From: Suzianty Herawati KEGIATAN DAN PENGERTIAN YANG BENAR 1 Pdt. Dr. Stephen Tong Renungan ini ditranskrip dan diedit kembali dari khotbah seri Surat Roma oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Gereja Reformed Injili Indonesia di Jakarta.
Roma 10:1-6 (TB-LAI) (1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. (4) Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. (5) Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hokum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." (6) Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun Mengapa orang kafir yang tidak mencari justru diberikan, tetapi orang Israel yang mencari tidak memperoleh. Bukankah hal ini berlainan dengan yang dikatakan oleh Kristus, barangsiapa yang minta akan diberikan; yang mencari akan mendapat; yang mengetuk pintu akan dibukakan baginya (Mat. 7:7). Bukankah yang mencari, meminta dan mengetuk pintu adalah orang Yahudi? Alkitab mengatakan, mereka mencari, tetapi tidak mendapatkan, suatu paradoks yang sulit kita mengerti (Rm. 9:30-32). Tetapi yang penting bagi orang yang mencari adalah cara dan pengertian yang sejati, yang ditetapkan dalam prinsip firman dan jalan yang Tuhan nyatakan, bukan pada berapa menggebu-gebu, berapa hangat, berapa sungguh-sungguh api yang ada padanya untuk mencari. Demikian juga banyak orang yang sudah beragama, yang baru meraba-raba, baru mengena pada bagian kulitnya saja, tetapi mereka merasa sudah cukup, sudah menemukan. Akhirnya, mereka terus bertumbuh atas fondasi yang tidak beres. Ini merupakan suatu peringatan yang penting bagi kita. Orang Israel meskipun memiliki Taurat tetapi tetap tidak mendapat. Sebab Taurat yang diberikan Allah kemudian diteliti dan dikupas oleh orang Yahudi melalui para rabbi telah menjadi perintah yang makin lama makin membebani orang beragama, dan akhirnya Taurat itu diuraikan menjadi 613 dalildalil yang harus dipatuhi (248 perintah, 365 larangan). Kalau tidak bisa menjalankan semua itu, maka tidak ada keselamatan; kalau tidak melunasi semua tuntutan Taurat, mereka tidak akan berkenan kepada Tuhan. Tetapi pada waktu orang bertanya kepada Yesus Kristus, oh, Tuhan Yesus perintah manakah yang paling utama? Pertanyaan ini untuk mencobai Tuhan Yesus sekaligus mereka sadar untuk mengikuti semuanya itu begitu sulit, untuk menjalankan Taurat dan perintah-perintah yang begitu rumit, kompleks dan begitu banyak serta tidak mudah. Yesus Kristus mengatakan, perintah yang terbesar adalah kasihilah Allah dengan sekuat tenaga, sebulat hati, seluruh pikiranmu dan budimu, dan yang kedua, yang sepadan dengan itu adalah kasihilah sesamamu manusia (Mat. 22:37-42). Inilah kali pertama, wahyu ditujukan pada satu fokus, untuk membereskan segala ketidakberesan dalam system Yahudi yang bergantung pada Tauratisme. Pada waktu orang Yahudi dan rabi-rabi mereka telah memaparkan segala kerumitan dan kesulitan, mereka telah kehilangan fondasi dan prinsip yang terpenting. Betapa banyaknya peraturan-peraturan yang membuat manusia benci. Peraturan-peraturan itu bahkan mungkin menggoda manusia untuk melawannya. Semakin banyak peraturan, semakin membuat manusia berani melawan. Yesus Kristus menyimpulkan peraturan, perintah hanya dua, yaitu: kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Ini melampaui semua peraturan. Ini merupakan prinsip yang mendasari semua prinsip, merupakan hukum di atas segala hukum, dan merupakan hukum yang menjadi dasar bagi semua hukum. Orang berdosa cenderung melawan hukum. Lao Tze, pada 2.600 tahun yang lalu, seorang yang lebih dahulu dari Kong Hu Cu sudah pernah mengatakan bahwa, semakin ketat suatu hukum, semakin berani manusia melawannya. Semakin banyak peraturan, semakin banyak menyatakan kesalahan. Jangan mengira, kalau kita memerintah bawahan kita dengan banyak peraturan, maka mereka akan merasa takut dan menjadi yang paling baik. Tetapi justru paksaan untuk mematuhi perintah dan peraturan yang ketat membuat orang merasa hidup tidak berarti, dan akhirnya mereka menjadi orang yang berani melawan dan mencari alasan untuk melawan peraturan. Ketika hukum negara ditetapkan, apakah itu berarti manusia yang sudah mengerti hukum tidak akan melawan hukum? Tidak, justru terbalik, orang yang berani melawan hukum adalah orang yang paling tahu seluk beluk hukum. Orang yang paling mengerti hukum akan mencari jalan untuk melawan hukum lalu membela diri supaya setelah mereka berdosa, mereka tidak perlu dihukum. Itulah yang disebut ahli hukum. Ahli hokum adalah ahli-ahli yang mengetahui seluk-beluk hukum lalu berbuat dosa dan melanggar hukum, kemudian mencari alasan untuk menutupi segala kesalahan, sehingga setelah mereka berbuat dosa, mereka tidak perlu dihukum. Tempat yang paling tidak adil, adalah tempat yang memasang palang pengadilan. Tempat yang paling tidak adil adalah tempat di mana para ahli menegakkan keadilan, tetapi mereka sendiri tidak menjalankan keadilan tersebut. Orang cenderung sombong dengan hukum. Orang Israel menuntut dan mencari, tetapi mereka tidak mendapatkan. Bukankah ini merupakan satu ironis, satu singgungan, satu pukulan yang berat bagi seluruh bangsa dan satu hal yang mempermalukan kebudayaan mereka yang sudah ribuan tahun itu? Tafsiran yang kurang jelas dan penyelewengan yang terus menerus sampai zaman Rabbi Hilel, bahkan sampai zaman Yesus, menyebabkan orang Israel tidak memperoleh keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan. Mereka hanya memperoleh suatu kemungkinan untuk mengetahui berapa banyak Taurat, hukum, peraturan, yang membuat mereka bisa membanggakan diri: "kami adalah bangsa yang berhukum Taurat, kamu bangsa yang tidak mengerti apa-apa. Kamu bangsa yang masih barbar, kamu seperti anjing adanya." Orang Israel menjadi sombong, congkak, egosentris, mereka menjadi penghina segala bangsa dalam dunia internasional. Kalau demikian, apakah Tuhan akan berkata, inilah bangsa yang paling mengerti Taurat-Ku, bangsa yang paling sempurna? Tidak, Tuhan berkata, mereka mencari, tetapi mereka tidak memperoleh. Mengapa demikian? Karena ada satu kunci yang tidak mereka ketahui, yaitu batu yang menjadi sandungan itu telah Tuhan letakkan di Sion. Batu ini akan menjadi batu karang bagi bangunan yang berada di atasnya, tetapi batu ini juga akan menjadi batu yang menyandung semua orang yang tidak berjalan menurut perintah dan prinsip Allah. Kasih menjadi dasar pembuatan hukum. Jika kita membuat peraturan-peraturan apapun hanya bermotivasikan untuk mengikat, membatasi orang lain, untuk menyatakan diri kita mempunyai hak yang istimewa dan otoritas yang tinggi, maka motivasi itu adalah motivasi yang sangat berlawanan dengan kehendak Tuhan Allah. Kita membuat peraturan seharusnya kembali pada satu hal yang mendasar: saya membuat peraturan ini demi cinta kepada mereka yang diatur. Jikalau seseorang tidak mempunyai cinta kasih kepada yang dipimpinnya, maka tidak tidak berhak menjadi pemimpinnya. Ini prinsip Alkitab. Allah memerintah dunia, karena Dia mengasihi dunia. Allah kasih, maka Dia memerintah. Kita yang menjadi boss, kepala sekolah, ketua, atau pimpinan, jika kita tidak mencintai mereka yang kita pimpin, bagaimana kita bisa memimpin? Kita perlu kembali kepada ajaran Alkitab, yang mengatakan karena Allah itu kasih adanya, maka Dia memberikan peraturan. Peraturan-peraturan berdasarkan atas kasih, peraturan menjalankan kasih, esensi yang terpenting di dalam peraturan adalah kasih. Kesimpulan dari segala Taurat adalah cinta kasih. Bukan saja motivasinya demikian, tujuannya juga melalui cinta kasih melindungi, membimbing, membangun, dan menguatkan orang yang dipimpin. Itu seharusnya membawa manusia kepada hidup yang kekal. Musa mengatakan satu kalimat yang penting sekali di dalam Kitab Imamat, jika kau menjalankan ini, engkau mendapatkan hidup. Justru kalimat itulah yang membuat kesalahpahaman orang Yahudi. Mereka mengira, kalau mereka akan memperoleh hidup yang kekal. Sebenarnya bukanlah demikian. Sebab Allah memberikan Taurat bukan supaya orang dapat melunaskan semuanya, juga bukan supaya orang melanggarnya. Watchman Nee dalam bukunya "Dua Belas Bakul" memberikan satu konsep yang salah. Watchman Nee berkata, Allah menciptakan manusia justru supaya manusia melanggar, supaya manusia berdosa. Seolah-olah motivasi Allah adalah menginginkan manusia berdosa. Ini adalah satu hal yang terlalu berani memakai istilah atau terlalu berani mengutarakan konsep yang tidak beres. Sebenarnya Allah tidak memberikan Taurat supaya manusia berbuat dosa, juga tidak memberikan Taurat supaya manusia bisa menjalankan semuanya dan menjadi sempurna. Allah memberikan Taurat, memang seperti yang dituliskan dalam Imamat 18:5, kau menjalankan ini, supaya memperoleh hidup. Tetapi ketika manusia mau betul-betul, sungguh-sungguh menjalankan, barulah dia insyaf, bahwa hal ini tidak mungkin dilakukan. Coba jalankan! Pada waktu kau menjalankan barulah kau tahu tidak mungkin. Kalau tidak mungkin, tetapi tetap disuruh menjalankan, lalu bagaimana? Akhirnya berkata, Tuhan, memang seharusnya aku menjalankan, tetapi tidak mungkin. Cara yang terakhir adalah kembali kepada Tuhan: Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku menjalankan sesuatu yang tidak mungkin dapat aku jalankan? Tuhan, mengapa Kau menyuruh aku mematahui sesuatu yang tidak mungkin aku patuhi? Tuhan, kalau memang hal itu tidak mungkin aku jalankan, Kau tetap menyuruh aku menjalankannya? Kadang-kadang kita mengemban tugas yang jauh dari kemampuan kita untuk menjalankan, kadang-kadang kita mengemban satu mandat yang tidak mungkin dapat kita laksanakan, pada saat itu, barulah kita tahu, bahwa sasaran terakhir dan tujuan yang mungkin dicapai adalah merendahkan diri dan kembali kepada Dia yang memberikan mandat. Inilah Taurat. Segala perintah yang dari Tuhan di dalam Perjanjian Lama adalah memberikan pengajaran terakhir, supaya orang yang mau menjalankan, mau melaksanakan. Waktu dia menjalankan di sini tertutup, di sana tertutup, barulah kemudian mengetahui, itu tidak mungkin; itu impossible. Jadi Taurat diberikan bukan supaya manusia melanggar, juga bukan supaya mereka bisa menggenapinya. Taurat diberikan supaya manusia mengetahui betapa terbatas dirinya, betapa lemah dirinya, betapa tidak mampu dirinya, betapa dia berada di dalam limitasi. Pada saat manusia masih belum pernah mengenal limitasi, dia selalu mempermainkan diri dan berperan seperti Allah. Pada saat manusia mulai sadar bahwa dirinya adalah manusia yang terbatas, dia tidak bisa, maka untuk pertama kalinya dia sadar bahwa dirinya hanyalah manusia yang dicipta menurut peta dan teladan Allah. Dalam hal ini, diperlukan satu keseimbangan antara kedua hal yang kutub: yang pertama, berjuang, yang kedua, mengenali diri. Manusia yang tidak mempunyai kekuatan untuk berjuang tidak mirip manusia, tetapi mirip binatang. Karena binatang tidak mau berjuang. Sedangkan manusia yang berjuang dan tidak mengenal limitasi, sampai dia mengira dirinya adalah Tuhan Allah, adalah bahaya. Betapa banyak pemuda yang tadinya lancar, akhirnya jatuh total, seumur hidup tidak bisa naik lagi, karena dia hanya berjuang, hanya mempunyai imajinasi dan kekuatan yang luar biasa, tanpa mengenal dirinya hanyalah manusia. Sambil kita berjuang, sambil menahan diri, sambil mengetahui saya mempunyai keterbatasan, batasan di mana saya tidak bias melampaui; hanya Allah yang tidak terbatas. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa Taurat diberikan berdasarkan kasih. Tujuan Taurat adalah supaya manusia mengenal akan limitasi. Kalau kedua hal ini sudah jelas, akhirnya kau akan kembali kepada Tuhan dan berkata, Tuhan, maafkan aku tidak bisa menjalankan. Waktu aku mau menjalankan, baru aku tahu, bahwa itu tidak mungkin saya jalankan. Waktu aku mau mengerjakan, baru aku tahu lebih dari kemampuanku untuk mengerjakan, waktu aku mau taat, baru aku tahu, aku tidak mempunyai kekuatan untuk taat. Oh, Tuhan, aku kembali kepada-Mu dan mengakui, bahwa diriku hanyalah manusia yang terbatas. Disitulah kau mulai menemukan prinsip. (bersambung...) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IYOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] Bantuan Moderator : [EMAIL PROTECTED] -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jesus-net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

