|
PENGAMPUNAN Thesis
33 Pengampunan
TUHAN tidak terbatas, tetapi penerimaan kita terhadap pengampunannya dapat
terbatas. Dia pikir dia telah melakukan
kejahatan yang sempurna. Selama beberapa tahun ini rencananya sepertinya
akan berhasil. Pekerjaannya di
pemerintahan telah menjadi batu loncatan menuju kesuksesan finansial.
Tagihan bulanannya hampir seperti sebuah lelucon, begitu kecil dibandingkan
dengan jumlah yang secara teratur ia
gelapkan. Kadangkala dia sedikit
khawatir. Semakin ia berusaha
mengatur pendapatannya, semakin banyak sepertinya yang ia habiskan. Tetapi isterinya menyukai barang-barang bagus, anak-anaknya terbiasa
hidup mewah, maka dia menyingkirkan ketakutannya dan tetap dengan
rencananya. Kemudian suatu hari seluruh dunia
menjadi runtuh di sekelilingnya. Pemeriksa keuangan secara tidak
terduga memeriksa pembukuan dan dia tidak mempunyai waktu untuk menutupi
jejaknya. Yang paling mengerikan dan mengejutkannya,
dia ditangkap untuk ditahan, dituntut dengan hutang terhadap pemerintah sebesar
10 juta dollar. Dia tidak bisa membayangkan ke mana
uang itu telah pergi. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya sekarang. Isteri dan
anak-anaknya akan dipermalukan. Rumahnya yang indah
akan disita, dan dilanjutkan dengan penjualan untuk
mengembalikan hutang-hutangnya. Tetapi walaupun seluruh
hartanya dilikuidasi, dia masih berhutang berjuta-juta lagi. Dan
bagaimana dia dapat berharap membuat rencana lain untuk
mengganti sumber penghasilannya jika dia duduk di dalam
penjara? Hari persidangannya akhirnya
tiba.
Dia hanya melakukan apa yang dapat dilakukannya. Dia maju menghadap hakim dan mengakui kesalahan sebagaimana yang
dituduhkan. Tetapi dia menyerahkan dirinya kepada
belaskasihan pengadilan, meminta waktu untuk membayar ganti rugi. Dia sangat takjub, hakim menangguhkan penghukumannya walau dia telah
dinyatakan bersalah. Dia berjalan ke luar dari ruang
pengadilan sebagai orang "bebas". Tetapi dia belum benar-benar
bebas. Karena dia telah memutuskan dalam benaknya sendiri bahwa
bagaimanapun dia akan mengembalikan uang yang telah dia
gelapkan. Jika tidak, dia merasa bahwa dia akan
memiliki kewajiban terhadap pemerintah selamanya. Di jalan menuju ke rumah,
kesempatan pertama muncul dengan sendirinya. Dia bertemu
dengan teman sekerjanya yang berhutang kepadanya 30 Dollar. Tidak banyak memang, tetapi itu adalah suatu awal, dan disamping
itu, dia harus menghidupi dirinya sendiri sekarang, tanpa bantuan penghasilan
tambahan. Maka dia menuntut 30 Dollar
itu. Teman sekerjanya menyatakan tidak
punya uang. Tetapi hutang itu telah lama
jatuh tempo, dan dia merasa telah cukup bermurah hati. Maka dia membuat tuntutan terhadap pria ini di dalam sebuah
persidangan kecil. Beberapa
hari kemudian, ketika kasus itu muncul, hakim ketua yang memimpin sidang adalah
orang yang sama dengan hakim yang membebaskannya. Ketika hakim melihat bahwa penggugat adalah orang yang baru-baru ini
ada di ruang sidangnya, dia sangat marah. Dia segera
mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjatuhkan kembali hukuman yang
telah ditangguhkan itu. Dan orang itu diseret ke
penjara, sementara tuntutannya terhadap rekan kerjanya
dibatalkan. Cerita ini dicatat dalam Matius
18, mengajarkan kebenaran penting tentang pengampunan. Pengampunan
TUHAN tidak terbatas. Penerimaan kitalah yang kadang
kala terbatas terhadap pengampunan-Nya dan menggagalkan rencana-Nya untuk
membebaskan kita dari penghukuman atas dosa-dosa
kita. Yesus menceritakan kisah ini untuk
menjawab pertanyaan Petrus tentang seberapa sering dia harus mengampuni
saudaranya. Yesus memberikan jawaban 'tujuh
puluh kali tujuh kali' yang terkenal itu, mengindikasikan belas kasihan Allah
yang tidak berakhir terhadap kita. Tujuh puluh kali tujuh kali bukan
maksud Allah membuat sebuah catatan, dan ketika kita telah mengampuni 490 kali,
itulah batasnya. Pengampunan-Nya tidak mengenal
batas. Tetapi kita sering menjadi takut dan malu, dan
berhenti meminta. Kita berhenti mencari
pengampunan-Nya, karena kita berpikir
bahwa kita telah terlalu jauh. Dan kita menaruh batas
pada pengampunan-Nya yang tidak pernah ada dalam
maksud-Nya. Atau kita mungkin menemukan diri
kita bersimpati kepada orang di cerita itu. Orang ini,
yang diampuni hutang 10 juta dollar-nya, tidak pernah sungguh-sungguh menerima
pengampunan yang ditawarkan. Adalah benar bahwa dia
memohon pengampunan, tetapi ketika orang yang berhutang kepadanya memohon
kemurahan hatinya, dia tidak memiliki kesadaran betapa besar hutangnya.
Dia tidak menyadari ketidaksanggupannya. Dia berharap untuk menyelamatkan dirinya.Christ Object
Lessons, hal. 245. Perlakuannya terhadap rekan
sekerjanya menunjukkan kegagalannya menerima pengampunan yang
ditawarkan. Dan ketika hakim menggantikan
hukuman dan mengirim orang itu ke penjara, dalam kenyataannya hakim
hanyalah sekedar melaksanakan pilihan orang itu sendiri. Karena itu TUHAN tidak pernah memaksakan pengampunan-Nya kepada
siapa pun. Ketika
kita melihat betapa besar dosa kita sebenarnya dan ketidaksanggupan kita untuk
menyelamatkan diri kita sama sekali, kita tidak harus
putus asa. Semakin besar hutang kita, maka semakin besar kebutuhan kita akan belas kasihan dan pengampunan Allah. Dan karena kasih-Nya yang besar, tidak ada yang paling Allah
inginkan selain mengampuni kita dan membebaskan
kita. 95
Theses on Righteousness by Faith, Morris L. Venden,
Pacific
Press Publishing Translated
by Joriko Melvin Sihombing -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|
Title: PENGAMPUNAN

