Saturday, June 19, 2004
Nama Saya Bandia Bukan Pandia 
Oleh Esther LS

Siang itu udara terasa agak gerah, namun sebagaimana biasa setiap sabtu siang, 
kami sudah bersiap-siap menyambut tamu-tamu Tuhan di ibadah tunawisma di 
Yayasan Kasih Bersaudara (YKB) di Jalan Raden Saleh Lantai 2 di pusat Jakarta. 
Dulunya, ibadah diadakan di kolong jembatan kereta api di Cikini. Kelompok kami 
bernama Metamorfosa yang khusus melayani tunawisma. Namun, kondisi di lokasi 
makin lama makin riskan. Beberapa kali ada orang yang mencoba memancing 
kerusuhan sewaktu kami beribadah.
Akhirnya, kami beribadah di Lantai 2 Kentucky Fried Chicken, Cikini. Lalu kami 
mendapat izin sewa tempat di Jl. Raden Saleh itu. 
Tiba-tiba seorang ibu—mengenakan daster bermotif bunga yang sudah usang—masuk 
tergesa seraya membimbing seorang anak lelaki kecil yang juga dekil. 
Seketika ingatan terhadap ibu ini mengentak sesaat, lalu keluar seruan: “Apa 
kabar Ibu Pandia, sudah lama tidak kelihatan, darimana saja selama ini?” Lalu 
sedikit bingung ia menjawab seadanya, “Yaa…saya baru tahu dari orang-orang 
kalau tempat ibadah sudah pindah ke sini, kan saya tidak tinggal di kolong 
lagi,” katanya. 
Sesaat kenangan setahun lalu melintas di ingatan. Setahun lalu, usai ibadah 
anak-anak yang diadakan di kolong jembatan kereta apidi Cikini, ibu ini datang 
berkeluh kesah sambil tersedu, bercerita tentang kesulitannya membesarkan Ucok 
yang masih kecil. Saat itu, Ucok juga sedang terserang batuk dan demam. 
Ia mengungkapkan kesulitannya bertahan hidup di jalanan dan risau dengan 
pendidikan Ucok kelak. Ia lalu memohon agar dibantu untuk menitipkan anak 
tersebut ke panti asuhan supaya pendidikannya dan masa depannya lebih terjamin. 
Selama beberapa waktu sejak peristiwa itu, kami ramai memperbincangkan 
keinginan ibu Pandia di milis. Ada yang mencoba mencarikan kesempatan pekerjaan 
untuk ibu itu sebagai pramuwisma di rumah temannya, sementara beberapa lagi 
mencoba mencari informasi tentang alternatif panti asuhan yang mungkin bisa 
menampung anak lelaki kecil itu. 
Sayangnya, solidaritas yang muncul di antara kita sontak menyurut lagi karena 
tiba-tiba ibu Pandia pun raib entah ke mana. Ada cerita ia tidak lagi tinggal 
menumpang di bedeng-bedeng di kolong jembatan itu. Ke mana ia pergi, tak ada 
yang tahu? 
Setahun sudah kehilangan jejak beliau, tak heran munculnya ibu Pandia di 
kebaktian sore itu membuat ingatan setahun lalu meruak kembali. Usai kebaktian, 
kucoba mengajak ibu Pandia berbincang-bincang lagi tentang keberadaannya selama 
ini, sembari mengamati Ucok kecil yang sedang mengikuti kelas sekolah Sabtu, 
kebaktian anak. 
“Ibu Pandia…Ucok sudah besar ya sekarang,” celutukku seraya mengamati Ucok yang 
sedang tertawa riang mewarnai aktifitas sekolah sabtu. 
“Ya…betul setahun lalu dia kelihatan kurus dan kecil, banyak orang nggak 
percaya kalau dia Ucok yang sakit-sakitan dulu” 
“Ibu Pandia sejak kapan tinggal di Jakarta, asalnya dari Sumatera ya, dari Karo 
ya?” 
“Ha...bukan, dulu saya memang pernah kerja dan hidup di Jambi. Ada rumah petak 
cuma nggak kerasan di sana. Lalu, aku ketemu anakku laki-laki, yang sudah 
besar, sudah 16 tahun tak ketemu. Tapi ya katanya anak, ya, kuterima saja 
sekalipun lupa-lupa ingat, tapi belakangan nggak tahan soalnya anak itu suka 
bawa teman anak-anak muda ke rumah jadi saya tinggalkan rumah lalu pergi, dan 
hidup di jalanan.” Ia berkisah kalau dulu pernah beberapa kali kawin, tapi 
cerai, anak-anaknya entah di mana ia kurang tahu.
“Lho..kok ibu pakai nama Pandia, itu kan salah satu marga dari Suku Karo di 
Sumatera Utara, dan mengapa anak itu disebut dengan Ucok?” 
“Nama saya BANDIA…..Be…bukan Pandia..wong saya itu orang Jawa, asalnya dari 
Yogya kok”. 
Sembari menutupi rasa malu karena telah salah sangka selama ini, saya menggumam 
“Ooooh…” 
“Nah…Ucok itu memang orang Batak,” imbuhnya lagi. 
“Haaa….kok bisssa bu, bukankah Ucok anaknya Ibu?” 
“Bukan, dia bukan anak saya sendiri, saya memang merawatnya sejak ia lahir, 
tapi ibu bapaknya orang Batak, dari Borong-borong (mungkin maksudnya kota 
Siborong-borong di Tapanuli Utara). Nama ibunya Rosida sejak hamil ia sudah 
bilang mau memberikan anak itu ke saya jadi waktu ia lahir, suster yang 
merawatnya membawa orok itu ke saya sembari bilang.’Ini si Ucok sudah lahir’. 
Jadi ya namanya sampai sekarang dipanggil Ucok saja” 
“Ibu bapaknya dimana sekarang?” 
“Ngga taulah..” 
“Lalu, ibu sekarang tinggal di mana?” 
“Di Pedongkelan dekat Kelapa Gading, sewa rumah petak” 
“Ibu kerja apa saja sekarang?” 
“Ngamen di prapatan jalan dekat situ, mangkal. Kalau capek aku suruh si Ucok 
menggantikanku nyanyi. Nyanyinya juga cuma bisa dua lagu, Heppi ye ye ye ye dan 
yang satu lagi Dengar Dia Panggil Nama Saya” (sembari beliau menyanyikan lagu 
itu dengan suara sumbang dan nada yang sudah berantakan).
“Lalu apa Ibu nggak ingin kerja, msalnya membantu pekerjaan rumah tangga?” 
“Wah, si Ucok itu kan suka jajan, suka nggak cukup” 
“Jadi kalau mengamen dapat berapa sehari?” 
“Empat puluh atau lima puluh ribu” 
“Wah lumayan juga ya…” 
“Ya, cuma saya itu suka malaslah kalau dapat segitu. Saya bisa dua tiga hari 
tidak mengamen, di rumah saja” 
Perbincangan itu pun usai seiring dengan selesainya ibadah sekolah Sabtu untuk 
anak. Ia pun bergegas pulang. 
Tinggal saya yang tercenung panjang, ingat akan realitas orang-orang 
terpinggirkan di Jakarta ini. Bagaimana cara kita mengulurkan tangan untuk 
mengurai persoalan Bandia-Bandia yang terserak di sekitar Jakarta?
Betapa kompleks permasalahannya. Ada soal hilangnya atau hancurnya nilai-nilai 
“keluarga” yang suka diagung-agungkan dalam standar manusia “beradab”, apalagi 
“beragama”. 
Ada soal pemanfaatan anak bawah umur demi mencari sesuap nasi, sebaliknya di 
sisi lain ada sentuhan kasih dari seorang Ibu yang rela mengasuh anak terbuang 
sekalipun ia sendiri terbuang dari masyarakatnya. 
Lalu, saat tebersit keinginan untuk mencoba “memanusiakan” dengan merumahkan 
atau mencarikan pekerjaaan sebagai pembantu rumah tangga (misalnya): 
Bukankah terbukti itu hanya akan mengekang ekspresinya sebagai pribadi merdeka? 
Bukankah sudah jelas upah sebanyak tiga ratus ribuan sebulan itu sudah tidak 
lagi relevan dibanding dengan penghasilannya di jalanan yang bisa meraup 
empat-lima puluh ribu sehari ditambah dengan kemerdekaan diri yang tetap 
menjadi hak mereka seutuhnya? 
Lalu bagaimana kita akan mengubah cara pandang mereka agar terbebas dari 
jalanan dan menjalani hidup yang lebih “layak”, lebih “manusiawi”? Bagaimana? 
Apakah kita cukup berdiam diri dengan potret yang terpampang di pelupuk mata? 
Cukupkah dengan khotbah tentang hidup yang benar seminggu sekali? Adakah bentuk 
pendampingan lain? 
Aku termangu…. 
Sementara itu, ada sayup-sayup terngiang suara, semakin lama semakin nyata dan 
semakin jelas terdengar: “………segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah 
seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk 
Aku”.
Aku masih saja termangu panjang… 

Akhir Mei 2004 
Penulis adalah anggota kelompok Metamorfosa
posted by job at 2:43 AM 0 comments 

Saturday, June 12, 2004
Nyanyian Seorang Gorga 
Oleh Job Palar
Wartawan Sinar Harapan

Nunga leleng hutadingkon tano hatubuankon, 
laho ahu mangaranto tu na dao…

arga do bona ni pinasa

(Sudah lama kutinggalkan tanah kelahiranku, 
aku pergi merantau ke tempat yang jauh…

Tanah kelahiranku inilah (ternyata) yang paling berharga)

Selanjutnya dengan bergaya, dia berjalan. Hendak ditunjukkan bahwa dia baru 
saja melanglang buana dari Eropa sana.
Ada kawan memanggil:

Gorga, Gorga. Ho doi? 
(Gorga, Gorga. Kaukah itu?)

Sejak itulah, Bonar Gultom memiliki nama baru, Gorga. Adegan di atas terjadi di 
sebuah pertunjukan di Kota Medan, pada 1969. Untuk pertama kalinya, Bonar 
Gultom muda diminta membuat sebuah pertunjukan besar berupa opera rakyat dengan 
memanfaatkan seni, musik, dan budaya Batak sebagai latar belakang.
Pertunjukan itu berjudul “Arga Do Bona Ni Pinasa”, yang menampilkan sebuah 
kisah tentang perbenturan budaya yang pada masa itu memang sedang 
hangat-hangatnya menjadi tema sosial.
Alkisah seorang pemuda yang meningkat dewasa, tapi merasa bosan dengan semua 
yang ada di sekelilingnya. Dia berusaha untuk meninggalkan semua itu dan 
berhasil. Dia melanglang buana, merantau mencari pengalaman, dan melihat 
hal-hal yang baru yang menurut pengertiannya semula pasti lebih bagus dari 
tanah asalnya.
Pemuda bernama Gorga ini ternyata tak sanggup mengingkari kenyataan, hujan emas 
di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Bagaimana pun 
keadaannya, negeri sendiri tetaplah yang terbaik. 
“Pemuda bernama Gorga itu saya yang ciptakan, dan saya yang perankan sendiri. 
Saya harus mengarang ceritanya sendiri berikut lagu-lagunya. Leila Sitompul 
memerankan sebagai kekasih Gorga, bernama Marlinang. Keterusanlah sampai 
sekarang si Marlinang itu menjadi istri saya,” Bonar Gultom berkisah dengan 
wajah cerah.
“Sampai sekarang istri saya masih disapa ‘Ibu Marlinang’ dan saya ‘Pak Gorga’.”
Bonar “Gorga” Gultom mengisahkan dengan penuh semangat bagaimana dia harus 
menciptakan gerak dan mempersiapkan panggung dengan dibantu oleh 120 orang 
anggota gereja. Mulai dari situlah timbul rasa kepercayaan diri. Anugerah yang 
diberikan Tuhan, menyanyi dan mencipta lagu, makin disadarinya. Bonar mulai 
berani memimpin paduan suara di gereja.
Pengakuannya, bakat menyanyi turun dari sang ibu. Hasrat menyanyi Bonar kecil 
yang meluap-luap melahirkan kisah-kisah nan unik. 
Suatu hari, saat ia sedang belajar di ruang kelasnya di Kelas 1 HIS (Hollands 
Inlandsche School), terdengarlah di ruang sebelah murid-murid sedang belajar 
bernyanyi. “Tanpa sadar, saya ikut nimbrung, nyanyi keras-keras. Guru saya 
kaget. Dia ingin marah, tapi tak jadi, mungkin karena suara saya yang bagus,” 
Bonar terbahak.
“Tapi akibat peristiwa itu, saya jadi sering maju ke depan kelas untuk 
bernyanyi.”
Yang paling berkesan baginya, adalah peristiwa di Siborong-borong saat Jepang 
berhasil mengusir Belanda dan ganti berkuasa, tahun 1942. Saat itu, Bonar 
berumur delapan tahun. 
Tentara-tentara Jepang datang untuk “menculik” dirinya. Latar belakang 
“penculikan” tak lain hanya karena tentara-tentara itu senang mendengarkan dia 
bernyanyi.
Bocah bernama Bonar ini dibawa keliling-keliling kota, ke restoran-restoran. 
Dia dinaikkan ke atas meja dan disuruh menyanyi lagu apa saja, baik itu 
lagu-lagu Batak, lagu-lagu gereja, maupun lagu berbahasa Jepang.
“Waktu itu yang ketakutan ibu saya. Saya sendirian kan nggak mengerti rasa 
takut. Jepang-jepang itu suruh saya menyanyi, karena saya suka, ya, menyanyilah 
saya,” katanya.
“Tapi ibu saya nggak kehilangan akal. Dia suruh anak-anak muda kampung untuk 
mengikuti Jepang-jepang itu.” 
Bonar kecil begitu menikmati semua petualangan yang terjadi hanya karena 
kegemarannya bernyanyi. Sebaris-dua baris lagu berbahasa Jepang masih 
diingatnya.
Bonar Gultom tak pernah terpikir sebelumnya mampu mencipta lagu. Ia menganggap 
kemampuan itu di luar jangkauannya. 
“Saya mulai mencipta lagu setelah majelis gereja dan pimpinan GKPI datang 
meminta saya membuat pertunjukan tentang Gorga itu. Mereka meminta saya membuat 
suatu pertunjukan yang jangan bersifat gereja agar cakupannya luas, padahal itu 
acara cari dana untuk gereja,” katanya.
“Anehnya, saya rencanakan itu semua nggak sampai satu bulan. Entah kenapa, saya 
begitu terinspirasi.”

Prestasi dan Kesetiaan
Prestasi akademik Bonar Gultom sangat baik, terutama untuk bidang penguasaan 
bahasa. Bonar menguasai bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Sempat pula ia 
mendapat nilai sepuluh untuk bahasa Jawa Kuna, namun sekarang yang dia ingat 
hanya satu-dua kata saja.
Setamat SMA di Medan, Bonar Gultom harus menghadapi tantangan yang cukup berat. 
Belum jelas baginya, hendak ke manakah kaki ini akan melangkah selanjutnya.
“Bapak saya pensiun dari camat, dana terhenti. Tapi terus terang, Tuhan itu 
sayang sama saya. Saya merasakan betul itu,” kata Bonar.
Prestasi yang sangat bagus di sekolah ditambah kemampuan menyanyi yang makin 
terasah membuat Bonar mendapat perhatian yang begitu besar dari para guru.
Salah satu gurunya bertanya,”Bonar, kau mau ke mana setelah lulus SMA?”
“Nggak tahu, Pak”
“Bagaimana kalau kau masuk sekolah guru saja.”
“Saya kurang minat jadi guru, Pak.”
“Kalau begitu kamu mau ke mana?”
“Kalau boleh, saya mau kerja saja, Pak.”
Entah apa yang menggerakkan para guru di SMA itu. Mereka kemudian berkumpul 
untuk membuat surat lamaran dalam bahasa Belanda, lalu dikirimkan ke seluruh 
perusahaan-perusahaan di Medan.
“Eh, berhasil! Ada maskapai perkebunan, namanya NV Vereenigde Deli 
Maatschappijen, yang memanggil saya untuk wawancara,” Bonar berkisah masih 
dengan nada terheran-heran.
Namun, garis hidupnya menyiratkan hal lain. Wawancara itu bukan sekadar 
wawancara penerimaan pegawai.
“Kau kok masih muda malah mau kerja?” si Belanda yang mewawancarai Bonar 
bingung. Berceritalah Bonar bahwa orang tuanya sudah tak sanggup membiayainya 
lagi. Sekonyong-konyong, muncullah pertanyaan yang menjadi tonggak penting 
kehidupan seorang Bonar Gultom. 
“Kau masih mau sekolah?” Belanda itu bertanya.
“Aku mau!” Bonar menjawab mantap.
“Kami rasa kami membutuhkan seorang ekonom, kau mau?”
“Mau sekali!”
Waktu itu, tahun 1956. Bonar masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di 
Salemba. Diakuinya, masuk universitas saat itu memang tidak sesulit sekarang. 
Dia cukup memperlihatkan ijazah SMA-nya yang dihiasi angka-angka akademik yang 
bagus itu, langsung diterima
“Pembayaran Rp 24.000 per tahun langsung dibayar si Belanda itu. Saat itulah, 
saya semacam menjalani ikatan dinas. Si Belanda ini hebat. Dia menghitung semua 
dengan terperinci apa saja yang saya butuhkan, sampai hal-hal kecil,” kata 
Bonar. 
Bonar menunjukkan kesetiaan yang luar biasa atas segala yang diberikan 
perusahaan yang membiayainya itu. Riwayat kariernya tercatat dengan jelas. 
Perusahaan tempat Bonar mengabdi memang diambil alih oleh pemerintah Indonesia, 
tapi Bonar tetap berkarya di sana, sampai masa kerjanya habis di Bandung.
“Saya menciptakan lagu Sunda waktu saya di sana,” katanya sambil mempraktikkan 
kefasihannya berbahasa Sunda.

Arbab
Kemampuannya makin terasah saat dia kuliah. Bonar mendapat kesempatan menjadi 
asisten dari dedengkot paduan suara gereja, E.L. Pohan. 
“Kita konser tiap tahun. Pak Pohan mempercayai saya untuk memimpin di setengah 
konser. Kalau dia menjadi dirigen lagu-lagu gereja, giliran saya lagu-lagu 
daerah. Jadi saya asisten dirigen dia,” kata Bonar.
Bonar Gultom juga memperlihatkan kehebatan teknik bernyanyi dengan menyabet 
beberapa gelar dalam festival-festival bergengsi. Sebut saja, Juara I Menyanyi 
Seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia (1958 dan 1960) dan Juara I 
Menyanyi Seriosa Bintang RRI baik di Medan maupun di Jakarta (1968).
Bonar Gultom mengaku tidak memiliki bekal formal dalam menciptakan lagu atau 
mengaransir lagu. “Cuma, saya memiliki kepekaan jika mendengar suatu lagu. Saya 
langsung bisa dapat nada untuk suara sopran, alto, tenor, atau bas, apalagi 
kalau lagunya bagus.”
Bonar Gultom telah menciptakan sekitar 120 lagu. Lagu-lagu ciptaannya menjadi 
langganan lagu wajib dalam berbagai lomba paduan suara.
Lagu Bonar Gultom yang melegenda di kalangan paduan suara adalah Arbab. Lagu 
itu begitu kental dengan nuansa Batak, dengan nada yang lincah dan 
melonjak-lonjak.
Harmonisasi pembagian suaranya—sopran, alto, tenor, bas—begitu enak terdengar. 
Jika paduan suara menyanyikan dengan suara yang tepat mengena pada nada, akan 
terasa seperti orkestra. Harmonisasi yang indah inilah yang membuat lagu Arbab 
menjadi semacam “lagu wajib” bagi paduan-paduan suara gereja, bukan saja dari 
tanah Batak.
“Saya sendiri nggak bisa bilang persis dari mana datangnya ide lagu itu, tapi 
saya yakin dari Tuhan,” katanya.
“Lagu Arbab saya ciptakan dalam perjalanan menuju TVRI untuk rekaman kaset. 
Lokasinya waktu itu di Kesawan.”
Seorang saudagar Cina begitu ingin merekam suara Bonar dan kawan-kawan. Baru 
ada beberapa lagu. Bonar berpikir keras di perjalanan. “Lagu apa yah buat 
ditambah di rekaman?”
Tiba-tiba, berloncatan nada-nada disertai syair dari mulut Bonar.
Da tama endehononku 
pamujionku di Debatangku
Ooooo

Lagu yang kemudian menjadi “lagu kebangsaan” paduan-paduan suara itu pun 
terlahir ke Bumi. Paduan-paduan suara gereja banyak yang menyanyikan lagu itu 
namun sudah dalam versi bahasa Indonesia. “Edisi” bahasa Indonesia pun tetap 
hadir dengan sangat baik dan tak kehilangan “roh”-nya. Tak lain karena Bonar 
sendirilah yang melakukan penterjemahan.
Tanggal 30 Juni 2004, Bonar Gultom genap berusia 70 tahun. Sebuah perayaan 
untuk menghormati dedikasinya sedang disiapkan oleh handai taulan. 
Bernyanyi menjadi suatu anugerah yang mengiringi dan sering kali mengubah 
perjalanan hidupnya. Dengan penuh rasa syukur, Bonar Gultom bertutur, “Tuhan 
telah mengizinkan saya menikmati hidup ini, sehat, masih bisa saya mencipta 
lagu, mengajarkan, dan menyanyikannya. Saya juga memiliki keluarga yang horas, 
selamat, sehat, dan cucu yang sehat-sehat untuk saya mengisi hari tua ini.”
Pencapaian Bonar Gultom sampai saat ini sangat tepat tergambar lewat syair 
lagunya sendiri, Arbab, versi bahasa Indonesia:

Jiwaku ingin bernyanyi, 
serta tubuhku menari-nari
Menunjukkan sukacita
Atas kasih Tuhan kepadaku

Dan, Bonar Gultom pun terus bernyanyi…. 
posted by job at 2:40 AM 0 comments 

Sunday, June 06, 2004
Dari Disensor Jepang, Dibom Sekutu, sampai Kerusuhan Ambon 
Oleh Izaac Tulalessy
Wartawan Sinar Harapan

JAKARTA-Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja 
Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal 
ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi 
dan melayani. 
Berdasarkan bukti-bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 
Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai 
Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang.
Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam 
Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 10–22 terungkap bahwa suatu tempat di 
mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota 
Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai “rumah Allah” atau “pintu gerbang 
surga”. 
Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya 
sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya “rumah Allah” atau 
“pintu gerbang surga”.
Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja 
yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan 
oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh 
pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala. 
Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun 
diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.

Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi 
berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada 
sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16. 
Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon 
menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat 
Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon. 
Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk 
ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua 
anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon. 
Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok 
berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan 
guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.
Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada 
tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut 
“Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937”. 
Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di 
tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat 
sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus 
merupakan pihak pelaksana program tersebut.

Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan 
masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan. 
Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat 
Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.
Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan 
umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat 
yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di 
antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang. 
Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan. 
Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang 
dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.
Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan, 
bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini 
masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal 
22–24 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur 
akibat dibom sekutu.
Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi 
ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR 
Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.

Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung 
berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan 
di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan 
(RMS) pada tahun 1950. 
Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat 
sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau 
Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.
Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang 
memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk 
mencari bentuk pelayanan baru. 
Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti 
gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja 
permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya 
pada tanggal 31 Oktober 1955.
Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat 
ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya 
terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran 
injil. Pelopor kegiatan ialah ibu-ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen 
Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil 
GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan 
Maluku pada tanggal 31 Desember 1956.
Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada 
tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi 
Jemaat GPM Bethel.

Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat 
daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan 
daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru. 
Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan 
pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963 
sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang 
daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung, 
serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah 
pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya 
efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan 
unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri 
dari 30–40 keluarga.
“Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor 
pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat 
sebanyak 6.925 jiwa. Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari 
1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu 
Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke 
tempat lain,” ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh 
kepada SH di Ambon.
Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan 
pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat 
dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan 
Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial 
dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM).
“Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi 
yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih 
menonjol,” jelasnya.
Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah 
pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat 
sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan 
Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.
Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat 
terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES 
melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan 
Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan 
Remaja.
Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh 
Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam 
rangka pelaksanaan tugas tersebut.
Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui 
persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang 
dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam 
maupun di luar jemaat.
Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah 
lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari oleh 
Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus 
posko-posko bantuan logistik bagi jemaat-jemaat yang membutuhkan bantuan 
darurat karena ditimpa kerusuhan.
Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini 
semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan 
melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap 
masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan. 

posted by job at 2:36 AM 0 comments 
Saturday, May 29, 2004
Leukemia Ini Tak Akan Membuatku Berhenti Bersyukur 
Oleh Keyta Sihombing

Duniaku saat ini adalah kotak isolasi berukuran sekitar 2x2 meter persegi di 
Rumah Sakit PGI Cikini. Sudah lima minggu aku berada di sini. Dokter telah 
memvonisku terkena leukemia.
Aku mengingat setiap momennya sampai vonis itu turun. Sebelumnya, aku menderita 
sakit maag yang sangat akut. Sebulan aku diopname karena demam terus-menerus di 
RS PGI Cikini. Aku harus mengikuti tes USG (Ultra Sonografi) untuk melihat apa 
sebenarnya yang terjadi dalam tubuhku, belum cukup juga ternyata untuk 
mengetahui apa sakitku. Aku harus menjalani endoskopi. Ternyata ada batu kecil 
di empedu. 
Lima minggu aku menghuni rumah sakit, sampai akhirnya aku diizinkan pulang ke 
rumah.
Tiga hari kemudian, tulang belakangku terasa sangat sakit. Aku menangis. Tulang 
belakangku seperti dipukul-pukul balok. Aku tak kuat. Aku tak mengerti sakit 
apa aku ini dan kenapa rasa sakit yang mengerikan ini menyerangku.
Aku ajak kakakku, Mekarti, ke dokter ahli tulang. Tadinya, kami hendak ke 
dokter di Pasar Minggu, terasa lebih mudah karena rumahku di kawasan Halim 
Perdanakusuma itu juga. Dokternya tidak bertugas di hari Rabu itu. Dia baru ada 
di hari Jumat.
Tak mungkin aku menunggu. Aku sudah tak tahan. Akhirnya aku ke RS PGI Cikini 
ini. Aku dianjurkan ke dokter endoskopi, namun oleh bagian endoskopi aku 
dirujuk ke bagian rematik. 
Serangkaian tes kujalani lagi. Dokter memvonisku anemia karena aku kekurangan 
darah merah, dan darah putihku banyak. Ternyata sel darah merahku 
(haemoglobin-Hb) rendah. Aku disuruh opname. Aku menolak. Aku trauma dengan 
ritual infus-menginfus ini. Sebulan lebih diinfus, tanganku bengkak. Aku 
memilih pulang saja.
Namun, kondisiku menjadi begitu dilematis. Aku bergumul dengan rasa sakitku 
yang semakin menjadi. Dua hari kemudian aku mendatangi rumah sakit lagi. 
Ternyata, Hb dalam tubuhku makin rendah.
Aku kembali menghuni rumah sakit. Hari ketiga aku dites BMP (diambil sampel 
sumsum tulang belakang). Kemudian, dokter akan memindahkan aku ke ruang 
isolasi. Aku sangat sedih. “Loh kok aku jadi mengidap penyakit menular, Dok?” 
asumsiku jika ditempatkan di ruang isolasi berarti aku terkena penyakait 
menular. Aku bilang, “Dokter tolong jujur, aku sakit apa?”
Profesor Karmel yang juga adalah dokter yang menanganiku (berikutnya aku sapa 
dengan “Profesor”) berkata,”Kau terkena leukemia.” Hasil periksa darah, 
terutama sampel yang diambil dari sumsum tulang belakang, memperjelas penyakit 
apa yang kuderita. Penyakit ganas yang menyerang sumsum tulang belakangku dan 
akan menyebar ke seluruh tubuh. Penyakit ini juga dikenal dengan kanker darah.
Ketika dibilang leukemia aku tidak kaget. Aku hanya terdiam. Ada rasa tak 
percaya. “Aku ini pendonor darah, Dok. Terakhir, aku donor daran bulan Desember 
2003. Nggak mungkinlah aku sakit itu,” kataku. 
Tiba-tiba di dalam hatiku, bahkan sampai detik ini, ada keberanian untuk 
menghadapi segala sesuatunya. Aku merasa tak gentar, mungkin karena aku sudah 
tidak merasa sakit lagi.
Tapi, aku masih bingung, kenapa aku harus masuk ke ruang isolasi. “Agar kau 
tidak terkena kuman-kuman yang di luar ini. Kau harus steril. Semua barang yang 
ada di sekitar kau harus steril juga, makanya kau masuk ke ruang ini,” demikian 
penjelasan Profesor. Aku mengerti sekarang. 
Setelah masuk ke ruang isolasi, aku diberi tahu akan menjalani kemo 
(kemoterapi). Komentar awalku,”Apa itu itu kemo?”. Aku pernah denger, tapi kan 
definisi dan penjabaran kemo itu apa, reaksinya seperti apa, bentuknya kayak, 
aku nggak mengerti. Saat Profesor menjelaskan bahwa nanti saya akan lemas, 
panas tinggi, pusing, dan lain-lain. Di situ ada rasa sedikit takut. 
Aku langsung nggak mau dikemo. Satu bulan kemudian badanku makin lemah. Tapi 
aku berdoa, “Ya Tuhan, aku beriman padaMu.”
“Profesor, aku tak perlu kemo, aku mau pulang saja.” 
“Kalau Keyta mau pulang, silakan,” kata Profesor. 
Namun, apa daya. Aku tak bisa pulang. Tulang-tulangku makin sakit, dan tubuhku 
melemah. Berdiri saja aku susah. Keluargaku yang membawaku pulang.
Setelah itu, ada seorang teman yangmenganjurkan aku ke dokter di Rumah Sakit 
Darmais. Namun, apa yang terjadi. Sang dokter malah menegurku,”Kok dibiarkan 
begini? Kenapa nggak dikonsultasi sama psikolog bahwa kamu tuh nggak mau 
dikemo? Kamu nih memang harus dikemo.”
Tapi saya tetap bersikukuh. Aku meyakini bahwa Tuhan pasti sembuhkan aku. Terus 
terang saja, aku jadi keras hati.
Tapi kondisi badanku tak bisa sekeras hatiku. Kondisiku makin drop. Aku malah 
lemas dan tak bisa bergerak. Bercak-bercak merah di badan mulai muncul. 
Akhirnya, aku minta pindah ke RS Darmais. Namun, keadaan berbicara lain. Mobil 
yang membawaku nggak bisa menembus rumah sakit karena banjir yang terjadi di 
Grogol dan sekitarnya. Akhirnya aku balik lagi pulang ke rumah.
Keesokan harinya aku kembali ke Darmais. Ternyata, aku nggak ditolong lagi, 
tapi dianjurkan langsung ke RS Cikini karena yang menangani aku tuh seorang 
profesor. Profesor Karmel. Akhirnya, aku menyerah. Aku balik ke RS Cikini dan 
bersedia untuk dikemo.
Saat menjalani kemo, aku nggak ada merasa takut. Aku yakin Tuhan besertaku. Aku 
serahkan diriku padaNya. Aku kuatkan diriku dengan berkata pada diriku sendiri 
bahwa dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milik Tuhan Yesus.
Puji Tuhan, selama kemo tujuh hari tujuh malam itu, aku nggak merasa apa pun. 
Rasa lemas, muntah-muntah, demam, dan lain-lain itu nggak ada. Aku merasa Tuhan 
menjamahku.
Ketika mau menjalani kemoterapi, aku memuji-muji Tuhan sekencang-kencangnya. 
Tubuhku dimasuki jarum suntik cukup lama, sekitar setengah jam, dan aku terus 
bernyanyi.
Mungkin orang lain berpikir aku kesepian di ruang isolasi ini. Tapi tidak, aku 
tidak kesepian. Dorongan besar dalam diriku untuk sembuh membuat semangatku 
selalu bernyala-nyala di “dunia kecil”-ku ini.
Pada dasarnya aku kan periang, suka membuat lelucon, suka ngomong. Dan aku 
seringkali menghabiskan waktuku dengan bernyanyi-nyanyi dan berpoco-poco di 
kamar ini. Aku bilang pada orang-orang, aku kuat kok.
Memang, saat aku pulang ke rumah sebelum masuk ke sini lagi, aku sempat 
menonton The Passion of the Christ. Aku mendapat kekuatan.
Saat ini usiaku sudah 39 tahun, November nanti usiaku akan masuk “kepala 
empat”. Aku tujuh bersaudara, kakak tertuaku, Mekarti, dan adik bungsuku yang 
sangat rajin mengurusku selama di sini. Tanpa mereka, aku tak tahu bagaimana 
jadinya.
Teman-teman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang juga begitu hebat 
mendukungku melewati masa-masa sulit ini. Aku aktif di gereja dari tahun 1992 
sebagai guru sekolah minggu. Aku ikut paduan suara. Aku berlatih musik 
kolintang padahal aku orang Batak. Lucu dan membangkitkan semangat rasanya, 
kalau aku mengenang masa-masa itu. 
Menurut kawan-kawan dan orang sekitarku, aku bisa menghidupkan suasana jika ada 
di tengah teman-teman. Dan saat ini, teman-temanlah yang membuat semangatku 
tetap hidup. Aku sangat bersyukur atas hal ini.
Aku juga memuji syukur padaNya karena aku merasa pribadiku berubah. Aku merasa 
lebih bertumbuh secara rohani. Aku sekarang tak mudah marah. Ada suster yang 
kadang ngeselin, namun berbagai hal yang aku telah lalui ini membuatku selalu 
ingin berdamai. Aku juga sekarang mendoakan orang lain yang sudah 
menecewakanku, aku mengampuni mereka bahkan meminta mereka diberkati dan 
diampuni Tuhan.
Dalam doa, aku mengucap syukur karena aku menyadari penderitaan Yesus lebih 
dahsyat dariku. Aku jelas nggak ada apa-apanya. Dan salah satu doaku yang 
terpenting adalah aku mengucap syukur karena diberi kekuatan menahan rasa sakit.
Aku juga tidak menyesal atas semua ini. Aku tetap setia padaNya, keluargaku 
jadi makin dekat denganku, teman-temanku benar-benar membangkitkan gairah 
hidupku.
Pernah aku dapat telepon dari Australia, dan si penelepon mengajak berdoa 
bersama. Astaga, pikirku, kok bisa sampai ke sana kabarnya. Ternyata 
teman-temanku telah menyebarkan berita tentang aku lewat milis-milis Kristen di 
Internet. 
Dana bantuan pun mengalir untuk menebus obat-obatku. Pekerjaan Tuhan sungguh 
hebat, dan aku betul-betul merasakannya. 
Dan jika Tuhan izinkan aku keluar dari sini, aku akan bersaksi tentang apa yang 
Dia buat untuk aku.

Ruang Isolasi IK II Gedung M2 
Rumah Sakit PGI Cikini

posted by job at 2:35 AM 0 comments 

Saturday, May 22, 2004
Gadis Kecil Itu Bernama Isaya 
oleh Peter Purwanegara

Aku teringat waktu itu aku masih bekerja di kedai kopi dengan posisi sebagai 
pelayan. Karena untuk menyelesaikan kuliah ternyata memerlukan biaya yang tidak 
sedikit. 
Aku bekerja di kedai tersebut karena ajakan temanku, Benny. Aku pikir aku punya 
waktu
dan masih perlu uang, maka kuterima ajakan tersebut.
Menjelang akhir tahun, tiba-tiba Benny menyodorkan sebuah brosur dengan ajakan 
membantu anak-anak kecil di dunia ketiga seperti di Asia, Amerika Latin, atau 
Afrika, yang dikelola oleh sebuah organisasi Kristen. Anak-anak kecil yang 
hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Mereka tak cukup makanan, tak cukup air 
bersih, tak ada obat-obatan dan mungkin mereka tidak akan pernah mendapatkan 
pendidikan pula.
"Ben, apa kau pikir aku kebanyakan uang ?"
"Ala, apa sih beratnya menyumbang dua puluh dolar sebulan. Kamu menyumbang dua 
puluh dolar sebulan tidak membuat kamu jatuh miskin. Dan kau harus berpikir 
bahwa sumbangan ini untuk menyelamatkan hidup seorang anak kecil" kata Benny 
dengan mencoba mempengaruhiku.
Aku terdiam. Aku tidak mengerti ucapan Benny itu. Aku hanya berpikir, karena 
uangku pas-pasan. Dan dalam hal sumbang-menyumbang, aku sudah memberi 
persembahan setiap Minggu di gereja. Masak sekarang mau ditambah lagi?
"Nih kamu tanda tangani di bawah sini. Dan kalau kamu nggak ada uang sekarang 
pakai uangku dulu," kata Benny. Aku seperti terhipnotis mendengar ajakan Benny 
tersebut.
Sekitar dua minggu kemudian aku mendapatkan balasan dari organisasi Kristen 
tersebut, disertai dengan sebuah foto dari seorang gadis kecil berusia lima 
tahun yang tinggal di sebuah negara di Afrika. Gadis kecil itu bernama Isaya.

***

Waktu terasa berlalu dengan cepat, aku pun telah lulus dari kuliahku. Aku masih 
berhubungan dengan Benny. Kami tidak hanya bertemu di gereja tetapi juga di 
tempat bekerja. Kami bersama-sama bekerja di perusahaan kimia tambang emas.
Sebagai sarjana yang baru lulus, tak ayal lagi aku bekerja mulai dari tingkat 
pemula. Demikian pula dengan Benny, dan kami bersyukur atas berkat Tuhan ini. 
Gaji tidak begitu besar, tapi uang tersebut dapat kami gunakan sesuai dengan 
kebutuhan kami.
Benny cukup aktif dalam pelayanan gereja. Dia pula yang sering mendorong aku 
untuk ikut pelayanan, ikut persekutuan dan mengingatkanku tidak patah semangat 
untuk membiayai Isaya, gadis kecil yang hanya kukenal lewat foto. 
Karena kesibukanku, sehingga aku tak terasa setiap bulan menyisihkan sebagian 
dari
gajiku untuk gadis kecil itu, yang dulunya aku merasa enggan untuk membantunya.
Bulan demi bulan telah lewat, musim demi musim berlalu. Tiga tahun sudah 
berlalu. Menjelang hari Natal sebuah kartu dikirim dari Afrika. Ternyata Isaya 
yang mengirim kartu Natal melalui organisasi Kristen tersebut. Selain selembar 
kartu Natal yang ditulis
oleh Isaya sendiri, tulisan tangannya agak kurang beraturan, tetapi aku masih 
dapat membacanya, di dalam amplop tersebut juga terdapat sebuah foto Isaya yang 
memakai seragam sekolah.
Tuan Christian yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Saya telah menerima surat 
balasan tuan Christian. Saya tidak lupa berdoa untuk kesehatan tuan Christian. 
Tuhan memberkati.
Terima kasih pula untuk boneka yang tuan Christian berikan. Saya menyukainya. 
Saya bermimpi suatu hari saya dapat bertemu dengan tuan Christian.

Isaya

Foto Isaya aku letakkan di atas lemari es bersama foto-foto yang sebelumnya 
telah dikirim oleh organisasi Kristen tersebut setiap tahunnya. 
Lagi-lagi Benny yang membuatku tidak habis pikir. Kebetulan kami berdua akan 
dikirim ke kantor cabang kami yang berada di Afrika selama tiga minggu. Lalu 
Benny mengusulkan padaku untuk mengunjungi anak-anak yang kami bantu melalui 
organisasi Kristen itu.
"Kapan lagi kamu bisa ke Afrika?" tanya Benny. "Ini kesempatan namanya."
"Ben, kita ke Afrika bukan dalam rangka bersosialisasi tetapi masih banyak 
pekerjaan yang harus kita selesaikan." kataku mengingatkan Benny.
"Apa salahnya sih kalau kita menyisihkan waktu kita untuk mengunjungi anak yang 
kita bantu. Aku yakin mereka akan sangat gembira sekali. Lagipula apa kamu 
tidak ingin melihat anak yang kamu bantu selama lima tahun ini bagaimana 
keadaannya?" sahut Benny menyakinkanku. Memang benar, kadang aku ingin tahu 
bagaimana sih keadaannya sekarang, anak yang kubantu itu.
Tahun ini usia Isaya mencapai sepuluh tahun. Dikatakan dalam surat terakhirnya, 
dia masuk sekolah kelas empat. Aku pikir ini pekerjaan Tuhan yang sungguh 
ajaib. 
Bagaimana tidak, aku yang tidak mengenal Isaya, kini aku mengarungi lautan yang 
jaraknya puluhan ribu kilometer dengan salah satu tujuan menemui gadis kecil 
itu. Aku juga bersyukur pada Tuhan yang telah memakai Benny untuk mengajakku 
membantu Isaya. 
Hatiku merasa berdebar untuk dapat bertemu dengan Isaya di rumahnya. Meski aku 
berkata dalam hatiku, aku hanya akan menemui seorang gadis kecil yang kubantu 
selama lima tahun ini. Tetapi entah kenapa, perasaanku tegang. 
Benny diajak oleh rombongan lain untuk menemui anak yang dibantunya di kampung 
lain. Aku sudah menemui ibu Isaya, seorang ibu yang sederhana, yang sedang 
mengasuh tiga orang adik Isaya. Kami menunggu Isaya pulang dari sekolah.
Jam dua belas lebih sepuluh menit, aku melihat seorang gadis kecil yang 
berseragam sekolah berjalan menuju arah kami. Isaya persis seperti yang pernah 
kulihat dari fotonya. Seorang gadis kecil yang berkulit kelam dengan rambut 
keritingnya yang dikepang dua. Roger Hartman, pengurus dari organisasi Kristen 
tersebut dan sekaligus yang mengantarku ke rumah Isaya, menghampiri Isaya 
terlebih dahulu dan bercakap dengan Isaya beberapa saat. Lalu ia menggandeng 
Isaya ke arahku.
"Halo, Isaya." sapaku.
Dia terdiam sesaat dan memandangku. Aku menghampiri untuk memberi salam. Roger 
menghampiri Isaya dan berbisik padanya. Isayapun maju menghampiriku dan 
memberikan tangannya untuk bersalaman.
Aku pun berjongkok membuka kedua tanganku memeluk Isaya. Dia membalasnya. Aku 
serasa mimpi. Inilah gadis kecil yang selama lima tahun hanya kukenal melalui 
koresponden surat dan tak pernah kubayangkan akan bertemu dengannya, sekarang 
aku memeluknya. Isaya memelukku erat. 
Kurasakan sesuatu yang hangat di leherku. Isaya terisak menangis, air matanya 
mengalir
di leherku. Aku tahu itu isak tangis Isaya yang bahagia. Mimpinya menjadi 
kenyataan. Hatiku tersentuh. Isaya menginginkan pertemuan ini terjadi. Seperti 
yang diceritakan oleh ibunya padaku.
"Tuan Christian, terima kasih?..terima kasih," ucap Isaya dengan agak kaku.
"Panggil aku Christian." aku tersenyum kepada Isaya.
Memang aku tak menyangka bahwa sumbanganku setiap bulan itu berdampak begitu 
besar atas diri Isaya dan keluarganya. Sebelumnya mereka tidak mempunyai kamar
mandi dan jamban sendiri, karena mereka tidak mempunyai biaya untuk 
mendirikannya. Setelah aku menyumbang, organisasi Kristen tersebut mulai 
membuat saluran air besih dan mendirikan kamar mandi serta jamban. 
Kamar mandi keluarga Isaya sekarang telah digunakan bersama dengan tiga 
keluarga tetangga lainnya. Isaya mempunyai seragam dan peralatan sekolah serta 
sepatu yang layak dipakai. Keluarga Isaya mampu membeli seekor sapi yang dapat 
diminum susunya dan sepasang ayam yang dapat dimakan telurnya.
Aku bersyukur pada Tuhan dapat membantu Isaya dan keluarganya. Aku tahu masih 
banyak Isaya-Isaya lainnya yang masih menunggu uluran tangan orang yang mampu 
dan
mau membantu mereka.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi 
Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku 
telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika 
Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku?..Aku berkata kepadamu, sesungguhnya 
segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang 
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Matius 25:35, 36, 40.

Vancouver, 18 Maret 2004


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke