From: job palar 

Waktunya Allah
Oleh HG

Sinar Harapan, 3 September 2005, halaman 5

Kami tiga bersaudara dan semuanya perempuan, dan usia kami hanya terpaut 
masing-masing dua tahun. Aku anak yang paling besar. Sejak kecil kedua orang 
tua kami bekerja, dan kami setelah pulang sekolah hanya tinggal bertiga, dengan 
pesan bila ada kebakaran di kiri harus lari ke kanan, demikian pula sebaliknya. 
Saya juga selalu diingat jika ada kebakaran untuk membawa surat-surat saja dan 
juga menuntun kedua adik. Begitulah hidup yang kami jalani dari tahun ke tahun.

Sampai suatu hari ketika aku duduk di bangku SMEA kelas 2 di tahun 1984, adikku 
yang kedua, Yaya, mengamuk di rumah dan membalikkan meja yang berisi makanan 
tepat di malam tahun baru Imlek. Akhirnya, semua menjadi hancur berantakan. 
Papa kalap dan akan
mencekiknya, untungnya dapat dilerai oleh temanku yang kebetulan datang ke 
rumah. 

Yaya kabur saat itu juga. Mama memberi saya sedikit uang untuk mencari Yaya dan 
membawanya ke RS Carolus. Di malam itu, saya bingung. Kalau Yaya tidak ditemukan
saya takut dia hanya berkeliaran di jalanan. 

Bagaimana kalau dia dijahati orang? Bagaimana kalau dia telanjang? Semua 
terlintas di pikiranku, tapi aku hanya bisa berdoa pada Tuhan. Aku tidak ingin 
adikku telantar seperti orang yang tidak punya keluarga dan masa depan.

Akhirnya aku berhasil menemuinya. Aku bujuk dia naik bajaj dan aku bawa ke RS 
Carolus. Yaya masuk ke ruang UGD. Dia disuntik agar tenang  dan bisa dibawa 
pulang.
Tapi aku mengatakan pada pihak rumah sakit, aku tak bisa membawa Yaya pulang 
karena papa masih marah. Aku meminta Yaya dirawat saja dulu. 

Yaya pun dirawat dan hampir 2 bulan ia mendapat perawatan di bagian psikiatri. 
Sayangnya, ia dicampur dengan orang yang benar-benar sakit jiwa. Sejak saat 
itu, Yaya sangat benci pada kedua orang tua kami, dan hanya mau menurut apa 
yang aku katakan. Yaya tidak mau
berbicara pada orang tua. Ini membuat mama sangat sedih dan mama kadang sampai 
kejang-kejang juga.

Memang pada saat SMP kelas 1, Yaya sudah mulai kelihatan agak aneh. Karena 
orang tua sibuk, kami tidak memperhatikan perkembangannya dan ia tidak pernah 
cerita apa yang dirasakannya. Mungkin malam itu, dia sudah tidak tahan dan 
akhirnya mengamuk. 

Di rumah sakit itu, kami baru tahu dari psikiater bahwa Yaya memiliki perasaan 
ketakutan yang luar biasa. Dia takut kotor, takut orang, dan banyak lagi. 
Jadi kalau mandi, kami harus memperhitungkan betul seberapa bersih gayung yang 
dipakai, kami juga harus memperhatikan seberapa sering Yaya mencuci tangan. 
Jika tidak diperhatikan, Yaya mencuci tangan sampai kulitnya rusak karena 
sering terkena air dan sabun.
Sejak pulang dari RS, dia selalu minum obat penenang yang diberikan dokter. 
Akibatnya, Yaya tidur terus, tidak bisa sekolah, padahal saat itu dia kelas 3 
SMP.
Karena selama ini nilainya bagus walau tidak ikut ujian, gurunya mau memberi 
nilai pas agar lulus. Tapi Yaya menolak. Ia bilang, lebih baik ia mengulang 1 
tahun lagi karena dia mau masuk ke SMA negeri pilihannya. Aku sangat salut atas 
keputusannya itu.  

Sementara itu, sambil menunggu ajaran baru dimulai, sepulang sekolah aku harus 
mengurusi dia. Kadang kalau ketakutan muncul, aku bisa harus memandikannya. 
Aku sempat frustrasi. Hendak pergi dari rumah kok rasanya beban berat sekali. 
Aku harus mengurus adik, membuat PR, belajar, bantu orang tua. 

Tapi, aku selalu ingat, Tuhan tidak pernah memberikan percobaan melebihi 
kekuatan aku. Aku sedih melihat melihat adikku selalu kelihatan mengantuk 
karena obat.
Akhirnya, aku bilang pada mama,"Ma, berani nggak ambil langkah iman? Tuh obat 
buang saja semua. Kita berdoa buat dia, dan saya akan puasa buat adik lebih 
banyak lagi." 

Memang sebelumnya, aku sudah puasa buat dia, tapi tidak rutin. Mama akhirnya 
sepakat. Kami membuang semua obat penenang itu dan berdoa dengan iman. Banyak 
Hamba Tuhan silih berganti datang ke rumah untuk mendoakan Yaya. Aku sangat 
bersyukur Tuhan selalu mengirim hamba-hambaNya untuk memberikan kami kekuatan. 

Saat keputusan dibuat dan dijalankan, cobaan tambah dahsyat, apalagi setelah 
selesai berpuasa dan Perjamuan Kudus. Yaya seakan mundur kembali, tidak ada 
kemajuan. Dia makin suka berteriak-teriak. Kami tambah frustrasi, tapi kami 
tahu iblis perlu dilawan terus
bersama Tuhan Yesus. 

Akhirnya, Yaya bisa sekolah lagi mengulang di kelas yang sama dan mendapat 
prestasi baik, masuk sekolah negeri sesuai cita-citanya, walaupun kami masih 
jatuh bangun memulihkan kondisinya, dan masih dikontrol dokter tiap bulan. 
Semua itu, kami jalankan dengan
pertolongan dan kasih Tuhan tiap waktu. 

Yaya bisa kuliah di Bandung, dia menjadi anak yang mandiri, berani kos, dan 
pulang pergi naik kereta api sendiri, saat itu, adik saya yang kecil pun kuliah 
di Bandung, jadi mereka bisa saling memperhatikan. 

Kadang, saya juga  menasihati serta memberikan Yaya dorongan lewat surat. Dia 
lulus kuliah dengan nilai Cum Laude. Dan, pemulihan dengan orang tua pun 
terjadi. 

Sampai tahun 1991, aku tetap berpuasa dan berdoa untuknya. Sampai aku menikah 
dan mengandung,  baru aku berhenti puasa. Puji Tuhan walaupun waktu yang 
panjang harus kami jalani, tapi semuanya sudah lewat. 

Sekarang adikku sudah menikah dan memiliki 2 orang anak (laki-laki dan 
perempuan), memiliki keluarga yang bahagia dan berkecukupan. Dia bisa mengajak 
kedua orang tua untuk jalan-jalan sampai ke luar negeri.
Sungguh luar biasa rencana Tuhan itu, indah pada waktunya. Memang sangat sakit 
pada saat kita dibentuknya. Air mataku digantikan sukacita oleh Allah.

Penulis meminta pada redaksi agar nama dan alamatnya dirahasiakan

Bukankah esok atau lusa, mati pun aku sendiri
--Messakh, Obbie 
=====================================================
From: job palar 

Tiga Tahun Penjara Karena Mengajar Sekolah Minggu

Oleh Web Warouw
Sinar Harapan, 7 September 2005

JAKARTA - "For the first time ever in Indonesia's history a case has been 
brought to court charging Christians with the criminal act of christianizing 
children." Demikian komentar beberapa media asing diluar negeri menyusul vonis 
tiga tahun penjara Pengadilan Negeri (PN) Indramayu, Jawa Barat, Kamis (1/9) 
siang terhadap tiga guru sekolah minggu Gereja Kristen Kemah Daud (GKKD), yakni 
 dr. Rebecca Laonita, Ratna Mala Bangun serta Ety Pangesti.

Mereka dituduh telah melakukan pemurtadan dan kristenisasi di Kecamatan 
Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tuduhan itu dilancarkan oleh 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Vonis yang dijatuhkan PN Indramayu, 
Jawa Barat tersebut sama dengan tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum 
(JPU) dalam sidang tersebut.

Tudingan pemurtadan dan kristenisasi terhadap tiga guru sekolah minggu di 
Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat itu berawal dari 
pelayanan mereka dalam sekolah minggu 'Minggu Ceria' pada 9 September 2003 yang 
dilakukan  di rumah dr Rebecca Laonita yang dihadiri oleh 10-20 anak kristen 
setiap minggunya. Dalam perkembangannya beberapa anak beragama non-kristen 
ikutserta dalam permainan disekolah minggu tersebut. 

Sekolah Minggu "Minggu Ceria" ini sempat ditutup sebelum Natal, 24 Desember 
2004 dengan alasan tidak dizinkan kebaktian rumah oleh Majelis Ulama Indonesia 
(MUI) Hargeulis. Padahal, seperti biasanya Natal di tempat lain, anak-anak 
tersebut dibagikan hadiah Natal berupa tas dan buku tulis. Karena ditutup, 
kebaktian umum gereja akhirnya diputuskan untuk berpindah-pindah tempat. Jemaat 
pernah juga kebaktian di GBI Efrata, sedangkan Minggu Ceria akhirnya diputuskan 
dilakukan di rumah Ety Pangesti.

Pada 26 Maret 2005, anak-anak sekolah minggu 'Minggu Ceria' pergi ke Taman Mini 
Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur dalam sebuah acara paskah. Beberapa dari 
orang tua/ wali dari anak-anak sekolah minggu, termasuk yang non-kristen ikut 
bersama-sama ke TMII. Namun sejak 14 April 2005 "Minggu Ceria" ditutup. 
Sementara kebaktian umum setiap minggu sore dipindahkan ke Pamanukan.

Tanggal 3 Mei 2005 diadakan pertemuan antara pelayan "Minggu Ceria" dengan 
Musyawarah pimpinan kota (Muspika) yang dihadiri oleh Camat Haurgeulis Moh 
Hayat, Majelis Ulama Indonsia dan Kantor Urusan Agama setempat, petugas Polsek 
dan Koramil Haurgeulis. Camat
Moh Hayat berjanji akan memberikan hasil tertulis dari pertemuan itu dan 
selanjutnya akan ditandatangani dr Rebecca Laonita. Namun, hingga kini tidak 
ada berita acara pertemuan tersebut. Yang ada hanya laporan MUI ke Polsek 
Haergeulis pada 3 Mei 2005 tersebut dan
diproses secara hukum.

Pada 9 Mei 2005 dr Rebecca Laonita, Ratna Mala Bangun dan Ety Pangesti memenuhi 
panggilan Polsek Haurgeulis sebagai tersangka. Belakangan berkas perkara ketiga
guru sekolah minggu tersebut dilimpahkan ke Polres Indramayu. Tanggal 14 Mei 
2005 ketiga guru sekolah minggu tersebut memenuhi panggilan Polres Indramayu 
sebagai saksi sesuai dengan surat panggilan polisi yang ditandatangani oleh 
Kepala Satuan Reserse dan
Kriminal Polres Indramayu, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Suryanto. Namun, pada 
waktu ketiga diperiksa, penyidik langsung menyatakan Rebecca Laonita, Ratna 
Mala Bangun dan Ety Pangesti sebagai tersangka dengan tuduhan pemurtadan serta 
kristenisasi di Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Di Mapolres Indramayu, ketiga diperiksa mulai dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 
16.00 WIB dan diizinkan pulang esok harinya. Pada Senin (16/5) pagi sekitar 
pukul 08.00 WIB, Rabecca Laonita, Ratna Mala Bangun dan Ety Pangesti diberitahu 
telah muncul surat penahanan dan diminta untuk menandatangani serta langsung 
berkemas karena akan dimasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Indramayu. 

Mereka dikenakan tuduhan pasal 86 Undang Undang No.23/2002 tentang Perlindungan 
Anak yang bunyinya:
"Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan tipu muslihat, rangkaian 
kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas kemauannya 
sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal 
dan belum bertanggungjawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan 
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 
100.000.000 (seratus juta rupiah)."

Dalam kasus ini polisi mengamankan barang bukti berupa satu Alkitab dan enam 
kaos biru bertuliskan "Minggu Ceria". Padahal, hingga kini anak-anak 
non-kristen yang mengikuti sekolah minggu "Minggu Ceria" tersebut tidak ada 
yang pindah agama.

Pembelaan Gus Dur
Sebelumnya, KH Abdurrachman Wahid telah meminta Kapolres Indramayu, Ajun 
Komisaris Besar Polisi (AKBP) Johni Soeroto agar melepas ketiga ibu rumah 
tangga yang juga mengajar guru sekolah minggu tersebut. 

"Penahanan atas diri dr. Rebecca Laonita, Ratna Mala Bangun dan Ety Pangesti 
dengan berdasarkan sangkaan mereka memberikan keterangan salah kepada 
anak-anak,...maka penahanan atas diri mereka (yang didasarkan pada pengaduan 
masyarakat) adalah tidak
tepat," tegas Gus Dur dalam suratnya tertanggal 26 Mei 2005.

Gus Dur melanjutkan, "Karena itu, saya harapkan kesediaan Anda (Kapolres 
Indramayu-red) untuk memerintahkan mereka dilepaskan dari tahanan, dan 
pengaduan terhadap mereka di Pengadilan dibatalkan.
Masalah ini hendaknya diselidiki secara lebih mendalam, sehingga orang yang 
tidak bersalah tidak menjadi korban," tegasnya lagi.

Surat Gus Dur ini mendapatkan balasan dari MUI Kecamatan Haurgeulis pada 27 Mei 
2005 yang menegaskan bahwa kasus ini pidana murni sesuai dengan KUHP pasal 
156a, dan Pasal 86 Undang Undang No.23/2002 tentang Perlindungan Anak. 

"Dr. Rebecca dalam kasus ini telah melakukan pemurtadan terhadap anak-anak 
Islam di Kecamatan Hargeulis," demikian surat yang ditandatangani oleh Ketua 
MUI setempat, KH Mundzir Mahmud, Sekretaris Asyrofin THS dan Ketua Tim Advokasi 
MUI setempat H. Eri Isnaeni, SH.

Akibat vonis itu, menurut laporan Maranatha Christian Jurnal yang beredar di 
Eropa dan Amerika Serikat bahwa ketiga ibu rumah tangga tersebut harus berpisah 
dengan anak-anak mereka. "Bangun has sent her children to live with their 
grandfather on Sumatra Island.
Pangesti and Zakaria's children will also be moved to another location in the 
near future to protect them from possible attacks or intimidation during the 
trial." Demikian sebuah media asing melansir perihal nasib guru sekolah minggu 
"Minggu Ceria" itu. 

Vonis sudah dijatuhkan dan dr Rebecca Laonita, Ratna Mala Bangun dan Ety 
Pangesti, ketiga guru sekolah minggu "Minggu Ceria" itu kini menghuni Lembaga 
Pemasyarakatan (LP) Indramayu, Jawa Barat. 

Setidaknya hal itu sama persis apa yang dialami Daniel, Sadrakh, Mesakh dan 
Abednego, hamba Allah yang dilempar ke dalam dapur api oleh Raja Nebukadnezar. 
Namun, di balik peristiwa itu ada berkat yang melimpa dan nama Tuhan 
dimuliakan! 
==========================================
From: "Mundhi Sabda H. Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>

Siap Menerima Kegagalan
Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas*

Ada banyak peristiwa yang terjadi dalam hidup keluarga kami yang jauh dari 
harapan kami. Seperti layaknya orang-orang beriman lainnya, saya selalu berdoa 
supaya diberikan sebuah keluarga harmonis yang dipimpin oleh laki-laki 
bijaksana dan takut akan Tuhan. Walaupun saya tak henti-hentinya meminta, namun 
apa yang terjadi justru sebaliknya. Di saat  anak-anak membutuhkan kehadiran 
dan kasih sayang seorang ayah, suami saya justru meninggalkan saya dan 
anak-anak dengan luka batin yang begitu dalam.

Terlepas dari kesalahan suami, melalui peristiwa itu saya belajar bahwa tidak 
semua yang kita minta, Tuhan berikan. Bila saya tidak menerima apa yang saya 
inginkan, Tuhan pasti memberi saya kemampuan untuk mengerti maksud Tuhan di 
balik peristiwa itu. Saya pun yakin,jika saya bersandar dan berpengharapan di 
dalam Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan memperlengkapi saya dengan kemampuan 
untuk menerima semua keadaan dengan  penuh rasa syukur.

Karena Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa dengan mengikut Kristus akan 
mendapatkan kenyaman dan kenikmatan hidup di dunia, maka saya pun berpikir 
bahwa begitu memutuskan untuk mengikut Tuhan, saya harus memiliki ketrampilan 
untuk menerima dan menikmati hal-hal yang tidak mengenakkan dan tidak kita 
harapkan.

Bagi saya, membesarkan anak di dalam keluarga yang tidak utuh, juga memerlukan  
kemampuan dan ketrampilan menerima kegagalan yang ekstra kuatnya. Kemampuan 
memaknai setiap peristiwa dan ketegaran menghadapi kegagalan, mutlak saya 
butuhkan supaya saya bisa mengucap syukur dalam segala hal.

Saya menyadari bahwa masyarakat Indonesia pada umumnya masih memandang
single parent dengan sebelah mata. Sampai sekarang anak-anak dari broken home 
paling banter akan menjadi warga masyarakat kelas dua. Tak terkecuali komunitas 
Kristen dan gereja. Mungkin kalau saya memiliki keluarga yang utuh dan harmonis 
juga tidak akan merelakan anak-anak saya kelak menjalin hubungan dengan 
anak-anak korban broken home. Tetapi puji Tuhan, melalui kegetiran hidup yang 
saya alami, saya tahu bagaimana sulitnya anak mengerti kasih Kristus sementara 
hatinya hancur berkeping-keping akibat perpisahan orang tuanya. Melalui 
kepahitan hidup yang saya alami, Tuhan Yesus mengajar saya untuk berempati 
serta memandang dan menempatkan anak-anak korban broken home sebagai layaknya 
manusia bermartabat yang tetap bernilai di hadapan Tuhan.

Walaupun saya memandang bahwa anak-anak korban broken home tidak boleh ditolak 
ataupun dipandang dengan sebelah mata, namun saya tidak bisa memaksa orang lain 
untuk mengubah pandangan mereka tentang anak-anak dari keluarga tak utuh. Mau 
tidak mau saya pun harus menyiapkan  anak-anak saya untuk menerima kegagalan 
dan ditolak dunia. Baik melalui perkataan, sikap dan keteladanan, saya selalu 
menekankan kepada anak-anak bahwa tidak semua yang kita inginkan selalu kita 
dapatkan. Melalui kejadian sehari-hari saya selalu mengajarkan prinsip "Kalau 
sesuatu bisa kita ubah, ya ubahlah ! Namun jika sesuatu tidak bisa kita ubah, 
ya terimalah dengan suka cita dan ucapan syukur"

Walaupun masih terbatas kemampuannya, Dika (anak sulung saya) selalu saya
siapkan untuk menerima  kegagalan. Dengan mensyukuri setiap keadaan, hati Dika 
yang dulu luluh lantak sejak kepergian ayahnya, lambat laun terekat kembali. 
Walaupun belum sekokoh karang, tetapi untuk anak-anak seumurannya, Dika 
memiliki ketegaran yang lebih baik.

Saat teman-teman sekelasnya sibuk memprediksi dan membuat target NEM (Nilai
Ebtanas Murni), Dika justru memikirkan beberapa rencana. Selain rencana yang
akan dilakukan jika ia lulus ujian maupun rencana cadangan kalau-kalau ia tidak 
lulus. Anehnya, sikap Dika tetap sama saat membicarakan kedua rencana ersebut.

Seolah tanpa beban, Dika mengutarakan rencananya untuk mengulang kelas 6 SD
di kampung kakeknya jika ia tidak lulus. Saya memang tidak terlalu mendalam
menanyakan alasan Dika untuk pindah sekolah jika tidak lulus. Saya justru 
merasa harus lebih menyiapkan hati Dika supaya tetap tegar jika ia benar-benar 
tidak lulus.

Menjelang dan selama ujian, Dika berdoa lebih giat lagi. Mungkin karena Dika 
tidak berharap yang muluk-muluk untuk mendapatkan NEM setinggi-tingginya, saat 
berdoa Dika hanya meminta kelulusan. Sewaktu saya bertanya tentang doanya yang 
tidak meminta nilai yang tinggi, Dika justru menjawab "Kalau Dika bisa lulus, 
Dika sudah bersyukur kok!"

Mendengar jawaban Dika yang seolah-olah tidak ada harapan, sayapun agak kuatir. 
Untuk lebih menyemangati Dika, saya berusaha membalut dan menyembunyi kan 
kekuatiran saya dengan senyuman. Namun demikian di belakang Dika, saya tetap 
dag dig dug. Saya pun semakin menyiapkan hati untuk menerima Dika apa adanya, 
bahkan dengan kemungkinan terjelek dimana Dika tidak lulus ujian SD.

Beberapa waktu yang lalu saat acara perpisahan, hampir saja saya tidak datang 
karena takut malu jika Dika tidak lulus. Namun dengan sisa-sisa optimisme yang 
tergurat di wajah Dika, saya tidak tega membiarkan Dika datang ke acara 
perpisahan tanpa kehadiran saya. Terlebih lagi ketika bayangan ketidaklulusan 
Dika muncul dalam benak, saya pun bergegas untuk menyertai Dika datang ke acara 
tersebut. Saya berpikir jika Dika benar-benar tidak lulus, saya harus berada di 
sampingnya untuk menguatkan hatinya dan mengingatkannya untuk tetap bersyukur.

Layaknya anak-anak, Dika bercanda ria dengan teman-temannya tanpa menghiraukan 
nasibnya yang akan diumumkan beberapa menit lagi.Untung sekali dalam acara 
perpisahan itu tempat duduk orang tua terpisah dengan tempat duduk anak. 
Setidaknya kekuatiran saya tidak merusak suka cita Dika.

Saat Bruder kepala sekolah Dika naik ke podium, saya dan Mama Dany sama-sama
menahan nafas. Untuk mengurangi ketegangan, saya memegang tangan Mama Dany
kuat-kuat. Begitu juga dengan Mama Dany. Dalam hal prestasi sekolah anak,
saya dan Mama Dany memang senasib karena Dika dan Dany kata orang Sunda
memang sama-sama "sakahayang" (semau gue). Saya lebih sering melihat Dika
menyikapi sekolah sebagai hiburan dari pada beban atau tanggung jawab.

Lain lagi dengan Mama Putri yang anaknya sejak kelas 1 selalu masuk 3 besar.
Karena yakin anaknya mencapai NEM tertinggi, sejak awal acara Mama Putri lebih  
banyak mengangkat dagunya ketimbang menunduk. Mama Putri hanya tersenyum sinis 
ketika melihat saya dan Mama Dany pucat pasi menunggu pengumuman dari Bruder.

Semakin Bruder mengulur-ulur pengumuman kelulusan, perut saya semakin 
melilit-lilit. Mama Dany juga semakin menunduk lesu. Ketika Bruder diam 
beberapa saat, tangan kami berdua semakin banyak mengeluarkan keringat. 
Namun begitu Bruder mengangat karton besar bertuliskan "100% LULUS", saya dan 
Mama Dany langsung berpelukan penuh suka cita. Tak henti-hentinya kami mengucap 
syukur atas berkat Tuhan untuk anak-anak kami. Saking gembiranya, kami berdua 
tidak sadar bahwa Mama Putri menertawakan kami. Saya bisa memaklumi sikap Mama 
Putri, karena baginya kelulusan anaknya sudah mutlak dan bukan anugerah yang 
besar.

Mama Dany tampak cuek ketika Mama Putri mengingatkan bahwa kelulusan saja
tidak cukup karena tinggi rendahnya NEM akan menentukan peluang anak untuk 
memilih SMP. Sejenak kemudian Mama Dany menghampiri Danny dan menciuminya tak 
henti-henti.

Saya memang sengaja tidak menghampiri Dika karena saya lihat Dika bersama 
teman-temannya begitu asyik menggoyangkan badannya sambil menikmati musik 
rampak gendang yang dibawakan  oleh adik-adik kelasnya. Tak melewatkan 
kesempatan, saya pun menyalami guru-guru yang pernah mengajar Dika sejak kelas 
1. Selain karena berkat Tuhan, kelulusan Dika juga tidak lepas dari jerih payah 
guru-gurunya yang begitu sabar menghadapi Dika yang kadang-kadang manis namun 
lebih sering "ngaleuyeut" (sudah salah tapi ngeyel).

Menjelang puncak acara, lampu di aula sengaja diredupkan. Suasana pun menjadi 
hening. Orang tua dan anak-anak pun terlihat tegang menantikan penobatan juara 
bagi peraih NEM tertinggi pertama dan kedua. Ketika gending Sunda dibunyikan, 
semua hadirin berdiri. Musik tradisional yang terdengar berwibawa itu 
mengiringi beberapa penari lengser mengitari ruangan menuju ke panggung. Dari 
atas panggung seorang penari lengser turun diikuti sorot lampu yang terang 
benderang untuk menjemput sang juara.

Wajah Putri sempat sumringah ketika penari itu mendekatinya. Namun begitu 
penari itu menjauh, muka Putri langsung ditekuk. Lain halnya dengan Dika yang 
dengan lucunya mengikuti penari dari belakang sambil menirukan gerakannya. 
Guru-guru Dika sempat menepuk saya sambil berkata "Tuh lihat ! Dika tuh sukanya 
celelekan, kayak nggak punya beban saja". Ada juga guru yang berkata "Dari tadi 
Dika jingkrak-jingkrak, nggak prihatin sama sekali dengan NEMnya"
Saya hanya tersenyum dan menjawab pelan "Biar saja Dika menikmati suka cita
dan nggak terbebani dengan jumlah NEM. Bagi kami, Dika bisa lulus saja sudah
luar biasa !"

Walaupun dihiasi dengan senyuman bangga, wajah Mama Putri sempat beberapa
kali memerah dan sejenak kemudian menjadi pucat. Ketika penari menggendong
juara kedua, wajah Mama Putri tampak lega. Saya yakin dia menyangka Putrilah
yang akan digendong berikutnya sebagai juara pertama. Namun ketika penari
itu menggendong anak yang lain lagi sebagai juara pertama, wajah Mama Putri
tampak meyimpan kekecewaan.

Karena saya cukup akrab dengan Mama Putri, saya pun berusaha menghibur
"Mungkin juara 3" kata saya menyemangati. Sayapun mengandeng tangan Mama
Putri yang tampak tegang, menantikan pengumuam juara 10-3. Ketika nama-nama
juara 10 hingga 4  disebut satu persatu, Mama Putri semakin pucat sambil 
menggeleng -gelengkan kepala seakan tidak mengerti apa yang terjadi. Saya pun
semakin kuat  menggenggam tangan Mama Putri untuk memberikan kekuatan
"Mungkin sebentar lagi nama Putri yang disebut" saya terus berusaha menghibur.

Ketika MC memanggil anak yang terakhir sebagai juara 3,  Mama Putri langsung
mendesah dan menghempaskan tangan saya karena bukan nama anaknya yang
disebut. Saya berusaha mengelus pundaknya sebagai wujud empati, namun Mama
Putri tak menghiraukan saya. Mata Mama Putri nanar melempar pandangan ke arah 
anaknya dengan wajah penuh kemarahan. Sementara di ujung sana, Putri 
berteriak-teriak histeris "Putri nggak mau! Putri nggak mau! Kenapa Maria juara 
3? Kenapa Hendrik juara 4? Kenapa Felis yang lebih bodoh bisa masuk sepuluh 
besar padahal Putri nggak masuk? Putri nggak mau! Putri nggak terima ! Putri 
benci !............" Tak kuasa melanjutkan luapan kekecewaannya, Putri pun 
pinsan.

Melihat anaknya yang histeris, Mama Putri yang seorang dosen itu hanya diam
mematung dengan muka garang layaknya dosen killer yang sedang menghakimi
mahasiswanya. Saya segera berbisik ke telinganya "Tuh, Putri pinsan!". Saya
pun membantu membereskan tas Mama Putri yang sempat dibiarkan terjatuh di
lantai saat ibu dosen itu tersentak kaget karena anaknya tidak masuk 10 besar.

Sebelum saya menghampiri Putri, saya berusaha mencari Papa Putri untuk
menyerahkan tas Mama Putri. "Putri pinsan" kata saya singkat begitu ketemu
Papa Putri. Karena Putri cukup dekat dengan saya dan Dika, tak menunggu waktu 
lagi, saya segera menghampiri Putri yang masih dikerumuni guru-guru dan mamanya.

Begitu Putri sadar, ia kembali berteriak-teriak histeris. Mamanya tidak 
berbicara banyak. Wajahnya juga tidak berubah, masih terlihat jelas kekecewaan 
dan kemarahannya. Saya sungguh kasihan melihat Putri yang "jatuh terpuruk" 
namun Mamanya tidak siap menjadi sandarannya. Saya yakin Mama Putri yang jutek, 
dingin, pelit dengan kata-kata penghiburan dan berdiri angkuh agak jauh dari 
tempat Putri berbaring, semakin menyayat luka hati Putri.

Saya sungguh miris melihat pemandangan dingin antara ibu dan anak itu. Saya
jadi teringat masa kecil saya yang begitu tidak nyamannya karena ibu selalu
menuntut saya menjadi yang nomor satu. Masih segar ingatan saya, bertapa
sakitnya ketika saya tidak bisa mencapai apa yang ibu inginkan kemudian ibu
menyatakan kekecewaannya di depan umum.

Saya tahu persis, Putri sedang mengalami apa yang pernah saya rasakan dulu.
Saya pun segera meletakkan tas saya di lantai dan membungkukkan badan supaya
bisa memeluk Putri. Ketika saya menggenggam tangan Putri, Putri pun menggenggam 
erat seolah ingin menyalurkan sedikit bebannya kepada saya. Matanya yang redup 
menatap saya seolah meminta dukungan.

Saya berusaha menghibur dan mengajak Putri mensyukuri kedaan. Toh dalam
kenyataannya, banyak sekali prestasi Putri. Saya pun mulai mengingatkan satu
persatu kelebihan Putri yang tidak dimiliki anak-anak lain. "Walaupun Putri 
tidak masuk 10 besar, masih banyak berkat yang Tuhan berikan untuk Putri.
Suara yang bagus, kemampuan bermasmur, pidato dan bermain musik itu semua
pemberian Tuhan yang harus disyukuri" bisik saya.
"Tapi Putri nggak mau nilai Putri jelek! Putri kepingin 3 besar! Putri malu 
Felis bisa masuk 10 besar tapi Putri nggak bisa" teriak Putri.
"Putri,....Tuhan berhak memberikan berkat yang berbeda-beda kepada setiap 
orang. Putri tidak boleh mempermasalahkan berkat untuk orang lain. Kalau Putri 
senang menerima kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan, maka Putri juga harus 
senang menerima keadan yang tidak Putri inginkan" saya terus berusaha menghibur.
"Tapi Putri nggak mau  NEM Putri Cuma 45 ! Putri mau 48 ! Putri malu !"
Putri masih histeris.
"Kamu harus bersyukur karena kamu dapat NEM 45. Lihat tuh Dika yang nggak
tahu jumlah NEMnya saja bisa ketawa-ketawa kok !" kata saya sambil menunjukkan 
amplop tertutup yang berisi NEM Dika.Dika memang cuek dan tidak segera membuka  
NEMnya karena ingin melewati malam kegembiraan bersama teman-temannya.

Karena tangis Putri belum juga reda, saya masuk ke arena anak-anak untuk
memanggil Dika. Melihat teman dekatnya menangis histeris, Dika pun langsung
memeluknya. "Nggak apa-apa Put, kamu nggak masuk 10 besar, tapi NEM kamu kan
tinggi" kata Dika. "Kamu harus bersyukur karena rata-rata NEM kamu 9. Aku yang 
NEM nya pasti di bawah kamu saja masih bisa bersyukur kok!" lanjut Dika.

Ketika membuka amplop, saya hampir tak percaya melihat NEM Dika bisa mencapai 
40. Saya sangat besyukur karena Dika yang saya  target untuk mencapai NEM 
rata-rata 6 bisa mencapai 8. Melihat NEM yang tidak terlalu tinggi namun juga 
tidak terlalu rendah itu, Dika tampak ceria. Ia kembali menghibur Putri "Tuh 
lihat nilaiku di bawah nilaimu, tapi aku nggak malu. Kamu harusnya bersyukur 
karena kamu punya banyak kelebihan dibandingkan aku. Aku yang dapat nilai lebih 
rendah dan nggak punya ayah saja masih bisa bersyukur. Nah, kamu harus 
bersyukur karena nilaimu lebih tinggi. Kamu juga lebih hebat. Orang tua kamu 
juga masih lengkap" kata Dika sambil membetulkan rambut Putri yang hampir 
menutup wajahnya.

Saya terharu sekaligus bangga dengan Dika. Saya terharu karena Dika sadar dan 
dengan tenang mengakui bahwa ia tidak punya ayah lagi. Saya juga bangga karena 
ternyata Dika tetap mensyukuri keadaan yang dialaminya. Walaupun nilai Dika 
termasuk kategori sedang, tetapi hari itu banyak hal yang patut saya syukuri. 
Setidaknya saya bersyukur karena Dika pandai bersyukur walaupun ia tidak 
seberuntung teman-temannya yang punya orang tua lengkap.
Walaupun prestasi sekolah Dika tidak secemerlang Putri, namun ia memiliki
kesiapan dan kemampuan menerima kegagalan yang lebih baik.

**********************************************************
* Penulis buku "TANGAN YANG MENENUN" yang mengisahkan perjuangan orang tua
tunggal dalam mengajar anak tentang kasih dan takut akan Tuhan. Informasi
buku ini bisa dilihat di www.mangucup.net atau www.mangapulsagala.com atau
http://bogor.bpkpenabur.or.id/mambo/ atau hubungi [EMAIL PROTECTED]
atau SMS ke 08151661312


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke