From: "Berman Sitorus" <[EMAIL PROTECTED]>
 
"Ampunilah Saudaramu Supaya Sembuh sakitmu"
Ditutur oleh: Berman R. Sitorus

Liburan kenaikan tingkat tahun 1982, saya dan 11 teman mahasiswa dari Jakarta pergi melayani kedaerah Bengkulu dan Sumbagsel selama 1 bulan, kala itu saya ikut program dari LPMI yang disebut "Stop Out" (stop kuliah keluar menginjil dan melayani).

Berangkat dari Jakarta ke Bengkulu kepusat pelayanan dan misionaris Gekisus (Gereja Kristen Sumatera Selatan) ditempuh dengan bus selama 3 hari 2 malam. Lebih banyak jongkok di jok bus daripada duduk, karena jalanannya berlubang-lubang, dan baru selesai banjir besar melanda
kawasan Tanjung Enim sampai ke Tebing Tinggi.

Dari Bengkulu saya berangkat lagi kembali ke desa Air Beliti, Musi Rawas lewat Lubuk Linggau. Kesatu Gereja dan  pos peleyanan Gekisus, yang dipimpin oleh seorang pendeta lajang (lupa namanya) anak kembar keturunan jawa. Cakupan pelayanan termasuk kedaerah-daerah yang baru dibuka proyek transmigrasi.

Saya dengan teman fulltimer dari LPMI yang bernama Alex Paulus didesa tersebut (saat ini sudah tidak fulltimer lagi, tapi jadi konsultan sdm atau trainer). Karena pak Pendeta masih lajang, kami tinggal bersama, dan karena kendaraannya sepeda motor Yamaha Trail yang memang sesuai
dengan medan pelayanan, maka kami tidak bisa bonceng tiga (3). Jadi setiap kami kunjungan pelayanan, kami lakukan jalan kaki setiap hari.

Masih teringat saat itu, setidaknya setiap hari kami berjalan sejauh 10 – 20 km. Kalau lagi keproyek transmigrasi yang jauh, sesekali kami pulang dimalam hari menembus hutan belantara yang masih sering dijumpai binatang buas seperti harimau dan beruang.

Pengalaman pertama pulang pelayanan menembus hutan adalah yang paling indah dan sulit untuk dilupakan. Berbekal doa dari mereka yang dilayani dan sebuah senter kami menerobos jalanan hutan sambil bernyanyi. Amazing Grace terasa sangat merdu dan penuh penghayatan
kami nyanyikan.

Didesa tersebut ada 2 penatua beripar, satu bermarga Sitorus (pedagang) dan satu marga Manurung (guru), istri pak Manurung adalah adik kandung pak Sitorus. Mereka berdua adalah pemimpin dan perintis jemaat didesa tersebut, berdua sama-sama tokoh masyarakat didesa.
Sayangnya mereka bertikai karena masalah sepele dan emosi menguasai keduanya.

Pertikaian sudah berlangsung bertahun-tahun, tidak ada yang mau mengalah memberi salam, dari Natal dan Tahun Baru selama bertahun mereka tidak bertutur sapa.

Pada waktu itu usiaku baru mau masuk 21 tahun, dibanding mereka yang sudah empat puluh tahunan, aku ini lebih pantas jadi anak atau keponakan mereka. Berulangkali setiap ada kesempatan selama 1 bulan melayani saya usahakan mendamaikan hati mereka. Beban ini terasa sangat berat dan penting bagiku karena aku sendiri menurut turunan suku Batak masih saudara mereka, bedanya kalau saya Sitorus Boltok (paling kecil dari 3 turunan sitorus), Bapak Sitorus yang didesa itu Sitorus Pane (paling besar). Jadi saya memanggil Bapak Tua kepada
beliau.

Pak Manurung ini sudah sakit-sakitan dan merasa disepelekan, disisi lain dia jauh "lebih pintar" karena seorang guru yang berpendidikan. Pak Sitorus yang jadi hula-hula (dihormati secara adat kekerabatan Batak), meskipun pendidikannya lebih rendah tapi dia "lebih cerdas", dia salah satu pedagang besar didesa dan orang kaya didesa tersebut.

Setelah saya coba berulangkali mendekati mereka sambil berdoa, pak Sitorus hatinya mulai lembut dan mau mengalah. Pak Manurung sudah mulai mengerti namun masih mengeraskan hati untuk tidak mau bersilahturahmi dirumah salah satu mereka, namun sudah mau kebaktian
bersama-sama.

Akhirnya tibalah saatnya saya harus pulang ke Jakarta karena sudah selesai waktu 1 bulan tanpa terasa. Saya didaulat oleh pak Pendeta untuk berkhotbah, namun saya minta beliau untuk memberi berkat pada penutupan kebaktian karena saya tidak tahu dan belum belajar untuk itu
serta merasa belum layak, karena belum pernah ditahbiskan baik sebagai penatua di gereja apalagi Pendeta.

Saya bergumul dalam doa serius sekali, karena ini adalah pengalaman pertama berkhotbah dimimbar pada kebaktian minggu. Pilihan khotbah adalah sebagian dari doa Bapa kami "Ampunilah kesalahan kami seperti kami sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami".

Saat itu dengan berapi-api dan mau menangis saya menjelaskan bahwa:
1.Untuk diampuni kita harus terlebih dahulu mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
2.Untuk dapat berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan Yesus kita harus mengakui dosa kita dan minta diampuni, untuk diampuni kita harus mengampuni kesalahan orang lain kepada kita.
3.Untuk minta rejeki dan kesembuhan, baik itu kesembuhan dari sakit hati atau jiwa dan sakit badani, pertama kita harus mengaku dosa kita dan minta ampun kepada Tuhan Yesus. Supaya diampuni kita harus mengampuni kesalahan orang lain kepada kita terlebih dahulu.
4.Bagaiaman kita bisa mengajak orang lain percaya kepada Yesus kalau kita saja yang mengajaknya tidak melakukan ajaranNya untuk mengampuni kesalahan orang lain kepada kita.

Jadi berhentilah berdoa untuk meminta apapun kepada Tuhan Yesus sebelum kita belajar mengaku dosa dengan sungguh-sungguh melalui ujian kemauan dan kesungguhan serta kemampuan kita mengampuni kesalahan orang lain kepada kita.

Diakhir khotbah dan dalam doa, tak dapat saya tahan haru ingin menangis karena mengingat 2 penatua gereja yang bersaudara langsung namun saling membenci dan menyimpan dendam dihati.

Selesai kebaktian, jemaat meyalami pembicara didepan pintu keluar. Pak Sitorus dan pak Manurung beserta ibu kelihatan oleh saya mengambil posisi paling belakang dan saling berdekatan. Tiba didekat saya keduanya saya peluk dan kami sama-sama menangis, mereka bersalaman dan berangkulan. Bahagianya hati ini.

Tadinya saya kira akan didamprat kedua orangtua itu, kalaupun terjadi saya sudah rela menerimanya. Toh besok saya sudah akan berangkat meninggalkan mereka menuju Bengkulu.

Keberanian yang didorong oleh kasih dan kuasa Tuhan, memampukan saya berani berkhotbah dihadapan jemaat menegur secara terbuka. Roh Kudus yang diam dihati semua anak-anakNya mengubah hati yang marah dan melembutkan hati yang sudah begitu keras, mengalirkan kasih dan pengampunan.

Berilah dirimu dipakai disetiap kesempatan, dan biarkanlah Roh Kudus yang menentukan hasilnya. Terpujilah DIA yang memberikan kemampuan dan keberanian kepada mereka yang rela dipakainya sebagai alatNYA.

Salam,
Berman yang terus belajar untuk mengampuni
============================================
From: "Monika" <[EMAIL PROTECTED]>
 
Bersyukurlah

Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku dan menunjukkan keadaan di surga.
Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, " Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.
Malaikat-ku berkata, "Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.

Disini kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya".

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyaknya permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang sangat mengejutkan aku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana, hampir tidak melakukan apapun. "Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan. Dia tampak malu.
"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini?", tanyaku.
"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas.
"Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".
"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas rahmat Tuhan?", tanyaku.
"Sederhana sekali", jawab Malaikat.
"Cukup berkata : Terima kasih, Tuhan. Dan berbuatlah kebajikan bagi sesamamu serta jauhilah
kejahatan".
"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri", tanyaku.
Malaikat-ku menjawab, "Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.
"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputer mu, engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga.... "Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ... engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat .... Maka engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".

"Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ... maka engkau termasuk orang yang sangat jarang.

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika engkau dapat membaca pesan ini, maka engkau menerima rahmat ganda, yaitu bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu berpikir bahwa engkau orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang
bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Tuhan anugerahkan kepadamu. Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua teman-teman-mu untuk mengingatkan mereka betapa dirahmatinya kita semua. "Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu' ".
Ditujukan pada : Departemen Pernyataan Terima Kasih.
"Terima kasih, Tuhan! Terima kasih, Tuhan, atas anugerahmu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan memberikan aku begitu banyak teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi".
__._,_.___

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

If you have any comment or suggestion about this mailing list,
to : [EMAIL PROTECTED]

Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung
dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan
email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi
yang ada.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-





SPONSORED LINKS
Arizona regional multiple listing service United regional health care system Anda networks


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke