From: Dewi Kriswanti UMUR MANUSIA
Bacaan: Mazmur 39:5-7 "Ingatlah apa umur hidup itu, betapa sia-sia Kau ciptakan semua anak manusia!" (Mazmur 89:48) Pemahaman tentang segambar dan serupa dengan Allah memang kerap menimbulkan persepsi ganda. Tetapi, dalam konteks keimanan Kristen tendensi mengarah pada karya dan kasih karunia Allah semata. Sebab, sebagai manusia kita ada hanya karena kasih karuniaNya yang begitu besar. Allah menciptakan manusia pada hari yang ke-6 setelah semuanya siap disediakan, agar manusia dapat menikmatinya. Allah sangat bijaksana dan mengetahui akan kebutuhan umatNya (Fil 4:19). Begitu pula burung-burung dan bunga di taman pun Allah pelihara apalagi manusia (Mat 6:25-34). Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti; manusia seperti Allah dan tentunya bukan Allah. Seorang anak lazim mirip dengan orang tuanya,tetapi yang jelas ia bukan ayah atau ibunya. Keserupaan manusia tersebut, menekankan pada gambaran atau strukturnya. Jadi, kata serupa tersebut bukan berarti sama dalam konteks kembar atau kualitasnya. Karena kita diciptakan segambar dengan Allah, hendaknya pula kita memiliki dan menyatakan sifat-sifat Allah dalam kehidupan sehari-hari dimanapun berada. Di tempat pekerjaan, lingkungan masyarakat, atau dalam kehidupan berjemaat/bergereja, melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yan hendaknya kita mencerminkan karakterNya yang mulia, sehingga dengan sendirinya kemuliaan Allah tersebut terpancar dalam kehidupan kita. Janganlah berkata dan bertindak sembarangan, apalagi berlaku curang. Kita mewarisi keberadaan Allah di dunia ini. Untuk itu, jagalah selalu kekudusan hidup, karena Allah itu kudus. Peliharalah tubuh ini dalam kekudusan hidup. Kenajisan dan kekotoran dunia ini janganlah melekat dalam kehidupan kita. Hari ini kita menyadari bahwa gambaran Allah ada dalamdiri kita. Alangkah baiknya jika kita mau memeliharanya serta menjauhkannya dari perbuatan kotor yang menyebabkan dosa. Hari ini kita buat komitmen untuk memulaihidup sesuai dengan karakter Allah. [dkw] Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur atas anugerahMu sehingga hidup kami yang singkat ini sangat bermakna dan berarti. Amin! MANFAATKAN KESEMPATAN DALAM HIDUP INI HANYA UNTUK MEMULIAKANNYA ================================================== From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]> Kado terindah Sering tersirat di dalam pikiran kita: "Wah kalau saya hidup ketika jaman Tuhan Yesus masih hidup, pasti akan saya berikan seluruh kasih sayang saya kepada Dia, bahkan kalau perlu jiwa dan raga sayapun bersedia saya korbankan untuk-Nya!" Tetapi seperti juga yang tercantum di Matius 25:40 'Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!' Artaban adalah orang Majus yang ke empat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Tuhan Yesus ketika Ia dilahirkan di Bethlehem. Bahkan sebelumnya Artaban telah menjual seluruh harta kekayaannya agar ia bisa mempersembahkannya untuk Raja yang akan dilahirkan. Dari hasil uang tersebut ia membeli tiga buah batu permata yang sangat berharga sekali ialah batu permata saphir biru, ruby merah dan mutiara putih. Ia telah berjanji untuk bertemu di satu tempat khusus dengan ketiga orang Majus lainnya ialah Caspar, Melchior dan Balthasar, karena waktu sudah sangat mendesak sekali, jadi apabila Artaban terlambat maka ia akan ditinggal oleh mereka. Dalam perjalanan ia melihat orang berbaring ditengah jalan, rupanya orang tersebut sedang menderita sakit berat dan sangat membutuhkan sekali pertolongannya. Apabila ia tidak menolong orang tersebut, pasti orang tersebut akan meninggal dunia, sebab mereka berada disatu tempat yang sepi dan jauh dari penduduk. Tetapi kalau ia menolongnya pasti ia akan terlambat dan akan di tinggal pergi oleh kawan-kawan yang lainnya. Walaupun demikian karena ia mengetahui menolong jiwa orang ada jauh lebih penting dari segala-galanya, maka ia rela di tinggalkan oleh kawan-kawannya. Akibatnya cukup fatal bagi Artaban, ia harus menjual batu permata sapir yang seyogianya untuk Raja tersebut, sebab ia harus membiayai seluruh biaya karavan mulai dari onta-onta, makanan, minuman dan pemandu jalan untuk melampaui padang pasir sekali lagi. Disamping itu ia juga merasa sedih, sebab sang Raja tidak akan mendapatkan batu spahir nya tersebut. Walaupun ia berusaha untuk mengejar kawan-kawannya secepat mungkin, ternyata setibanya di Bethlehem pun ia terlambat lagi, karena Jusuf & Maria berikut Bayi nya sudah tidak ada disana lagi. Pada saat Artabhan tiba di Bethlehem, perajurit-perajuritnya Raja Herodes sedang dengan ganasnya menjalankan perintah Herodes untuk membunuh para bayi. Ditempat ia menginap bayi putera pemilik penginapannya hendak dibunuh pula oleh seorang komandan dari Herodes. Artabhan melihat dan mendengar ratapan tangis dari ibu bayi tersebut dan ia merasa tidak tega dan merasa terpanggil untuk menolongnya. Oleh sebab itulah ia rela menukar jiwa dari bayi tersebut dengan batu permata ruby yang dibawanya. Hal ini membuat Arthaban bertambah sedih, karena batu permatanya untuk sang Raja semakin berkurang, bahkan hanya tinggal satu batu mutiara saja sisanya. Sebelum ia tiba di Yerusalem, tigapuluh tahun lebih ia mencari sang Raja dimana-mana dan ia merasa tercenggang mendengar bahwa Raja yang dicarinya bertahun-tahun akan di salib di Golghata. Walaupun demikian ia merasa terhibur sebab ia masih memiliki batu permata terakhir ialah batu mutiara yang bisa ia gunakan untuk menebus hidup-Nya Raja, agar Ia tidak disalib. Seperti halnya ketika ia menebus hidupnya seorang bayi ketika ia berada di Bethlehem. Dalam perjalanan menuju ke Golgatha ia melihat seorang anak perempuan menangis dan meratap meminta tolong kepadanya: "Tuan tolonglah saya, para perajurit akan menjual diri saya sebagai budak, karena ayah saya mempunyai hutang banyak. Ayah saya tidak mampu melunasi hutang tersebut, oleh sebab itulah sebagai gantinya ia mengambil diri saya untuk dijual. Tolong tuan!" Walaupun betapa sedihnya hati Arthaban, tetapi ia melihat keadaan sangat mendesak sekali, sebelum anak ini dijual dan dijadikan budak untuk seumur hidupnya, lebih baik ia menukar batu mutiaranya untuk menebus anak tersebut dan menyelamatkannya. Setelah itu langit menjadi gelap gulita dan terjadi gempa bumi, sehingga ia jatuh terbaring dan gadis tersebut jatuh pula terbaring diatas pundaknya. Tiba-tiba secara tidak sadar ia mengerakkan bibirnya dan berbicara: 'Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum? Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing, lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau dipenjarakan, lalu kami menolong Tuhan?' Dan dari jauh terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut menjawab: "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!" Setelah itu meninggalah Arthaban. Ia meninggal dengan mulut penuh senyuman, karena ia mengetahui bahwa semua jerih payahnya dan semua hadiah untuk Raja telah diterima oleh Raja dengan baik. Maranatha Mang Ucup Email: [EMAIL PROTECTED] Homepage: www.mangucup.org ========================================== From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]> Tiap sepuluh penduduk Jerman tidak mengenal makna Natal Sumber: www.kabarindonesia.com http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20061215061041 Oleh : Tumpal Simatupang 15-Des-2006, 06:23:36 WIB - [www.kabarindonesia.com] Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh majalah Stern di Jerman; terhadap lebih dari 2.000 orang responden, ternyata satu dari sepuluh penduduk di Jerman tidak mengetahui dan tidak mengerti makna dari Hari Natal itu. Penduduk Jerman lebih mengenal Madona daripada Bunda Maria. Mereka menilai Hari Natal ini seperti juga hari pesta-pesta lainnya, bahkan beberapa dari mereka menilai bahwa Hari Natal itu tidak beda jauh dengan hari pesta Karneval. Pesta yang hanya sekedar untuk hura-hura dan makan-makan saja. Padahal di Jerman lahirnya sang reformator Martin Luther yang mengawali perubahan aliran gereja secara besar-besaran. ============================================= From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]> Injil Judes bukan buat oran Judes Males pangkal bloon, iseng pangkal kreatip. Bloon pangkal telmi, kreatif pangkal inovatip Telmi pangkal lansia, inovatip pangkal losta masta Salah satu output-nya, adalah buku "Injil JudEs" ini. Lumayan juga bwat nakut2in elo. Tapi sebenarnya, ga kreatip n inovatip banget sih, meski tetap losta masta. Soale, gw cuman memanfaatkan kejudesan si Ucup, yang dah judes sejak dari zaman baheula. Sementara si Yudas, yang mungkin ga sejudes si Mang ini, jadi obyek penderitaan "dah jatoh ketimpa tangga pulak". Posting ini ga useh dibaca berulang2, apalagi sambil mengernyitkan kening. Sayang dwit buat memuluskan kulit jidat yang berkerut di pusat kecantikan kulit yang sekarang tumbuh bak jamur di musim penghujan. Begitu juga covernya, ga useh dibanding2kan ama buku Injil Yudas yang aseli. Capeee deh... Coz itu cuman korban perbuatan iseng gw. Hehehe... Mulai tgl 10 Desember 2006 buku Injil Judes sudah bisa dibeli di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung maupun toko-toko buku lainnya seperti Metonia. Walaupun demikian bagi mereka yang sudah kebelet ingin buruan baca silahkan pesan langsung ke: [EMAIL PROTECTED] kirim uang Rp 25 ribu ke rekening sudah termasuk ongkos kirim di Indonesia an Ang Tek Khun Rek bank: BCA 456 070 3380 Salam akrab & tabik jabat tangan erat Mang Ucup - The drunken Priest PS: Buku ini bukan saja wajib dibaca, tetapi juga wajib dibeli - dengan uang sendiri maupun uang pinjaman

