JANGAN MENGINGINKAN MILIK SESAMAMU

Ayat Bacaan: Ulangan
5:21 "Jangan mengingini isteri sesamamu, jangan menghasratkan rumahnya, ladangnya, hambanya laki-laki, hambanya perempuan, lembunya, keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Kita hidup dalam suatu zaman, di mana keinginan manusia untuk memuaskan hawa nafsu daging, memiliki materi, serta mengejar kuasa/kedudukan, begitu berkobar-kobar. Peringatan Tuhan agar kita tidak menginginkan milik sesama terasa tetap relevan. Dalam bahasa Inggris, kata "mengingini" (covet) mempunyai pengertian, yaitu munculnya suatu keinginan besar dalam diri seseorang, yang mendorongnya untuk mengambil atau menikmati sesuatu dari orang lain, dengan cara yang halal atau tidak. Mengapa bisa muncul keinginan seperti ini?

Salah satunya adalah karena keserakahan atau ketamakan. Keserakahan adalah suatu sikap hati, di mana orang tidak pernah puas/bersyukur dengan apa yang telah ia miliki. Orang yang serakah adalah orang yang selalu ingin mendapatkan lebih. Contohnya, raja Ahab yang telah memiliki tanah dan kekayaan yang begitu banyak dan besar, tapi ketika melihat kebun anggur milik tetangganya, Nabot, timbul hasrat raja Ahab untuk memilikinya. Tapi, karena Nabot tidak mau menyerahkan tanah leluhurnya, maka isteri Ahab, Izebel, mengajukan suatu tuduhan palsu atas Nabot, dan Izebel membunuhnya; akhirnya, Ahab bisa memiliki tanah itu. Tapi, perbuatan Ahab dan Izebel akhirnya mendapat pembalasan yang setimpal dari Tuhan.

Bagaimana mengatasi ketamakan ini? Rasul Paulus pernah berkata, "Kukatakan ini bukan karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan" (Flp.
4:11
-12).

Belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan adalah kunci sukses melawan keserakahan
.

(c) Perspektif - 08 Februari 2006
==============================================
 
               "Waktu Untuk Tuhan"
 
Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan.
Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain,
atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.
Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." ( Matius 6:24 )
  
Bila firman Tuhan katakan "Tak seorangpun.." .....
Bukankah berarti memang tak seorang pun ..... ?
Bukankah berarti ...... Kita pun tak dapat melakukannya ..... ?
 
Jadi ...... Coba mari kita renungkan ...... Bagaimana kehidupan kita dengan Tuhan ..... ?
Kemesraan kita dengan Tuhan ..... ?
 
Adakah kita ..... Mulai mengurangi waktu untuk-Nya ..... ?
Adakah kita ..... Mulai kehilangan gairah bersama Dia ...... ?
Adakah kita ..... Mulai kehilangan sukacita memuji menyembah Dia ..... ?
Adakah kita ..... Mulai kehilangan rindu untuk-Nya ..... ? 
Jangan-jangan ..... Mulai ada "tuan" yang lain ...... ? 
 
Tuhan memberkati. 
PD Imanuel -jh-
==================================================
 
PRO AKTIF

Ayat Bacaan: Matius 6:25-34 "Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api." (Lukas 3:9)

Ayat di atas ini banyak menghibur dan menguatkan anak-anak Tuhan, namun mungkin juga telah mengecewakan begitu banyak orang.
Ada orang Kristen yang sungguh berdoa dan belajar untuk hidup pasrah menantikan berkat Tuhan, namun kenyataannya, berkat itu masih begitu jauh menghampirinya, akhirnya mereka menjadi tawar hati dan kecewa. Apakah ada yang salah dengan ayat firman Tuhan ini?

Memang benar Tuhan membandingkan manusia dengan burung Pipit, binatang kecil yang diusir pak tani dari sawah, karena menjadi
hama yang mengganggu ladang. Tuhan ingin kita melihat dan menyadari, ada makhluk hidup, yang fisiknya lebih kecil dan derajatnya lebih rendah dari diri kita. Burung-burung tidak menabur, tidak menanam, juga tidak menuai, apalagi menimbunnya untuk kemudian hari. Hidup seperti ini benar-benar pasrah, spontanitas, bergantung pada kemurahan alam sekitarnya. Namun, Tuhan Yesus mengatakan bahwa makhluk yang demikian itu pun, dipelihara oleh Bapa di sorga, apalagi kita manusia. Allah bahkan akan lebih memperhatikannya. Kata Yesus, "Pandanglah burung-burung di langit" artinya burung-burung yang sedang terbang/beraktifitas. Saat membaca ayat ini, kita harus tahu bahwa ayat ini sama sekali tidak menyinggung burung yang hidup di dalam sangkar, yang diberi makan oleh tuannya. Yang dimaksud di sini ialah burung yang hidup di alam bebas, yang harus berusaha untuk mencari makanan.

Lalu, apa arti 'bersandar kepada Allah?' Ini berarti bahwa selain berdoa, percaya dan berserah pada Allah, Anda dan saya dituntut untuk berusaha atau bekerja. Inilah tanggung jawab dan bagian dari hidup kita, selanjutnya, Allah akan memberkati usaha dan pekerjaan kita.

Allah memberkati hidup kita melalui apa yang kita kerjakan, sebab itu laksanakan tanggung jawab Anda, yaitu bekerja dengan baik dalam mencari nafkah.

(c) Perspektif - 14 Februari 2006



-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-




SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke