From: Ign.Sumarya SJ 
 
“Biji gandum yang jatuh akan menghasilkan banyak buah”
(1Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)
 
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa “(Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
*   Mendidik atau membina anak bodoh, miskin dan nakal/kurangajar memang tidak mudah, demikian juga mengatur orang-orang kecil seperti pedagang kaki lima, gelandangan atau pengemis dst… Yang senada adalah tugas menjadi pemimpin ‘komunitas/rombongan/kelompok yang terdiri dari anggota-anggota beraneka macam  kepribadian atau unik’. Untuk melaksanakan tugas pelayanan bagi kelompok macam itu sungguh membutuhkan perngorbanan dan perjuangan: korban harta, pikiran, hati dan tubuh alias siap menderita. Maka biasanya juga tidak mudah bertugas dalam bidang personalia di kantor atau perusahaan: mengurus manusia/ orang lebih sulit dan menantang daripada mengurus harta atau barang. Laurensius dalam karyanya telah ‘menghamburkan uang Gereja’ untuk membantu orang-orang miskin, dan memang perhatiannya adalah orang-orang miskin yang harus ditolong dan diselamatkan. Karena karya pelayananannya itu ia harus menghadapi penguasa yang bengis dan serakah, sehingga ia dihukum mati dengan terlebih dahulu disiksa. Anak-anak bodoh, miskin, nakal/ kurang ajar atau orang-orang miskin dan kurang terdidik kiranya masih cukup banyak dan mungkin ada di sekitar kita atau bahkan di dalam keluarga/ komunitas kita. Marilah kita beri perhatian memadai bagi mereka, kita wujudkan atau hayati opsi Gereja “preferential option for/ with the poor”.
Rasanya pelayanan dan  keberhasilan memperhatikan mereka yang miskin, bodoh dan kurang ajar sungguh merupakan modal dapat dipercaya entah secara pribadi maupun kelompok, personal atau organisatoris. Mereka yang bodoh, miskin dan kurangajar bagaikan bagian atau anggota tubuh kita yang sedang sakit dan biasanya kita beri perhatian luar biasa, secara melimpah, dengan kata lain kita memiliki modal/akar untuk memperhatikan mereka yang ‘sakit’ (miskin, bodoh dan kurangajar). Dapat membantu atau menolong mereka yang miskin, bodoh dan kurangajar sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri. Ingatlah bahwa kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus  “ yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2Kor 8:9)

*   “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” (2Kor 9:10). Masing-masing dari kita adalah ‘kasih’, yang diadakan oleh dan karena ‘kasih bapak-ibu’, dilahirkan dan dibesarkan sertai dididik dalam dan oleh ‘kasih’ juga. Dengan kata lain masing-masing dari kita adalah ’benih kasih’ yang diharapkan terus menerus tumbuh berkembang, berlipat ganda, sehingga kebersamaan atau perjumpaan kita menjadi saling mengasihi, karena ‘kasih’ bertemu/ bersama dengan ‘kasih’.
Maka ketika kita harus menghadapi atau melayani orang/sesama yang sulit, penuh tantangan dst…marilah kita hadapi atau layani dengan kasih dan dengan segala kerendahan hati kita temukan dan hayati ‘benih kasih’ yang ada dalam diri mereka. Kami yakin betapa sulitnya orang atau keras dan ‘buas’ jika didekati dengan dan dalam kasih pasti akan ‘bertekuk lutut’, karena binatang buas saja dapat didekati dengan kasih apalagi manusia. Dengan berani dan dapat menemukan dan mengangkat kembali ‘kasih’ yang mungkin untuk sementara terkubur atau tersimpan dalam diri kita maupun sesama kita, kiranya sungguh berarti ‘melipat-gandakan kebenaran-kebenaran’ yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Semakin banyak kenalan atau semakin bertemu banyak orang berarti kasih dan kebenaran semakin berlipat ganda dalam kebersamaan kita. Mereka yang kecil, bodoh, miskin, nakal atau kurangajar adalah ‘suara Tuhan’ yang memanggil kita untuk mendatangi dan melayani, membahagiakan dan menyelamatkannya. Marilah kita perhatikan juga saudara-saudari kita yang menjadi miskin karena aneka korban bencana seperti gempa bumi, tsunami atau banjir dan kekeringan yang sedang melanda tanah air tercinta saat ini. Kita boleh meneladan St.Laurensius  yang sungguh berkorban dan mencurahkan tenaganya bagi mereka yang miskin.
 
“Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya” (Mzm 112:5-6)
 
Jakarta, 10 Agustus 2006
=================================================
From: Ign.Sumarya SJ  

“Besar imanmu maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki”  (Yer 31:1-7; Mat 15:21-28)
 
“Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh” (Mat 15:21-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam menghadapi tantangan atau hambatan sering orang mendua, berkata “ya” alias siap sedia secara total untuk menghadapinya atau ‘tidak/ragu-ragu’ alias dalam hati mengatakan tak mungkin aku menghadapi tantangan atau hambatan tersebut. Jika orang sudah menjadi ‘ragu-ragu’ dan berusaha melangkah terus kami yakin ia tidak akan berhasil mengatasi tantangan atau hambatan tersebut. Sebaliknya jika sejak awal orang mengatakan ‘ya, saya siap sedia’, maka ia pasti akan mampu mengatasi tantangan atau hambatan yang ada. Dengan mengatakan ‘ya’ dengan demikian ‘otak bawah sadar’, yaitu kinerja syaraf dan metabolisme darah, kita bekerja keras secara optimal dan akan mendukung atau membantu ‘otak sadar’ kita yang mengatakan ‘ya’. ‘Otak bawah sadar’ memang kurang lebih sama dengan tekad untuk mempersembahkan diri secara total atau berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan kelemahan dan kekuatan yang ada. Itulah kiranya yang terjadi dengan perempuan Kanaan yang datang menghadap Yesus mohon penyembuhan anaknya yang kerasukan setan. Meskipun ia memperoleh tanggapan negatif dari Yesus yang bersabda :”Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”, perempuan tersebut menanggapi dengan rendah hati :”Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Dan Yesus pun akhirnya bersabda: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki”. Maka marilah jika kita memiliki cita-cita atau niat dan kehendak baik dengan penuh keyakinan kita pasti akan berhasil  meraih atau mencapainya asal sejak awal saya berkata :”Ya, saya bisa dan siap sedia”. Dengan berkata demikian berarti kita telah memetik kemenangan untuk melangkah maju, sebaliknya jika berkata tidak atau ragu-ragu berarti kita kalah sebelum maju atau berperang.

·   “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku …-- dan Aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya.” (Yer 30:3), demikian kutipan sabda Tuhan kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeremia. Sabda ini kiranya juga terarah kepada kita semua, sebagai orang-orang yang telah terpilih, entah dipilih menjadi murid/pengikut Yesus, dipilih menjadi pegawai/pelajar di tempat kerja/sekolah tertentu, dipilih untuk menjadi pajabat tertentu, dipilih menjadi suami atau isteri oleh isteri atau suamiku saat ini, dipilih menjadi imam, bruder atau suster dst..  Marilah kita tidak menjadi bimbang dan ragu untuk menerima pilihan tersebut dan kemudian dengan mantap, penuh serah diri seoptimal mungkin sambil mengandalkan rahmat/bantuan Yang Ilahi, kita hayati atau kerjakan pilihan tersebut dengan gembira dan penuh semangat. Dengan demikian kami yakin kita akan setia pada pilihan atau panggilan kita masing-masing serta akan menikmati hidup damai, bahagia dan sejahtera sejati. Apapun yang terjadi dalam perjalanan penghayatan pilihan atau panggilan tidak perlu menjadi ragu dan bimbang, karena kiranya pilihan atau panggilan tersebut adalah karya atau kasih karunia Tuhan, dan marilah kita imani dan hayati sabda ini :” Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Fil 1:6). Kita hadapi dan hayati tantangan-tantangan yang ada bersama atau dengan kasih karunia Allah, yang telah menciptakan, memanggil serta mengutus kita.
 
“Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur mereka dan menyukakan mereka sesudah kedukaan mereka.” (Yer 31:13)
 
Jakarta, 9 Agustus 2006
 ================================================
From: Ign.Sumarya SJ

“Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”
(2Raj 22:8-13;23:1-3; Mat 7:15-20)
 
"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Mat 7:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ireneus, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
§  Pada era yang ditandai oleh kemajuan aneka macam sarana teknologi saat ini banyak dilakukan aneka macam bentuk pemalsuan atau tiruan; barang palsu atau tiruan tersebut sangat sulit dibedakan dengan barang asli. Aneka macam bentuk pemalsuan atau tiruan barang yang berhasil ‘dijual-belikan’ memang menguntungkan para produsen dan pedagang yang jumlahnya hanya segelintir, sementara itu para konsumen yang berjumlah ribuan atau jutaan sangat dirugikan.
 
Maka bercermin dari sabda Yesus di atas kami mengajak dan mengingatkan:
(1) hendaknya kita peka terhadap aneka bentuk pemalsuan dan tiruan, dan jangan sampai terjebak untuk membeli atau mengkonsumsi barang palsu atau tiruan dan
(2) para orangtua atau pendidik atau pemimpin/atasan hendaknya jujur terhadap diri sendiri dan berusaha seoptimal mungkin untuk memiliki ‘cara bertindak’ yang baik, sehingga anak-anak atau peserta didik, anggota/bawahan dapat melihat dan mendengarkan sesuatu yang baik, yang akan sangat bermanfaat bagi perkembangan dan pertumbuhan kepribadian mereka (ingatlah bahwa apa yang dilihat dan didengar oleh anak/peserta didik sangat dominan dalam pembentukan kepribadian mereka) dan
(3) sebagai orang beriman atau beragama hendaknya unggul dalam penghayatan atau pelaksanaan ajaran agama dalam perilaku sehari-hari alias unggul dalam kesaksian hidup beriman/beragama. Secara umum, bagi siapapun kami mengajak untuk jujur terhadap diri sendiri maupun sesama dan menjauhkan aneka ‘permainan sandiwara kehidupan’ yang dapat membuat celaka diri sendiri maupun sesama.  Hidup jujur untuk masa kini kiranya merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran dalam hidup sehari-hari, mengingat kebohongan, manipulasi, 
  
§ “Berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu. Dan seluruh rakyat turut mendukung perjanjian itu “ (2Raj 23:3). Kutipan ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang merasa menjadi pemimpin/atasan atau orangtua yang memiliki anggota/bawahan atau anak-anak. Jika para pemimpin atau atasan atau orangtua telah kurang setia pada janji-janji atau tugas perutusannya atau bertindak jahat, marilah kita memperbaharui diri/bertobat dengan berjanji untuk setia dan taat pada aneka janji, aturan atau tatanan kehidupan yang terkait. Tentu saja janji untuk bertobat dan memperbaharui diri tersebut tidak hanya dikatakan dalam hati atau dinyatakan seorang diri, melainkan disaksikan oleb anggota/bawahan atau anak-anak. Kesaksian atau dukungan dari anggota/bawahan atau anak-anak ini penting sekali, karena merekalah yang akan mengingatkan ketika pemimpin/atasan atau orangtua kurang setia atau bertindak jahat; kesaksian atau dukungan mereka juga merupakan kekuatan untuk setia dan taat pada janji-janji dan aneka aturan/tatanan hidup. Tidak perlu malu untuk mengakui kekurangan dan kesalahan pada bawahan/anggota atau anak-anak, takut kalau wibawanya pudar atau berkurang; tetapi yang akan terjadi justru sebaliknya yaitu dengan kejujuran bahwa dirinya adalah yang lemah dan rapuh maka wibawanya akan meningkat dan mendalam. Sekali lagi saya ingatkan di sini bahwa para gembala kita (Paus dan Uskup) senantiasa menyatakan diri sebagai yang hina dina, dan kiranya penyataan tersebut bukan hanya sekedar  basa-basi atau liturgis, formalitas belaka melainkan sungguh menjadi penghayatan diri sebagai umat beriman. Marilah meneladan para gembala kita dengan segala kelemahan dan kekurangan yang ada, dan dengan rendah hati senantiasa kita berupaya seoptimal mungkin untuk menghayati diri sebagai yang hina dina pula.
 
“Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan“ (Mzm 119:35-37)
 
Jakarta, 28 Juni 2006
__._,_.___

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

If you have any comment or suggestion about this mailing list,
to : [EMAIL PROTECTED]

Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung
dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan
email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi
yang ada.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke