From: Antonius Steven Un
My Own Reflection
Identitas kita tidak bergantung apa yang kita punyai atau apa yang kita lakukan
tetapi apa yang Tuhan lakukan bagi kita. Dengan begini, identitas kita tidak
akan runtuh, sebab identitas yang runtuh, melemahkan jiwa.
Kedaulatan Tuhan berarti Tuhan tidak terkurung oleh kategori "harus". Tetapi
Alkitab memberitahu bahwa Tuhan dengan "kemurahan hatiNya" atau "kerelaan
kehendakNya" melakukan karya terbesar: penebusan orang berdosa. Tuhan tidak
harus tetapi Ia rela melakukan yang terbaik bagi saya. Saya yang harusnya
menyembah dan melayani Tuhan tetapi jika saya tidak rela, hal itu merupakan
ironis yang amat besar. Tuhan yang tidak harus saja Ia rela, apalagi saya yang
harus, mestinya lebih rela.
Setan berfokus kepada apa yang masuk ke dalam mulut manusia tetapi Tuhan Yesus
berfokus kepada apa yang keluar dari mulut Tuhan. Dua hal inilah yang
menentukan orientasi hidup manusia: materi atau firman.
Bukan karena Alkitab berotoritas maka diakui sebagai firman Tuhan tetapi karena
Alkitab firman Tuhan maka pasti berotoritas. Bukan karena Alkitab tidak
bersalah maka diakui sebagai firman Tuhan tetapi karena Alkitab firman Tuhan
maka tidak mungkin salah.
Keluarga demikian pentingnya di mata Tuhan sampai-sampai Paulus memakai
hubungan Kristus dengan jemaat sebagai ilustrasi bagi hubungan suami istri.
Padahal biasanya, sebaliknya. Tuhan Yesus memakai hubungan bapa-anak sebagai
ilustrasi hubungan Tuhan Bapa dan Anak Tuhan.
Pasangan sejati seharusnya seiman karena Alkitab menegaskan hal itu: suami
harus mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Istri harus tunduk
kepada suami sebagaimana tunduk kepada Tuhan. Jika suami belum pernah mengalami
kasih Kristus, tidak mungkin bisa menjadi suami yang baik. Jika istri tidak
mulai dan pernah belajar tunduk kepada Tuhan, tidak mungkin bisa menjadi istri
yang baik.
Alkitab berfungsi sebagai pemberita kebenaran terbaik khususnya realitas rohani
yang tidak mungkin manusia ketahui. Sebagai contoh, tanpa Alkitab, manusia
tidak mungkin tahu secara jelas natur buruk dan jahatnya setan serta bagaimana
berperang melawan setan. Puji Tuhan dengan adanya Alkitab, kita bisa tidak
ditipu oleh si bapa pendusta itu.
Semoga menjadi berkat. Soli Deo Gloria.
Ev. Antonius Steven Un
===================================================
From: Jeffrey Lim
Arti di dalam Kesia-siaan
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah
sia-sia¡¨ ( Pengkhotbah 1:2 )
Salah satu kitab yang paling aneh di dalam Alkitab adalah Kitab
Pengkotbah. Dan yang kedua adalah kidung agung. Mengapa kitab pengkotbah begitu
aneh ? Karena isinya sepertinya pesimis dan berisi hal yang bersifat sia-sia.
Bukankah Alkitab seharusnya optimis ? Bukankah Alkitab seharusnya memberikan
pengharapan ? Bukankah iman itu didasarkan kepada pengharapan ? Bukankah juga
Alkitab seharusnya juga memberikan arti ? Malahan kitab pengkotbah mengatakan
sia-sia. Bukankah hal ini aneh ?
Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menulis kitab Pengkotbah ?
Dikatakan di dalam ayat 1 bahwa Inilah perkataan Pengkotbah, anak Daud, raja di
Yerusalem¡¨ ( Pengkhotbah 1:1 ). Berarti Pengkotbah adalah anak Daud. Siapakah
dia ? Anak Daud begitu banyak. Pengkotbah sendiri tidak mengutarakan namanya.
Dia menyembunyikan namanya. Di dalam Tradisi mengatakan dia adalah Raja Solomo.
Dan saya berpendapat bahwa dia adalah raja salomo. Mengapa ?
Pertama, Dikatakan bahwa Raja ini anak Daud.
Kedua dikatakan bahwa Raja ini adalah Raja yang berhikmat. Di dalam ayat 16
dikatakan bahwa Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari
semua orang yang memerintah Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah banyak
memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.Bila kita mengingat mengenai hikmat
maka kita mengkaitkan hal ini dengan Raja Salomo yang pernah meminta hikmat
kepada Tuhan. Salomo juga diberi anugerah hikmat karena dia mampu menulis amsal
dengan begitu limpah, mengerti hewan, mengerti tumbuhan, mengerti etika,
mengerti sosial, mengerti kerajaan, mengerti pemerintahan, mengerti hubungan
dengan Tuhan, mengerti hukum di dalam kehidupan, dsb.
Ketiga dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud dan Raja di Yerusalem dan Raja
Isreal. Inilah perkataan pengkotbah, anak Daud di Yerusalem¡¨ ( Pengkhotbah 1:1
) Aku , Pengkotbah adalah raja atas Israel¡¨ ( Pengkhotbah 1:12 ) . Ini klue
yang menentukan. Mengapa ? Sebab setelah Raja Rehabeam, Israel pecah menjadi
kerajaan utara dan kerajaan selatan. Kerajaan Utara disebut kerajaan Israel dan
Selatan disebut Yehuda. Ibu kota Yehuda adalah Yerusalem sedangkan Ibukota
Israel adalah Samaria. Tetapi dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud, Raja
di Yerusalem, dan Raja Israel. Bila kita melihat bahwa periode dimana Israel
ibukotanya adalah Yerusalem adalah periode di jaman Saul, Daud dan Salomo dan
Rehabeam. Saul tidak mungkin dan Rehabeam tidak mungkin. Apalagi Daud. Maka hal
yang paling pasti adalah Raja Salomo.
Kemudian Raja Solomo dilukiskan di dalam kitab ini bahwa dia sudah pernah
mencoba banyak hal di dalam dunia ini. Dia sudah memperdalam hikmat bahkan
sampai tingkat yang tinggi sekali. Dia mencoba kesenangan dan kegirangan di
dalam hidup ini. Dia melakukan pekerjaan yang besar dan mendirikan, membangun
rumah-rumah, menanami kebun-kebun anggur, dan taman-taman. Dia menjadi besar
dan menjadi tuan atas budak-budak. Dia mengumpulkan harta begitu banyak. Dia
ditemani oleh banyak perempuan-perempuan. Bila kita merenungkan hidup Salomo,
dia pernah masuk ke dalam hedonisme, ke dalam cinta filsafat dan hikmat, ke
dalam kemewahan, ke dalam materialisme, dan ke dalam banyak filsafat dan ide.
Dia benar-benar bukan saja mengetahui secara teori tetapi mempraktekkannya. Dia
orang yang berpikir dan melakukan. Kuasanya begitu besar.
Tetapi akhirnya Salomo menyimpulkan bahwa semuanya adalah sia-sia. Semua ini
adalah tidak berarti. Semua yang dia kejar adalah kosong adanya. Ini sungguh
mengejutkan. Dan kitab Pengkhotbah ini berisi hikmat yang tinggi luar biasa.
Ini menjelaskan bahwa usaha manusia di dalam dunia ini untuk mencari sesuatu
apapun yang hebat, mewah dan luar biasa di luar Tuhan Tuhan sendiri adalah
kesia-siaan belaka. Ini menjelaskan bahwa setelah manusia jatuh di dalam dosa
maka kehidupan manusia ada di dalam kesia-siaan belaka. Semua kosong, semua
tidak berarti, semua sia-sia. Sungguh pesimis, sungguh nihilis, zero dan void.
Saya hendak mengajak kita berpikir apakah kalau begitu hikmat, materi, nama
baik, kekayaan, kenikmatan semuanya sia-sia. Apakah Pengkhotbah mau mengajarkan
demikian ? Satu hal bila pengkhotbah mengatakan semua sia-sia dan tidak berarti
atau kosong, mengapa pengkhotbah mengatakan semua itu sia-sia. Bukankah kalau
semua sia-sia maka sia-siapun adalah sia-sia ? Bukankah Pengkhotbah sedang
berkontradiksi dengan pernyataannya sendiri ? Bukankah kalau semuanya kosong,
mengapa berbicara mengenai kekosongan seolah-olah kekosongan itu ada ? Bukankah
kalau kosong tidak dapat dibicarakan ? Bukankah kalau sia-sia maka tidak bisa
mengatakan sia-sia ? Karena ketika seseorang mengatakan sesuatu sia-sia maka
sebenarnya ada makna bahwa segala sesuatu sia-sia. Maka masih ada makna. Masih
ada arti.
Satu hal bahwa Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan dirinya sendiri.
Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan pernyataannya. Bahkan di dalam
pernyataannya terkandung paradoks yang dalam. Sia-sia ! Itu adalah arti. Tetapi
kalau bicara arti, arti ini harus dikaitkan pada sumber arti. Di dalam hal ini
Pengkhotbah hendak mengkaitkan arti dengan Tuhan sendiri. Arti adalah di dalam
Tuhan.
Segala sesuatu ada artinya. Ini adalah pernyataan yang saya mau tekankan.
Bahkan kesia-siaan pun ada artinya. Tetapi arti ini ada karena dikaitkan dengan
Tuhan Tuhan. Mengapa semuanya ada arti ?
Saya berpendapat semuanya ada arti karena sejarah hidup manusia ada di dalam
Sejarahnya Tuhan. History adalah HIS Story. Semua sejarah ini ada maknanya
karena Tuhan Tuhan adalah sumber makna. Karena itu sejarah ada artinya. Apakah
penderitaan ada artinya ? Ada artinya ! Apakah sakit penyakit ada artinya ? Ada
artinya ! Apakah kematian ada artinya ? Ada artinya ! Apakah bahkan dosapun ada
artinya ? Ada artinya ! Lebih ekstrim lagi adalah apakah orang tidak percaya
dan berdosa yang berada di dalam kesia-siaan ini ada artinya ? Mungkin kita
berpikir tidak ada artinya. Tetapi bukankah semua ini ditulis ? Bukankah kalau
begitu ada artinya ? Paling sedikit adalah mengajarkan orang untuk takut akan
Tuhan. Mengajarkan orang untuk gentar terhadap hidup dan mencari arti di dalam
Tuhan. Lebih jauh apakah kitab pengkhotbah ada maknanya ? Kalau kitab
Pengkhotbah yang berbicara mengenai kesia-siaan tidak ada maknanya, mengapa
kitab ini ditulis dan bahkan ada di dalam Alkitab ?
Jadi kesimpulannya adalah segala sesuatu ada maknanya dan semuanya dikaitkan
dengan sumber makna yaitu Tuhan Tuhan sendiri.
Renungan ini sampai disini dan marilah kita mencoba merenungkan banyak makna di
dalam banyak hal. Ada baiknya saudara pernah mengalami kekosongan makna supaya
menyadari bahwa ketika mengalami kekosongan makna itu adalah sedang mengalami
arti hidup. Tetapi lebih jauh ada baiknya saudara yang mengalami kekosongan
makna bertemu dengan Kristus yang adalah sumber hidup yang akan membahwa
saudara kepada hidup yang berkelimpahan.
Jeffrey Lim
Pergumulan dari nihilisme -> eksistensialisme -> Meaning in Christ J
Taipei, 11 Februari 200
===============================================
From: Billy Kristanto
Multi Faset dalam Kebangunan Rohani
Dear beloved brothers/sisters in Christ,
Kembali saya tergerak untuk menulis tentang beberapa aspek yang penting dalam
kebangunan rohani yang pernah dikerjakan oleh Tuhan dalam sejarah Gereja. Kita
bisa membaca bagian-bagian ini baik dalam Alkitab sendiri, maupun juga dari
catatan-catatan sejarah di mana pada saat-saat tertentu Tuhan membangkitkan
GerejaNya.
Masih berada dalam konteks kelimpahan aspek/faset dalam karya Tuhan, demikian
juga dalam kebangunan rohani yang sejati, kita mempelajari bahwa kebangunan
rohani tersebut tidak hanya menyangkut satu aspek saja, melainkan sesungguhnya
beberapa aspek yang dapat dikatakan menjadi karakteristik dari kebangunan
rohani yang integral. Beberapa aspek yang penting itu adalah (aspek-aspek ini
tidak harus dimengerti secara linar-kronologis, melainkan sebagai faset-faset
yang menyatakan keindahan karya Tuhan):
1. Kebangunan rohani adalah kebangunan pengenalan diri, yaitu keadaan diri yang
berdosa. Ketika kebangunan rohani terjadi kita melihat manusia disadarkan oleh
Roh Kudus mengenal keberdosaan diri mereka yang tanpa Tuhan akan menuju kepada
kebinasaan. Prinsip ini kita jumpa misalnya dalam Kel 33:4 (peristiwa setelah
penyembahan lembu emas dan Tuhan tidak berkenan untuk memimpin mereka secara
langsung). Di situ dikatakan bahwa umat Israel berkabung dan menanggalkan
perhiasan mereka. Kebangunan rohani yang sejati selalu membawa kepada
pengenalan kekurangan serta kelemahan kita. Roh Kudus adalah Roh yang
menginsyafkan dosa (Yoh 16:8), sekaligus adalah Roh yang menjadi Penghibur kita
(16:7). Dalam peristiwa Pentakosta, orang menjadi sadar bahwa mereka telah
menyalibkan Yesus Kristus yang tidak berdosa.
2. Kebangunan rohani adalah kebangunan manusia mengenal Injil Keselamatan dalam
Yesus Kristus. Sekali lagi peristiwa Pentakosta mengajarkan kita hal ini.
Manusia yang sadar akan dosa-dosanya, menyadari bahwa ia membutuhkan
Juruselamat yang menanggung dan menghapus dosa-dosanya. Kebangunan rohani yang
sejati adalah membawa manusia datang dan menerima Injil, percaya kepada Yesus
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi hidup pribadinya. Kebangunan rohani
bukanlah membawa manusia percaya bahwa Yesus adalah pembuat mujizat yang
berkuasa, tanpa pengertian akan Injil. Dari mana prinsip ini kita pelajari?
Dari bagian firman Tuhan yang mencatat ketika banyak orang ingin menjadikan
Yesus menjadi raja roti, Ia menghindar dari mereka, karena yang ingin
disampaikan Yesus sebenarnya adalah pengajaran mengenai Roti Hidup yaitu
diriNya sendiri yang akan diberikan menjadi tebusan dosa-dosa manusia. Namun
rupanya, berita Injil terlalu keras untuk mereka, mereka lebih suka mengalami
mujizat yang mengenyangkan mereka daripada menyadari kebutuhan mereka akan
Juruselamat. Kebangunan rohani yang sejati memiliki aspek soteriologis
(keselamatan dalam Yesus Kristus sebagaimana diberitakan dalam Injil).
3. Kebangunan rohani membawa seseorang kepada pengertian yang lebih dalam akan
firman Tuhan. Sekali lagi, peristiwa Pentakosta mengajarkan hal ini. Di situ
Petrus berkhotbah dan berbahasa lidah (dia berkhotbah dan orang-orang dari
berbagai daerah mendengar dia dalam bahasa mereka masing-masing). Karunia
bahasa lidah dari Petrus membuat orang-orang yang tadinya tidak mengerti firman
Tuhan menjadi mengerti apa yang dibicarakan dan diberitakan oleh Petrus.
Kebangunan rohani yang sejati membawa manusia kepada pengertian, pengertian
akan Injil, akan firman Tuhan, pengenalan akan Tuhan. Ini konsisten dengan apa
yang diberitakan oleh Yohanes bahwa Roh Kudus memang akan memimpin seseorang
untuk masuk dalam seluruh kebenaran. Orang yang dipenuhi Roh Kudus membawa
orang lain semakin mengerti akan kebenaran firman Tuhan. Iblis, seperti
dikatakan oleh Alkitab, juga menaburkan benih lalang untuk tumbuh bersama-sama
dengan benih gandum. Ia dapat menciptakan semacam kebangunan rohani palsu, dan
ketika diselidiki lebih lanjut, ‚kebangunan rohani’ itu tidak membawa orang
lebih dekat kepada firman Tuhan, bahkan semakin kacau dan semakin dibutakan
terhadap pengajaran firman Tuhan.
4. Kebangunan rohani seringkali dimulai dengan kebangunan doa. Di sini kita
melihat bahwa aspek relasi/hubungan pribadi dengan Tuhan adalah aspek yang
pasti akan dipulihkan ketika kebangunan rohani yang sejati datang. Orang yang
tadinya suam, tidak bergairah, dingin dalam kehidupannya, akan menjadi seorang
yang dibangkitkan bukan hanya pengertiannya, melainkan juga bersamaan dengan
itu emosinya, atau lebih tepat (mengikuti istilah yang digunakan Jonathan
Edwards): afeksinya, kehendaknya juga akan mengalami kesegaran serta dorongan
yang kuat dari Tuhan. Kebangunan rohani sejati, seperti halnya tidak mungkin
tidak memperkaya pengertian kita, juga tidak mungkin tidak menggerakkan afeksi
kita, menjadikan roh kita menyala-nyala, berkobar-kobar bagi Tuhan.
5. Kebangunan rohani juga sekaligus mendorong orang untuk giat dalam pelayanan.
Terjadi kebangunan pelayanan jemaat Tuhan, di mana kaum ‚awam’ mengenal talenta
serta karunia yang Tuhan percayakan dalam kehidupan mereka masing-masing,
mengelolanya untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Pelayanan tersebut tidak
hanya mencakup pelayanan gerejawi saja, tapi juga pelayanan di dalam masyarakat
luas.
6. Sehingga terjadilah kebangunan mandat budaya. Kristus dirajakan dalam setiap
aspek hidup manusia. Kristus menjadi Raja dalam bidang-bidang kehidu pan
manusia yang sangat beraneka ragam. Sekarang kita belum melihat hal tersebut
terjadi. Banyak ekonom-ekonom kristen yang tidak menggarami dunia ekonomi
dengan prinsip firman Tuhan, malah yang banyak terjadi adalah prinsip-prinsip
ekonomi yang tidak alkitabiah yang coba untuk diterapkan, bahkan jika mungkin
juga dipergunakan dalam pelatihan-pelatihan pelayanan di gereja. Seni-seni yang
berdasarkan konsep estetika alkitabiah tidak banyak, yang lebih umum terjadi
justru gereja meminjam seni-seni yang berasal dari dunia dengan filsafat yang
melawan firman Tuhan yang dieskpresikan dalam seni-seni, lalu dinikmati sebagai
bagian hidup orang percaya. Demikian juga bidang-bidang yang lain. Kita
mengharapkan suatu kebangunan rohani yang juga membawa dampak dalam semua
bidang kehidupan manusia.
7. Kebangunan rohani menghadirkan pembebasan/kelepasan yang integral dalam
hidup manusia. Di dalam Reformasi, banyak orang yang tadinya hidup berada dalam
ketakutan karena mewarisi pengertian teror kematian dan kutukan dunia yang akan
datang sebagaimana nyaring diberitakan dalam abad pertengahan, lalu menjadi
ekses ketika gereja mengumumkan jalan keluarnya dengan membeli surat penghapus
dosa (yang akan dipakai untuk membangun sebuah gedung gereja yang sangat
besar). Kebangunan rohani yang terjadi dalam reformasi Luther membebaskan kaum
yang tertekan, kaum marginal, dan menegakkan kembali keadilan. Demikian dalam
pelayanan Yesus Kristus, Ia juga melenyapkan kelemahan banyak orang, dan
terutama adalah mereka yang dianggap kaum tersingkir, bukan karena mereka lebih
baik daripada yang lain (seperti para penguasa dan orang-orang kaya), melainkan
karena mereka lebih mengenal diri mereka, dengan demikian lebih siap untuk
menerima berita Kerajaan Tuhan. Kebangunan rohani yang sejati akan memimpin
orang-orang percaya untuk menjumpai orang-orang yang sangat dekat dengan
Kerajaan Tuhan, orang-orang yang siap ditaburi benih firman yang membebaskan
mereka dari belenggu kehidupan dalam dosa.
8. Kebangunan rohani tidak hanya mencakup pengaruh kekristenan di luar gedung
gereja saja, melainkan juga kebangunan yang terjadi dalam ibadah orang-orang
percaya. Ibadah yang tadinya berpusat pada diri sendiri, berpusat untuk
menyenangkan jemaat, menjadi ibadah yang memberi segala kemuliaan hanya kepada
Tuhan. Ibadah yang memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada
Tuhan. Ibadah di mana kehadiran Tuhan secara khusus pada saat-saat tersebut
senantiasa menyegarkan setiap orang yang datang beribadah kepadaNya. Ibadah di
mana terjadi perjumpaan pribadi dengan Tuhan dalam pujian, dalam doa, dalam
pemberitaan firman Tuhan, dalam kesaksian.
9. Kebangunan dalam ibadah tidak mungkin tidak mengubah/mentransformasi
karakter kita sebagai orang percaya. Perjumpamaan pribadi dengan Tuhan,
memandang wajah Tuhan, selalu akan membawa kita menjadi reflektor sifat-sifat
ilahiNya yang semakin terpancar dengan indah. Kebangunan rohani yang sejati
membawa kepada kehidupan yang kudus, kehidupan yang mengasihi perkara-perkara
yang di atas, yang dikasihi Tuhan, serta kehidupan yang membenci dosa yang
seringkali begitu menghalangi kita untuk menikmati kehadiran Tuhan yang
memberkati.
10. Kebangunan rohani yang sejati akan mempersatukan berbagai macam orang. Roh
Kudus adalah Roh yang tidak membeda-bedakan yang kaya dan yang miskin, yang
terpelajar dan yang kurang terpelajar, laki-laki dan perempuan, tua dan muda,
orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Namun ini tidak berarti Roh Kudus
meniadakan keberbedaan dalam keaneka-ragaman tersebut, melainkan keberbedaan
tersebut menjadi keberbedaan yang komplementer, yang saling melengkapi (thema
one and many seperti dibahas oleh Sdr. Jeffrey).
Saya percaya dalam konteks ini juga kita sebagai orang-orang percaya yang
sama-sama sudah mengalami penebusan dalam Kristus Yesus, masih memiliki banyak
perbedaan dalam kehidupan kita, bahkan juga perbedaan dalam pandangan firman
Tuhan, perbedaan teologis. Ketika kebangunan rohani yang sejati terjadi, Tuhan
akan mempersatukan kita, tapi bukan dengan meniadakan perbedaan-perbedaan kita
(karena ini bukan yang diajarkan oleh firman Tuhan), melainkan dengan memimpin
kita untuk mengerti seluruh kebenaran firman Tuhan, firman Tuhan dalam segala
kelimpahan dan kekayaannya, kita dipersatukan dalam kebenaran yang utuh,
kebenaran yang memimpin kita untuk melihat perbedaan secara konstruktif. Dan
jika ada perbedaan-perbedaan yang ditimbulkan karena kita salah mengerti
kebenaran, karena kelemahan dan kekurangan kita, maka dengan rendah hati kita
harus rela meninggalkan gengsi pribadi kita demi menggenapkan kesatuan yang
dikerjakan oleh Roh Kudus untuk memimpin kita ke dalam kebenaran yang sama,
sehingga perbedaan-perbedaan itu bukan lagi perbedaan yang dikarenakan
kesalahan dan ketidak-taatan kita kepada Tuhan dan kepada firmanNya, melainkan
perbedaan yang mengekspresikan the multifaceted, multi-dimensional nature of
the Christian faith, sama seperti keindahan keaneka-ragaman anggota tubuh
Kristus yang saling memperkaya satu dengan yang lain di dalam kasih. Kiranya
Tuhan, sumber segala berkat, mengaruniakan kepada kita kebangunan rohani yang
sesungguhnya! Sola Gratia, Solus Christus, Soli Deo Gloria.
Billy Kristanto
= http://www.grii.de =
Qui autem sperant in Domino, mutabunt fortitudinem: assument pennas sicut
aquilae, current et non laborabunt, ambulabunt et non deficient (Is. 40:13)