From: Yosia Suherman 

Gereja itu Penjara

 Kita mungkin dahulu berpraduga bahwa umat Kristen itu semuanya sama, kita 
mempercayai Tuhan yang sama, mempelajari Alkitab yang sama dan juga memiliki 
gereja yang sama, dimana semua umat Kristen disitu bersatu menjadi satu, jadi 
satu pikiran yang luas dan bebas.
Dan pada awalnya memang gereja itu merupakan institusi pertama dalam sejarah 
dunia, dimana orang2 Yahudi maupun non Yahudi, laki2, perempuan, kaya atau 
miskin bisa berkumpul menjadi satu. Bahkan orang2 Yunani yang pada umumnya 
selalu memisahkan para budak dari kelompok sosial mereka, telah bersedia 
merangkul mereka untuk berkumpul menjadi satu di dalam gereja. Jadi orang 
Kristen mula2lah yang mampu meruntuhkan segala macam tembok penghalang itu.
Tetapi pada abad sekarang ini kalau kita ke gereja, hal yang kebalikannyalah 
yang terjadi. Kita harus siap untuk menerima kenyataan dimana nantinya 
kebebasan pikiran itu di belenggu di penjarakan. Oleh ber-macam2 pagar tembok 
penghalang yang tinggi2, berupa ber-macam2 doktrin buatan manusia, yang khusus 
dibuat sebagai pagar yang tinggi, agar domba2nya tidak pindah kandang, terutama 
domba2 yang gemuk2.

Siapa bilang gereja aliran A itu sama dengan gereja aliran B, mereka saling 
menuding satu dengan yang lain bahwa gerejanya lah yang paling superior 
sedangkan sisanya itu adalah aliran sesat semua. Yang satu dituding, karena 
menyembah berhala, yang lain dituding, karena terlalu liar dalam membawa 
puji2annya dan yang lainnya dituding karena berprilaku agak gendheng, karena 
mau bergulingan di lantai gereja ataupun mengucapkan bahasa seperti orang mabuk.
Kita bukan hanya sekedar di jejelin dengan segala macam doktrin pemisah, tetapi 
juga dengan ancaman2 yang menyeramkan, seandainya Anda berjemaat di gereja 
aliran A pasti nantinya, Anda akan digoreng jadi kerupuk sampai kering atau 
dipanggang jadi Cha Siu (Babi Panggang) di api neraka.

Jadi tidaklah salah kalau kita masuk gereja pada saat sekarang ini seperti juga 
kita menyatakan kesediaan kita untuk di"kandang-in", yang nantinya akan dijaga 
sedemikian rupa dan sedemikian ketatnya oleh Gembalanya, agar domba2nya tidak 
memiliki kebebasan ataupun keinginan lagi untuk keluar dari kandang yang sudah 
ada.
Apalagi kenyataan pahit yang harus diterima pada saat ini dimana sudahlah 
merupakan satu kejadian se-hari2, kalau para gembala saling menyolong domba.  
Maka dari itu apakah tidak wajar kalau gembala2 tsb menjadi ketakutan 
sedemikian rupa sehingga berusaha untuk mengikat atau memenjarakan dombanya 
dengan segala macam cara, terutama dengan menggunakan ber-macam2 doktrin maupun 
ancaman2 yang menakutkan dari Alkitab.
Gereja sekarang sudah menjadi club2 yang eklusif, dimana hanya orang2 yang 
"sealiran" saja bisa diterima menjadi anggotanya, orang2 berduit tentunya ingin 
berkumpul dengan orang berduit pula, maka dari itulah diadakan khusus 
persekutuan doa umpamanya untuk para pengusahawan atau para eksekutif.  Gereja 
orang berduit lain lagi dengan gereja kaum gelandangan! Mana mungkin mereka 
bisa digabung dengan anak2 jalanan atau para gembel, begitu juga gereja orang 
kulit putih pada umumnya juga tidak mau digabung dengan gereja orang kulit 
hitam.

Maka dari itu tidaklah salah ketika di th 1960-an Martin Luther King Jr 
mengucapkan bahwa tiap hari Minggu pukul 11 pagi, adalah jam yang paling 
rasisalisme di seluruh Amerika, hal yang sama telah diucapkan oleh Jesse 
Jackson dan juga dikutip oleh Billy Graham.

Tanyalah sama diri sendiri apakah hari Minggu yang akan datang ini Anda akan 
pergi ke gereja ataukah ke "club" Anda, dimana kita bisa bergabung dan 
berkumpul lagi dengan orang2 yang sealiran dan juga yang memiliki status yang 
sama seperti kita?
Cobalah Anda menyanyi sambil bertepuk tangan dan menari di gereja yang 
konservatif, apakah Anda tidak akan dianggap gendheng, atau kebalikannya 
membawa dan berdoa rosario di gereja yang bukan Katholik apakah Anda tidak akan 
di cap sebagai pemuja berhala?

Jadi tidaklah salah kalau saya menilai bahwa gereja jaman sekarang ini 
merupakan kandang atau penjara yang telah dikelilingi oleh tembok2 yang tinggi2 
yang telah mampu memisahkan kebersatuan kita sebagai sesama umat Kristen.(MU)
=============================================
From: Yosia Suherman 

Ini Gereja atau Gedung Bioskop ?

 Gedung bioskop memang berbeda dengan gereja. Tapi di antara keduanya ada 
kemiripan-kemiripan. Kemiripan itu antara lain: penonton di gedung bioskop dan 
jemaat yang berbakti di gereja sama-sama duduk menghadap kepada satu arah. 
Kalau penonton gedung bioskop menghadap ke layar tempat film diproyeksikan, 
sedangkan jemaat menghadap ke mimbar tempat kotbah disampaikan. 

Kemiripan lain misalnya, semua yang hadir di gedung bioskop, juga semua jemaat 
yang hadir di dalam gereja, secara umum punya tujuan yang sama. Para penonton 
di dalam satu gedung bioskop punya tujuan yang seragam yaitu menonton film yang 
sama. Lalu, para jemaat di dalam gereja, secara umum, punya tujuan yang sama 
yaitu memuji Tuhan, mendengarkan Firman Tuhan, memberikan persembahan dan 
berdoa.

Selain adanya kemiripan-kemiripan tadi, jelas gedung bioskop sama sekali 
berbeda dengan gereja. Gedung bioskop adalah tempat orang mendapat hiburan, 
sedang gereja adalah persekutuan orang percaya. Tapi, sayang, gereja sekarang 
ini sudah menjadi sama dengan gedung bioskop. Coba Anda perhatikan! Pernahkah 
terjadi persekutuan yang akrab di dalam gedung bioskop? Ketika Anda menonton di 
gedung bioskop entah bersama keluarga atau teman-teman Anda, pernahkah Anda 
bertegur sapa dengan orang yang tidak Anda kenal yang duduk di samping kanan 
dan kiri Anda, seraya membagi-bagikan pop corn dan soft drink Anda? Jadi jelas, 
bahwa tidak pernah terjadi persekutuan yang indah, apa lagi saling membagi 
pergumulan di dalam gedung bioskop, wong mengenal teman duduk kita saja tidak!

Tapi, seperti yang saya katakan di atas, gereja telah berubah fungsi menjadi 
gedung bioskop, di mana jemaat-jemaat sama-sama menikmati indahnya ibadah, tapi 
boro-boro saling membagi beban dan saling mendoakan, saling mengenal jemaat 
yang duduk di kanan dan kiri pun tidak. Jadi apa bedanya gereja dan gedung 
bioskop? Anda sendiri yang menentukan jawabannya! 

Oleh: Pancha W. Yahya 

Kirim email ke