From: Rosinta Hutabarat 

Jodoh 

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : PARAKALEO No. 4 Edisi: Oktober-Desember 2004
Penulis/Narasumber : Yakub B. Susabda, Ph.D
Penerbit : 
Halaman : 1-3

Memilih jodoh yang tepat bagi orang beriman, betul-betul suatu upaya penuh 
pergumulan. Mengapa tidak, karena hal menurut pimpinan Tuhan dalam hal jodoh, 
ternyata mempunyai sisi-sisi yang begitu kompleks. Allah adalah Allah yang 
hidup, dan ternyata tidak mengingin kan pergumulan yang sama pada setiap 
anak-anak-Nya. Kepada yang diberi banyak Ia menuntut banyak (Lukas 12:48b), 
dengan kata lain, kepada yang diberi sedikit Allah juga menuntut 
pertanggungjawaban yang sedikit. Sulit dipahami jikalau pada individu-individu 
tertentu Allah seolah-olah begitu longgar sehingga pernikahan dengan yang 
"tidak seiman"
 (yang jelas-jelas tidak sesuai dengan prinsip Alkitab -- 2Korintus 6:14) dapat 
dengan begitu mudah diselesaikan dengan membawa pasangannya kepada Tuhan. 
Sebaliknya, begitu banyak pasangan-pasangan seiman, bahkan dengan komitmen 
pelayanan rohani yang tinggi ternyata sepanjang hidupnya berurusan dengan 
berbagai masalah yang begitu sulit diselesaikan. Apakah mereka salah memilih 
jodoh? Mungkin juga tidak, tetapi coba perhatikan kasus di bawah ini.

Yuni (bukan nama sebenarnya) lahir dan dibesarkan dalam keluarga Kristen yang 
semuanya aktif di gereja. Yuni sendiri sudah ikut mengajar Sekolah Minggu sejak 
ia masih di bangku SMA, dan ia terus- menerus menduduki jabatan dalam 
kepengurusan di Komisi Pemuda gerejanya. Keluarga orangtua Yuni adalah keluarga 
yang akrab, saling mengasihi dan saling mendukung.
Sejak kecil ia merasakan betapa keterbukaan dan berbagi perasaan adalah 
pengalaman hidup sehari-hari. Tidak heran jikalau Yuni tumbuh menjadi pribadi 
yang gampang bergaul dan mempunyai banyak teman.

Aneh, tetapi mungkin memang sudah jodohnya, karena Yuni tertarik dan kemudian 
menikah dengan Toni (bukan nama sebenarnya) seorang penginjil muda yang brilian 
yang baru menyelesaikan kuliah S-2. Pacaran mereka berjalan baik-baik saja, 
karena keduanya memang tak suka ribut. Pada tahun pertama pernikahan mereka, 
Yuni sudah sering mengeluh tentang Toni yang terlalu pendiam dan lebih suka 
duduk di depan komputer daripada
ngobrol dengan Yuni. Ia melarang Yuni bekerja, karena takut menjadi batu 
sandungan bagi jemaat. Bahkan, bergaul dengan pemuda-pemudi di gerejanya 
dirasakan oleh Toni sebagai hal yang kurang pantas. Begitu juga kedekatan 
dengan ibu-ibu muda yang dianggapnya sebagai "kebiasaan ngerumpi" yang tidak 
baik. Toni ingin Yuni menjadi seperti ibu pendeta senior yang sehari-hari di 
rumah atau menemani suaminya dalam berbagai pelayanannya. Akibatnya, Yuni 
betul-betul tertekan dan tidak tahan. Ia kehilangan sukacita dan seringkali 
bertanya di dalam hatinya, "Apakah pernikahannya keliru? Apakah Toni sebenarnya 
bukan jodoh yang disediakan Tuhan baginya?"

Apakah yang dapat Anda lakukan untuk menghadapi teman dengan kasus seperti ini? 
Nah, beberapa prinsip di bawah ini mungkin dapat melengkapi Anda:

A.      Mengenal siapa klien Anda.
Melihat kasus di atas, rasanya Anda dengan mudah dapat mengenal siapa 
sebenarnya Yuni. Mungkin dapat dikatakan bahwa Yuni lahir dan dibesarkan di 
tengah keluarga Kristen yang cukup harmonis dan sehat sehingga ia dapat 
mengembangkan bakat dan kebutuhan sosial yang cukup sehat. Ia melihat dan 
mendambakan hubungan suami istri sebagai hubungan yang sifatnya pribadi, yaitu 
hubungan antardua pribadi manusia yang utuh dan saling membutuhkan.

Tidak heran jikalau ia menginginkan kedekatan pribadi dengan Toni, suaminya. Ia 
mempunyai kebutuhan primer "social- relational" yang dalam istilah Abraham 
Maslow disebut "love and belongingness". Ini adalah kebutuhan pribadi dari 
individu dengan fase kematangan yang cukup tinggi. Yuni mungkin mewarisi 
kebutuhan ini melalui pengalaman belajarnya sejak kecil. Dalam keluarga 
orangtuanya, hubungan antar individu yang akrab, diwarnai dengan canda, 
pengalaman bersama, dan kebiasaan membagikan perasaan dan pikiran menjadi 
realita sehari-hari.

[Abraham Maslow`s hierarchial needs merupakan manifestasi fase-fase kematangan 
pribadi seorang. Individu dengan kematangan pribadi paling rendah mempunyai 
kebutuhan primer "physical", kemudian lebih tinggi dari itu kebutuhannya adalah 
"security", lebih tinggi lagi barulah "love and belongingness". Di atas itu 
kebutuhan individu menjadi "self- esteem".
Lebih tinggi lagi dari "self-esteem" adalah kebutuhan "aesthetica", dan paling 
atas adalah kebutuhan individu yang sangat matang yaitu kebutuhan 
"selfactualization".]

Lain halnya dengan keluarga dimana Toni dibesarkan. Sayang sekali kita tidak 
mempunyai informasi cukup tentang itu. Mungkin kita dapat meraba jikalau Toni 
juga dari keluarga Kristen yang cukup baik dimana tanggung jawab sangat 
diutamakan. Mungkin dari kecil, ia dituntut untuk memikul tanggung jawab yang 
besar dengan risiko disiplin yang keras, yang...
banyak dikaitkan dengan Tuhan. Suatu bentuk orientasi hidup yang biasanya 
disertai dengan kurangnya kedekatan-kedekatan antar pribadi dalam keluarga. 
Alhasil, lahirlah seorang Toni, yang penuh tanggung jawab, tak mau menjadi batu 
sandungan, karena memang kebutuhan primernya adalah "sukses dalan pelayanan". 
Baginya, ngobrol, bertukar pikiran adalah pemborosan waktu. Toni tidak 
membutuhkan Yuni sebagai satu pribadi yang utuh yang dapat diajak bersekutu. 
Baginya, fungsi dan peran Yuni itulah yang terpenting.

Jadi, pasangan Toni dan Yuni ini adalah pasangan dari dua individu yang 
masing-masing mempunyai kebutuhan primer yang berbeda. Toni tak mungkin dapat 
membahagiakan Yuni, begitu juga sebaliknya, jikalau masing-masing tidak 
menyadari bahwa pernikahan adalah komitmen hidup bersama dengan tujuan-tujuan 
(objective pernikahan Kristen) yang hanya bisa tercapai melalui adaptasi. Dalam 
pernikahan, akomodasi hanya terbentuk melalui kerelaan menanggalkan 
bagian-bagian dari diri dan mengadopsi hal-hal baru yang selama ini belum 
dimilikinya. Tentu, Yuni tak perlu belajar untuk mengadopsi kebutuhan 
"aesthetica" dari Toni yang ternyata keropos tanpa mode "love and 
belongingness". Yang diperlukan Yuni adalah
kemampuan menyesuaikan diri, yaitu spirit empati penerimaan dan pengertian atas 
kekurangan Toni. Lain halnya dengan Toni, ia harus belajar untuk membutuhkan 
dan menerima Yuni sebagai satu individu yang utuh, yang perasaan dan pikirannya 
patut diresponi secara pribadi.

B.      Mengenal area-area pertumbuhan.
Toni dan Yuni bisa ditolong untuk saling mengenal keunikan masing-masing dan 
bahkan dilatih untuk beradaptasi saling memberi kebutuhan primer masing-masing. 
Meskipun demikian, kesadaran tersebut tidak dengan sendirinya akan membuahkan 
pertumbuhan yang positif, kecuali mereka masing-masing mengenal area-area 
pertumbuhan yang sedang mereka
kerjakan. Area-area pertumbuhan ini bisa menjadi pegangan bagi konselor untuk 
menemukan arah dari pelayanan konselingnya.

PERTAMA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan hukum alam atau hukum 
kewajaran hidup (laws of nature). Jikalau Toni berani menikahi Yuni, dia 
seharusnya tahu bahwa dia adalah tulang punggung, "bread winner" (pencari 
nafkah) yang dapat memberi kebutuhan kebutuhan primer untuk seluruh keluarga, 
bahkan memberi rasa aman dan bahagia pada Yuni. Begitu juga Yuni, jikalau ia 
berani menikah dengan Toni, dia harus rela untuk menjadi ibu rumah tangga yang 
merawat, menghormati dan melayani suaminya. Itulah hukum kewajaran hidup yang 
semua orang harus patuhi.
Penolakan terhadap hukum ini biasanya menjadi pertanda perlunya terapi yang 
lebih profesional.

KEDUA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan hukum hati nurani (laws of 
conscience). Untuk menolong mereka, konselor juga harus mempunyai pegangan 
apakah mereka mematuhi hukum hati nurani atau tidak. Sebagai contoh, Toni, 
sebagai suami seharusnya mempunyai kesadaran hati nurani bahwa berada di depan 
komputer tanpa menghiraukan Yuni selama berjam-jam adalah hal yang tidak wajar. 
Begitu juga Yuni, seharusnya peka bahwa menunggu dan menuntut perubahan dari 
pihak Toni saja adalah tidak fair.

KETIGA adalah area pertumbuhan yang sesuai dengan tuntutan hukum Allah (God`s 
laws). Tuntutan ini hanya diberikan untuk orang- orang percaya, karena kepada 
mereka sajalah Allah memberikan Roh Kudus untuk menolong meresponi secara 
positif tuntutan yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Sebagai anak 
Tuhan, Toni seharusnya sadar bahwa sebagai kepala keluarga kepemimpinannya 
seharusnya dihargai dan menghasilkan dampak hormat dan kasih dari seisi rumah 
tangganya (1Timotius 3). Begitu juga Yuni, seharusnya ia sadar bahwa sebagai 
istri panggilannya adalah menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya (Kejadian 
2:18).

C.      Mengenal keunikan anugerah Allah yang disediakan bagi orang-orang 
percaya.
Sampai sekarang, banyak konselor Kristen yang masih belum menyadari hak 
istimewa yang Tuhan sediakan bagi orang-orang percaya. Akibatnya, tanpa 
disadari arah dan isi pelayanan konseling Kristen seringkali tidak berbeda dari 
konseling sekuler. Secara khusus dalam kasus Toni dan Yuni di atas, sebagian 
besar konselor akan memakai "kasih yang alami" sebagai
pegangan untuk menyatukan mereka berdua. Toni mencintai Yuni dan begitu juga 
sebaliknya, dan konselor akan menstimulir kasih tersebut sebagai modal untuk 
membangun hubungan yang harmonis, saling menyesuaikan diri dan saling memberi 
kebutuhan masing- masing. Itulah kira-kira yang konselor-konselor selalu 
usahakan.

Apakah konseling dengan prinsip seperti ini akan berhasil? Ya, ada kemungkinan 
berhasil, khususnya bagi individu-individu yang sehat dan matang jiwanya. 
Individu yang sehat dan matang jiwanya hanyalah membutuhkan stimulan dan 
situasi yang baru dimana mereka dapat
berinteraksi dengan peran-peran yang baru pula. Dengan kata lain, kalau mereka 
diingatkan dengan cepat mereka akan membenahi diri dan mampu beradaptasi. 
Karena masalah yang mereka hadapi hampir selalu hanyalah sistim yang terbentuk 
di luar kesadaran mereka.

Lain halnya dengan individu yang kurang matang jiwanya. Konseling dengan 
bermodalkan "kasih yang alami" saja akan sia- sia walaupun klien-klien tersebut 
merasa saling mencintai dan menginginkan kehidupan pernikahan yang harmonis. 
Nah, dalam konteks kemungkinan seperti inilah konselor perlu betul-betul 
menyadari dan menggantungkan diri pada keunikan
anugerah Allah yang disediakan bagi orang-orang percaya. Mengapa demikian?

Sebagai orang Kristen kita mengenal empat macam love, yaitu Phileo (kasih 
antara saudara), Storge (kasih orangtua), Eros (kasih antara laki-laki dan 
wanita), dan Agaphe (kasih Allah). Semua natural love hanyalah perpaduan dari 
ketiga macam love yang pertama. Sehingga, apa
pun dan bagaimanapun level kematangan love tersebut, tetapi sifatnya 
manipulatif dan pusat nya pada diri karena spiritnya adalah pemenuhan kebutuhan 
individu itu sendiri. Kalau individu klien berada pada fase kematangan 
terendah, misalnya, maka seperti yang dikatakan A. Maslow, kebutuhannya adalah 
physical. Nah pada level ini, kata "I love you", tak lain daripada "I love you 
karena kamu bisa memberikan kebutuhan physical yang saya butuhkan". Kamu 
cantik, sexy, atau kaya sehingga kamu bisa memberikan uang yang banyak, rumah 
yang bagus, mobil yang mewah, dan sebagainya. Lain halnya, dengan individu pada 
fase ke-2, yaitu fase dengan kebutuhan primer "security". 
Kalau ia mengatakan "I love you", artinya adalah "I love you karena kamu bisa 
memberikan kebutuhan rasa aman dalam jiwa saya". Kamu pribadi yang setia, tak 
suka main perempuan,
rajin bekerja, penuh tanggung jawab sehingga menikah dengan kamu jiwa saya 
aman. Begitulah seterusnya, semua natural love adalah manifestasi kebutuhan 
pribadi, bagaimanapun level kematangan jiwanya. Individu dengan kematangan jiwa 
paling tinggi pun rasa cintanya manipulatif.
Mungkin ia bisa menjadi pemenang Nobel perdamaian, tetapi jikalau ia mengatakan 
"I love you" sebenarnya masih manipulatif karena artinya "I love you karena 
kamu bisa memberikan kebutuhan "selfactualization" padaku". Kamu rela, bahkan 
mendukung keinginanku mati untuk prinsip kebenaran yang kuyakini. Sekali lagi 
arah dari natural love ini pun "centripetal" ke dalam, untuk pemenuhan 
kebutuhan jiwanya sendiri. Tidak heran jikalau Paulus mengatakan bahwa orang 
yang rela mati dibakar untuk orang yang dia cintai pun, tanpa kasih agaphe dari 
Allah dalam Kristus perbuatannya sia- sia, kosong, hanya seperti gong yang 
berdengung
(1Korintus 13).

Memang kehadiran kasih agaphe juga ditandai dengan fenomena "kesabaran, 
kebaikan, penguasaan diri, dan sebagainya (1Korintus 13)," tetapi semua 
fenomena itu unik dan tak sama dengan yang muncul dari natural love. Oleh sebab 
itu, Paulus menyebut itu semua sebagai buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23).

Nah, kembali pada kasus Toni dan Yuni, saya doakan supaya sebagai konselor 
Kristen, Anda dapat mensyukuri keunikan anugerah yang disediakan bagi 
orang-orang percaya. Toni dan Yuni tak perlu mempertanyakan "apakah pasangan 
mereka bukan jodoh yang Tuhan sedia kan", karena apa yang sudah diijinkan Allah 
untuk menyatu sebagai suami istri tak boleh diceraikan baik itu secara 
emosional maupun faktual (Matius 19). Persoalan mereka akan teratasi jikalau 
mereka dapat menerima dan meresponi kasih agaphe yang sudah dianugerahkan Allah 
pada mereka.

Tuhan memberkati setiap anak Tuhan yang rela berjerih payah di dalam 
kebenaran-Nya.


Jodoh (Perspektif Psikologis)
Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin :
PARAKALEO No. 4 Edisi: Oktober-Desember 2004
Penulis/Narasumber : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D
Penerbit :
Halaman : 3-4

Perjodohan memang masalah yang pelik. Berapa banyak di antara kita yang begitu 
yakin akan jodoh kita sebelum menikah namun mengalami kebingungan setelah 
menikah? Sebelum menikah dengan pasti kita mengatakan bahwa dia adalah jodoh 
kita tetapi setelah menikah, dengan keyakinan yang sama kita berkata bahwa dia 
bukan jodoh kita.

Salah satu kesalahpahaman yang acap muncul adalah keyakinan prematur bahwa 
seseorang yang baru kita jumpai adalah jodoh kita. Saya mengatakan prematur 
sebab kita mengklaim bahwa dia adalah jodoh kita jauh sebelum kita memastikan 
adanya kecocokan. Bahkan ada di antara kita yang langsung mengklaim "Dia adalah 
jodoh saya!" pada pertemuan pertama.
Terlalu tergesa-gesa dan tidak bijaksana!

Klaim bahwa seseorang adalah jodoh hanya boleh kita ajukan setelah kita 
berhasil membangun kecocokan, bukan sebelumnya. Jodoh adalah akhir bukan awal 
dari proses menyesuaikan diri untuk mencapai kecocokan. Dalam praktik konseling 
kerapkali saya mendengarkan keluh kesah orang yang menyesali nasibnya karena 
telah memilih pasangan yang keliru. Masalahnya adalah kadangkala saya harus 
mengiyakan bahwa memang mereka telah keliru memilih pasangan hidup. Begitu 
banyak perbedaan yang diabaikan dan begitu banyak peringatan yang 
dikesampingkan demi memenuhi hasrat untuk menikahi si jantung hati. Malangnya, 
setelah pernikahan si jantung hati ternyata lebih banyak menimbulkan sakit hati.

Kecocokan antara dua orang yang berbeda sudah tentu merupakan hasil kerja keras 
yang tak kenal lelah, namun sebelumnya diperlukan kriteria yang jelas dan 
tepat. Kriteria adalah saringan pertama menuju pelaminan; saringan kedua adalah 
kecocokan. Jika pasangan tidak memenuhi kriteria, jangan berharap kita akan 
mampu menjalin kecocokan. Kadang saya melihat kebalikannya: Sudah tahu tidak 
memenuhi kriteria namun terus berusaha mencocok-cocokkan. Hasil akhirnya adalah 
kefrustrasian dan keputusasaan.

Suami seperti apakah yang layak kita pertimbangkan dan istri seperti apakah 
yang seharusnya kita perhitungkan? Kepada Saudara yang belum menikah saya ingin 
membagikan kriteria pemilihan pasangan hidup yang saya timba dari Efesus 
5:22-33. (Sudah tentu termaktub dalam kriteria ini bahwa Saudara hanya akan 
memilih pasangan yang seiman dalam Kristus.) Kepada Saudara yang pria, inilah 
kriteria dasar yang layak Saudara pertimbangkan tatkala memilih istri: Carilah 
wanita yang takut akan Tuhan dan takut akan Saudara. Kepada Saudara yang 
perempuan inilah kriteria yang layak Saudara pertimbangkan dalam memilih suami: 
Carilah pria yang mengasihi Tuhan dan mengasihi Saudara.

Ketundukan kepada suami haruslah berawal dari dan berdasar pada ketundukan 
kepada Tuhan. Tidak selalu kita dapat tunduk dengan mudah kepada suami (atau 
kepada siapapun) namun jika kita tunduk kepada Tuhan yang meminta kita untuk 
tunduk kepada suami, maka ketundukan kepada suami akan lebih dimungkinkan. 
Ketundukan merupakan sikap yang keluar dari karakter pribadi; jika kita 
berkarakter keras, kepada siapa pun kita akan sulit untuk tunduk, termasuk 
kepada Tuhan. Jadi, kita mesti membangun karakter yang bersedia tunduk dan 
Tuhan adalah pihak pertama yang kepada-Nya kita tunduk, setelah itu barulah 
kita tunduk kepada manusia, dalam hal ini kepada suami.

Ketundukan, tidak bisa tidak, berkaitan erat dengan takut. Takut sudah tentu 
tidak sama dengan ketakutan sebab ketakutan merupakan reaksi terhadap perasaan 
diteror. Tuhan tidak meneror kita, jadi, tidak seharusnyalah kita ketakutan 
kepada Tuhan. Kita perlu merasa takut
kepada Tuhan dan dari rasa takut ini muncullah ketundukan dan hormat 
kepada-Nya. Demikian pulalah terhadap suami. Istri mesti memiliki rasa takut 
kepadanya karena tanpa rasa takut, ia akan sulit menghormati dan tunduk kepada 
suami. (Saya membayangkan betapa sulitnya bagi istri yang "berani" kepada suami 
untuk takluk kepadanya.) Jadi, kepada wanita saya ingin membagikan nasihat, 
carilah suami yang dapat Saudara hormati dan
kepadanya Saudara takut. Ini akan memudahkan Saudara tunduk kepadanya "dalam 
segala sesuatu."

Tunduk juga berkaitan dengan hormat. Biasanya kita hanya akan menghormati orang 
yang kita kagumi dan salah satu hal yang menggugah kekaguman kita adalah 
karakter yang berintegritas. Kepada pria saya ingin mengingatkan, bangunlah 
karakter yang baik dan berintegritas karena inilah yang akan mengundang respek 
sejati. Janganlah Saudara
mencari wanita yang tunduk kepada Saudara karena ia tidak mandiri dan justru 
memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang lain. Memang, ia takut kepada 
Saudara namun bukan karena kagum, melainkan karena terancam bahwa ia tidak 
dapat hidup sendirian dan membutuhkan pelindung. Ini bukanlah dasar yang baik. 
Sebaliknya, janganlah Saudara menjadi teror bagi istri dan membuatnya 
ketakutan. Suami yang berbahagia adalah suami
yang mendapatkan istri yang takut bukan ketakutan kepadanya sebab dari rasa 
takut inilah akan muncul respek dan ketundukan.

Sekarang kepada istri saya mengimbau, carilah suami yang mengasihi Tuhan dan 
mengasihi diri Saudara sepenuhnya. Pria yang mengasihi Tuhan akan mengutamakan 
Tuhan dalam hidupnya dan akan berupaya keras hidup menyenangkan hati Tuhan. Ia 
tidak ingin berdosa sebab ia tidak ingin mendukakan hati Tuhan yang mengasihi 
dan dikasihinya. Ini adalah
karakteristik yang harus dicari oleh wanita. Karakteristik kedua yang harus 
Saudara temukan ialah carilah suami yang mengasihi Saudara sepenuh hati. 
Artinya, ia hanya mencintai Saudara dan ia begitu mengasihi Saudara sehingga ia 
senantiasa ingin memberi yang terbaik kepada Saudara.

Jadi, kepada suami, saya mengimbau, carilah istri yang Saudara sangat cintai, 
bukan sekadar mencintai. Bagi Saudara ia adalah satu- satunya wanita yang 
Saudara inginkan dan tidak ada lagi selain dirinya yang Saudara rindukan. 
Kepadanyalah Saudara ingin memberi bagian terbaik dari hidup Saudara dan 
bersamanyalah Saudara ingin membagi hidup ini. Salah
satu cara menguji cinta adalah dengan melewati rentang waktu yang relatif 
panjang, paling tidak setahun. Dalam kurun itu cinta tidak boleh berkurang, 
sebaliknya cinta makin harus bertumbuh dan mendalam. Dengan cinta yang kuat dan 
dalam itu barulah Saudara melangkah ke pelaminan.

Kita tidak dapat memprediksi akhir pernikahan, tetapi kita bisa memastikan awal 
pernikahan baik atau buruk. Pernikahan yang baik dimulai dengan takut akan 
Tuhan dan takut akan suami serta oleh kasih akan Tuhan dan kasih akan istri. 
Inilah saringan pertama perjodohan; setelah lulus kriteria mendasar ini barulah 
kita melangkah bersama membangun kecocokan. Jika kita berhasil melewati 
saringan kedua, silakan masuk ke dalam pernikahan yang Tuhan berkati dengan 
damai sejahtera.

Sinta 
5421-8888  (Ext. 3155) 
[EMAIL PROTECTED] 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke