Pencucian Dosa

BAPTIS -- PENCUCIAN DARI DOSA-DOSA KITA

Pada hari sekarang ini ada banyak salah-pengertian tentang kata "baptis" di dalam Alkitab sehingga sering membawa kita kepada kesalahan yang serius pada pengajaran tentang dasar dari keselamatan. Oleh karena itu sangat penting sekali kalau kita mengerti dengan jelas ajaran Alkitab mengenai baptisan.

Pertama-tama di dalam Alkitab kata "baptis" selalu berarti dibersihkan/disucikan/dibasuh. Kita dibersihkan dari dosa-dosa kita ketika Tuhan Roh Kudus menerapkan Firman Tuhan di dalam kehidupan kita seperti yang kita baca di Yohanes 3:3-6 demikian:
"Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Tuhan." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh."

Jadi sebetulnya hal ini adalah bukan suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, tetapi ini adalah suatu pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan. Dan memang benar kalau kita melihat di dalam kamus kata Yunani Baptizo kadang dapat diartikan sebagai celup atau selam, tetapi Alkitab menggunakan kata "Bapto" yang berarti dicelup dan kata Baptizo atau Baptismos yang berarti "dibersihkan/dicuci" secara berbeda.

Contoh yang jelas dari hal ini bisa kita lihat di Markus 7:3-4 yang berkata demikian:
"Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan [baptizo] tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci [baptismos] cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga [dan meja makan - KJV]."

Kita tidak mencelup perkakas atau "meja" untuk membersihkannya, tetapi kita membasuhnya dengan air untuk menjadikannya bersih. Kita harus ingat bahwa arti rohani daripada "air" di dalam Alkitab adalah "Injil" atau Gospel (God's Spell).

Ini menerangkan bahwa kata "baptisan" di dalam Alkitab digunakan untuk menunjuk kepada "pembersihan" atau "penyucian" atau "pembasuhan". Di dalam seluruh Alkitab kata ini tidak pernah berarti untuk diselam atau dicelup.

Lagipula ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" (Mat. 3:16, Kis. 8:38-39) tidak selalu berarti bahwa mereka melakukan upacara baptis air secara selam. Bila airnya hanya ada sampai sebatas mata kaki atau lutut kita juga bisa menggunakan ungkapan "keluar dari air" atau "turun ke dalam air".

Dalam kitab Kisah Para Rasul 8:38-39 sangat jelas dikatakan bahwa mereka "berdua" yaitu Filipus dan sida-sida Etiopia itu turun ke dalam air dan "mereka berdua" keluar dari air. Oleh karena itu tidak mungkin kalau ungkapan "turun ke dalam air" atau "keluar dari air" itu berarti penyelaman.

Lagipula Yesus melakukan upacara baptis air sama persis seperti cara imam-imam keturunan Harun di dalam Perjanjian Lama dibaptis dengan air, yaitu dengan cara membasuh "tangan dan kakinya" dengan air yang ada di dalam bejana tembaga yang terletak di Bait Suci.

Dalam hukum Taurat di Keluaran 30:17-21 kita baca:
"Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya. Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya. Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar korban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun."

Tetapi karena Yesus adalah keturunan Daud dari suku Yehuda dan imam-imam adalah dari suku Lewi maka Tuhan mempersiapkan Yohanes Pembaptis (Yahya bin Zakaria) seorang keturunan Harun dari suku Lewi untuk membaptis Yesus di sungai Yordan karena Yesus tidak dapat menggunakan bejana tembaga yang ada di dalam Bait Suci.

Dan sebenarnya bejana pembasuhan dan ruang maha suci secara harafiah berada di kota Yerusalem, sedangkan mezbah Yesus adalah kayu salib dan tempat yang maha kudus adalah Surga itu sendiri (Ibrani 8:1-2, Ibrani 9:24). Oleh karena itu hal ini cukup berbeda dengan bejana tembaga di bait suci yang digunakan untuk upacara pembasuhan imam-imam di dalam Perjanjian Lama.

Kemudian setelah Yesus dibaptis air, langit terbuka dan Roh Tuhan yang berbentuk burung merpati turun ke atas-Nya, ini menunjuk kepada "baptisan Roh Kudus" atau yang disebut juga sebagai "minyak urapan". Di dalam Perjanjian Lama, para imam keturunan Harun juga harus diurapi dengan minyak setelah mereka dibasuh dengan air. Mereka harus ditahbiskan dengan "minyak urapan yang kudus" sebelum mereka dapat melayani sebagai imam (Keluaran 30:22-31).

Di dalam Alkitab "minyak" secara rohani adalah simbol dari "Roh Kudus". Tuhan Yesus datang ke dunia sebagai Imam Besar Agung (Ibrani 4:14, Ibrani 5:6, Ibrani 7) jadi Dia juga harus memenuhi tata cara ibadah yang ada di dalam Perjanjian Lama. Walaupun Ia tidak berdosa tetapi Ia telah menjadi berdosa karena dosa-dosa kita (2 Korintus 5:21) dan Ia telah mengosongkan diri-Nya dari kemuliaan dan sepenuhnya menyamakan diri dengan manusia yang berdosa.

Ia harus mengikuti tata cara ibadah imam-imam Perjanjian Lama. Karena Yesus adalah Imam Besar Agung untuk selama-lamanya, dan pengurapan tidak harus dengan minyak yang merupakan simbol dari Roh Kudus, tetapi Ia diurapi langsung dengan Roh Kudus di hadapan orang banyak, di Matius 3:16-17 kita membaca demikian:
"Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Tuhan seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Disini Yesus diurapi untuk tugas-Nya sebagai Imam Besar Agung, rasul Petrus menegaskan hal ini lagi di Kisah Para Rasul 10:38 demikian:
"yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Tuhan mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa ................. "

Setelah Yesus dibasuh air dan diurapi, sekarang Ia siap melayani sebagai Imam Besar Agung (Imam Mahdi) untuk mempersembahkan kurban bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Disini Yesus memiliki peran ganda, Ia bukan saja datang sebagai Imam Besar Agung yang bertugas mengurbankan binatang yang tidak bercacat untuk dosa-dosa umat-Nya tetapi Ia juga sekaligus adalah Anak Domba yang tidak pernah berbuat dosa yang menyerahkan tubuh dan darah-Nya sekali dan selama-lamanya sebagai kurban penebus dosa yang sesuai dengan syarat-syarat Tuhan.

Jadi jelas sekali bahwa upacara baptis air hanyalah sebuah "tanda" atau bayangan, hal ini menunjuk kepada pembersihan yang sudah terjadi atau yang kita harapkan akan terjadi di dalam kehidupan seseorang, yaitu, pembersihan daripada dosa-dosa kita (pembersihan rohani).

Semua referensi yang kita miliki di dalam Alkitab tentang kata Yunani Baptizo atau Baptismos yang diterjemahkan menjadi ungkapan "baptisan" atau "membaptis" memiliki pengertian baptisan roh, yaitu pembasuhan/pembersihan yang akan dilakukan oleh Tuhan untuk menyelamatkan kita.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata di Markus 16:16 demikian:
"Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum."

Cukup jelas dinyatakan disini bahwa baptisan adalah suatu syarat yang harus dipenuhi supaya kita dapat diselamatkan. Tetapi ini tidak menunjuk kepada suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri atau upacara baptis air, karena bukanlah sejumlah air betulan yang akan membasuh semua dosa-dosa kita. Ini menunjuk kepada pembasuhan/pembersihan yang dilakukan oleh Roh Kudus ketika kita dibersihkan oleh Firman Tuhan.

Jika satu buah dosa yang paling kecil saja tidak diserahkan kepada Tuhan Yesus, sehingga Ia menderita murka Tuhan bagi dosa tersebut, maka orang itu tidak dapat diselamatkan. Tetapi semua yang Tuhan berkenan untuk Ia selamatkan akan diselamatkan karena seluruh dosa-dosa mereka sudah diserahkan kepada Tuhan Yesus.

Jadi, syarat baptisan (pembasuhan/pembersihan) telah cukup bagi orang itu, dan ketika Roh Kudus menerapkan Injil di dalam kehidupan orang tersebut, ia telah diselamatkan. Dan bukti dari keselamatan adalah adanya iman untuk percaya dengan sungguh-sungguh dan memiliki kemauan yang jujur, sungguh-sungguh dan terus menerus untuk melakukan kehendak-kehendak Tuhan. Iman tersebut adalah "hasil" dari karya Tuhan untuk menyelamatkan kita.

Demikian juga dengan baptisan yang dibicarakan dalam Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti Markus 16:16. Dalam kitab Kisah Para Rasul 2:38 kita baca demikian:
"Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus."

Upacara baptis air secara harafiah bukanlah baptisan yang dimaksudkan di dalam ayat ini. Baptisan ini adalah baptisan rohani yang kita alami sebagaimana Tuhan melalui Firman-Nya membersihkan dosa-dosa kita. Hanya ketika Tuhan menerapkan pembasuhan atau pembersihan rohani ini di dalam hidup kita maka kita bisa diselamatkan.

Perintah untuk bertobat dan dibaptis adalah sama dengan pernyataan rasul Paulus kepada sipir penjara di Filipi ketika ia mengatakan kepadanya supaya ia "percaya kepada Tuhan Yesus" (Kis. 16:31).

Orang-orang yang berbicara kepada rasul Petrus di Kisah Para Rasul 2:38 adalah sama seperti sipir penjara di Filipi yang belum diselamatkan dan masih berada dalam keadaan "mati/sakit/buta/pincang secara rohani" (Roma 3:10-12, Yohanes 5:25, Yohanes 11:25, 1 Korintus 15:22, Efesus 2, Yehezkiel 37).

Untuk membasuh dosa-dosa mereka atau untuk sampai kepada suatu syarat supaya mereka dapat percaya kepada Kristus dengan sepenuh hati adalah sesuatu hal yang tidak mampu untuk mereka lakukan di dalam diri mereka sendiri. Tuhan-lah yang harus melakukan karya itu di dalam diri mereka. Itulah sebabnya kita membaca prinsip Alkitab yang sangat penting di Efesus 2:8-9 demikian:
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."

Kita tidak pernah dapat diselamatkan oleh suatu pekerjaan yang dapat kita lakukan sendiri, pekerjaan keselamatan seluruhnya harus dilakukan secara rohani oleh Tuhan.

Adalah benar bahwa seseorang yang belum diselamatkan juga mampu berbalik dari dosa ini atau dosa itu, tetapi pertobatan yang merupakan hasil dari keselamatan yang sejati adalah kita harus secara utuh berbalik ke arah yang berlawanan dari arah yang kita jalani sebelumnya. Orang yang masih mati secara rohani tidak dapat melakukan hal ini.

Untuk percaya, untuk dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosa kita), untuk bertobat, semuanya itu harus dilakukan oleh Tuhan. Tuhan-lah yang harus menyucikan kita dari semua dosa-dosa kita, Tuhan-lah yang harus memberikan kepada kita "kebangkitan roh/jiwa yang baru" sehingga hidup kita akan berbalik dari melayani diri sendiri menjadi melayani Tuhan.

Ia harus memberi kita iman sehingga selanjutnya kita percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati, yaitu, kita akan menggantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan, percaya bahwa apa yang dinyatakan di dalam Alkitab adalah mutlak benar dan mempunyai otoritas yang tertinggi dan yang terutama.

Dengan cara yang sama, kita dapat mengerti perintah yang diberikan kepada Paulus atau Saulus dari Tarsus setelah ia dibutakan selama tiga hari dan ketika Yesus menampakkan diri kepadanya. Kita membaca bahwa Ananias berkata kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 22:16 demikian:
"Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"

Beberapa orang mungkin menyimpulkan bahwa ayat ini adalah bukti tertulis bahwa upacara baptis air secara harafiah adalah syarat mutlak bagi keselamatan. Tetapi seperti yang telah kita pelajari, hal itu adalah mustahil. Sesungguhnya air betulan secara harafiah tidak disebutkan di dalam ayat ini atau juga di Markus 16:16 atau di Kisah Rasul 2:38. Sesungguhnya apa yang terjadi adalah Ananias yang beriman melalui karya yang dilakukan oleh Tuhan memerintahkan Paulus untuk bangun (menjadi bangkit secara rohani) dan dibaptis (dibersihkan dari dosa-dosanya oleh karya Roh Kudus).

Tentu saja Paulus tidak dapat melakukan hal-hal itu di dalam dirinya sendiri. Hanya Tuhan saja yang mampu melakukan semua hal-hal itu, sehingga kita dapat mengerti bahwa inilah saat keselamatan bagi dirinya. Ini tidak disebabkan karena Paulus ikut berusaha dalam suatu perbuatan atau pekerjaan tertentu untuk menggenapkan keselamatan di dalam dirinya.

Kenyataannya pada waktu itu Paulus yang adalah Saulus dari Tarsis masih berada dalam pemberontakan berat terhadap jalan Tuhan Yesus. Paulus sedang menangkapi dan membunuh pengikut-pengikut "jalan Tuhan" (Injil Kasih Karunia). Dan Tuhan-lah yang harus melakukan semua pekerjaan-pekerjaan untuk membangkitkan jiwanya dari kematian rohani dan menghapuskan semua dosa-dosanya. Bukti bahwa ini adalah saat keselamatan ketika Tuhan menyembuhkan Paulus dapat dilihat dalam kalimat dari Kisah Para Rasul 9:18 yang menyatakan demikian:
"Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis."
 
Ada selaput yang gugur dari matanya mengingatkan kita tentang pernyataan dalam 2 Korintus 3:14-16 yang berkata demikian:
"Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya."

Dengan kata lain, gugurnya selaput dari mata Paulus ini berarti mata rohaninya telah dibuka. Ia telah diselamatkan, telah disembuhkan secara rohani dan dosa-dosanya telah dihapuskan.

Jadi kesimpulan yang kita dapatkan adalah di dalam Perjanjian Baru kata "baptisan" selalu digunakan untuk menerangkan "pembersihan" atau "penyucian" atau "pembasuhan" dari dosa-dosa kita.

Kata ini tidak pernah berarti untuk diselam atau dicelup. Dalam Perjanjian Lama, sebagai bagian dari tata cara ibadah, tiga metode diterapkan untuk menandakan penyucian rohani: kurban darah, kurban bakaran, dan pembasuhan. Tetapi tidak satupun dari tindakan tersebut yang dapat menyediakan penyucian rohani yang sebenarnya. Mereka hanya bernilai sebagai "bayangan" yang menunjuk kepada penyucian yang akan disediakan melalui kematian dan kebangkitan dari Tuhan Yesus Kristus.

Baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis adalah sama seperti baptisan yang diberikan oleh murid-murid pada waktu sebelum peristiwa penyaliban, jadi pada dasarnya itu adalah sama dengan tata cara ibadah baptisan dalam Perjanjian Lama walaupun artinya rohaninya jauh lebih bermakna karena saat penyaliban sudah hampir tiba. Sedangkan baptisan Perjanjian Baru (baptisan Roh Kudus untuk penyucian dosa-dosa kita) dimulai setelah peristiwa kayu salib.

Dalam kata lain, semua upacara pembasuhan yang dilakukan di dalam Perjanjian Lama, bersama dengan pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis dan para rasul adalah "bayangan" yang menunjuk kepada pembasuhan/pembersihan yang disediakan oleh karya Yesus Kristus di kayu salib.

Ketika Yesus menderita di kayu salib, Ia disucikan atau dibersihkan dari semua dosa-dosa yang ditanggungkan pada diri-Nya. Jadi Ia menyediakan pembasuhan yang kekal bagi semua orang yang percaya kepada-Nya sebagai penebus dari dosa-dosa mereka. Lebih lanjut, Ia menggenapi seluruh hukum-hukum upacara yang merupakan bayangan di dalam Perjanjian Lama yang menunjuk kepada tindakan pembasuhan di atas kayu salib (Kolose 2:16-17).

"I wait for the LORD, my soul doth wait, and in His word do I hope"  (Psalm 130:5)
www.familyradio.com
===============================================
 
Lembaga Pernikahan


In a message dated 9/26/2006 5:12:35 PM Pacific Standard Time, hirung_h@ writes:

Dear Pak Setiawan

Saya mau tanya soal beristri lebih dari satu, memang hukum Kristen tidak dibenarkan istri atau suami lebih dari satu, tapi bagimana jika seorang yang tadinya bukan Kristen, tapi punya istri lebih dari satu tatkala kemudian dia menjadi orang percaya bersama beberapa istri tersebut, bagimana tanggapan gereja terhadap perkawinan istri lebih dari satu?

Best regards,
H i r u n g
---------------------------------------------------

Dear Beloved,

Pertama-tama saya kurang mengetahui apa tanggapan setiap gereja mengenai hal ini, setiap aliran gereja memiliki peraturan yang berbeda-beda mengenai pernikahan, tetapi Alkitab menyatakan bahwa bercerai adalah salah, itu adalah dosa yang besar. Dan di dalam Perjanjian Lama kita membaca kalau seseorang memiliki dua orang isteri, atau tiga, bahkan empat, mereka semua itu tetap adalah isteri-isterinya.

Alkitab berkata dalam kitab 1 Korintus 7:39 demikian:
"Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya."

Peraturan ini tidak pernah berubah, "Isteri terikat dengan suaminya selama suaminya hidup" dan "hanya kematian saja yang dapat mengakhiri sebuah pernikahan". Dalam kitab Roma 7:2-3 kita membaca demikian:
"Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain."

Jadi, bila mereka sudah menikah secara sah, yaitu diakui oleh hukum negara atau sudah diakui oleh adat istiadat setempat dimana mereka tinggal, maka ia tidak boleh menceraikan isteri-isterinya untuk alasan apapun. Walaupun hal itu adalah salah dia harus memelihara pernikahan tersebut sebaik-baiknya seolah-olah keduanya adalah pernikahan yang pertama. Jika ia adalah seorang anak Tuhan yang sejati, yaitu ia sudah benar-benar diselamatkan berdasarkan anugrah Tuhan, maka semua dosa-dosa yang ia pernah lakukan semasa hidupnya sudah ditutupi oleh darah Kristus. Tetapi itu bukan berarti bahwa ia akan bebas dari masalah-masalah duniawi yang ditimbulkan karena dosa ini.

Kita harus ingat bahwa Alkitab adalah sebuah buku rohani, ada banyak hukum-hukum moral yang harus kita patuhi, tetapi yang terutama adalah untuk mencari arti rohaninya. Dan hal yang terpenting mengenai peraturan pernikahan di dalam Alkitab adalah hubungan antara Kristus dan mempelai rohaninya, yaitu badan kumpulan orang-orang yang percaya (body of believers). Peraturan yang sama yang berlaku untuk lembaga pernikahan manusia juga berlaku dalam hubungan antara orang-orang yang percaya dengan Tuhan.

Itulah sebabnya dalam kitab Kidung Agung kita membaca hal-hal yang romantis dimana disitu raja Salomo merupakan gambaran dari Tuhan Yesus Kristus dan gadis itu merupakan gambaran dari badan kumpulan orang-orang yang percaya (mempelai rohani Kristus). Tetapi ingatlah selalu bahwa kitab Kolose 3:1-3 menerangkan kepada kita demikian:
"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Tuhan. Pikirkanlah perkara yang di atas [rohani], bukan yang di bumi [jasmani]. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Tuhan."

Untuk berpikir secara rohani adalah satu-satunya cara supaya kita dapat mengerti Alkitab secara keseluruhan baik kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dan menemukan keharmonisan yang total. Dan salah satu ayat kunci tentang pernikahan kita temukan dalam kitab Efesus 5:32, dimana pasal ini banyak berbicara tentang hubungan antara suami dan isterinya. Dalam ayat itu kita membaca demikian:
"Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Pada ayat-ayat sebelumnya di ayat 22-32 kita membaca demikian:
"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Itulah sebabnya hanya ketika Tuhan sudah mati di atas kayu salib orang-orang yang percaya diperbolehkan untuk bercerai dengan hukum Tuhan (hukum Taurat) yang berkuasa atas seluruh umat manusia, dan kemudian melalui hukum kasih karunia (anugrah) mereka menikah kembali dengan Dia yang telah dibangkitkan dari antara orang mati.

Kitab Roma 7:4 menerangkan kepada kita demikian:
"Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Tuhan."

Dalam kata lain, tanpa kematian Tuhan kita tidak akan pernah dapat bercerai dari hukum Tuhan (hukum Taurat) yang sudah pasti akan menuntut upah atas dosa-dosa manusia, yaitu kutukan dalam kekekalan (Roma 3:20). Sekarang kita melihat disini, bahwa semua peraturan-peraturan yang Tuhan tetapkan untuk lembaga pernikahan manusia juga berlaku bagi Tuhan sendiri. Betapa ajaibnya hukum-hukum yang Tuhan telah tetapkan untuk umat-Nya.

Salvation is of the LORD  (Jonah 2:9)

May the grace of the Lord Jesus Christ be with your spirit,
Setiawan

 
__._,_.___

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-
     Mailing List Jesus-Net Ministry Indonesia - JNM -
Daftar : [EMAIL PROTECTED]
Keluar : [EMAIL PROTECTED]
Posting: [email protected]

If you have any comment or suggestion about this mailing list,
to : [EMAIL PROTECTED]

Bagi Saudara yang berdomisili di Amerika, saudara dapat bergabung
dengan mailing list Keluarga Kristen USA (KK-USA) dengan mengirimkan
email kosong ke [EMAIL PROTECTED] dan ikuti instruksi
yang ada.
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-





SPONSORED LINKS
Arizona regional mls Regional truck driving jobs Anda networks

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke