|
From: S.
Sujud
Kesaksian dari temanku yang berkewarganegaraan
Pakistan Nama teman saya ini adalah Minod Moktan (bukan nama aslinya, red), teman dari Nepal yang saya kenal kira kira tahun 2002 di Ansan, yaitu kota dekat Seoul di Republik Korea. Pertama kali saya kenal beliau melalui Musik Dangdut yang dimainkan oleh teman teman saya dari Indonesia yang sekarang sudah kembali ke tempat mereka masing masing di Jawa, Bali dan Sumatra. Beliau ini menyukai musik Dangdut, dan suka juga mempelajari bahasa Indonesia, katanya bahasa Indonesia itu mudah sekali untuk dipelajari, tidak pakai perubahan kata kerja untuk mengekspresikan waktu, dan kata katanya juga mudah untuk diucapkan dan diingat, kemudian dalam pertemuan Natal di tahun 2002, kami berjumpa dengan KADEPNAKER DPP PDS yang saat itu memang diutus oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA untuk membantu seluruh Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan ini, dan dalam bincang bincang itu, Kadepnaker yang mahir berbahasa Inggris, Jerman, dan Korea ini membuat suasana persahabatan kami lebih erat lagi, karena Minod ini kurang mengerti bahasa Indonesia, dia hanya pandai berbahasa Inggris, dan bahasa Pakistan saja. Dalam persahabatan kami yang demikian erat ini, Minod memohon kepada KADEPNAKER, apakah diperkenankan untuk menjadi anggota PARTAI DAMAI SEJAHTERA di Korea, pada saat itu dijawab oleh Bapak KADEPNAKER, bahwa beliau akan menanyakan terlebih dahulu kepada pak SEKJEND, karena soal soal begitu pada saat itu belum diketahui oleh Bapak KADEPNAKER, karena AD dan ART dari PARTAI DAMAI SEJAHTERA belum beliau terima dari DPP PDS. Selang beberapa minggu, pak KADEPNAKER memberikan berita gembira, bahwa menurut pak SEKJEND DENNY TEWU, di AD ART PDS itu tertulis, bahwa PARTAI DAMAI SEJAHTERA juga boleh menerima anggota yang berkebangsaan, bahkan beragama lain dari agama Kristen, walaupun PDS itu logonya ada Salib dan burung merpatinya, tetapi hanya sebagai ANGGOTA KEHORMATAN saja, oleh karena itu dengan penuh antusias, Sdr. Minod Moktan ini langsung menyerahkan pasfoto berwarnanya, dan beliau menerima kartu anggota PDS yang ditanda tangani oleh pak Ben Sitompul (Ketua DPW DKI). Dari persahabatan kami yang begitu erat, Minod merasa agak heran, karena kebanyakan anggota PDS itu bisa rukun rukun, bisa bercerita yang sopan, bisa bergurau secara sopan, tanpa harus menceritakan hal hal yang tergolong pornografi dan lain sebagainya walaupun mereka semua itu bukan dari satu agama, melainkan dari agama Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Kristen Katolik dan Kristen Protestan, lalu saya jelaskan, bahwa pada umumnya anggota PDS itu sudah menerima kelahiran baru. Dari kata "KELAHIRAN BARU" inilah Minod merasa terperanjat, karena selama ini dia tidak pernah mendengar kata itu, yaitu "New born again", kemudian saya jelaskan tentang kepercayaan saya untuk menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai GEMBALA DARI KEHIDUPAN SAYA DI DUNIA FANA INI. Kira kira 6 bulan kemudian, di Ansan ada pertemuan Internasional lagi, dan saat itu pak KADEPNAKER juga ikut hadir, dan melalui pak KADEPNAKER ini Minod dikenalkan kepada beberapa Pendeta Pendeta terkenal dari Indonesia yang memang bisa berbahasa Inggris, dari situlah Mr. Minod ini menyatakan kesediaannya untuk menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai JURU SELAMATNYA. Dia sungguh merasa gembira, karena dia bisa menerima berkat berkat TUHAN yang selama ini belum pernah dia terima, dan dia menceritakan hal ini melalui telepon kepada isterinya di Nepal. Isterinya yang memang selalu menurut kepada apa yang dijelaskan oleh suaminya, juga menerima Tuhan Yesus Kristus, namun di Nepal itu sulit untuk menerima Tuhan Yesus Kristus secara terang terangan, oleh karena itu dia tetap pakai jilbab, namun dalam doa doanya, selalu diarahkan kepada Tuhan Yesus Kristus saja, karena menurut Minod, hal itu telah diijinkan oleh Pendeta Indonesia yang dia temui di Ansan itu. Pada tahun 2003 ketika di Korea ada peraturan bahwa semua tenaga kerja asing harus kembali ke negaranya dan meminta Visa yang baru dari negaranya lagi untuk bekerja di Korea, maka Minod pun kembali ke Nepal, dan katanya: Ketika aku tiba di bandara, aku disambut dengan ciuman mesra dari isteriku, dia sungguh ridu sekali denganku, tetapi ayah kandungku dengan muka bengis sekali menggelandang aku ke suatu lapangan terbuka, disana sudah ada lobang seukuran 1 meter kali 2 meter, kata ayahku:"Kamu melihat lobang itu?" Aku merasa heran dan menanyakan "Ya, Ayah, tapi lobang ini untuk apa? Apakah akan ditanam pohon di sini, mengapa ukurannya satu meter kali dua meter?" Ayahku dengan muka bengis juga menjawab "Lobang ini untuk mengubur kamu, karena kamu sudah MURTAD, tidak menganut agama MOSLEM lagi", saat itu isteriku langsung saja mendekap saya dengan amat erat dan menangis tersedu sedu. Disamping ayahku itu ada seorang Polisi dengan Pistolnya, dan ayahku bilang kepadaku dengan nada yang keras "Kalau kamu masih tetap menganut agama Kristen, kamu tidak akan kuanggap anak kandungku lagi, dan aku akan memerintahkan Polisi ini untuk menembak kamu", disaat itu aku mendengar kata kata isteriku dengan lirih sekali "Tuhan Yesusmu itu akan setia melindungimu Mas Minod" Aku menjawab ayahku:"Pak di dunia ini tidak ada jalan lain untuk masuk ke Sorga, karena kita semua ini sudah berdosa, jadi hanya melalui Tuhan Yesus Kristus saja, kita bisa masuk ke Sorga, hal itu sudah ditulis di Injil Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan AnakNYA yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". Wah jawabanku itu bukan meredakan amarah Ayahku, melainkan lebih membuat ayahku meledak amarahnya, seperti api yang disiram dengan bensin saja, maka katanya "ANAK ANJING KAMU SEKARANG INI, TIDAK NGERTI PENDIDIKAN ORANG TUA, AYO JONGKOK" terus beliau memerintahkan Polisi itu untuk menembakku. Aku hanya berdoa saja kepada Tuhan Yesus "Tuhan Yesus, inilah aku Minod Moktan, aku serahkan segala Jiwa dan Ragaku kepadaMU saja, ampunilah kesalahanku, dan kalau aku harus mati, terimalah Rohku dipangkuanmu" kemudian terdengarlah "Klik" begitu saja dan pistol itu tidak meledak sama sekali. Isteriku yang dari tadi berdebar debar maka dengan serta merta meloncat dan berkata "Hore, Puji Tuhan Yesus!" Seruan itu membuat ayahku lebih marah lagi dan dia memarahi Polisi itu dan dikatakan "Tembak mati sungguhan, dia bukan anakku lagi, aku tidak sudi punya anak yang murtad seperti itu" Dengan serta merta Polisi itu membidikkan pistolnya tepat di kepalaku, dan aku berdoa lagi "Tuhan Yesus, inilah Minod Moktan, aku tidak kuasa lagi melawan pistol polisi ini, aku serahkan kepadaMU saja, biarlah DIKAU sendiri yang mengatasi semuanya, Amin" dan terdengar suara "Klik" lagi, dan saat itu isteri saya lebih lega lagi, dan dia bahkan mengatakan kepada seluruh keluargaku, bahwa "TUHAN YESUS ITU SETIA, DIA ADALAH SAHABAT KITA, DALAM SEGALA SUKA DAN DUKA, DIA SELALU MENOLONG KITA SEMUA". Kata kata isteriku itu seperti kata kata PROVOKATOR saja, yang membuat ayahku lebih berapi api lagi, dan dia menyuruh Polisi itu dengan nada marah sekali "Tembak, jangan main main!" Ya, ampun, Polisi itu juga merasa dilecehkan oleh isteriku, jadi dia benar benar mengarahkan Pistolnya tepat di depan hidungku, dan saat itu aku berdoa lagi "TUHAN YESUS, DIKAU MELIHAT SENDIRI, ADA PISTOL DI DEPAN HIDUNGKU, SEBENTAR LAGI AKU PASTI MATI, KUSERAHKAN SELURUH ROH, JIWA DAN TUBUHKU KEPADAMU SAJA, AMIN" Terdengar suara "Klik" lagi, suara ini membuat aku amat lega, karena pistol itu tidak meledak, dan saat itu isteriku langsung meloncat dan menutup mukaku dengan selendangnya, dan disaat itu juga Polisi itu juga merasa heran, lalu dia melihat moncong pistolnya, dan menekan pelatuknya, dan disaat itu terdengarlah "Dor". Seketika itulah Polisi itu bersimbah darah dan terkapar di depan ayahku, dan disaat itulah Ayahku langsung bersujud kepadaku untuk meminta maaf, mungkin beliau menganggap bahwa aku ini "Immam Mahdi" atau bagaimana, dan beliau melinangkan air matanya, lalu seluruh keluargaku juga ikut sujud menyembah aku di lapanga n itu. Aku bilang kepada keluargaku, aku bukan Immam Mahdi, tapi tetap Minod Moktan yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamatku. Selang beberapa bulan, seluruh keluargaku, isteriku, dan aku sendiri dibaptiskan di Nepal. Tuhan Yesus itu memang setia, dalam segala suka dan duka, DIA selalu menolong kita. Begitulah kesaksian dari teman saya Minod Moktan dari Nepal, semoga kesaksian ini bukan merupakan provokator, tetapi memang kenyataannya seperti itu, jadi mau percaya atau tidak, itu terserah pembaca semua, saya hanya menceritakan apa adanya saja, terima kasih Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu" Markus 1:4 =============================================
From: Dewi Kriswanti
MENJADI SERUPA DENGAN DIA Bacaan: Filemon 3:1-11 "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya." (Filipi 3:10) Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, dengan jelas rasul Paulus mengatakan prinsipnya dalam mengiring Tuhan dan bagaimana tekadnya untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Hal ini harus menjadi teladan bagi kita semua, dimana dalam hidup ini kita harus dengan sungguh menyatakan prinsip hidup kita sebagai umat Kristiani untuk: 1. Mengenal Yesus Kristus dengan baik, dan melakukan seluruh kehendakNya dalam hidup kita. Kita sering mengaku pengikut Kristus tapi dalam kenyataannya kehidupan kita tidak mencerminkan Kristus dan malahan lebih jahat dari orang yang tidak mengenal Dia. 2. Supaya kita juga dapat menikmati kuasa kebangkitan Kristus itu dalam hidup kita, Roh Kudus akan dengan leluasa dalam kehidupan kita kalau kita mempersilahkan Roh itu bekerja dalam diri kita dan kita harus menjadi serupa dengan Kristus sebab hanya orang yang serupa dengan Kristuslah Roh Kudus berkuasa dalam hidupnya (menikmati kuasa Roh Kudus). 3. Kita bukan saja menerima keselamatan dalam pengorbanan Kristus di kayu salib tapi kita juga mau menerima penderitaan yang harus kita alami sebagai orang Kristen Yesus juga mengalami penganiayaan sewaktu Dia datang ke bumi ini maka kita yang menjadi pengikutNya pasti juga harus siap dan harus mau mengalami penderitaan itu sebagai bukti dan kesetiaan kita kepadaNya karena hanya melalui pencobaan ini kita semakin murni dalam pengharapan kepadaNya (pengikut Kristus). 4. Supaya kita juga menjadi serupa dengan Yesus, baik lewat kematianNya maupun lewat kebangkitanNya. Semua ini mengartikan bahwa hidup kita ini memang sudah diciptakan Tuhan agar menjadi kemuliaan bagi namaNya dan membawa kita kepada pengenalan kita akan Dia dan kuasaNya supaya kita menjadi segambar dengan Dia (1 Yoh. 2:5-6). Mari kita renungkan Firman Tuhan yang mengajarkan kepada kita hari ini, agar kita menanamkan tekad di hati untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus yang akan mempermuliakan Dia dan memberkati seluruh kehidupan kita. (FL) Doa: Ya Tuhan jadikanlah kami semua serupa dengan Engkau, agar hidup kami menjadi kemuliaan bagi namaMu dan yang terutama adalah agar kami selalu taat dan setia kepadaMu. Amin MENJADI SERUPA DENGAN YESUS KRISTUS BERARTI
MENERIMA HIDUP YANG KEKAL -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

