|
From: "Mundhi Sabda H. Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>
Orangtua Berhak Mengajar,
Bukan Menghajar
Oleh : MSH. Lesminingtyas* Setelah sekian lama membawakan acara konseling interaktif di radio, Sabtu malam kemarin merupakan siaran saya yang paling melelahkan. Karena banyak media cetak dan elektronik yang mengekspose masalah child abuse (kekerasan terhadap anak), malam itu saya sengaja membahas hal yang sama dengan menekankan dampak kekerasan terhadap anak. Dengan susah payah saya mencari sumber kesaksian yang bisa meyakinkan pendengar radio bahwa kekerasan dapat mengakibatkan trauma yang berkepanjangan dalam hidup anak. Semula saya sendiri yang akan memberikan kesaksian. Namun tim LK3 menilai masalah yang akan dibahas sangat sensitif dan kami sudah menduga bakal banyak pendengar yang "menyerang". Itulah sebabnya tim LK3 memutuskan saya hanya sebagai host untuk mendampingi nara sumber. Tim LK3 akhirnya memutuskan Ibu Henny Wirawan, Pudek I Fakultas Psikologi UNTAR sebagai nara sumber. Sayapun merelakan anak saya; Dika untuk memberikan kesaksian bagaimana ia menjalani hidup dengan trauma akibat child abuse yang dilakukan ayahnya sejak ia berumur 3 tahun. Dengan nada datar Dika menceritakan bagaimana ia dulu dibentak-bentak, diumpat dengan kata-kata tidak bermartabat, dipukul, ditampar dan direndam di kamar mandi oleh ayahnya. Saat itu Dika sering cemas, bingung, merasa tidak dikasihi, merasa tidak berguna dan tidak berharga. Hampir setiap malam Dika mimpi buruk. Ketika usia Dika genap 9 dan ayahnya memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga dan Tuhan, rasa takut dalam diri Dika tidak otomatis hilang. Bahkan kalau melihat gulungan koran yang dulu dijadikan alat pemukul oleh ayahnya, Dika masih saja merasa gemetar. Apa sih arti gulungan koran? Kalau dipikir dengan logika, gulungan koran sebenarnya tidak minumbulkan luka secara fisik. Namun ternyata benda itu telah meninggalkan luka yang sangat dalam di hati Dika. Ibu Henny Wirawan menambahkan bahwa ada kliennya yang sampai dewasa tidak berani melihat apalagi menggunakan ikat pinggang, gara-gara orangtuanya dulu sering menghukumnya dengan benda tersebut. Anak-anak yang mengalami trauma seperti Dika harus menjalani konseling dan terapi profesional yang cukup lama. Tidak cukup dengan terapi dari para ahli, setiap hari Dika membutuhkan orang yang mau mendengar dengan empati dan mau menerima ia apa adanya. Mau tidak mau saya harus menolong Dika supaya hatinya pulih. Namun sebelum saya pulih, saya tidak bisa menolong dan memulihkan hati anak-anak yang terluka. Itulah sebabnya sayapun harus menjalani konseling dan pemulihan terlebih dahulu. Tahun ini adalah tahun ke-4 dimana saya dan anak-anak ditelantarkan. Saya masih terus berjuang supaya pemulihan hati saya dan anak-anak bisa stabil dan berkelanjutan. Dan ini tidak mudah. Singkat cerita, melalui siaran malam itu kami ingin meyakinkan betapa sulitnya memulihkan hati anak yang terlanjur terluka. Di tengah-tengah siaran, saya mengajak pendengar untuk mengingat Firman Tuhan dalam Efesus 6:4, "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." dan Kolose 3:21, "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." Bila semua orangtua mengimani dan mengamini ayat tersebut, saya yakin tidak ada anak-anak yang terluka hatinya seperti Dika. Orangtua memang berhak dan wajib mengajar anak-anak, tetapi tidak untuk menghajar. Ajaran memang mendatangkan kebaikan, tetapi hajaran besar kemungkinan akan meninggalkan luka batin dan kepahitan. Anak-anak manusia memerlukan didikan, tetapi anak-anak keledai memerlukan pukulan. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: anak-anak yang kita hadapi itu sebenarnya anak manusia atau anak keledai? Satu hal yang perlu diingat bahwa anak-anak korban kekerasan, setelah dewasa kemungkinan besar akan menjadi pelaku kekerasan. Lalu bagaimana dengan kita, para orangtua yang mungkin dulu sewaktu kecil pernah menjadi korban kekerasan, yang kemudian sadar atau tidak, sekarang menjadi pelaku kekerasan terhadap anak ataupun pasangan? Tentu saja Firman Tuhan tadi menjadi sangat sulit untuk kita lakukan. Kemarahan dan tindak kekerasan rasanya tidak bisa dihindarkan karena benih-benih itu sudah ada di bawah alam sadar sejak kita kecil dulu. Satu-satunya yang bisa memulihkan kepahitan kita adalah dengan mengampuni pelaku kekerasan atau orang-orang yang pernah menyakiti kita. Pada menit ke 40 dari siaran malam itu, kami mendapat telepon dan SMS yang bertubi-tubi. Hampir semua penelpon dan pengirim SMS adalah seorang ayah/laki-laki yang merasa bahwa kekerasan untuk tujuan pendisiplinan anak tetap diperlukan. Mereka banyak mengutip ayat-ayat dari Alkitab untuk melegitimasi tindakannya. Inilah saat-saat yang paling melelahkan. Terus terang saya sangat lelah, jika harus berhadapan dengan orang-orang Kristen yang setiap hari belajar tentang kasih tetapi merasa benar dan halal memperlakukan anak secara salah. Saya semakin lelah ketika orang-orang itu menggunakan Firman Tuhan untuk membenarkan tindakannya yang keliru. Saya ngeri ketika membayangkan jika semua ibu merelakan anaknya menjadi sumber kesaksian seperti Dika, saya yakin studio atau bahkan lapangan sepak bola tidak mampu menampung anak-anak seperti Dika. Berkali-kali nara sumber mengingatkan bahwa Alkitab lebih banyak menekankan pada ajaran, perkataan dan didikan, daripada kekerasan. Dalam keadaan tertentu, pukulan memang bisa diterapkan tetapi tidak boleh sampai melukai anak baik secara fisik maupun psikis. Ada satu penelpon yang membuat saya merinding, ketika ia memprotes sikap aktivis HAM yang seolah telah mengurangi hak "kepemilikan" orangtua atas anak. Tampaknya penelpon lupa bahwa anak-anak bukanlah milik orangtua. Anak-anak adalah milik Tuhan yang dititipkan kepada orang tua. Suatu saat nanti, kita sebagai orangtua wajib mempertanggungjawabkan anak kepada Pemiliknya. Dalam siaran tersebut saya mengingatkan perlunya orangtua untuk belajar dan berjuang "menjadi orangtua". Bukan sekedar "jadi" orang tua, tetapi "menjadi" orangtua. Kalau saja para orangtua mau sedikit berjuang dan meluangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak atau menyempatkan diri bercerita untuk anak-anak, saya yakin kita bisa mendidik anak tanpa teriakan dan pukulan. Di Nepal, orangtua segan memukul anak karena dengan mereka bercerita saja, anak-anak bisa didisiplinkan. Repotnya, banyak orangtua memilih berkilah bahwa mereka tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk bercerita. Sangat ironis jika orangtua punya waktu untuk mengurus bisnis, bermain golf, membaca koran, menonton televisi atau dinner dengan rekan kerja, namun tidak punya waktu untuk bercerita dengan anak-anak, yang akan meneruskan dinasti keluarganya. Saya sendiri sangat bersyukur, satu hari sebelum siaran Ibu Roswitha Ndraha memberi buku "Mendisiplin Anak Lewat Cerita" yang ditulis beliau. Saya yakin, workshop bagaimana mendisiplin anak lewat cerita yang difasilitasi oleh Ibu Roswitha semakin membantu saya bagaimana menikmati peran sebagai orangtua dengan sukacita. Saya bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan saya untuk membekali diri dengan ketrampilan mengampuni dan "Seni Mencinta Hingga Terluka" melalui workshop "How To Forgive" yang difasilitas oleh Pdt. Julianto Simanjuntak, yang cukup berpengalaman sebagai konselor dan mediator keluarga. Melalui workshop tersebut saya sanggup mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih orang yang pernah menyakiti dan menghianati saya. Ketika saya bisa mengampuni hingga tuntas dan mencintai ayah Dika (yang menurut ukuran dunia sudah tidak layak dicintai), anak-anak menjadi tahu dan mendapatkan teladan bagaimana mereka harus mengampuni orang yang telah menyakiti kita. Setelah mengalami pemulihan, saya baru bisa membantu pemulihan hati Dika. Saat "emergency", Dika memang membutuhkan konseling dan terapi dari seorang ahli. Namun untuk mendukung pemulihannya, sayalah yang harus menjadi konselor bagi Dika. Mau tidak mau saya harus membekali diri dengan ketrampilan konseling. Dan saya sangat bangga dan cukup bahagia bisa menjadi konselor awam untuk anak saya sendiri. Setidaknya saya sudah menyiapkan diri untuk menjadi teman curhat yang bisa diandalkan Dika. Terlebih lagi saat ini Dika memasuki usia pra remaja yang cukup banyak pergumulan. Saya berharap, saya bisa memposisikan diri dan berperan sebagai teman curhat kapan pun Dika memerlukan, sehingga ia tidak perlu mencari teman curhat di luar rumah. Selain pemulihan luka batin, para orangtua perlu melakukan pembelajaran sebagai orangtua. Bila kita ngotot ingin menerapkan semua yang diajarkan atau dicontohkan oleh orangtua kita dulu, kemudian pasangan kita juga bersikeras ingin menerapkan pengajaran dan kebiasaan yang dibawa dari keluarganya, ujung-ujungnya akan terjadi konflik. Padahal ajaran yang kita ributkan belum tentu benar 100%. Terlebih lagi anak-anak kita hidup di zaman yang sudah berbeda dan banyak pengajaran orangtua kita dulu yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Mau tidak mau, kita harus belajar ulang supaya bisa mendampingi anak pada zamannya. Pembelajaran ulang ini sekaligus bisa menjadi filter untuk memilah nilai-nilai warisan orangtua kita dulu yang saat ini masih layak dipertahankan dan mengganti teladan serta pembelajaran yang tidak sesuai. Melalui pembelajaran ulang, kita yang mungkin dulu menjadi korban kekerasan, akan menggunakan pengalaman buruk itu sebagai tonggak pengingat supaya anak cucu kita tidak mengalami hal yang sama. Melalui Counseling & Parenting Education, kita bisa belajar bagaimana menjadi orangtua yang berkenan di hadapan Allah. Untuk para orangtua, calon orangtua, oma dan opa yang ingin belajar menjadi konselor awam bagi anak cucu, sekaligus menjadi orang tua/oma-opa yang berkenan di hadapan Allah, bisa mengikuti Program Counseling & Parenting Education (CPE) - LK3 yang akan dimulai tanggal 25 Februari 2006. Untuk anak-anak Tuhan yang ingin tahu lebih banyak mengenai Program CPE, bisa hadir dalam Open House CPE-LK3 di Pusat Konseling LK3 Gedung Mutiara Lantai 3, Jl. Kiai Tapa 99 A Grogol, besok Sabtu, tanggal 11 Februari 2006 jam 10.00-12.30 atau 16.00-18.30 (bisa pilih waktu). Informasi lebih lanjut, bisa diperoleh dengan menghubungi Ning atau Samurai di Pusat Konseling LK3, di nomor telpon 560.84.77 atau 56.44.129 atau Flexi 682-46-195 Untuk anak-anak Tuhan yang ada di Bogor dan sekitarnya, LK3 bekerja sama dengan PGI Setempat Bogor menghadirkan pelayanan berupa kursus konseling praktis selama 12 sesi mulai 11 Maret 2006. Untuk informasi dan pendaftaran, hubungi Ning di nomor 0251- 712-7807, Bapak Natanael di telpon 0251-31-88-19, Bapak Sahala Doloksaribu di 081-61 47 88 32 atau Bapak Darwin di 0817 603 83 36. * Penulis buku "Tangan Yang Menenun", Manajer Operasional LK3 ========================================================
From: "Mundhi Sabda H. Lesminingtyas" <[EMAIL PROTECTED]>
Melangkah Dengan
Iman
Oleh : Mundhi Sabda H. Lesminingtyas* - Sinar Harapan Edisi Sabtu, 3 Desember 2005- Dengan banyaknya masalah yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup saya, saya menemukan 3 tujuan hidup. Yang pertama : mempersembahkan kembali talenta yang telah Tuhan berikan. Yang kedua : membesarkan ketiga anak saya dalam terang dan ajaran Kristus hingga mereka layak dipersembahkan kepada Tuhan serta mampu membangun keluarga kudus. Yang ketiga : menyediakan telinga bagi rekan-rekan senasib supaya mereka tetap yakin akan kasih dan penyertaan Tuhan. Dari ketiga tujuan tersebut, saya berusaha menulis ntuk memuliakan Tuhan. Saya juga harus membagi waktu dengan ketat supaya bisa tetap bekerja untuk mendapatkan uang demi anak-anak, tanpa mengabaikan perkembangan mereka. Untuk mencapai tujuan ketiga, sayapun bergabung di
LK3 (Layanan Konseling Keluarga & Karir) sebagai volunteer. Melakukan banyak pekerjaan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan sungguh membuat saya jungkir balik. Untuk menjaga kedekatan dengan anak-anak, tak jarang saya membawa mereka dalam pelayanan hingga larut malam. Rasanya saya hampir tak sanggup menjadi 4 pribadi sekaligus (sekretaris di kantor, penulis, ibu bagi 3 anak, dan konselor awam bagi rekan senasib). Ketika kantor saya mengalami gonjang-ganjing karena manajemen kantor pusat di Amerika meninggalkan nilai-nilai kristiani, atasan saya yang notabene seorang pelayan Tuhan pun mengundurkan diri. Saya dan staf lain barat ayam kehilangan induk. Suasana kerjapun semakin tidak kondusif bagi pencapaian tujuan hidup saya. Karena saya yakin bahwa visi hidup saya tak mungkin terwujud selama masih berada di lembaga tersebut, maka saya pun mulai melirik-lirik lowongan pekerjaan di tempat lain. Suatu kali, sebuah International NGO yang bergerak di bidang konservasi alam menawarkan pekerjaan yang sepertiga waktunya harus dihabiskan di pulau-pulau kecil di Halmahera. Posisi yang ditawarkan sangat bagus dan gajinyapun dua kali lipat dari gaji saya sebelumnya. Gejolak hati saya pun langsung mengiyakan. Namun setelah lama bergumul, saya diperhadapkan pada 2 pilihan, antara tujuan hidup atau kelimpahan uang. Apabila menerima posisi itu, saya bisa bermandi uang, tetapi tujuan hidup harus dikorbankan. Namun saya ragu, apakah benar uang yang saya peroleh bisa membeli kebahagiaan anak-anak saat saya berada di pulau terpencil tanpa akses untuk berkomunikasi. Ketika saya merasakan pergumulan yang sangat berat, saya membagi beban dengan kawan-kawan rohani, penginjil dan pembimbing rohani. Dari 8 orang yang saya jadikan teman curhat, 7 diantaranya tidak mendukung saya untuk menerima tawaran kerja tersebut. Sayapun tidak berani nekad karena saya percaya mereka dipakai Tuhan untuk membantu saya berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Suatu siang Pdt. Julianto mengundang saya untuk mendiskusikan rencana pelayanan LK3 di masa mendatang. Ketika Pdt. Julianto memaparkan rencana Counseling & Parenting Education, hati saya langsung berkata "Inilah tempat bagi saya untuk belajar menjadi orang tua yang berkenan di hadapan Tuhan". Ketika beliau membicarakan rencana workshop "How To Forgive", saya hampir berteriak "Yes! Saya harus punya ketrampilan forgive untuk membereskan kepahitan masa lalu. Saya ingin menikmati hidup tanpa sakit hati" Karena motivasi dasar pelayanan LK3 untuk menjadi agen penebus sangat cocok dengan visi hidup saya, maka saya pun tidak menolak ketika Pdt. Julianto mengajak saya bergabung di LK3 secara fulltime. Namun tidak begitu lama, pergumulan baru mucul. Di satu sisi, saya sangat tertarik dengan pelayanan LK3 . Di sisi lain, gaji yang ditawarkan hanya setengah dari gaji saya sebelumnya. Sungguh tidak mudah bagi saya untuk meninggalkan posisi yang cukup prestisius di lembaga bonafide dengan standar gaji internasional, kemudian beralih ke lembaga kecil dengan standar gaji lokal. Pergulatan batin saya mulai berkecamuk. Hati saya ingin melayani secara fulltime di LK3. Namun rasio saya mengatakan bahwa gaji yang ditawarkan tidak akan mencukupi kebutuhan saya dan anak-anak. Ketika hati saya semakin gundah, saya pun kembali berbagi beban kepada 18 kawan rohani, penginjil dan hamba Tuhan. Karena 16 orang sangat mendukung saya untuk fulltime di LK3, maka saya pun berpikir sederhana bahwa pelayanan di LK3 merupakan panggilan Tuhan. Ketika saya mulai kuatir dengan tabungan yang semakin hari semakin berkurang, Tuhan menggerakkan saya untuk membaca ulang email dari Job Palar yang menuliskan "Sebuah lompatan, selalu membutuhkan tenaga. Makin besar tenaga untuk melompat, akan semakin jauh jarak lompatannya. Barangkali dengan full time di LK3 mbak Ning akan lebih bisa mengaktifkan impuls-impuls yang selama ini kurang terlatih untuk peka. Finansial selalu menjadi pertimbangan, tetapi kerja keras dalam berkarya buat Tuhan akan selalu mendapat harga yang setimpal, Mbak. Saya sendiri barangkali tak akan berani melakukan lompatan besar segagah mbak Ning dan saya hanya akan kagum" Senada dengan Job Palar, Budhe Farida Flahenda dari sebuah lembaga pelayanan kristiani di Malang mengatakan bahwa memutuskan untuk fulltime di LK3 berarti saya melangkah dengan iman. Dari sinilah saya kembali diyakinkan bahwa selama saya berserah total dan bekerja keras di dalam Tuhan, maka Tuhan tidak akan membiarkan saya dan anak-anak mati kelaparan. Saya yakin bahwa kerja keras menggarap dan menabur di ladang Tuhan pasti akan menghasilkan buah yang manis. Keyakinan saya atas pemeliharaan Tuhan dalam hidup saya, tidak serta merta membuat Tuhan menjatuhkan rejeki nomplok dari langit. Ketika saya bersandar pada pemeliharaan Tuhan, Tuhan pun memberi saya akal budi untuk mengelola hidup secara lebih bijaksana dan efisien. Memang tidak mudah menerapkan sikap hemat tanpa merasa berkekurangan. Namun saya tetap mencoba mengemas sesuatu yang tampaknya tidak enak dengan bungkus yang indah. Setiap hari saya membawa bekal makan dari rumah dengan dalih lebih bersih dan bergizi. Saya mengurangi konsumsi daging, ayam dan makanan berlemak lainnya dengan dalih hidup sehat tanpa kolestrol. Setiap pagi saya berjalan kurang lebih 600 m dari perempatan Citra Land ke kantor LK3 dengan dalih olah raga pagi. Ternyata hidup akan terasa ringan kalau kita menjalaninya penuh keiklasan dan suka cita. Terlebih lagi kalau kita melakukannya dengan iman. * Manajer Operasional LK3 -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=- Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM - Daftar : [EMAIL PROTECTED] Keluar : [EMAIL PROTECTED] Posting: [email protected] JNM Mailing list are managed by : Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver) If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED] or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED] Web Site : http://www.iprf.us -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|

