From: "e-Konsel" <[EMAIL PROTECTED]>

                     -*- PENGANTAR DARI REDAKSI -*-

   Penyakit "Autis" sering menjadi perbincangan hangat di kalangan
   orangtua dan pakar kesehatan anak. Kurangnya informasi tentang
   penyakit ini sering membuat orangtua dicekam rasa takut dan kuatir,
   terutama jika mendapati anaknya dinilai memiliki tingkah laku yang
   aneh. Bahkan, ada orangtua yang berceletuk, "Lebih baik memiliki
   anak yang menderita bibir sumbing daripada menderita autis."

   Nah, apakah sebenarnya penyakit autis? Gejala-gejala apa saja yang
   patut diwaspadai untuk melakukan deteksi dini? Kami mengajak Anda
   menyimak e-Konsel edisi kali ini karena pokok bahasan yang kami
   sajikan dalam edisi ini adalah tentang penyakit autisme. Selamat menyimak. 
(Tes)

   Redaksi

*CAKRAWALA *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* CAKRAWALA*

                         -*- MENGENAL AUTIS -*-

   Banyak sekali definisi yang beredar tentang Autis. Tetapi secara
   garis besar, Autis, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi
   pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan
   interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada
   anak-anak biasa disebut dengan Autis Infantil.

   Schizophrenia juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik
   diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri:
   berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri.

   Tetapi, ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autis pada
   penderita Schizophrenia dan penyandang Autis Infantil. Schizophrenia
   disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada
   anak-anak penyandang Autis Infantil terdapat kegagalan perkembangan.

   Gejala Autis Infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun.
   Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang
   ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya sudah akan
   melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun.
   Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.

   Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak,
   digunakan standar internasional tentang autis. ICD-10 (International
   Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and
   Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autis
   Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia.
   Kriteria tersebut adalah:

   Untuk hasil diagnosa, diperlukan total 6 gejala (atau lebih) dari
   no. (1), (2), dan (3), termasuk setidaknya 2 gejala dari no. (1) dan
   masing-masing 1 gejala dari no. (2) dan (3).

   1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik.
      Minimal harus ada dua dari gejala-gejala di bawah ini:
      - Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai:
        kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-
        gerik kurang tertuju.
      - Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
      - Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain).
      - Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

   2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada
      satu dari gejala-gejala di bawah ini:
      - Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang.
        Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.
      - Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.
      - Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.
      - Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat 
meniru.

   3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam
      perilaku, minat, dan kegiatan. Minimal harus ada satu dari gejala di 
bawah ini:
      - Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat
        khas dan berlebihan.
      - Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas
        yang tidak ada gunanya.
      - Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.
      - Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

   Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam
   bidang: a. interaksi sosial,
           b. bicara dan berbahasa,
           c. cara bermain yang monoton, kurang variatif.

   Autis bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan
   Disintegratif Masa Kanak. Namun, kemungkinan kesalahan diagnosis
   selalu ada, terutama pada autis ringan. Hal ini biasanya disebabkan
   karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan
   autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas.

   Autis memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari
   berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di
   Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini
   dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, dimana
   penyandang autis ditangani secara lebih serius, persentase
   kesembuhannya lebih besar.

   Bila Anda membutuhkan informasi yang lebih detail tentang autis,
   silakan menghubungi alamat di bawah ini:

   - Pusat Pelayanan Gangguan Perkembangan Anak Fakultas Psikologi
     (P2GPA) Unika Soegijapranata Jl. Imam Bonjol 186 A, Semarang 50132
     Telp. (024) 554613

   - Perkumpulan Orangtua Pembina Anak Autistik (POPAA)
     Jl. Erlangga Tengah III/34, Semarang
     Telp. (024) 313083

   - Yayasan Autisma Indonesia
     Jl. Buncit Raya No. 55, Jakarta Pusat
     Telp. (021) 7971945 - 7991355

-*- Sumber diambil dari: -*-
   Kumpulan Artikel Psikologi yang terdapat di Situs Angelfire
   http://www.angelfire.com/mt/matrixs/psikologi.htm#Mengenal%20Autisme

*TIPS *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TIPS*

        -*- APAKAH AUTIS ITU DAN APA YANG BISA KITA LAKUKAN? -*-

   Autis adalah penyakit atau gangguan pada perkembangan otak yang
   diperkirakan menyerang 1 dari 1.000 orang di Amerika. Orang yang
   menderita autis biasanya kurang mampu berbahasa dan tidak mampu
   bergaul dengan lingkungan sosialnya. Sekitar 80% dari jumlah
   penderita autis adalah laki-laki. Mengapa demikian, alasannya tidak
   diketahui oleh para peneliti.

   Hal yang juga tidak diketahui adalah penyebab autis. Segala sesuatu
   dari perubahan genetik hingga kontak kandungan ibu dengan penyakit
   sampai ketidakseimbangan kimia telah dipersalahkan. Namun ternyata,
   faktor-faktor orangtua bisa diabaikan sebagaimana yang dianjurkan
   oleh beberapa peneliti.

   Walaupun diinformasikan bahwa mereka tidak ada hubungannya dengan
   penyakit anak mereka ini, beberapa orangtua terus-menerus mengatakan
   bahwa mereka merasa bersalah karena tidak mampu berinteraksi dengan
   anak mereka. Berikut ini adalah apa yang diketahui tentang autis.

   1. Kesulitan dengan kemampuan organisasi
      -------------------------------------
      Penderita autis lepas dari kemampuan intelektual mereka, ternyata
      memiliki kesulitan mengatur diri mereka sendiri. Seorang pelajar
      autis mungkin bisa menyebutkan tanggal-tanggal bersejarah setiap
      perang yang terjadi, namun selalu lupa membawa pensil mereka ke
      kelas. Murid-murid ini bisa jadi seorang yang sangat rapi atau
      paling jorok. Orangtua harus selalu ingat untuk tidak memaksakan
      kehendaknya pada mereka. Mereka hanya tidak mampu mengatur diri
      mereka sendiri tanpa pelatihan yang spesifik. Seorang anak
      penderita autis memerlukan pelatihan kemampuan mengatur dengan
      menggunakan langkah-langkah kecil yang spesifik supaya berfungsi
      dalam situasi sosial dan akademis.

   2. Seorang penderita autis memiliki masalah dengan pemikiran yang
      bersifat abstrak dan konseptual
      --------------------------------------------------------------
      Lepas dari apa yang dikatakan orangtua, beberapa penderita autis
      akhirnya memperoleh kemampuan abstrak, namun ada juga yang tidak.
      Pertanyaan: "Mengapa kamu tidak mandi?" nampaknya sesuai untuk
      dikatakan ketika sedang menghadapi anak yang tidak mau mandi.
      Dengan anak autis seringkali lebih baik menghindari kalimat
      pertanyaan yang mengundang perdebatan, sebaiknya Anda mengatakan:
      "Saya tidak suka kalau kamu tidak mandi. Ayo, masuk ke kamar
      mandi dan mandi sekarang. Kalau kamu butuh bantuan, saya akan
      menolongmu tapi saya tidak akan memandikan kamu." Hindari
      menanyakan pertanyaan yang panjang lebar. Para orangtua ataupun
      perawat harus sekonkret mungkin dalam seluruh interaksi mereka.

   3. Peningkatan tingkah laku tak wajar mengindikasikan peningkatan stres
      --------------------------------------------------------------
      Dalam banyak situasi, terutama situasi yang tidak akrab, akan
      menyebabkan stres sehubungan dengan perasaan atau hilangnya
      kontrol. Dalam kebanyakan contoh, stres bisa dikurangi ketika
      anak-anak diizinkan untuk keluar dari situasi yang menekan.
      Membuat program untuk membantu anak-anak menghadapi stres di
      sekolah sangat disarankan.

   4. Perilaku mereka yang berbeda janganlah diambil hati
      ---------------------------------------------------
      Penderita autis seharusnya tidak dianggap sebagai seorang yang
      selalu berperilaku menyimpang atau ingin menyakiti perasaan orang
      lain atau mencoba membuat hidup jadi sulit bagi orang lain.
      Seorang penderita autis jarang bisa bersikap manipulatif. Umumnya
      perilaku mereka merupakan hasil dari usaha mereka keluar dari
      pengalaman yang menakutkan, atau membingungkan. Penderita autis,
      secara alami karena ketidakmampuan mereka, memiliki sifat
      egosentris. Kebanyakan penderita autis menghadapi masa-masa sulit
      untuk bisa memahami reaksi orang lain karena adanya
      ketidakmampuan persepsi.

   5. Gunakan kata-kata dengan makna sesungguhnya
      -------------------------------------------
      Secara sederhana, katakanlah apa yang Anda maksudkan. Jika
      pembicara tidak sangat mengenal si penderita autis, sebaiknya
      mereka menghindari penggunaan: singkatan/panggilan, ejekan,
      kalimat bermakna ganda, idiom, dan sebagainya.

   6. Ekspresi wajah dan isyarat-isyarat lainnya biasanya tidak berhasil
      ---------------------------------------------------------
      Umumnya, mayoritas penderita autis memiliki kesulitan membaca
      ekspresi wajah dan mentafsirkan bahasa tubuh atau perilaku dengan
      kesan-kesan tertentu.

   7. Seorang penderita autis nampak tidak mampu mempelajari sebuah tugas
      -------------------------------------------------------------
      Ini merupakan sebuah tanda bahwa tugas atau tugas-tugas itu
      terlalu sulit baginya dan perlu disederhanakan. Cara lainnya
      adalah menghadirkan tugas-tugas itu dengan cara yang berbeda --
      baik secara visual, fisik, maupun verbal. Metode-metode ini
      seringkali diabaikan oleh guru-guru dan orangtua di rumah karena
      hal ini memerlukan kesabaran, waktu eksperimen, dan kemauan untuk
      mengubah metode atau kebiasaan lama.

   8. Hindari terlalu banyak informasi atau kata-kata
      -----------------------------------------------
      Para guru dan orangtua harus jelas, menggunakan kalimat-kalimat
      pendek dengan bahasa yang sederhana untuk menyampaikan maksud
      mereka. Jika anak-anak tidak punya masalah pendengaran dan bisa
      memperhatikan Anda, ia mungkin kesulitan memisah-misahkan apa
      yang diajarkan dan informasi lainnya.

   9. Tetaplah konsisten
      ------------------
      Persiapkan dan berikan sebuah daftar pendek pelajaran yang akan
      Anda ajarkan. Tulislah pada sebuah grafik. Datangi mereka setiap
      hari pertama-tama dengan anak yang muda. Jika perubahan terjadi,
      katakan padanya dan ulangi informasi tentang perubahan itu.

  10. Aturlah sikapnya
      ----------------
      Meskipun rasanya mustahil, adalah mungkin untuk mengatur sikap
      anak autis. Kuncinya ialah konsistensi dan pengurangan stres
      pada anak. Juga dianjurkan untuk melakukan penambahan sikap
      sosial yang positif dilakukan secara rutin.

  11. Hati-hati dengan lingkungan
      ---------------------------
      Dalam banyak contoh, seorang penderita autis bisa sangat sensitif
      dengan apa yang ada dalam ruangan. Cat tembok warna cerah atau
      dengungan lampu pijar sangat mengganggu bagi para penderita
      autis. Untuk membuat perubahan yang berarti, guru dan orangtua
      perlu waspada dan berhati-hati terhadap lingkungan dan masalah-
      masalah yang ada.

  12. Anak yang memiliki perilaku menyimpang atau terus-menerus
      membangkang merupakan sebuah tanda masalah
      ---------------------------------------------------------
      Sekalipun anak-anak kadang-kadang berperilaku menyimpang atau
      membangkang, seorang penderita autis seringkali bersikap demikian
      ketika dia kehilangan kendali. Ini bisa menjadi sinyal bahwa
      seseorang atau sesuatu di sekitarnya membuatnya marah atau
      terganggu. Hal yang sangat menolong ialah keluar dari lingkungan
      itu atau jika ia bisa menuliskan apa yang mengganggunya, tetapi
      jangan mengharapkan sebuah respon positif misalnya ia melanjutkan
      untuk mengerti apa yang sedang terjadi dan apa artinya. Metode
      keberhasilan lainnya adalah permainan peran dan mendiskusikan apa
      yang membuatnya marah atau berkelakuan buruk. Biarkan ia menjawab
      karena ia berpikir Anda akan meresponi tingkah lakunya.
      Memanfaatkan aktivitas ini akan menolong untuk mengurangi
      kepadatan sebuah situasi sehingga mengubah fokusnya dengan
      memperhatikan apa yang mengganggunya.

  13. Jangan menduga apa pun saat mengevaluasi kemampuan atau keahliannya
      -------------------------------------------------------
      Orang-orang yang menangani anak-anak autis melaporkan bahwa
      beberapa orang autis sangat pintar matematika, tetapi tidak mampu
      menghitung uang kembalian yang sederhana di kasir. Atau, mereka
      memiliki kemampuan mengingat setiap kata yang ada dalam sebuah
      buku yang dibacanya atau pidato yang ia dengar, tetapi tidak
      ingat untuk membawa kertas ke kelas atau dimana ia menaruh sepatu
      olahraganya. Perkembangan kemampuan yang tidak seimbang merupakan
      sifat autisme. Autisme, sebagaimana disebutkan di atas, tidak
      begitu diketahui atau dipahami dengan baik. Ini masih merupakan
      masalah yang membingungkan bagi orangtua, guru dan mereka yang
      bekerja dan mengobservasi anak-anak semacam ini.

  14. Kunci
      -----
      Kunci untuk bekerja dengan penderita autis ialah:
      BERSABARLAH, BERPIKIRAN POSITIF, KREATIF, FLEKSIBEL, dan
      OBJEKTIF.

   Tips tambahan bagi para orangtua:

   1. Temuilah dokter
      ---------------
      Jika Anda menduga anak Anda menderita autis, temui seorang dokter
      ahli dan mintalah diagnosa. Mintalah penjelasan kepada mereka dan
      tanyakan sebanyak mungkin pertanyaan yang menurut Anda perlu
      ditanyakan. Bersikaplah kritis! Jangan menunggu mereka memberikan
      informasi kepada Anda karena Anda akan menunggu begitu lama tanpa jawaban.

   2. Pelajarilah hak-hak orang cacat
      -------------------------------
      Biasakanlah diri dengan tindakan-tindakan orang cacat. Jangan
      takut untuk mengajukan permintaan pada dokter medis, sekolah,
      pengurus sekolah atau para guru. Mereka hanya akan melakukan apa
      yang diperintahkan atau diminta pada mereka. Dalam hal ini,
      kesabaran, kegigihan, pengetahuan, dan sikap menghormati akan
      memberikan hasil yang baik.

   3. Carilah bantuan
      ---------------
      Banyak anak cacat tidak pernah memperoleh bantuan karena orangtua
      mereka merasa takut dan malu. Ingat, tidak ada hal yang telah
      Anda lakukan yang menyebabkan kecacatan ini terjadi. Orang lain
      juga punya masalah yang serupa. Ada pertolongan untuk anak Anda.
      Teruslah mencari informasi.

   4. Bersabarlah
      -----------
      Jangan menyerah. Ingatlah bahwa anak Anda tidak suka bertindak
      seperti itu tetapi mereka hanyalah berusaha untuk mendapatkan
      perhatian dari dunia dan sekitar mereka.

   5. Jangan berulang-ulang berusaha melatih sebuah tugas kepada anak
      ---------------------------------------------------------------
      Penderita autis biasanya menolak perubahan aktivitas rutin.
      Memaksa anak autis melakukan sesuatu justru bisa jadi malapetaka.
      Lebih baik jika Anda melihat ia mengalami kesulitan, mundurlah
      dan cobalah untuk memecahkan tugas itu menjadi sesuatu yang lebih
      sederhana dan mudah dikerjakan. Ini artinya ia telah mencapai
      batasnya -- sebagaimana kita semua juga bisa demikian. Cobalah
      untuk memberikannya pilihan. Ini akan memberinya indera kontrol
      dan stabilitas diri.                                      (T/Sil)

-*- Sumber diterjemahkan dari: -*-
   Situs Faithwriters
   ==>  http://www.faithwriters.com/article-details.php?id=28047

*TANYA-JAWAB *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* TANYA-JAWAB*

                    -*- APAKAH ANAK SAYA AUTIS? -*-

   PERTANYAAN
   ==========
   Perkembangan putra sulung saya sangat memprihatinkan. Dia tak peduli
   dengan lingkungan sekitarnya dan lebih senang mengucilkan diri
   ketimbang bermain dengan teman-teman seusianya. Saya harus berteriak
   saat memanggil, untuk membuatnya menoleh ke arah saya. Tidak cuma
   itu, dia juga kurang 'nyambung' kalau diajak bicara. Apalagi kalau
   saya berkomunikasi lewat telepon, padahal usianya sudah 5 tahun.
   Awalnya, saya kira dia punya kelainan dengan telinganya. Tetapi
   setelah diperiksa, dokter bilang telinga anak saya baik-baik saja.
   Yang lebih mengkuatirkan, dia sanggup menangis berjam-jam jika
   sedang marah atau ngambek.

   Seorang teman mengatakan kemungkinan anak saya menderita autis.
   Ketika saya bawa ke dokter, diagnosanya menyatakan baru sebatas
   gejala dan anak saya disarankan ikut terapi. Yang ingin saya
   tanyakan, benarkah semua perilaku anak saya adalah gejala autis?
   Kalau ya, bisakah disembuhkan dan bagaimana perkembangannya setelah
   dia dewasa? Apakah autis berkait erat dengan keterbelakangan mental?

   JAWABAN
   =======
   Austis adalah gangguan perkembangan yang luas yang terjadi pada
   anak, dan bisa terjadi pada siapa saja. Anak yang menderita autis
   biasanya mengalami gangguan perkembangan di bidang komunikasi,
   interaksi, perilaku, emosi, dan sensoris. Gejala autis sudah tampak
   sebelum anak berusia 3 tahun, yakni:
   - tidak adanya kontak mata,
   - tidak menunjukkan respon terhadap lingkungan,
   - kurang dalam berhubungan dengan orang lain (misalnya dalam bentuk
     komunikasi non verbal yang lemah),
   - kurang ekspresif serta kurang beremosi.

   Selain itu, perkembangan bahasanya juga lambat. Misalnya:
   - jumlah kosa kata yang dikuasai sangat minim dan tidak sesuai dengan 
usianya,
   - kurang berinisiatif dalam berkomunikasi dengan orang lain,
   - penggunaan bahasa yang diulang-ulang,
   - kurang spontan,
   - mengulang-ulang gerakan dan sebagainya.

   Jika tidak dilakukan terapi, maka setelah usia 3 tahun perkembangan
   anak akan terhambat atau mundur, seperti misalnya, kurang mengenal
   suara orangtuanya dan kurang mengenal namanya.

   Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Namun diduga akibat
   gangguan neurobiologis pada susunan syaraf pusat, yaitu:
   - faktor generik,
   - gangguan pertumbuhan sel otak pada janin,
   - gangguan pencernaan,
   - keracunan logam berat,
   - dan gangguan autoimun.

   Mengenai kesembuhan penyakit autis, sebetulnya tergantung pada
   penyebabnya. Jika penyebabnya faktor gangguan pada otak, maka autis
   tidak dapat sembuh total, meski gejalanya dapat dikurangi dan
   perilakunya dapat diubah ke arah positif dengan berbagai terapi.

   Untuk anak Anda, sebelum menjatuhkan vonis autis, sebaiknya Anda
   membawanya ke psikiater anak agar bisa diperiksa secara lebih
   terarah. Dengan demikian, bisa diketahui apakah betul anak Anda
   menderita penyakit autis atau tidak. Ini dilakukan agar Anda bisa
   mengambil langkah ke depan secara lebih tepat. Anda juga dapat
   melakukan berbagai tindakan seperti, mengamati perilaku anak secara
   mendalam, mengetahui riwayat perkembangannya, melakukan pemeriksaan
   medis (kerjasama dengan dokter, psikolog), serta melakukan terapi
   wicara dan perilaku. Yang pasti, terapi ini bisa memakan waktu lama,
   sampai berbulan-bulan. Keberhasilan terapi itu sendiri tergantung
   diagnosa. Semakin dini diagnosa dilakukan, semakin tinggi
   keberhasilan pengobatan anak Anda. (PG)

-*- Sumber diambil dari: -*-
   Situs Parentsguide
   http://www.parentsguide.co.id/asktheexpert.php?ss=det&ID=15

*KESAKSIAN *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* KESAKSIAN*

                       -*- KEPONAKANKU AUTIS? -*-

   Pada 18 Maret 2005 lalu anak pertama kakak saya meninggal dunia.
   Tentu, kami sekeluarga, khususnya kakak dan suami kakak saya sangat
   terpukul karena peristiwa ini. Hampir semua keluarga dekat dan
   teman-teman kami menghibur dengan mengatakan bahwa ini adalah
   kehendak Tuhan dan pasti ada rencana yang indah di balik kematian
   Yudhist (nama anak itu). Sebenarnya, waktu itu saya shock sekali.
   Sekalipun saya sudah menerima keadaan itu, selama berhari-hari
   kesedihan itu tidak juga pergi dari hati saya. "Orang memang dapat
   dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah kehendak Tuhan karena
   mereka tidak mengalami sendiri sehingga mereka tidak dapat merasakan
   apa yang kami rasakan," itulah yang saya pikirkan selama berhari-
   hari. Namun, kemudian Tuhan membuka hati dan pikiran saya. Dia
   membuat saya mengerti bahwa ini adalah kehendak dan rencana-Nya.

   Benar sekali,... setelah kematian Yudhist, perhatian kami tertuju
   kepada Bintang, adiknya yang berusia kurang lebih 1,5 tahun. Dengan
   berjalannya waktu kami sekeluarga melihat ada sesuatu yang aneh pada
   dirinya. Dia sangat aktif (hiperaktif), dan pertumbuhan ataupun
   perkembangannya tidak sesuai dengan tahapan usianya, khususnya dalam
   hal berbicara. Bukan hanya itu saja, dia bahkan tidak pernah
   memperhatikan jika diajak bicara (tidak ada kontak mata). Dan,
   ibunya mengira dia autis. Hal itu membuat kami semua gelisah. Saya
   berpikir, "Apalagi ini?"

   Untuk membuktikan semua dugaan kami, sang ibu membawanya ke pusat
   pendidikan terapi autisme di Solo untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan
   dokter menyatakan bahwa keponakan saya itu sedang di ambang autis.
   Penyebabnya adalah kurang perhatian dan kasih sayang dari
   orangtuanya. Saya tersentak waktu mendengarnya. "Bagaimana dia bisa
   kurang kasih sayang?" Dengan penuh rasa sesal, ibunya bercerita
   bahwa selama ini, Yudhist dan Bintang mengalami pertumbuhan yang
   berbeda. Yudhist mendapat perhatian dan kasih sayang yang lebih
   banyak daripada Bintang. Orangtuanya selalu menganggap bahwa Bintang
   bisa dinomorduakan karena dia tidak pernah mengungkapkan aksi protes
   terhadap perlakuan orangtuanya. Hal itu menjadi kebiasaan, sehingga
   akhirnya Bintang tumbuh menjadi anak yang cuek, tidak peduli dengan
   keadaan, dan seolah-olah memiliki dunianya sendiri. Dokter
   mengatakan jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka Bintang akan
   benar-benar menjadi autis.

   Peristiwa ini betul-betul membuka mata saya. Mengingat janji Tuhan
   yang mengatakan bahwa segala sesuatu diizinkan terjadi untuk
   mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Hikmah di balik kematian Yudhist
   sedikit demi sedikit mulai dinyatakan-Nya. Terbayang di benak saya,
   "Bagaimana jika Tuhan tidak memanggil Yudhist, apakah Bintang benar-
   benar akan menjadi autis? Apakah orangtuanya akan menyadari hal ini?"

   Sekarang saya mulai mengerti. Dengan seluruh kemampuan, saya mencoba
   untuk mengerti semua yang terjadi, namun saya gagal untuk mengerti
   karena saya mengandalkan kekuatan sendiri. Dan, setelah saya
   memutuskan untuk merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat,
   saya mulai mengerti bahwa di balik kematian Yudhist ada rencana
   indah yang dikerjakan Tuhan bagi semuanya, khususnya bagi Bintang.
   Namun, ini juga bukan berarti demi kebaikan Bintang Tuhan mengambil
   Yudhist. Saya masih terus bergumul untuk mencoba mengerti hal-hal
   yang belum saya mengerti. Namun, saya yakin suatu saat nanti, entah
   kapan, Allah akan menyatakan semua yang belum saya ketahui.

   Beberapa bulan ini Bintang menjalani terapi di pusat pendidikan
   terapi autisme di Solo. Dan, selama menjalani terapinya, ia harus
   masuk setiap hari Senin hingga Jumat untuk belajar berinteraksi dan
   mengenali lingkungan. Selain itu, dia juga harus menjalani diet
   untuk tidak makan makanan yang terbuat dari tepung terigu.
   Terkadang, saya merasa kasihan melihatnya. Seharusnya, anak seusia
   dia paling suka dengan makanan yang bervariasi, termasuk yang
   terbuat dari tepung terigu. Namun, saya mengerti itu harus
   dijalaninya demi kesembuhannya.

   Satu hal yang membuat saya bersyukur, setelah beberapa bulan
   menjalani terapinya, Bintang menunjukkan perkembangan yang baik.
   Bintang mulai mengerti bahwa ada orang-orang di sekelilingnya yang
   sangat peduli dan sayang padanya. Rasa cueknya mulai terkikis
   meskipun belum 100% hilang, namun saya yakin pasti dia akan tumbuh
   menjadi anak yang normal asal kami terus berdoa dan bergantung pada
   pertolongan-Nya. Bintang mulai berbicara, mendengar, melihat, dan
   mengenal keluarganya ... saya senang saat dia memanggil namaku
   dengan "Cesa...". Hatiku bersorak mendengarnya. Sekalipun dia belum
   sembuh total, saya yakin dengan kasih sayang yang diberikan
   keluarganya, dia pasti akan sembuh total.

   Perkataan dan janji Allah adalah seperti emas yang murni dan perak
   yang teruji (Mazmur 12:6). Allah tidak pernah mengecewakan orang
   yang sungguh menanti-nantikan Dia dan sungguh berharap kepada-Nya.
   Terima kasih Tuhan.

-*- Sumber: -*-
   Kesaksian di atas ditulis oleh Tesa, Koordinator Publikasi YLSA

e-KONSEL*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*e-KONSEL

                          STAF REDAKSI e-Konsel
                        Ratri, Tesa, Evie, Silvi
                     PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
                          Yayasan Lembaga SABDA
                      INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
                           Sistem Network I-KAN
                       Copyright(c) 2005 oleh YLSA
                       http://www.sabda.org/ylsa/
                      http://www.sabda.org/katalog/
                      Rekening: BCA Pasar Legi Solo
                  No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
   Anda punya masalah atau perlu konseling? <[EMAIL PROTECTED]>
   Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
   dapat dikirimkan ke alamat:             <[EMAIL PROTECTED]>
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*
   Berlangganan: Kirim e-mail kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
   Berhenti:     Kirim e-mail kosong:  [EMAIL PROTECTED]
   Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
   ARSIP publikasi e-Konsel:  http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*


[Non-text portions of this message have been removed]



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke