From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>

 Sepatu Natal


Pada saat kami masih kecil ayah saya ditahan oleh Kempeitai Jepang, sehingga
Ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk membesarkan kami anak-anaknya, 
satu hal yang tidak mudah mengingat pada jaman perang banyak sekali orang 
kelaparan, karena tidak ada penghasilan. Tempat tidur yang kami milikipun hanya 
satu saja dimana Ibu dengan seluruh anak-anaknya berbaring diatas satu tempat 
tidur. Dan kalau salah satu dari kami menderita sakit, Ibu selalu tidur di atas 
lantai untuk memberikan lebih banyak tempat kepada anaknya yang sedang 
menderita sakit.

Ibu bekerja sebagai pencuci pakaian. Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit 
ia sudah bangun untuk mencuci pakaian. Satu pekerjaan yang berat, karena 
semuanya harus di cuci dengan tangan. Ia bekerja tujuh  hari seminggu dengan 
tiada mengenal lelah.

Uang yang Ibu dapatkan hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan 
kadang-kadang inipun masih kurang, sehingga seringkali kami tidur dengan tanpa 
makan malam. Walaupun kami telah tidur ibu masih tetap bekerja terus, dibawah 
remang-remang lampu cempor minyak, karena tidak ada listrik dirumah kami. Ia 
harus menggosok pakaian sampai dengan jauh malam. Tetapi walaupun Ibu harus 
kerja berat, ia tidak pernah mengeluh.

Kami anak-anaknya tidak pernah memiliki sepatu dan kakak saya pada bulan 
berikutnya harus masuk sekolah. Ibu berusaha ingin membelikan sepasang sepatu 
untuk kakak saya. Kebenaran tetangga kami seorang penjual barang rombengan 
(tukang loak), kepada dia Ibu memesan sepasang sepatu, walaupun sepatu bekas 
dan juga agak kebesaran, tetapi daripada tidak punya sepatu sama sekali. 
Harganyapun telah ditetapkan, tetapi karena Ibu belum punya uang, ia diberi 
kesempatan untuk mengumpulkannya terlebih dahulu, setelah jumlah uangnya 
lengkap ia boleh menembus sepatu bekas tersebut.

Ibu ingin uang itu cepat terkumpul sehingga ia bekerja lebih banyak dan lebih 
berat lagi. Ia harus menggosok pakaian kadang-kadang hingga jam dua pagi 
sedangkan jam lima pagi ia sudah harus bangun lagi untuk mencuci pakaian. 
Bahkan untuk dapat menabung ini Ibu telah beberapa kali melakukan puasa agar 
uangnya bisa lebih cepat terkumpul.

Akhirnya Ibu jatuh sakit, karena pekerjaannya yang terlalu berat dan juga 
karena seringnya berpuasa, walaupun ia sakit, ia tetap bekerja terus, sehingga 
pada saat ia menggosok pakaian, karena kelelahan ia lelap sejenak. Akibatnya 
sangat fatal bagi Ibu, pakaian langganan yang sedang ia gosok menjadi hangus 
oleh strikaan panas.

Ibu menangis, ia bukan menangis karena sakit, ia bukan menangis karena harus 
bekerja berat, ia menangis, karena uang celengan yang tidak seberapa jumlahnya 
yang seyogiyanya untuk membeli sepatu anaknya harus digunakan untuk mengganti 
pakaian yang hangus kena strikaan. Sehingga terpaksa, pada saat kakak saya 
mengikuti perayaan Natal di sekolah, dimana hampir semua murid memakai pakaian 
maupun sepatu baru, kakak saya sebagai anak satu-satunya yang tidak memakai 
sepatu dan kemeja tambalan.

Ketika pulang sekolah kakak saya menangis ia tidak mau pergi ke sekolah lagi, 
karena ia telah menjadi ejekan dari kawan-kawan sekolahnya sebagai satu-satunya 
anak yang tidak pakai sepatu. Masih ingat oleh saya wajah Ibu, sambil memeluk 
anaknya ia membelai kepala kakak saya, mengalir butir air matanya keluar, tak 
sepatah katapun yang ia ucapkan, tetapi terbayang diwajahnya betapa pedih dan 
betapa sakitnya perasaan Ibu saya pada saat tsb. Apakah Anda bisa membayangkan 
berapa banyak orangtua menjelang Natal atau tahun baru ini yang mungkin 
mengalami perasaan dan nasib yang sama seperti Ibu saya, karena mereka tidak 
mampu membelikan pakaian maupun sepatu untuk anaknya?

Mang Ucup
Emai: [EMAIL PROTECTED]
Homepage : www.mangucup.net 
===================================================
From: Elly 

Anak2 hidup dari apa yang mereka pelajari

Jika seorang anak hidup dengan kecaman, ia belajar menyalahkan. 
Jika seorang anak hidup dengan permusuhan, ia belajar kekerasan.
Jika seorang anak hidup dengan celaan, ia belajar menjadi pemalu. 
Jika seorang anak hidup dengan rasa malu, ia belajar merasa bersalah.
Jika seorang anak hidup dengan dorongan semangat, ia belajar percaya diri.
Jika seorang anak hidup dengan pujian, Ia belajar untuk menghargai.
Jika seorang anak hidup dengan kejujuran, Ia belajar tentang keadilan.
Jika seorang anak hidup dengan keamanan, Ia belajar tentang iman.
Jika seorang anak hidup dengan restu, Ia belajar menyukai dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidup dengan dukungan semangat dan persahabatan, 
Ia belajar mengasihi dunia.

"Tetapi barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang 
percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada 
lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut."  (Matius 18:6)
===================================================
From: "MANGUCUP" <[EMAIL PROTECTED]>

Mang Ucup minta Kado Natal


Mang Ucup mohon bantuannya, bukan berupa uang maupun materi, hanya sekedar
waktu anda beberapa menit saja, sebagai kado natal untuk mang Ucup

Tanpa terasakan akhir tahun sudah berada di ambang pintu. Sudah bertahun-tahun 
lamanya mang Ucup dengan rajin seminggu dua sampai tiga kali berkunjung ke 
email box anda, dengan menyajikan oret2an maboknya, yang terkadang membuat 
orang jadi pusing, tertawa, mengkerutkan jidat, menangis maupun menguatkan iman 
para pembacanya.

Mang Ucup bukan hanya sekedar menulis dan menyajikan artikel saja, tetapi
juga menulis teks doa bersama dengan anggota tim modie Doa Satu Menit. Kalau
saya jujur saya merasa senang bisa berbagi semuanya ini dengan anda,
walaupun demikian masih ada satu ganjelan di dalam hati saya.

Saya merasa prihatin dan sedih melihat keadaan di negara kita ini, dimana harga 
beras sudah melonjak menjadi Rp 20 ribu per kg atau hampir dua kali lipat jauh 
lebih mahal daripada harga beras di Holland. Kemarin saya membaca dimana ada 
dua bocah bersaudara yang berusia enam dan delapan tahun. Orang tuanya 
meninggal akibat korban gempa, sehingga tidak ada yang mengurus mereka, 
walaupun demikian mereka berusaha untuk mencari sesuap nasi dengan jualan 
“abu”, karena tidak ada modal untuk membeli barang lainnya. Sudah tentu tidak 
ada orang yang mau membeli abu, hal ini mengakibatkan kedua bocah tersebut 
menderita kelaparan, karena sudah empat hari tidak makan.

Mungkin hati anda tergugah sehingga timbul pikiran ingin membantu para bocah
tersebut. Tetapi hati-hati sebab di Indonesia, akan diberlakukan peraturan baru 
dimana orang yang memberi uang kepada anak jalanan atau pengemis akan ditangkap 
polisi! (sumber laporan Tempo Interaktif 12 Des 2006), hanya sayangnya disitu 
tidak dicantumkan,apakah akan dihukum juga apabila memberi uang kepada polisi 
atau pejabat.

Hal inilah yang membuat mang Ucup merasa sedih dan ingin membantu usaha dari
KabarIndonesia. Koran untuk orang kecil agar mereka juga mempunyai wadah dan
corong untuk mengekspresikan pendapat maupun suara mereka.

Oleh sebab itulah sebagai hadiah dan kado Natal untuk mang Ucup: 
saya mohon dukunglah usaha KabarIndonesia ini  dengan meng-klik <Daftar Jadi 
Penulis> di www.kabarindonesia.com

Dijamin nama dan data pribadi anda tidak akan dibaca maupun diketahui oleh
pihak ketiga, disamping itu tidak ada kewajiban apapapun juga. Jadi walaupun
anda tidak menulis berita sekalipun juga ini tidak jadi masalah.

Sebab setiap dukungan suara yang terdaftar sebagai penulis di
www.kabarindonesia.com, gema suara dan gaungnya dari suara orang kecil bisa
semakin keras terdengar. Dukunglah usaha rakyat kecil ini, sebagai kado
Natal bagi mang Ucup.

Untuk bantuannya dan kadonya saya ucapkan banyak terima kasih sebelumnya.

Salam dengan penuh kasih dan doa
Dengan ucapan Selamat hari Natal

Maranatha
Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org 

Kirim email ke