Pemeliharaan
lembut Tuhan Mazmur 31:1-15
Engkau telah menilik sengsaraku, telah memerhatikan kesesakan jiwaku
(Mazmur 31:8)
Ketika sedang berduka, C.S. Lewis mengamati para
tetangganya berjalan menyeberang jalan untuk menghindarinya tatkala mereka
melihatnya mendekat.
Daud pun mengalami dukacita ketika ia berkata, "Di
hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku .... Aku
telah hilang dari ingatan seperti orang mati" (Mazmur 31:12,13).
Mungkin
Anda pun pernah dilupakan para sahabat ketika Anda sedang berduka. Mereka tidak
menelepon, menulis surat, atau berjanji untuk mendoakan. Namun, di saat-saat
seperti itu kita dapat merasakan kelembutan Tuhan yang paling dalam. Ketika
hari-hari terasa panjang dan sepi, serta tak seorang pun tampaknya peduli, Dia
mencari kita dan menyelimuti kita dengan kasih setia-Nya. Kesedihan kita sama
sekali tidak membebani-Nya, tetapi justru membuat-Nya menunjukkan belas kasih
yang lembut. Dia mengetahui kesengsaraan jiwa kita (ayat 8). Dan Dia peduli.
Karena itulah kita dapat menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan-Nya (ayat 6),
seperti yang dilakukan Tuhan Yesus ketika semua murid-Nya lari meninggalkan
Dia.
Penyair Frank Graeff bertanya, "Apakah Yesus peduli ketika hati saya
terluka begitu dalam sampai tidak bisa bergembira dan bernyanyi; ketika beban
mengimpit, kesusahan melanda, dan perjalanan hidup terasa panjang dan
meletihkan?" Jawabnya? Ya! Dia mengundang kita untuk menyerahkan segala beban
dan kesusahan kita kepada-Nya, karena Dia peduli kepada kita (1 Petrus
5:7).
Percayailah Tuhan untuk memelihara Anda hari ini --David
Roper
KITA TIDAK PERNAH DAPAT KELUAR DARI LINGKARAN PERHATIAN Tuhan
====================================================
Bapa, Kok berat sih .? Oleh: Angela
Christy
Jam 7 malam. Sudah cukup lama aku berkutat dengan pekerjaanku.
Aku bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Dengan enggan kuangkat tas berat itu
ke pundakku. Beban yang menekan di pundakku terasa begitu mengganggu, tapi aku
memang harus membawa tas ini.
Di perjalanan pulang, aku mengendarai
sepeda motorku masih dengan konsentrasi pada tas yang membebani pundakku.
Seorang anak kecil menyeberang dengan sepedanya tanpa melihat ke kiri dan ke
kanan. Huh, aku memaki dalam hati. Kecil kecil sudah menyebalkan, gimana gedenya
nanti. Aku melanjutkan perjalanan masih dengan sejuta omelan dalam hati.
Ingin rasanya cepat sampai di rumah, supaya aku bisa beristirahat. Suara klakson
yang berbunyi nyaring mengagetkan aku dari lamunanku. Ku lirik spion dan kulihat
seorang anak muda dengan mobil mewahnya membunyikan klakson dengan nada tak
sabar. Huh, kenapa sih dengan orang-orang ini? Emangnya dia nggak lihat
kalau jalanan emang lagi macet? Emangnya dikira enak membawa tas seberat
ini? Ketika sampai di rumah, ternyata perasaan nyaman yang kuimpikan tak
dapat kutemui. Suasana hiruk pikuk keluargaku terasa seperti dentuman-dentuman
keras di kepalaku. Lagi-lagi aku memaki dalam hati. Aku capek. Aku ingin
istirahat. Berat sekali yang harus aku angkat. Kenapa sih nggak ada yang mau
mengerti?
Malam hari. Akhirnya aku memperoleh ketenangan. Aku bisa
tidur dan beristirahat. Tapi tas besar dan berat ini terasa mengganggu sekali.
Aku tak bisa tidur. Tapi aku tak bisa melepaskannya. Aku kesal. "Bapa, kenapa
sih berat sekali? Sungguh-sungguh sangat mengganggu.Aku mengeluh sambil
meneteskan air mata. "Mengapa engkau tidak meletakkan tas itu
anak-Ku?" "Tapi aku tak bisa Bapa" "Kenapa?" "Lihatlah, semua tas ini
berlabelkan tanggung jawab. Semua harus aku bawa setiap saat, aku tak bisa
meletakkannya. Tas hitam yang paling besar ini, lihat tulisan di depannya,
PEKERJAAN. Semua tanggung jawab pekerjaan ku ada di dalamnya. Lalu yang coklat
ini, KELUARGA. Aku juga tak bisa meletakkannya. Semuanya adalah bebanku. Dan
yang biru ini, PELAYANAN. Engkau tentu tak ingin aku meletakkannya bukan?" Aku
berusaha menjelaskan.
Bapaku yang baik hanya tersenyum, lalu
mendekatiku. "Kemarilah, Aku ingin melihatnya." Ia melihat tas hitam besar
yang kuletakkan di pundakku. "AnakKu, engkau dapat meletakkan tas ini. Ini
memang tanggung jawab pekerjaanmu. Dan engkau memang harus menanggungnya. Namun
saat engkau melangkah keluar dari kantor, engkau dapat meletakkan tas ini di
samping meja kerjamu. Tenanglah, tidak akan ada yang mengambilnya. Lagi pula
semua isinya adalah tanggung jawabmu bukan? Percayalah, tak akan ada yang
tertarik untuk mengambil tas ini, sehingga keesokan hari, saat engkau kembali
ke kantor, pasti tas ini akan tetap ada di sana, dimana engkau
meletakkannya. Dan engkau dapat mengambilnya kembali dan melanjutkan tanggung
jawabmu".
Ia tersenyum menunggu jawabanku. "Benar Bapa, tapi aku tak
dapat meletakkannya. Ia melekat terus di pundakku".
Ia menatapku dengan
penuh kasih, lalu perlahan mengambil tas itu dari pundakku. "Kemarilah
anak-Ku. Di saat engkau tak dapat meletakkannya, Aku dapat membantu mu untuk
meletakkannya. Dan esok, Aku pun dapat membantu mu untuk mengenakannya
kembali." Ia meletakkan tas hitam itu di dekat tempat tidurku. Rasanya
pundakku lega sekali. Tas paling berat yang selalu menekanku telah diambil. Aku
menggerak-gerakkan pundakku sambil tersenyum. "Engkau benar Bapa, rasanya
enak sekali. Ringan. Besok aku akan lebih siap untuk melanjutkan pekerjaanku.
Esok, pasti tas itu tidak akan terasa terlalu berat lagi".
Aku menatap
wajah Bapaku yang penuh kasih. Sungguh indah senyum dan sinar mataNya. Ia
menatap tas coklat di pundakku. "Lalu itu? engkau tidak ingin meletakkannya
juga?"
"Bapa, aku tidak bisa. Ini adalah tanggung jawab KELUARGA.
Kemanapun aku pergi aku harus membawanya."
"AnakKu, Aku sungguh bahagia
karena engkau memperhatikan setiap tanggung jawab yang Ku berikan padamu
mengenai keluargamu. Tapi engkau pun tak boleh lupa, bahwa keluarga mu pun
adalah milik-Ku. Dan aku memelihara setiap kepunyaan-Ku.
"Engkau memang
harus membawa tas itu bersamamu, tapi sesekali letakkanlah, agar engkau dapat
bermain dengan bebas dengan keponakan mu, bercanda dengan kakak mu, atau sekedar
berbincang dan bercerita dengan orang tuamu. Rasanya belakangan ini Aku
jarang melihat mu melakukannya".
Aku tertunduk malu. Ia benar. Aku
membawa tas ini kemana-mana, dan ku laksanakan setiap tanggung jawab untuk
keluarga ku, tapi sepertinya ternyata tas ini menjadi jauh lebih berharga dari
pada kehadiran keluarga ku sendiri.
Sekali lagi Bapa mengambil tas dari
pundakku. "Mari anak-Ku, letakkanlah. Di saat engkau perlu, letakkanlah.
Karena engkau dapat yakin, walaupun engkau meletakkannya dan meluangkan waktu
dengan keluarga mu, Akulah yang akan tetap menjaga mu dan keluarga
mu".
Dan pundakku menjadi jauh lebih lega. Kini hanya tinggal satu tas
biru yang masih memberati pundakku. "Bapa, tas yang satu ini sungguh-sungguh
tak dapat ku letakkan. Setiap saat setiap waktu aku harus membawanya. Karena
setiap detik kehidupan ku adalah pelayanan ku untuk-Mu. Engkau tentu tak ingin
aku meletakkannya bukan?"
"Hmm. benar juga". Aku terkejut mendengar
jawabanNya. Sepertinya agak tidak sesuai harapan ku. Ia telah membantu ku
meletakkan kedua tas ku sebelumnya, dan sepertinya aku sungguh-sungguh berharap
agar tas ini juga dapat ku lepaskan.
"Mari coba kulihat tas itu" Ia
melihat dan meraba tas biru yang masih melekat di pundak ku. "Anakku,
sepertinya ada yang salah dengan tas mu ini. Kemarilah, coba lepaskan". Ia
mengambil tas biru ku. "Anak-Ku, engkau benar. Aku ingin agar engkau selalu
melayani-Ku dalam setiap detik kehidupan mu. Dan percayalah, itu sungguh-sungguh
menyenangkan hati-Ku. Tapi sepertinya tas mu ini bahannya terlalu berat,
sehingga menekan pundak mu terlalu berat."
Kemudian Ia memberikan aku
satu tas biru yang lain. "Ini, pakailah tas ini sebagai gantinya. Ini merupakan
tas dengan bahan KASIH. Jika engkau meletakkan semua pelayanan mu di dalamnya,
niscaya engkau tidak akan terbebani dengan tas mu ini".
Aku menerima tas
baruku dari tanganNya, lalu memindahkan semua isi tas lama ku ke dalam tas
berbahan KASIH itu. Aku mencoba mengangkatnya. Ternyata Bapa-ku benar. Tas itu
kini terasa ringan dan sungguh nyaman di pundak ku. Aku memandangNya penuh
kasih. "Terima kasih Bapa. Aku sungguh mengasihi-Mu. Terima kasih untuk
pelajaran-Mu hari ini".
* * * * * Pagi ini aku memulai hari dengan
senyuman. Istirahatku sudah cukup. Dan aku siap untuk menghadapi tantangan hari
ini. Di perjalanan, aku masih tetap bertemu orang-orang yang menyebalkan, namun
tidak lagi memaki dalam hati, melainkan aku berdoa untuk mereka. Mungkin mereka
juga masih selalu membawa tas mereka kemana-mana atau mereka juga mengenakan tas
dengan bahan yang salah. Banyak sekali. Aku melihat ada yang membawa dua tas
besar, tiga bahkan empat. Tulisannya pun bermacam-macam, ada PEKERJAAN,
KELUARGA, PELAYANAN, KULIAH, SEKOLAH, BISNIS, dan masih banyak
lagi.
Memang tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita pikul dan
harus kita selesaikan. Tapi kita pun harus tetap belajar untuk menempatkan di
saat mana kita harus mengangkat dan di saat mana kita harus meletakkan. Dan aku
terus belajar . * * * * * Seseorang yang bijaksana pernah bertanya
padaku: "Mana yang lebih berat, mengangkat sebuah gelas dengan satu tangan
selama 1 jam penuh, atau mengangkat gelas tersebut selama 10 menit lalu
meletakkannya sejenak dan mengangkatnya kembali selama 10 menit dan demikian
seterusnya sampai 1 jam?" * * * * * "Marilah kepadaKu, semua yang letih
lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Matius
11:28
"Sebab itu, janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari
besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari".
Matius 6:34 * * * * * October 4, 2005 Angela Christy
Buat semua
sahabat dan kakak, adikku yang tengah memikul tasnya masing-masing. *)
Terinspirasi dari buku Serahkanlah Segalanya Kepada Dia karya Max Lucado
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]
JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|