Mommy

John 3:16
For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.

Written by Christine Wili    

Friday, 27 May 2005 
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.
Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak.
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya.
Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati...,
mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak...

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric...

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang dibelakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.
Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama
bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan dimana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata di irlandia utara)
================================================

Campur Tangan Orang Tua Dalam Berpacaran
Oleh: Saumiman Saud

Ada orang tua yang yang tidak mau tahu terhadap pergaulan anak-anaknya, ia berkata bahwa jaman sekarang adalah jaman modern, biarlah anak-anak menentukan masa depan sendiri. Kalimat yang diucapkan ini boleh benar, boleh juga tidak, mengapa? Sebab orang tua yang beginian dianggap orang tua jaman sekarang, yang mengerti sekali akan kondisi kehidupan anak anak-anaknya, namun dipihak lain, ortu yang demikain adalah ortu yang kurang bertanggung jawab, sebab menjadi ortu adalah tugas seumur hidup.

Memang kalau kaum muda yang tinggal bersama ortu, kegiatan pacarannya masih terpantau, walaupun mungkin ortu anda sibuknya seabrek, dibanding mereka yang sekolah di ibu kota bahkan di Luar Negeri, mereka semua terlepas dari pantauan ortu, mau melakukan apa saja ngak masalah, dan tidak ada yang melarang. Kalau bersama ortu , untuk pergi menonton misalnya, mesti lapor pada ortu dan waktu pulangnya juga sudah ditetapkan, tidak boleh melewati jam 22.00 malam misalnya, namun yang tinggal kost di ibu kota atau Luar Negeri, mau jungkir balik, pulang malam , tengah malam ataupun ngak pulang , tidak ada yang peduli. Bayangin saja, tentu risikonya lebih besar kalau tanpa ada keterlibatan orang tua sama sekali.

Saya yakin semua orang tua itu sayang pada anak-anaknya, mereka tidak bakal menjerumuskan anak-anaknya pada hal-hal yang keliru atau kesengsaraan. Tadi di depan kita telah menyinggung bahwa orang yang jatuh cinta itu kadang matanya dibutakan oleh cinta, oleh sebeb itu tugas orang tua untuk memelekkannya. Memang ada orang tua yang punya motivasi jelek, kalau pacar anaknya orang kaya, maka semuanya tidak dipersoalkan, rasanya lancar seperti jalan toll. Namun kalau sang pacar itu miskin (kere), mobil tak punya, sepeda motornya juga sudah butut, nah ini, surat ijinnya untuk berpacaran sulit sekali keluar. Banyak sekali prosedurnya. Kadang karena masalah kekayaan ini, banyak orang tua juga tertutup matanya, sehingga mengambil keputusan yang konyol, membuat si anak sengsara didalam perkawinannya. Ternyata kekayaan tidak dapat menjamin kebahagiaan, yang berbahagia justru saling mencintai itu.

Di lain pihak kaum muda yang sedang asyik berpacaran itu , sudah lupa segalanya. Sering kali ia tidak menemukan kejelekkan dari pasangannya, karena begitu kuatnya kekuatan cinta, telah membuat apa saja yang dilakukan oleh pacarnya itu selalu baik. Nah, kadang untuk hal ini sering terjadi pertengkatan antara anak dan ortu. Pacar yang suka bohong, masih dibela-belain, ngak apa-apalah , demi kesenangan kita, orang tua dibohongi pun ngak soal. Bayangkan saja, baru dalam tahap pacaran, sang “calon mertua” pun sudah berani dibohong, itu sebabnya jangan heran ntar kalau sudah menikah, sang isteri akan dibohongi juga, siapa takut!!. Bagi pria perokok dan pecandu Alkohol dan diskotik, apabila sang wanita yang sudah kebelet cinta ama dia, masih ngebela-belain juga, ngak apa-apa sesekali minum asal ngak sampe mabok, lagi pula yang diminum itu hanya beer yang ngak bakalan bikin mabok. Nah setelah menikah, apa yang terjadi, tahu sendirilah.

Saya pernah mendengar kesaksian seorang ibu dua anak, dia katakan bahwa sewaktu pacaran suaminya itu memang sudah mempunyai sifat buruk, selain perokok berat, Alkohol juga sering ke diskotik. Masih untunglah kalo berjudi ia tidak suka. Namun sesudah menikah apa lacur, si suami makin menjadi-jadi, hampir setiap malam minggu pergi minum dan diskotik, mula-mula sang isteri diajak, namun karena udah punya anak maka tidak diajak lagi. Sering kali pulang dengan mabuk tak menentu, dan suka main tangan memukul sang isteri. Berkali-kali terjadi hal ini, hingga akhirnya sang suami punya WIL (Wanita Idaman Lain = simpanan), barulah dengan keberanian dan terpaksa si isteri minta cerai, walaupun kedua putra semata wayang itu harus dipelihara oleh pihak suami, ia tidak persoalkan lagi, ia tidak tahan di madu. Inilah akibatnya, karena mata orang yang sedang dilanda asmara udah dibutain waktu itu. Nasihat ortupun kagak peduli.

Sekali lagi kita tidak dapat mengabaikan peranan orang tua dalam hal pacaran anak-anaknya, walaupun saya tidak setuju kalau orang tua mesti memaksakan kemauan mereka untuk anaknya, sebab yang berpacaran kan bukan orang tua dan yang bakal menikah juga bukan mereka. Sangat heran sekali, orang tua itu kadang memiliki insting yang melebihi anak-anak muda, mereka seakan-akan sudah mengetahui masa depan mereka, walaupun tidak semuanya benar, itu sebabnya restu merka sejauh mungkin jangan diabaikan. Kadang juga pilihan dan persetujuan orang tua itu bisa salah, kemungkinan besar karena kelihaian dari sang pacar bermain sandiwara sehingga mengelabui mereka.

Ada seorang tokoh di dalam Alkitab yang bernama Simson (Hakim-Haklim 14: 1 - 4), waktu itu Simson melihat seorang gadis Filistin di Timma. Kemudian ia pulang meberitahukan hal ini kepada orang tuanya. Hal ini baik, karena ternyata Samson masih menghargai orang tuanya didalam hal mencari pasangan. Namun yang disesalkan adlah ia tidak menuruti nasihat orang tuanya.

Menikah itu diperhitungkan oleh semua orang secara umum adalah satu kali, walaupun ada orang yang berkali-kali, yang berkali-kali pasti ada ketidak beresannnya. Oleh karena hanya satu kali maka perlu memilih dan menyeleksi yang terbaik, makanya campur tangan orang yang lebih tua apalagi orang tua kita, dijamin tidak merugikan. Permisi Tanya ya? Anda pacaran sudah direstui orang tua belum? Atau masih sembunyi-sembunyi? Yang sembunyi-sembunyi, percayalah suka-cita dan damai sejahteranya pasti terganggu. Sabarlah, hingga mereka merestui selama orang tua kita tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Usahakan jangan mengabaikan campur tangan mereka dalam berpacaran.

******************************************

*) Alumni Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, saat ini melayani di Gereja Injili Indonesia San Jose, California USA. penulis buku MENGENAL DIA LEBIH DALAM terbitan Kairos 2004 Jogjakarta dan DINAMIKA KEHIDUPAN ORANG PERCAYA terbitan Yasinta, 2004 Jakarta. Buku selanjutnya yang sedang dalam proses penerbitan Juli 2005 ini oleh penerbit Kairos Jogjakarta, berjudul  PENDETAKU DICACI & DIPUJI



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-




SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke