Renungan Pagi

Bagi kemuliaan TUHAN, di hari Jumat Agung, 14 April 2006=========

Yes 46:13 Keselamatan yang dari pada-Ku tidak jauh lagi, sebab Aku telah mendekatkannya dan kelepasan yang Kuberikan tidak bertangguh lagi; Aku akan memberikan kelepasan di Sion dan keagungan-Ku kepada Israel."

Kelepasan. Siapa yang tidak menginginkannya? Jika seorang ada dalam keadaan tertindas, terjajah, tidak mampu untuk membuat keputusan sendiri dan hidup tergantung dari keputusan orang lain, maka kelepasan adalah anugerah yang paling membahagiakan. Kelepasan dalam ayat ini berarti keselamatan, suatu  pembebasan dari keadaan yang berbahaya, yang menakutkan karena menekan jiwa.
Dan ketika seruan keselamatan ini datang dari TUHAN, maka seluruh alam harus mendengarkan, menyimaknya baik-baik.

Bagi penindas, suara TUHAN yang menyatakan keselamatan telah menjadi tanda kematiannya. Bagi bangsa yang menindas Israel, suara ini menandai kehancurannya. Namun, sesungguhnya para penindas Israel ini merupakan lambang dari penindas yang lebih besar, yaitu kuasa dosa yang melingkupi seluruh dunia. Maka, pernyataan TUHAN sesungguhnya menyatakan akhir dari kuasa dosa, ujung dari penindasan yang telah membuat manusia mengembara dan kehilangan kemanusiaannya sendiri. Suara TUHAN menjadi lonceng yang menakutkan, yang menggetarkan iblis-iblis yang menjadi hamba dosa.

Bagi yang tertindas, suara TUHAN menjadi janji yang amat melegakan, sekali lagi, anugerah yang paling membahagiakan. Dan kita tahu, betapa hebat kelepasan itu telah diberikan TUHAN! Karena untuk keselamatan kita, Ia telah menyerahkan diri-Nya sendiri dalam kematian. Agar kita terlepas, Ia memberi diri-Nya terpaku di salib. Maka, bagaimana mungkin kita dapat melupakan Dia yang telah melepaskan? Lihatlah salib itu; di sanalah ada kelepasan karena Dia yang terpaku pada kayu. Kita menangis karena penderitaan dan kematian-Nya. Kita menangis karena bahagia oleh karena keselamatan kita.
Pagi ini, biarlah kita menundukkan kepala dan bersyukur kepada-Nya.
Ada kalanya, air mata berbicara lebih kuat daripada beribu-ribu kata.
Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny
===================================================
 
Renungan Paskah 2006

Mat 11:25 Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.

Selama beberapa minggu pra-paskah di tahun ini, ada beberapa pokok pikiran yang rasanya benar-benar 'menguasai' saya, lebih dari waktu-waktu sebelumnya. Saya tidak tahu kenapa, tetapi inilah yang saya dapatkan:
Yang pertama, saya kembali memikirkan tentang doktrin inerransi Alkitab. Ini adalah topik diskusi yang sudah lama sekali, juga berulang kali muncul, namun rasanya tetap aktual dan penting untuk dipikirkan, direnungkan.
Masalah pokoknya adalah memahami antara apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam pemikiran doktrin ini, yang ternyata berbeda-beda di antara banyak pandangan teologis, serta bagaimana doktrin ini bermakna dalam kehidupan gerejawi.

Saya tadinya berpikir, ini hanya sesuatu yang muncul karena diskusi yang hangat-hangat panas di beberapa milis Kristen. Tapi, setelah saya memperhatikan lebih lanjut, ternyata topik inerransi ini juga mengemuka dalam jemaat, dalam bungkus "Fundamentalisme". Ada seminar yang diadakan untuk membahas hal ini, juga serangkaian diskusi yang dilakukan di gereja kami, yang pasti terlepas dari topik pembahasan di milis internet.
Pertanyaannya: ada apa ini? Mengapa, adakah sesuatu yang perlu dibahas, yang penting, sehingga topik lama dikeluarkan pula?

Yang kedua bermula dari pertanyaan yang dilontarkan seorang penatua senior di gereja, tentang Matius 11:25, seperti yang kita baca di atas.
Pertanyaannya: "Mengapa disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai?"
Apa yang salah dengan orang bijak dan orang pandai, sehingga Tuhan perlu menyembunyikan hal yang penting dari mereka? Penatua saya telah mencoba mencari dari beberapa buku tafsir, namun tidak ada penjelasan yang memuaskan.
Tentu saja, jika halnya adalah mencari tafsiran (ing: commentary) yang menjelaskan ayat ini, tentu saja bisa diperoleh, asal tersedia cukup banyak sumber untuk dibaca. Namun rasanya, pokok utamanya bukan tentang mencari buku tafsir apa yang menjelaskan, melainkan penjelasan itu sendiri yang dibutuhkan. Karena perlu dijelaskan, apakah Tuhan hanya bersedia untuk
mengungkapkan rahasia-Nya pada orang yang TIDAK bijak dan pandai?

Yang ketiga saya dapatkan dari tema Paskah gereja, juga tulisan pertanyaan yang terpampang di mana-mana, "Menjadi Saksi?" Tema Paskah gereja kami adalah "Menjadi Saksi Kebangkitan Kristus", tentang bagaimana sikap hidup seorang Kristen yang telah menerima kebangkitan Kristus. Menarik, bukan?

Malam ini, saya baru saja pulang dari gereja, setelah sebuah perayaan Paskah yang cukup sederhana namun khidmat. Dari tadi ada satu pertanyaan lagi yang terlontar, dan tiba-tiba saja ketiga pokok pikiran di atas terasa menjadi relevan, bersambungan satu sama lain.
Pertanyaan itu adalah, "sikap hidup seperti apa yang dapat menjadi kesaksian atas kebangkitan Kristus?"

Mari kita mulai dengan istilah "SAKSI". Apa artinya saksi? Secara literal, seorang saksi adalah seorang yang melihat, mendengar, atau mempersepsikan suatu realita, di mana ia berhubungan dengan realita itu. Seorang saksi dipengadilan, misalnya, menyatakan pengetahuannya --atau disebut juga memberi kesaksian-- atas apa yang telah terjadi. Tugasnya adalah untuk menyatakan segala hal yang benar-benar telah dialaminya, terlepas dari apakah ia mengerti pengalamannya itu. Seorang saksi tidak boleh menyatakan rekaan atau rekayasa, betapa pun rekaannya itu masuk akal dan bisa diterima semua orang. Ia hanya boleh menyatakan apa yang ia ketahui, ia dengar, atau ia lihat secara nyata.

Maka, menjadi saksi kebangkitan Kristus berarti menyatakan realita tentang kebangkitan Kristus. Bukan rekaan atau ide atau gambaran, betapa pun ide itu membawa 'pesan' yang dihargai orang lain. Seseorang harus berhubungan dengan realita kebangkitan Kristus untuk dapat menjadi saksi kebangkitan-Nya. Ia hanya boleh menyatakan kebenaran (truth) tentang peristiwa yang benar-benar terjadi, sesuai apa adanya, seperti yang dipahaminya. Ia tidak dapat mengatakan rekaan, walaupun rekaan itu mengandung kebenaran (righteousness) dalam penuturannya.

Sebelum kita berangkat lebih jauh, mari kita lihat dua istilah 'truth' dan 'righteousness', yang dalam bahasa Indonesia sama-sama diterjemahkan dengan 'kebenaran'. Istilah 'truth' menyatakan kesesuaian (conformity) dengan fakta atau realitas, hal yang benar-benar terjadi, terlepas dari apakah fakta itu merupakan hal yang benar dalam konteks moral. Istilah 'righteous' (-n:
righteousness) menyatakan kesesuaian dengan moralitas, cocok dengan aturan dan kehendak Tuhan. Kita perlu memahami perbedaan pemakaian kata ini, yang dalam bahasa Indonesia bisa jadi membingungkan karena sama-sama disebut 'kebenaran'.

Misalnya begini, ambillah perumpamaan yang diberikan Tuhan Yesus, misalnya perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Ini adalah penuturan yang mengandung kebenaran, karena dalam perumpamaan ini nyata tentang apa maksud terdalam dari "siapakah sesamaku manusia" dari hukum utama dalam Taurat.
Tetapi tidak berarti bahwa peristiwa dalam perumpamaan itu sendiri benar-benar terjadi, sebagai suatu peristiwa yang sesungguhnya. Tidak, ini adalah perumpamaan dari Tuhan Yesus. "Kebenaran" dalam perumpamaan ini adalah sebuah "righteousness", bukan "truth".

Sebaliknya, "kebenaran" dalam kebangkitan Kristus adalah sebuah "truth", yang sesuai dengan fakta atau realitas. Masalahnya, realita kebangkitan Kristus adalah peristiwa yang telah terjadi hampir dua ribu tahun yang lalu, terjadi di sebuah tempat yang jaraknya amat jauh dari tempat kita sekarang, di Indonesia. Bagaimanakah seseorang dapat berhubungan dengan realita yang
terjadi lama-lama-lama sekali?

Manusia masih dapat berhubungan dengan masa lalu karena manusia mempunyai sejarah. Catatan-catatan sejarah memungkinkan orang untuk menjadi saksi tentang peristiwa yang amat lama terjadinya, bahkan hal-hal yang terjadi pada awal keberadaan manusia di planet bumi. Dalam hal ini, TUHAN telah memberikan Firman-Nya bagi umat manusia, yang kemudian dikanon (dijadikan patokan) dan terjilid sebagai Al-kitab, Kitab Suci. Tak ada manusia yang mengetahui bagaimana TUHAN menciptakan langit dan bumi, karena sebagai ciptaan, manusia sendiri muncul paling akhir. Jika orang bisa memiliki catatan tentang kejadian dari segala sesuatu, catatan itu hanya bisa diketahui karena TUHAN sendiri yang mengungkapkannya. Jadi, Alkitab yang mengungkapkan karya Allah ini, sebagian adalah benar-benar berasal dari Allah sendiri. Dia menjadi sumber sejarah, yang lantas dicatat dan dijilid jadi Alkitab.

Di sinilah doktrin inerransi menjadi penentu. Doktrin ini menyatakan bahwa Alkitab, dalam tulisan aslinya, sepenuhnya dan seluruhnya benar dan tidak salah dalam menyampaikan makna segala sesuatu tentang dan dari Allah, baik dalam bentuk sejarah, narasi, juga puisi. Seluruhnya benar. Jika kita membaca narasi urutan penciptaan langit dan bumi, makna atau arti yang disampaikan Alkitab adalah benar. Jika kita membaca narasi tentang kejatuhan manusia pertama dalam dosa, maka arti yang disampaikan itu pun sepenuhnya benar, sesuai dengan kenyataan, seperti yang diungkapkan oleh TUHAN sendiri yang telah menciptakan. Dan jika kita membaca penuturan Injil tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus, arti segala penuturan itu pun seluruhnya benar, sesuai dengan kenyataan.
Untuk dapat menjadi saksi kebangkitan Kristus, orang harus berhubungan dengan peristiwa kebangkitan. Dan untuk dapat berhubungan dengan kenyataan peristiwa kebangkitan, orang harus berhubungan dengan Alkitab yang sepenuhnya benar, termasuk dalam sejarah dan ilmu pengetahuan -- sekalipun Alkitab tentu saja bukan kitab ilmu pengetahuan, juga bukan dokumen sejarah sebagaimana orang modern membuatnya. Betapapun juga, Alkitab adalah dokumen
yang sudah sangat tua sekali umurnya.

Sampai di sini, kita dapat melihat betapa pentingnya pemahaman atas pengajaran/ doktrin inerransi Alkitab. Seseorang tidak mungkin dapat secara konsisten bersikap menjadi saksi kebangkitan Kristus DAN meragukan kebenaran (truth) Alkitab. Ada seorang yang mengatakan, bahwa penuturan kebangkitan Kristus tak lain dari kiasan/simbol iman orang percaya, di mana sekalipun guru mereka telah mati dan dikuburkan, namun semangat-Nya tetap hidup dalam
pikiran dan sanubari para pengikut-Nya. Ide tentang kebangkitan Kristus adalah hal yang benar (righteous), tetapi tidak dapat diterima sebagai kebenaran (truth). Namun jika memang begitu, maka mustahil pula orang dapat menjadi SAKSI atas suatu ide, betapapun benar dan bermoral nya ide itu, karena menjadi saksi haruslah mengungkapkan truth, and nothing but the truth.

Lantas, mengapa orang tidak dapat menerima kenyataan bahwa Alkitab itu inerrant?
Mari kita lihat lagi Alkitab, dari Injil Matius di atas. Apa yang terjadi?
Tuhan Yesus telah berkeliling banyak kota dan membuat banyak mujizat. Tetapi, ada kota-kota di mana para penduduknya tidak mau bertobat. Nah, bukankah hal ini mengherankan? Tuhan sudah melakukan banyak perkara di mana kenyataan dari peristiwa itu dapat disaksikan semua orang, tapi toh di akhirnya, mereka tetap tidak bertobat. Mengapa bisa demikian?

Kita menemukan petunjuknya, "semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai." Masalahnya, orang-orang bijak dan pandai inilah yang telah membuat keputusan untuk tidak bertobat, dan mereka tetap berpegang pada pendirian mereka sendiri. Sejak dahulu, nabi Yesaya telah menyampaikan nubuat Tuhan:
Yes 47:10 Engkau tadinya merasa aman dalam kejahatanmu, katamu: "Tiada yang melihat aku!" Kebijaksanaanmu dan pengetahuanmu itulah yang menyesatkan engkau, sehingga engkau berkata dalam hatimu: "Tiada yang lain di sampingku!"

Tidak ada yang salah untuk memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan, selama diterima dengan sikap yang bijaksana pula. Tetapi ketika hal-hal baik itu menjadi alasan untuk mengatakan "Tiada yang lain di sampingku!" maka kita harus memikirkan lebih jauh, benarkah itu? Benarkah ketika dengan bangga, manusia mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah sedemikian majunya,
meninggalkan segala keyakinan iman di belakang? Sungguhkan manusia telah menjadi penguasa dari alam, karena telah berhasil memecahkan misteri-misteri alam yang rumit-rumit?

Pertentangan seolah-olah tidak terelakkan lagi. Di satu sisi, manusia memiliki Alkitab dengan keyakinan penuh akan isinya yang tidak salah menyatakan Allah. Di sisi lain, manusia memiliki pengetahuan ilmiah dengan berbagai metodanya, yang juga diyakini kepastiannya, tidak salah menyatakan rahasia alam, juga membongkar rahasia sejarah. Ketika dengan pengetahuannya,
orang lantas mengambil sikap untuk tidak lagi takut akan Tuhan, apakah yang bisa kita katakan? Ketika dengan kecerdasannya, manusia lantas bersikap meremehkan salib Kristus, apa yang bisa kita lakukan?
1 Kor 1:20  Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Dimanakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

Kenyataannya, tak sedikit orang yang mengikuti naturalisme, sehingga sekalipun mereka mengaku diri sebagai orang Kristen, mereka tidak mempercayai kebangkitan-Nya. Mereka begitu tekun meneliti Injil, namun hanya untuk membantahnya. Allah tidak membuat orang menjadi bodoh, hanya saja kebenaran-Nya telah membuat hikmat dunia menjadi kebodohan, ketika hikmat itu menolak kebenaran-Nya.

Sekarang, manakah yang lebih kita percayai? Apakah salib merupakan suatu kebodohan dan kebangkitan adalah mitos? Atau, justru dalam Alkitab ada kebenaran yang sejati, yang melampaui segala akal dan pikiran, sekaligus juga merupakan kebenaran (truth) yang tidak dapat dipahami oleh ilmu pengetahuan manusia?

Maka, kita kembali pada saat ini, masa di mana kita merayakan Paskah. Ada banyak orang yang sibuk dengan segala pernak pernik detil peristiwa Paskah, tetapi bagi yang cukup bijaksana memahami Firman Tuhan, pokok dalam Paskah adalah kelepasan, kemenangan. Hal ini tidak terpahami, sekalipun oleh otak yang paling cemerlang di antara manusia, tetapi dapat diimani dan disyukuri oleh orang yang amat sederhana. Berita penuh sukacita yang disampaikan tanpa
kekeliruan dalam Alkitab. Inilah kemenangan anak-anak Tuhan!

Terpujilah TUHAN!


-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

JNM Mailing list are managed by :
Indonesian Pentecostal Revival Fellowship (IPRF) Denver, USA (or GPdI Denver)
If you have any comment or suggestion about this mailing list, to : [EMAIL PROTECTED]
or If you want to contact IPRF Denver USA, to : [EMAIL PROTECTED]
Web Site : http://www.iprf.us
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-




SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke