|
From: Billy Kristanto
Doa Bapa Kami
(5)
Matius
6:12-15
Lalu di dalam ayat berikutnya, dan ampunilah
kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah
kepada kami. Bagian ini bukan mengajarkan bahwa pengampunan Tuhan tergantung
daripada kita yang sudah terlebih dahulu mengampuni orang lain. Bukan karena
kita mengampuni orang lain dulu lalu Tuhan tertarik mengampuni kita. Tetapi
sebaliknya dinyatakan kalau kita memang sungguh-sungguh sudah mengalami cinta
kasih Tuhan, pengampunan daripada Tuhan, maka itu akan dinyatakan dengan kemauan
saya mengampuni orang lain. Pengampunan itu adalah ekspresi terakhir daripada
kasih. Mengapa? Karena pengampunan itu berurusan dengan kesalahan orang lain,
daripada luka yang ditimbulkan karena orang lain. Kasih sejati diuji sampai di
dalam taraf seperti itu. Yesus Kristus sendiri, waktu Dia di atas salib
mengatakan "Ampunilah mereka ya Bapa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat." Dia menutupi kesalahan orang lain, itulah kepenuhan kasih. Mengasihi
Allah juga harus diuji di dalam keadaan seperti itu (meskipun takaran setiap
orang pasti berbeda-beda), kadang Tuhan mengizinkan seperti seolah-olah Ia
menarik semua berkatNya dari kita. Ayub misalnya mengalami perasaan
ketersendirian yang sangat dalam, masih bisakah mengasihi Tuhan di dalam keadaan
seperti itu? Termasuk juga waktu orang lain melukai kita, dapatkah kita tetap
menyampaikan ekspresi kasih itu kepada orang lain? Kalau kita belum bisa,
berarti kita belum betul-betul mengerti cinta kasih Tuhan yang telah mengampuni
kita. Pengampunan forgiveness itu selalu 2 arah, tidak bisa satu arah.
Kita cuma minta forgiveness dari Tuhan lalu kita sendiri tidak bersedia
untuk mengampuni orang lain. Itu cuma menyatakan bahwa kita tidak mengerti
kebesaran dan kerusakan dosa kita sendiri di hadapan Tuhan, maka kita juga
akhirnya jadi kurang mengerti cinta kasih Tuhan yang begitu besar atas diri
kita. Maka waktu kita mengampuni orang lain, kita rasa jadi sulit karena kita
lihat dosanya begitu besar. Orang yang melihat dosa orang lain jauh lebih besar
sehingga dia sulit untuk mengampuni orang lain, secara tidak langsung sedang
berpikir "Saya lebih baik daripada dia, dosa orang ini keterlaluan, tidak bisa
diampuni!" Maka saya susah mengampuni. Dia tidak sadar bahwa dosanya juga sangat
besar di hadapan Tuhan. Banyak orang-orang Kristen yang dipakai Tuhan dengan
luar biasa juga harus mengalami pembentukan di dalam bagian ini. Seorang Belanda
bernama Corrie ten Boom itu pernah mengalami penderitaan yang diakibatkan
perlakuan tentara Nazi, cuma akhirnya dia luput dari kematian dan masih hidup
setelah perang selesai. Waktu itu dia bergumul dengan sulitnya untuk mengampuni
orang Jerman. Dia hampir berjanji, seumur hidupnya tidak akan menginjakkan
kakinya lagi di Jerman. Tapi Tuhan membentuk dia, mengubahkan dia, sampai
akhirnya dia bisa mengampuni orang-orang yang pernah melakukan yang jahat
kepadanya. Dia akhirnya mengunjungi kembali negara itu dan Tuhan memakai dia
dengan luar biasa. Kesaksian hidupnya telah menjadi berkat bagi banyak orang,
Corrie ten Boom, seorang raksasa iman yang dicatat dalam sejarah Gereja, tapi
dia perlu mengalami pembentukan seperti itu. Kita juga harus belajar mengalami
pembentukan seperti demikian.
Permasalahan kita adalah kita cenderung peka sekali
ketika orang lain menyakiti kita, tapi kita sama sekali tidak peka waktu kita
menyakiti orang lain. Persoalan semua manusia yang berdosa, kita cenderung lebih
peka waktu itu berurusan dengan kehidupan saya, tapi waktu berurusan dengan
kehidupan orang lain, kita kurang ada kepekaan itu. Di dalam pertumbuhan rohani
yang sehat, seharusnya jadi terbalik. Kita lebih peka terhadap kesalahan kita
terhadap orang lain lalu kita menjadi kurang peka terhadap kesalahan orang lain
pada kita. Mengapa bisa menjadi kurang peka? Karena ada cinta kasih yang cukup.
Cinta kasih yang cukup itu membuat segala sesuatu menjadi tertutupi, itulah yang
dilakukan Yesus Kristus di atas salib. Dia bukan tidak tahu orang-orang ini
berdosa dengan menyalibkanNya di atas kayu salib. Mereka bukan orang yang tidak
tahu kalau mereka menyalibkan Yesus, mereka betul-betul melakukan itu dengan
sadar. Tapi Yesus Kristus mengatakan mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,
berarti Yesus menutupi kesalahan mereka. Yesus Kristus menutupi kesalahan mereka
karena Dia sendiri adalah kasih yang sempurna. Sebagai orang Kristen, kita harus
bertumbuh di dalam hal seperti ini.
Waktu Tuhan membentuk kita melalui
peristiwa-peristiwa di mana kita belajar untuk mengampuni orang, kita harus taat
kepada Tuhan. Kalau kita mengelak, kita melarikan diri dari keadaan tersebut,
suatu hari pembentukan ini tetap harus terjadi. Orang yang tidak mau dibentuk
Tuhan, orang Jawa bilang, nanti akan kebentuk-bentuk (terbentur sana sini).
Mari kita belajar untuk mengasihi orang lain bahkan sampai di dalam tahap
pengampunan. Di dalam pengampunan itu berarti kita menyatakan cinta kasih sampai
ke dalam taraf yang terakhir seperti Yesus Kristus sendiri sudah mengampuni
kita, orang-orang yang sangat berdosa.
Ayat ini membicarakan prinsip yang sederhana, yaitu
waktu kita mengampuni orang lain, kembali kita mengerti Kerajaan Allah di dalam
segala keluasan. Orang yang susah menutupi kesalahan orang lain, orang yang
susah untuk mengampuni kesalahan orang lain, dia tidak bisa melihat keluasan
pekerjaan Tuhan di dalam Kerajaan Allah. Dia akan terus masuk di dalam persoalan
dirinya sendiri, keterlukaan dirinya, masuk ke dalam dendam dan sakit hati. Dia
tidak bisa berdoa, datanglah Kerajaan Allah. Dia terus bergumul di dalam
kesakitan jiwanya yang harus disembuhkan.
Banyak orang sulit untuk dipakai Tuhan dengan
maksimal, bukan karena dia tidak cukup bakat, atau kurang sesuatu (uang, modal,
kesempatan belajar, atau mengalami trauma masa kecil sehingga tidak bisa
bertumbuh secara normal secara psikologis atau alasan2 yang lain). Itu semua
mitos! Salah satu alasan mengapa seseorang sulit untuk dipergunakan dengan
leluasa oleh Tuhan adalah karena dia tidak mau dibentuk oleh Tuhan,
terus-menerus menghindari pembentukan Tuhan. Dia tidak mempunyai sikap hati yang
betul-betul dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan mau bawa ke mana, termasuk ke
jalan yang penuh duri, dia menolak, dia mau cari jalan aman, jalan yang lebih
lebar yang sebetulnya kita juga tidak mau ke sana, karena jalan itu menuju
neraka. Separuh mau jalan ke situ tapi kita tidak mau jalan sampai ke ujungnya,
tapi jalan yang sempit juga tidak mau. Gereja sangat membutuhkan penggarapan
teologi yang berkait erat dengan spiritualitas.
Ketika kita berdoa mohon pengampunan, salah satu
yang harus terjadi di dalam kehidupan kita, yaitu ingat akan mengampuni orang
lain. Mengampuni orang lain dan berdoa bagi pengampunan kita sendiri, memohon
kasih Tuhan sekaligus mengingat bahwa kita harus mengasihi orang lain juga.
Prinsip ini sama dengan ketika kita minta daily bread untuk kita, kita
memintakannya juga untuk orang lain, demikian waktu kita berdoa pengampunan
kesalahan kami, di situ termasuk kesalahan orang lain (lebih tepatnya bukan
hanya kesalahan orang lain terhadap yang lain lagi, tapi juga kesalahan orang
lain terhadap diri kita).
Lalu ayat yang ke-13 : jangan membawa kami ke
dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat.
Pencobaan itu sebenarnya di dalam tangan Tuhan menjadi sesuatu yang sangat
efektif untuk membentuk kita. Orang yang tidak pernah mengalami pencobaan harus
mengintrospeksi dirinya, jangan2 memang dia tidak ada bagian dalam Kerajaan
Allah sehingga setan pun enggan untuk mengganggu dia! Orang yang tidak dicobai,
dia sulit mengalami pertumbuhan yang pesat. Waktu hidup kita diganggu oleh roh
jahat, mari kita melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh. Luther
pada masa tuanya mengatakan bahwa jikalau ada kesempatan, kalau dia diijinkan
hidup lebih panjang, dia ingin menulis tentang pencobaan, tentang penggocohan
dari iblis. Karena bagi dia, tanpa itu manusia sulit mengerti tentang apa itu
kasih Allah dan pengharapan yang sesungguhnya.
Lalu mengapa di dalam bagian ini kita diminta untuk
berdoa jangan membawa kami ke dalam pencobaan? Kenyataannya Tuhan seringkali
mengizinkan pencobaan terjadi. Bukankah ini seperti sesuatu yang berkontradiksi?
Kita percaya bahwa doa ini sebenarnya menyatakan suatu kerendahan hati meskipun
temptation itu seringkali dapat dipergunakan oleh Tuhan, melalui
penderitaan dan kesulitan membawa orang maju dengan pesat, tapi kita tidak boleh
menantang pencobaan itu sendiri karena itu merupakan satu sikap yang gegabah.
Kalau kita berdoa "Tuhan kirimlah salib yang lebih berat di dalam diriku, cawan
yang 7 kali lebih pahit supaya saya lebih dewasa." Orang seperti ini tidak tahu
berdoa, dia tidak mengukur kekuatannya sendiri. Dia pikir dia bisa, dia mampu
menanggung beban sebanyak-banyaknya padahal dia sendiri juga berada dalam suatu
takaran iman tertentu di dalam hidupnya. Maka ayat ini mengajarkan supaya
pencobaan ini berlalu. Saya tidak mau berurusan dengan yang jahat, karena itu
suatu pengalaman yang tidak menyenangkan. Orang percaya tidak bersikap abnormal
di sini.
Bahkan Yesus Kristus juga melakukan yang sama, Dia
berdoa cawan ini kalau boleh lalu daripadaKu, artinya Dia tidak mencari salib
di dalam hidupNya. Yesus Kristus memang tahu tujuannya lahir ke dunia memang
menuju ke kayu salib, tapi Dia bukan menginginkan salib. Dia tidak mengejar
penderitaan, Dia orang yang waras sepenuhnya kalau boleh cawan ini lalu, tapi
demi kehendakMu saya rela meminumnya. Intinya bukan penderitaan, intinya
bukan pada salib tapi pada ketaatan kehendak Tuhan. Saya memikul salib karena
itu adalah kehendak Tuhan. Kalau bukan kehendak Tuhan, saya tidak mau menderita.
Penderitaan bukanlah sesuatu yang harus dicari, penderitaan (termasuk pencobaan)
adalah sesuatu yang kita sebagai manusia seharusnya memang menghindari. Kalau
boleh Tuhan lepaskan daripada yang jahat. Itu bukan sesuatu yang enak dinikmati.
Ada suatu gejala penyakit jiwa, yang disebut masochist, yaitu orang yang suka
menikmati penderitaan seolah the meaning of life is to suffer. Perhatikan
bahwa agama-agama ciptaan manusia juga banyak yang terjebak ke arah ini.
Menikmati penderitaan secara tidak sadar. Yesus Kristus, rasul-rasul dan
nabi-nabi yang dicatat dalam firman Tuhan tidak bersikap seperti itu. Dalam
menggenapkan kehendak Tuhan, terlibat di dalam rencana Allah maka kita
tidak boleh menghindari penderitaan, kesulitan dan juga lari dari pembentukan
yang sedang Tuhan kerjakan di dalam diri kita.
Ayat ini mengajarkan supaya kita berdoa agar Tuhan
melepaskan kita dari evil. Tafsiran dari Charles Hodge atas surat
Korintus, waktu dikatakan di dalam kitab Yakobus Allah tidak mencobai, itu
bukan berarti Allah tidak mencobai di dalam pengertian Allah tidak pernah
memimpin ke dalam situasi di mana seseorang mengalami pencobaan. Allah tidak
mencobai di dalam pengertian Ia tidak membawa seseorang ke dalam suatu pencobaan
dengan sengaja untuk menjatuhkan dia. Bisakah Allah memimpin seseorang ke dalam
pencobaan? Yesus Kristus sendiri dipimpin ke padang gurun oleh Roh untuk
dicobai. Maka C. Hodge mengatakan "Allah tidak mencobai" bukan di dalam
pengertian Allah tidak mungkin memimpin ke dalam pencobaan, tapi di dalam
pengertian waktu pencobaan itu terjadi Allah tidak bermotivasi untuk menjatuhkan
orang. Tapi bukan berarti Allah tidak boleh dan tidak bisa membawa orang masuk
ke dalam suatu setting pencobaan di dalam kategori kehendak Tuhan. Untuk
memperlunak konsep ini memang kita dapat menggunakan istilah pengizinan dari
Tuhan. Pencobaan itu sesuatu yang Tuhan kadang-kadang izinkan terjadi di dalam
kehidupan kita supaya kita belajar bergantung kepada Dia, supaya kita tidak
menjadi orang yang self-confident (yakin dengan kekuatan diri kita
sendiri) supaya kita tidak menjadi orang yang menilai diri terlalu tinggi
(over-estimate), akhirnya kita jatuh dalam pencobaan.
Petrus gagal ketika dia menyangkal Yesus Kristus.
Dia gagal karena overconfident akan imannya sendiri, dia menilai diri
seolah-olah dia adalah orang yang sangat setia, paling setia kepada Tuhan.
Ternyata tidak demikian dan Tuhan sudah mempersiapkan dia, Tuhan sudah
menubuatkan iblis berusaha menampi kamu tapi Aku sudah berdoa bagimu. Kita
dapat berada di saat yang sedang digoncang, baik secara pribadi, maupun secara
komunitas gereja, bahkan dalam konteks global (situasi politik, keamanan,
keadaan ekonomi, ekologi dsb). Waktu itu semua terjadi, apa yang menjadi respon
kita di hadapan Tuhan? Karena yang terpenting adalah respon kita di hadapan
Tuhan, bukan respon kita terhadap penderitaan itu sendiri atau respon kita
terhadap manusia yang lain. Penderitaan itu membuat kita semakin maju di dalam
Tuhan ketika kita berespon dengan benar di hadapan Allah. Bukan di hadapan
penderitaan itu sendiri, juga bukan di hadapan manusia, atau di hadapan diri
kita sendiri. Di tengah pencobaan kita tidak membangun confident di dalam
diri kita sendiri, kita menyadari bahwa kita adalah orang yang rentan dan rapuh.
Setan di dalam pengalamannya, tahu titik rentan orang ada di mana. Setan bahkan
kadang seperti maha tahu, bisa memprediksi masa depan dsb, karena dia sangat
berpengalaman. Namun ketika kita menyerahkan diri dan pikiran kita untuk
dipimpin oleh Roh Kudus, mengutip perkataan seorang pengkhotbah, setan tidak
keburu memprediksi dan menghitung-hitung kemungkinan yang akan terjadi, karena
Roh Kudus jauh lebih lincah dan dinamis daripada perhitungan yang dapat
dilakukan oleh setan.
Setan berusaha menjatuhkan Petrus, menjatuhkan
Yudas - yang memang bukan orang pilihan, dan bahkan juga berusaha menjatuhkan
Anak Allah itu sendiri. Tapi yang terjadi, pencobaan-pencobaan yang diizinkan
terjadi, kejatuhan-kejatuhan itu justru menggenapi rencana Allah. Setan tidak
mengerti drama kosmos menurut versi Tuhan, dia cuma bisa baca menurut
rancangannya sendiri. Di sini kita kembali bersyukur karena percaya bahwa Allah
kita adalah Allah yang berdaulat. Tanpa percaya kedaulatan Allah yang mengontrol
setiap mm dalam kehidupan manusia, kita akan menjadi orang-orang yang tidak
berpengharapan menyaksikan realita kejahatan yang terjadi di sekitar kita.
Petrus ketika jatuh pasti sangat terpukul, tapi
Yesus sudah melihat kejatuhan itu sebagai bagian keseluruhan rencana Allah dalam
dirinya. Dia sudah melihat, setelah Petrus jatuh, dia akan lebih bergantung
kepada Tuhan dan cinta kasihnya akan lebih disempurnakan di dalam Tuhan. Dia
tidak lagi mengasihi Tuhan dengan kekuatannya sendiri, dia sekarang mengasihi
Tuhan dengan menyerahkan bahwa Engkau tahu Tuhan apakah aku mengasihi Engkau."
Dulu dia mengatakan, Sekalipun mereka semua meninggalkan Engkau, aku akan tetap
setia, menyertai, mengikut Engkau!" Tapi setelah dia jatuh, dia menyerahkan
penilaian tersebut di dalam tangan Tuhan. Dia tidak menilai diri berdasarkan
kekuatan dirinya lagi, tapi menilai dirinya berdasarkan kemahatahuan Tuhan yang
betul-betul mengenal Petrus secara tepat. Itulah yang menjadi suatu turning
point di dalam hidupnya melalui pencobaan, bahkan kejatuhan. Kita harus
mengerti kalimat ini secara dewasa. Pencobaan, bagaimanapun pekerjaan setan
begitu hebat, begitu besar kuasanya, kita harus lebih percaya bahwa Yesus
Kristus melebihi semuanya. Rencana setan sangat merusak, tapi rencana Allah jauh
lebih indah daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh setan. Itu menjadi suatu
pengharapan di dalam kehidupan kita. Ketika kita berjalan mengarungi kehidupan
yang disertai berbagai kesulitan, kita harus terus mengingatkan diri kita akan
kebenaran ini. Bagaimanapun penderitaan dalam pencobaan itu diizinkan Tuhan
terjadi, ada satu maksud rencana Allah yang jauh lebih besar nanti di depan.
Ayub mengenal Allah dengan lebih baik setelah dia mengalami pencobaan. Petrus
mengasihi Tuhan dengan lebih baik setelah dia jatuh. Paulus dipakai Tuhan secara
luar biasa sampai akhir hidupnya dengan penyertaan duri dalam daging, utusan
iblis, yang tidak pernah Tuhan ambil. Mari kita belajar menikmati, bukan
pencobaan, melainkan kasih karunia Allah yang senantiasa cukup dalam hidup kita.
Solus Christus, Soli Deo Gloria. Billy Kristanto Mimbar Reformed
Injili Indonesia - Berlin dan Hamburg
04.00 PM Evangelische Kirchengemeinde Martin-Luther, Fuldastr. 50, 12045 Berlin 4.00 PM FeG Holstenwall
(JugendKeller), Michaelispassage 1, 20459 Hamburg -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

