From: Antonius Steven Un 

My Own Reflection

Identitas kita tidak bergantung apa yang kita punyai atau apa yang kita lakukan 
tetapi apa yang Tuhan lakukan bagi kita. Dengan begini, identitas kita tidak 
akan runtuh, sebab identitas yang runtuh, melemahkan jiwa. 

Kedaulatan Tuhan berarti Tuhan tidak terkurung oleh kategori "harus". Tetapi 
Alkitab memberitahu bahwa Tuhan dengan "kemurahan hatiNya" atau "kerelaan 
kehendakNya" melakukan karya terbesar: penebusan orang berdosa. Tuhan tidak 
harus tetapi Ia rela melakukan yang terbaik bagi saya. Saya yang harusnya 
menyembah dan melayani Tuhan tetapi jika saya tidak rela, hal itu merupakan 
ironis yang amat besar. Tuhan yang tidak harus saja Ia rela, apalagi saya yang 
harus, mestinya lebih rela. 

Setan berfokus kepada apa yang masuk ke dalam mulut manusia tetapi Tuhan Yesus 
berfokus kepada apa yang keluar dari mulut Tuhan. Dua hal inilah yang 
menentukan orientasi hidup manusia: materi atau firman. 

Bukan karena Alkitab berotoritas maka diakui sebagai firman Tuhan tetapi karena 
Alkitab firman Tuhan maka pasti berotoritas. Bukan karena Alkitab tidak 
bersalah maka diakui sebagai firman Tuhan tetapi karena Alkitab firman Tuhan 
maka tidak mungkin salah. 

Keluarga demikian pentingnya di mata Tuhan sampai-sampai Paulus memakai 
hubungan Kristus dengan jemaat sebagai ilustrasi bagi hubungan suami istri. 
Padahal biasanya, sebaliknya. Tuhan Yesus memakai hubungan bapa-anak sebagai 
ilustrasi hubungan Tuhan Bapa dan Anak Tuhan. 

Pasangan sejati seharusnya seiman karena Alkitab menegaskan hal itu: suami 
harus mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Istri harus tunduk 
kepada suami sebagaimana tunduk kepada Tuhan. Jika suami belum pernah mengalami 
kasih Kristus, tidak mungkin bisa menjadi suami yang baik. Jika istri tidak 
mulai dan pernah belajar tunduk kepada Tuhan, tidak mungkin bisa menjadi istri 
yang baik. 

Alkitab berfungsi sebagai pemberita kebenaran terbaik khususnya realitas rohani 
yang tidak mungkin manusia ketahui. Sebagai contoh, tanpa Alkitab, manusia 
tidak mungkin tahu secara jelas natur buruk dan jahatnya setan serta bagaimana 
berperang melawan setan. Puji Tuhan dengan adanya Alkitab, kita bisa tidak 
ditipu oleh si bapa pendusta itu.

Semoga menjadi berkat. Soli Deo Gloria.
Ev. Antonius Steven Un
===================================================
From: Jeffrey Lim 

Arti di dalam Kesia-siaan
Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah 
sia-sia¡¨ ( Pengkhotbah 1:2 )

            Salah satu kitab yang paling aneh di dalam Alkitab adalah Kitab 
Pengkotbah. Dan yang kedua adalah kidung agung. Mengapa kitab pengkotbah begitu 
aneh ? Karena isinya sepertinya pesimis dan berisi hal yang bersifat sia-sia. 
Bukankah Alkitab seharusnya optimis ? Bukankah Alkitab seharusnya memberikan 
pengharapan ? Bukankah iman itu didasarkan kepada pengharapan ? Bukankah juga 
Alkitab seharusnya juga memberikan arti ? Malahan kitab pengkotbah mengatakan 
sia-sia. Bukankah hal ini aneh ?
            Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang menulis kitab Pengkotbah ? 
Dikatakan di dalam ayat 1 bahwa Inilah perkataan Pengkotbah, anak Daud, raja di 
Yerusalem¡¨ ( Pengkhotbah 1:1 ). Berarti Pengkotbah adalah anak Daud. Siapakah 
dia ? Anak Daud begitu banyak. Pengkotbah sendiri tidak mengutarakan namanya. 
Dia menyembunyikan namanya. Di dalam Tradisi mengatakan dia adalah Raja Solomo. 
Dan saya berpendapat bahwa dia adalah raja salomo. Mengapa ?
      
Pertama, Dikatakan bahwa Raja ini anak Daud.
Kedua dikatakan bahwa Raja ini adalah Raja yang berhikmat. Di dalam ayat 16 
dikatakan bahwa Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari 
semua orang yang memerintah Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah banyak 
memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.Bila kita mengingat mengenai hikmat 
maka kita mengkaitkan hal ini dengan Raja Salomo yang pernah meminta hikmat 
kepada Tuhan. Salomo juga diberi anugerah hikmat karena dia mampu menulis amsal 
dengan begitu limpah, mengerti hewan, mengerti tumbuhan, mengerti etika, 
mengerti sosial, mengerti kerajaan, mengerti pemerintahan, mengerti hubungan 
dengan Tuhan, mengerti hukum di dalam kehidupan, dsb.
Ketiga dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud dan Raja di Yerusalem dan Raja 
Isreal. Inilah perkataan pengkotbah, anak Daud di Yerusalem¡¨ ( Pengkhotbah 1:1 
) Aku , Pengkotbah adalah raja atas Israel¡¨ ( Pengkhotbah 1:12 ) . Ini klue 
yang menentukan. Mengapa ? Sebab setelah Raja Rehabeam, Israel pecah menjadi 
kerajaan utara dan kerajaan selatan. Kerajaan Utara disebut kerajaan Israel dan 
Selatan disebut Yehuda. Ibu kota Yehuda adalah Yerusalem sedangkan Ibukota 
Israel adalah Samaria. Tetapi dikatakan bahwa Raja ini adalah Anak Daud, Raja 
di Yerusalem, dan Raja Israel. Bila kita melihat bahwa periode dimana Israel 
ibukotanya adalah Yerusalem adalah periode di jaman Saul, Daud dan Salomo dan 
Rehabeam. Saul tidak mungkin dan Rehabeam tidak mungkin. Apalagi Daud. Maka hal 
yang paling pasti adalah Raja Salomo.
Kemudian Raja Solomo dilukiskan di dalam kitab ini bahwa dia sudah pernah 
mencoba banyak hal di dalam dunia ini. Dia sudah memperdalam hikmat bahkan 
sampai tingkat yang tinggi sekali. Dia mencoba kesenangan dan kegirangan di 
dalam hidup ini. Dia melakukan pekerjaan yang besar dan mendirikan, membangun 
rumah-rumah, menanami kebun-kebun anggur, dan taman-taman. Dia menjadi besar 
dan menjadi tuan atas budak-budak. Dia mengumpulkan harta begitu banyak. Dia 
ditemani oleh banyak perempuan-perempuan. Bila kita merenungkan hidup Salomo, 
dia pernah masuk ke dalam hedonisme, ke dalam cinta filsafat dan hikmat, ke 
dalam kemewahan, ke dalam materialisme, dan ke dalam banyak filsafat dan ide. 
Dia benar-benar bukan saja mengetahui secara teori tetapi mempraktekkannya. Dia 
orang yang berpikir dan melakukan. Kuasanya begitu besar.
Tetapi akhirnya Salomo menyimpulkan bahwa semuanya adalah sia-sia. Semua ini 
adalah tidak berarti. Semua yang dia kejar adalah kosong adanya. Ini sungguh 
mengejutkan. Dan kitab Pengkhotbah ini berisi hikmat yang tinggi luar biasa. 
Ini menjelaskan bahwa usaha manusia di dalam dunia ini untuk mencari sesuatu 
apapun yang hebat, mewah dan luar biasa di luar Tuhan Tuhan sendiri adalah 
kesia-siaan belaka. Ini menjelaskan bahwa setelah manusia jatuh di dalam dosa 
maka kehidupan manusia ada di dalam kesia-siaan belaka. Semua kosong, semua 
tidak berarti, semua sia-sia. Sungguh pesimis, sungguh nihilis, zero dan void.
Saya hendak mengajak kita berpikir apakah kalau begitu hikmat, materi, nama 
baik, kekayaan, kenikmatan semuanya sia-sia. Apakah Pengkhotbah mau mengajarkan 
demikian ? Satu hal bila pengkhotbah mengatakan semua sia-sia dan tidak berarti 
atau kosong, mengapa pengkhotbah mengatakan semua itu sia-sia. Bukankah kalau 
semua sia-sia maka sia-siapun adalah sia-sia ? Bukankah Pengkhotbah sedang 
berkontradiksi dengan pernyataannya sendiri ? Bukankah kalau semuanya kosong, 
mengapa berbicara mengenai kekosongan seolah-olah kekosongan itu ada ? Bukankah 
kalau kosong tidak dapat dibicarakan ? Bukankah kalau sia-sia maka tidak bisa 
mengatakan sia-sia ? Karena ketika seseorang mengatakan sesuatu sia-sia maka 
sebenarnya ada makna bahwa segala sesuatu sia-sia. Maka masih ada makna. Masih 
ada arti. 
Satu hal bahwa Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan dirinya sendiri. 
Pengkhotbah tidak berkontradiksi dengan pernyataannya. Bahkan di dalam 
pernyataannya terkandung paradoks yang dalam. Sia-sia ! Itu adalah arti. Tetapi 
kalau bicara arti, arti ini harus dikaitkan pada sumber arti. Di dalam hal ini 
Pengkhotbah hendak mengkaitkan arti dengan Tuhan sendiri. Arti adalah di dalam 
Tuhan. 
Segala sesuatu ada artinya. Ini adalah pernyataan yang saya mau tekankan. 
Bahkan kesia-siaan pun ada artinya. Tetapi arti ini ada karena dikaitkan dengan 
Tuhan Tuhan. Mengapa semuanya ada arti ?
Saya berpendapat semuanya ada arti karena sejarah hidup manusia ada di dalam 
Sejarahnya Tuhan. History adalah HIS Story. Semua sejarah ini ada maknanya 
karena Tuhan Tuhan adalah sumber makna. Karena itu sejarah ada artinya. Apakah 
penderitaan ada artinya ? Ada artinya ! Apakah sakit penyakit ada artinya ? Ada 
artinya ! Apakah kematian ada artinya ? Ada artinya ! Apakah bahkan dosapun ada 
artinya ? Ada artinya ! Lebih ekstrim lagi adalah apakah orang tidak percaya 
dan berdosa yang berada di dalam kesia-siaan ini ada artinya ? Mungkin kita 
berpikir tidak ada artinya. Tetapi bukankah semua ini ditulis ? Bukankah kalau 
begitu ada artinya ? Paling sedikit adalah mengajarkan orang untuk takut akan 
Tuhan. Mengajarkan orang untuk gentar terhadap hidup dan mencari arti di dalam 
Tuhan. Lebih jauh apakah kitab pengkhotbah ada maknanya ? Kalau kitab 
Pengkhotbah yang berbicara mengenai kesia-siaan tidak ada maknanya, mengapa 
kitab ini ditulis dan bahkan ada di dalam Alkitab ?
Jadi kesimpulannya adalah segala sesuatu ada maknanya dan semuanya dikaitkan 
dengan sumber makna yaitu Tuhan Tuhan sendiri.
Renungan ini sampai disini dan marilah kita mencoba merenungkan banyak makna di 
dalam banyak hal. Ada baiknya saudara pernah mengalami kekosongan makna supaya 
menyadari bahwa ketika mengalami kekosongan makna itu adalah sedang mengalami 
arti hidup. Tetapi lebih jauh ada baiknya saudara yang mengalami kekosongan 
makna bertemu dengan Kristus yang adalah sumber hidup yang akan membahwa 
saudara kepada hidup yang berkelimpahan.

Jeffrey Lim
Pergumulan dari nihilisme -> eksistensialisme -> Meaning in Christ J
Taipei, 11 Februari 200
===============================================
From: Billy Kristanto 

Multi Faset dalam Kebangunan Rohani

Dear beloved brothers/sisters in Christ,

Kembali saya tergerak untuk menulis tentang beberapa aspek yang penting dalam 
kebangunan rohani yang pernah dikerjakan oleh Tuhan dalam sejarah Gereja. Kita 
bisa membaca bagian-bagian ini baik dalam Alkitab sendiri, maupun juga dari 
catatan-catatan sejarah di mana pada saat-saat tertentu Tuhan membangkitkan 
GerejaNya. 

Masih berada dalam konteks kelimpahan aspek/faset dalam karya Tuhan, demikian 
juga dalam kebangunan rohani yang sejati, kita mempelajari bahwa kebangunan 
rohani tersebut tidak hanya menyangkut satu aspek saja, melainkan sesungguhnya 
beberapa aspek yang dapat dikatakan menjadi karakteristik dari kebangunan 
rohani yang integral. Beberapa aspek yang penting itu adalah (aspek-aspek ini 
tidak harus dimengerti secara linar-kronologis, melainkan sebagai faset-faset 
yang menyatakan keindahan karya Tuhan): 

1. Kebangunan rohani adalah kebangunan pengenalan diri, yaitu keadaan diri yang 
berdosa. Ketika kebangunan rohani terjadi kita melihat manusia disadarkan oleh 
Roh Kudus mengenal keberdosaan diri mereka yang tanpa Tuhan akan menuju kepada 
kebinasaan. Prinsip ini kita jumpa misalnya dalam Kel 33:4 (peristiwa setelah 
penyembahan lembu emas dan Tuhan tidak berkenan untuk memimpin mereka secara 
langsung). Di situ dikatakan bahwa umat Israel berkabung dan menanggalkan 
perhiasan mereka. Kebangunan rohani yang sejati selalu membawa kepada 
pengenalan kekurangan serta kelemahan kita. Roh Kudus adalah Roh yang 
menginsyafkan dosa (Yoh 16:8), sekaligus adalah Roh yang menjadi Penghibur kita 
(16:7). Dalam peristiwa Pentakosta, orang menjadi sadar bahwa mereka telah 
menyalibkan Yesus Kristus yang tidak berdosa. 

2. Kebangunan rohani adalah kebangunan manusia mengenal Injil Keselamatan dalam 
Yesus Kristus. Sekali lagi peristiwa Pentakosta mengajarkan kita hal ini. 
Manusia yang sadar akan dosa-dosanya, menyadari bahwa ia membutuhkan 
Juruselamat yang menanggung dan menghapus dosa-dosanya. Kebangunan rohani yang 
sejati adalah membawa manusia datang dan menerima Injil, percaya kepada Yesus 
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi hidup pribadinya. Kebangunan rohani 
bukanlah membawa manusia percaya bahwa Yesus adalah pembuat mujizat yang 
berkuasa, tanpa pengertian akan Injil. Dari mana prinsip ini kita pelajari? 
Dari bagian firman Tuhan yang mencatat ketika banyak orang ingin menjadikan 
Yesus menjadi raja roti, Ia menghindar dari mereka, karena yang ingin 
disampaikan Yesus sebenarnya adalah pengajaran mengenai Roti Hidup yaitu 
diriNya sendiri yang akan diberikan menjadi tebusan dosa-dosa manusia. Namun 
rupanya, berita Injil terlalu keras untuk mereka, mereka lebih suka mengalami 
mujizat yang mengenyangkan mereka daripada menyadari kebutuhan mereka akan 
Juruselamat. Kebangunan rohani yang sejati memiliki aspek soteriologis 
(keselamatan dalam Yesus Kristus sebagaimana diberitakan dalam Injil). 
 
3. Kebangunan rohani membawa seseorang kepada pengertian yang lebih dalam akan 
firman Tuhan. Sekali lagi, peristiwa Pentakosta mengajarkan hal ini. Di situ 
Petrus berkhotbah dan berbahasa lidah (dia berkhotbah dan orang-orang dari 
berbagai daerah mendengar dia dalam bahasa mereka masing-masing). Karunia 
bahasa lidah dari Petrus membuat orang-orang yang tadinya tidak mengerti firman 
Tuhan menjadi mengerti apa yang dibicarakan dan diberitakan oleh Petrus. 
Kebangunan rohani yang sejati membawa manusia kepada pengertian, pengertian 
akan Injil, akan firman Tuhan, pengenalan akan Tuhan. Ini konsisten dengan apa 
yang diberitakan oleh Yohanes bahwa Roh Kudus memang akan memimpin seseorang 
untuk masuk dalam seluruh kebenaran. Orang yang dipenuhi Roh Kudus membawa 
orang lain semakin mengerti akan kebenaran firman Tuhan. Iblis, seperti 
dikatakan oleh Alkitab, juga menaburkan benih lalang untuk tumbuh bersama-sama 
dengan benih gandum. Ia dapat menciptakan semacam kebangunan rohani palsu, dan 
ketika diselidiki lebih lanjut, ‚kebangunan rohani’ itu tidak membawa orang 
lebih dekat kepada firman Tuhan, bahkan semakin kacau dan semakin dibutakan 
terhadap pengajaran firman Tuhan. 
 
4. Kebangunan rohani seringkali dimulai dengan kebangunan doa. Di sini kita 
melihat bahwa aspek relasi/hubungan pribadi dengan Tuhan adalah aspek yang 
pasti akan dipulihkan ketika kebangunan rohani yang sejati datang. Orang yang 
tadinya suam, tidak bergairah, dingin dalam kehidupannya, akan menjadi seorang 
yang dibangkitkan bukan hanya pengertiannya, melainkan juga bersamaan dengan 
itu emosinya, atau lebih tepat (mengikuti istilah yang digunakan Jonathan 
Edwards): afeksinya, kehendaknya juga akan mengalami kesegaran serta dorongan 
yang kuat dari Tuhan. Kebangunan rohani sejati, seperti halnya tidak mungkin 
tidak memperkaya pengertian kita, juga tidak mungkin tidak menggerakkan afeksi 
kita, menjadikan roh kita menyala-nyala, berkobar-kobar bagi Tuhan. 
 
5. Kebangunan rohani juga sekaligus mendorong orang untuk giat dalam pelayanan. 
Terjadi kebangunan pelayanan jemaat Tuhan, di mana kaum ‚awam’ mengenal talenta 
serta karunia yang Tuhan percayakan dalam kehidupan mereka masing-masing, 
mengelolanya untuk menjadi berkat bagi sesamanya. Pelayanan tersebut tidak 
hanya mencakup pelayanan gerejawi saja, tapi juga pelayanan di dalam masyarakat 
luas. 
 
6. Sehingga terjadilah kebangunan mandat budaya. Kristus dirajakan dalam setiap 
aspek hidup manusia. Kristus menjadi Raja dalam bidang-bidang kehidu pan 
manusia yang sangat beraneka ragam. Sekarang kita belum melihat hal tersebut 
terjadi. Banyak ekonom-ekonom kristen yang tidak menggarami dunia ekonomi 
dengan prinsip firman Tuhan, malah yang banyak terjadi adalah prinsip-prinsip 
ekonomi yang tidak alkitabiah yang coba untuk diterapkan, bahkan jika mungkin 
juga dipergunakan dalam pelatihan-pelatihan pelayanan di gereja. Seni-seni yang 
berdasarkan konsep estetika alkitabiah tidak banyak, yang lebih umum terjadi 
justru gereja meminjam seni-seni yang berasal dari dunia dengan filsafat yang 
melawan firman Tuhan yang dieskpresikan dalam seni-seni, lalu dinikmati sebagai 
bagian hidup orang percaya. Demikian juga bidang-bidang yang lain. Kita 
mengharapkan suatu kebangunan rohani yang juga membawa dampak dalam semua 
bidang kehidupan manusia. 
 
7. Kebangunan rohani menghadirkan pembebasan/kelepasan yang integral dalam 
hidup manusia. Di dalam Reformasi, banyak orang yang tadinya hidup berada dalam 
ketakutan karena mewarisi pengertian teror kematian dan kutukan dunia yang akan 
datang sebagaimana nyaring diberitakan dalam abad pertengahan, lalu menjadi 
ekses ketika gereja mengumumkan jalan keluarnya dengan membeli surat penghapus 
dosa (yang akan dipakai untuk membangun sebuah gedung gereja yang sangat 
besar). Kebangunan rohani yang terjadi dalam reformasi Luther membebaskan kaum 
yang tertekan, kaum marginal, dan menegakkan kembali keadilan. Demikian dalam 
pelayanan Yesus Kristus, Ia juga melenyapkan kelemahan banyak orang, dan 
terutama adalah mereka yang dianggap kaum tersingkir, bukan karena mereka lebih 
baik daripada yang lain (seperti para penguasa dan orang-orang kaya), melainkan 
karena mereka lebih mengenal diri mereka, dengan demikian lebih siap untuk 
menerima berita Kerajaan Tuhan. Kebangunan rohani yang sejati akan memimpin 
orang-orang percaya untuk menjumpai orang-orang yang sangat dekat dengan 
Kerajaan Tuhan, orang-orang yang siap ditaburi benih firman yang membebaskan 
mereka dari belenggu kehidupan dalam dosa. 
 
8. Kebangunan rohani tidak hanya mencakup pengaruh kekristenan di luar gedung 
gereja saja, melainkan juga kebangunan yang terjadi dalam ibadah orang-orang 
percaya. Ibadah yang tadinya berpusat pada diri sendiri, berpusat untuk 
menyenangkan jemaat, menjadi ibadah yang memberi segala kemuliaan hanya kepada 
Tuhan. Ibadah yang memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan kepada 
Tuhan. Ibadah di mana kehadiran Tuhan secara khusus pada saat-saat tersebut 
senantiasa menyegarkan setiap orang yang datang beribadah kepadaNya. Ibadah di 
mana terjadi perjumpaan pribadi dengan Tuhan dalam pujian, dalam doa, dalam 
pemberitaan firman Tuhan, dalam kesaksian.    
 
9. Kebangunan dalam ibadah tidak mungkin tidak mengubah/mentransformasi 
karakter kita sebagai orang percaya. Perjumpamaan pribadi dengan Tuhan, 
memandang wajah Tuhan, selalu akan membawa kita menjadi reflektor sifat-sifat 
ilahiNya yang semakin terpancar dengan indah. Kebangunan rohani yang sejati 
membawa kepada kehidupan yang kudus, kehidupan yang mengasihi perkara-perkara 
yang di atas, yang dikasihi Tuhan, serta kehidupan yang membenci dosa yang 
seringkali begitu menghalangi kita untuk menikmati kehadiran Tuhan yang 
memberkati. 
 
10. Kebangunan rohani yang sejati akan mempersatukan berbagai macam orang. Roh 
Kudus adalah Roh yang tidak membeda-bedakan yang kaya dan yang miskin, yang 
terpelajar dan yang kurang terpelajar, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, 
orang dari berbagai bangsa dan bahasa. Namun ini tidak berarti Roh Kudus 
meniadakan keberbedaan dalam keaneka-ragaman tersebut, melainkan keberbedaan 
tersebut menjadi keberbedaan yang komplementer, yang saling melengkapi (thema 
one and many seperti dibahas oleh Sdr. Jeffrey). 

Saya percaya dalam konteks ini juga kita sebagai orang-orang percaya yang 
sama-sama sudah mengalami penebusan dalam Kristus Yesus, masih memiliki banyak 
perbedaan dalam kehidupan kita, bahkan juga perbedaan dalam pandangan firman 
Tuhan, perbedaan teologis. Ketika kebangunan rohani yang sejati terjadi, Tuhan 
akan mempersatukan kita, tapi bukan dengan meniadakan perbedaan-perbedaan kita 
(karena ini bukan yang diajarkan oleh firman Tuhan), melainkan dengan memimpin 
kita untuk mengerti seluruh kebenaran firman Tuhan, firman Tuhan dalam segala 
kelimpahan dan kekayaannya, kita dipersatukan dalam kebenaran yang utuh, 
kebenaran yang memimpin kita untuk melihat perbedaan secara konstruktif. Dan 
jika ada perbedaan-perbedaan yang ditimbulkan karena kita salah mengerti 
kebenaran, karena kelemahan dan kekurangan kita, maka dengan rendah hati kita 
harus rela meninggalkan gengsi pribadi kita demi menggenapkan kesatuan yang 
dikerjakan oleh Roh Kudus untuk memimpin kita ke dalam kebenaran yang sama, 
sehingga perbedaan-perbedaan itu bukan lagi perbedaan yang dikarenakan 
kesalahan dan ketidak-taatan kita kepada Tuhan dan kepada firmanNya, melainkan 
perbedaan yang mengekspresikan the multifaceted, multi-dimensional nature of 
the Christian faith, sama seperti keindahan keaneka-ragaman anggota tubuh 
Kristus yang saling memperkaya satu dengan yang lain di dalam kasih. Kiranya 
Tuhan, sumber segala berkat, mengaruniakan kepada kita kebangunan rohani yang 
sesungguhnya! Sola Gratia, Solus Christus, Soli Deo Gloria.

Billy Kristanto

= http://www.grii.de =        

Qui autem sperant in Domino, mutabunt fortitudinem: assument pennas sicut 
aquilae, current et non laborabunt, ambulabunt et non deficient (Is. 40:13)

Kirim email ke