau kita menyisihkan waktu kita untuk mengunjungi anak yang
kita bantu. Aku yakin mereka akan sangat gembira sekali. Lagipula apa kamu
tidak ingin melihat anak yang kamu bantu selama lima tahun ini bagaimana
keadaannya?" sahut Benny menyakinkanku. Memang benar, kadang aku ingin tahu
bagaimana sih keadaannya sekarang, anak yang kubantu itu.
Tahun ini usia Isaya mencapai sepuluh tahun. Dikatakan dalam surat terakhirnya,
dia masuk sekolah kelas empat. Aku pikir ini pekerjaan Tuhan yang sungguh
ajaib.
Bagaimana tidak, aku yang tidak mengenal Isaya, kini aku mengarungi lautan yang
jaraknya puluhan ribu kilometer dengan salah satu tujuan menemui gadis kecil
itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan yang telah memakai Benny untuk mengajakku
membantu Isaya.
Hatiku merasa berdebar untuk dapat bertemu dengan Isaya di rumahnya. Meski aku
berkata dalam hatiku, aku hanya akan menemui seorang gadis kecil yang kubantu
selama lima tahun ini. Tetapi entah kenapa, perasaanku tegang.
Benny diajak oleh rombongan lain untuk menemui anak yang dibantunya di kampung
lain. Aku sudah menemui ibu Isaya, seorang ibu yang sederhana, yang sedang
mengasuh tiga orang adik Isaya. Kami menunggu Isaya pulang dari sekolah.
Jam dua belas lebih sepuluh menit, aku melihat seorang gadis kecil yang
berseragam sekolah berjalan menuju arah kami. Isaya persis seperti yang pernah
kulihat dari fotonya. Seorang gadis kecil yang berkulit kelam dengan rambut
keritingnya yang dikepang dua. Roger Hartman, pengurus dari organisasi Kristen
tersebut dan sekaligus yang mengantarku ke rumah Isaya, menghampiri Isaya
terlebih dahulu dan bercakap dengan Isaya beberapa saat. Lalu ia menggandeng
Isaya ke arahku.
"Halo, Isaya." sapaku.
Dia terdiam sesaat dan memandangku. Aku menghampiri untuk memberi salam. Roger
menghampiri Isaya dan berbisik padanya. Isayapun maju menghampiriku dan
memberikan tangannya untuk bersalaman.
Aku pun berjongkok membuka kedua tanganku memeluk Isaya. Dia membalasnya. Aku
serasa mimpi. Inilah gadis kecil yang selama lima tahun hanya kukenal melalui
koresponden surat dan tak pernah kubayangkan akan bertemu dengannya, sekarang
aku memeluknya. Isaya memelukku erat.
Kurasakan sesuatu yang hangat di leherku. Isaya terisak menangis, air matanya
mengalir
di leherku. Aku tahu itu isak tangis Isaya yang bahagia. Mimpinya menjadi
kenyataan. Hatiku tersentuh. Isaya menginginkan pertemuan ini terjadi. Seperti
yang diceritakan oleh ibunya padaku.
"Tuan Christian, terima kasih?..terima kasih," ucap Isaya dengan agak kaku.
"Panggil aku Christian." aku tersenyum kepada Isaya.
Memang aku tak menyangka bahwa sumbanganku setiap bulan itu berdampak begitu
besar atas diri Isaya dan keluarganya. Sebelumnya mereka tidak mempunyai kamar
mandi dan jamban sendiri, karena mereka tidak mempunyai biaya untuk
mendirikannya. Setelah aku menyumbang, organisasi Kristen tersebut mulai
membuat saluran air besih dan mendirikan kamar mandi serta jamban.
Kamar mandi keluarga Isaya sekarang telah digunakan bersama dengan tiga
keluarga tetangga lainnya. Isaya mempunyai seragam dan peralatan sekolah serta
sepatu yang layak dipakai. Keluarga Isaya mampu membeli seekor sapi yang dapat
diminum susunya dan sepasang ayam yang dapat dimakan telurnya.
Aku bersyukur pada Tuhan dapat membantu Isaya dan keluarganya. Aku tahu masih
banyak Isaya-Isaya lainnya yang masih menunggu uluran tangan orang yang mampu
dan
mau membantu mereka.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi
Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika
Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku?..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:35, 36, 40.
Vancouver, 18 Maret 2004
[Non-text portions of this message have been removed]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/