From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 12 )
"Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murkaNya, kemudian menyala-lah api TUHAN di antara mereka dan merajalela ditepi tempat perkemahan " [ Bil. 11:1 ]. Telah kita ketahui bahwa sungut-sungut adalah ekspresi dari ketidak-percayaan kepada Tuhan, dan hal ini ternyata sangat tidak berkenan dihadapan Tuhan dan bahkan dapat membangkitkan murka Tuhan. Disini kita perhatikan bahwa Israel tidak mampu melihat tangan pengaturan Tuhan atas lingkungan mereka, dan mereka melihat semua kejadian yang mereka alami sebagai nasib buruk, dan karenanya mereka mengeluh. Mereka tidak dapat melihat bahwa semua kejadian yang mereka alami selama ini adalah kehendak Tuhan dan sudah diatur oleh tanganNya. Semua kejadian yang mereka alami, menurut Tuhan, sudah sangat baik dan perlu bagi mereka agar mereka dapat bertumbuh dan mengenal Tuhan, dan karenanya dapat mewarisi tanah perjanjian. Seandainya Israel percaya kepada tangan pengaturan Tuhan, maka tentu mereka tidak akan mengeluh, bahkan mereka akan mengucap syukur karena semua perbuatan Tuhan adalah baik dan perlu bagi mereka. Kegagalan Israel dalam melihat tangan pengaturan Tuhan seringkali terjadi juga dalam keluarga-keluarga Kristen saat ini, sehingga tidak sedikit keluarga Kristen yang mengeluh atas apa yang telah terjadi dalam kehidupan mereka. Salah satu penyebab sungut-sungut ini, menurut pengertian kami, disebabkan konsep yang salah tentang pekerjaan iblis dalam kehidupan keluarga Kristen. Ada yang berpendapat bahwa segala yang baik berasal dari Tuhan, dan segala yang buruk yang terjadi dalam keluarga kristen berasal dari iblis, dan karenanya mereka berusaha sekuat tenaga untuk menolak pekerjaan iblis. Jika ternyata terjadi juga hal-hal yang buruk dalam kehidupan mereka, maka mereka merasa telah gagal menolak pekerjaan iblis, dan hal ini menimbulkan kekecewaan, baik terhadap diri sendiri, atau orang lain, atau bahkan terhadap Tuhan sendiri, karena merasa tidak dilindungiNya. Inilah konsep yang keliru tentang iblis dan pekerjaannya. Dari kasus Ayub, sebenarnya kita dapat melihat dengan jelas bahwa segala yang terjadi dalam kehidupan Ayub adalah keputusan Tuhan. Bahkan Alkitab menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi diluar kehendak Bapa kita, entah itu perkara besar atau perkara kecil. Semua yang terjadi adalah keputusan Tuhan. Memang pelaksananya mungkin iblis, seperti kasus Ayub, atau kesalahan orang lain, seperti kasus penyaliban Yesus, atau mungkin kesalahan kita sendiri, seperti kasus kejatuhan Adam. Banyak orang menyangka bahwa Tuhan "terkejut" dengan kejatuhan Adam kedalam dosa dan kesia-siaan. Namun Roma 8:20 menegaskan, "Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya ". Tanpa memperdulikan apa kata orang atau tradisi, Alkitab jelas menyatakan bahwa kejatuhan Adam, dan juga seluruh manusia kedalam kesia-siaan adalah kehendakNya dan rencanaNya sendiri. Tuhan tidak pernah "terkejut atau kaget" atas apapun yang terjadi di alam semesta ini, sebab semua adalah pengaturanNya. Orang Kristen hanya mempunyai satu Tuhan, yang menentukan segala-galanya, bukan dua "tuhan", dimana yang satu selalu mendatangkan yang jahat, dan yang lain mendatangkan yang baik. Jadi, kita perlu belajar melihat tangan pengaturan Tuhan dalam segala sesuatu yang telah terjadi. Jika kita dapat melihat Tuhan dalam segala sesuatu, maka tidak akan ada sungut-sungut. Kita akan dapat belajar percaya dan menyerahkan diri kita kedalam tanganNya yang penuh kasih. Keluarga kita ada dalam tangan pengaturanNya. Amin. =========================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 13 ) "Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku ' [ Bilangan 11:14 ]. ".Adapun engkau, wakililah bangsa itu dihadapan Tuhan. Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu.[ Keluaran 18:19, 24 ]. ".Kumpulkanlah dihadapanKu dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang.lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan Kuambil dan Kutaruh atas mereka, maka mereka bersama-sama dengan engkau akan memikul tanggung jawab atas bangsa itu." [ Bilangan 11:16-17 ]. Ketika mertua Musa datang mengunjunginya di padang gurun dan melihat bagaimana Musa seorang diri mengadili diantara bangsa itu dari pagi sampai petang, maka ia memberi nasihat kepada Musa tentang pendelegasian tugas (Kel. 18). Musa mendengar kan nasihat mertuanya itu. Menurut penilaian manusia pada umumnya, nasihat mertua Musa tentang pendelegasian tugas memang cukup masuk akal. Tetapi setelah sejangka waktu, kita lihat dalam kitab Bilangan, kembali Musa merasa tidak sanggup menghadapi tanggung jawab yang harus dipikulnya. Mengapa demikian ? Kita harus menyadari bahwa persoalan yang dihadapi Musa bersifat spiritual. Musa harus memikul tanggung jawab atas seluruh persoalan bangsa Israel dihadapan Tuhan. Dalam perkara spiritual, nasihat mertua Musa mengenai pendelegasian tidaklah cukup. Tuhan sendiri yang harus memberi jalan keluarnya. Pada akhirnya, Tuhan mengambil sebagian Roh yang hinggap pada Musa, dan memberikannya kepada 70 tua-tua Israel, sehingga Musa dapat memikul tanggung jawab rohani atas bangsa Israel secara bersama-sama. Dengan cara ini, Musa dapat sehati, sepikir dan satu roh bersama-dengan 70 tua-tua Israel. Jadi, dalam memikul beban rohani, tidak hanya pendelegasian yang perlu dijalankan, tetapi juga diperlukan kesehatian dan kesamaan roh. Prinsip yang sama dapat juga diterapkan dalam suatu keluarga Kristen. Tanggung jawab dalam memikul beban rohani memang haruslah dipikul oleh kepala keluarga. Tetapi, suami sebagai kepala keluarga, dapat membagikan Roh yang hinggap padanya kepada isteri dan anak-anaknya, sehingga mereka dapat memikulnya secara bersama-sama. Dengan jalan ini, suami sebagai kepala keluarga, tidak akan merasa sendiri dan merasa berat dalam memikul tanggung jawab itu. Tetapi, bagaimana caranya seorang suami dapat memberikan sebagian Roh yang hinggap padanya, kepada isteri dan anak-anaknya ? Memang hanya Tuhan yang dapat melakukannya, namun tentu ada bagian yang harus dilakukan oleh seorang suami. Kepala keluarga harus belajar menyediakan banyak waktu untuk bersama-sama berdoa dan berbagi beban dengan isteri dan anak-anaknya. Seorang suami harus belajar membagikan tujuan, misi dan visinya serta mendoakannya secara bersama-sama dengan isteri dan anak-anaknya. Tim inti bagi seorang suami adalah isteri dan anak-anaknya. Hal inilah yang perlu disadari oleh kepala keluarga. Ada suatu kejadian dimana seorang suami, sebagai pelayan Tuhan, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membangun tim pelayan, diluar isteri dan anak-anaknya. Memang pada awalnya kelihatan berhasil. Pelayanannya menjangkau banyak orang. Tetapi pada akhirnya ada beberapa anggota timnya yang tidak setia, dan akhirnya tim pelayan ini pecah. Pelayanannya merosot. Walaupun anak-anaknya merasa kecewa karena selama ini kurang diperhatikan, namun akhirnya pelayanannya dipikul dan diteruskan juga oleh anak-anaknya. Pelayan Tuhan ini belajar satu pelajaran penting bahwa ternyata anggota tim yang setia yang Tuhan berikan padanya adalah isteri serta anak-anaknya sendiri. Seandainya ia dapat menyadari ini dari awalnya, tentu tidak banyak kekecewaan dan luka hati bagi anggota keluarganya. Semoga para kepala keluarga menyadari hal ini sebelum terlambat. ================================================ From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 14 ) "Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy. Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya.Bukan demikian hambaKu Musa, seorang yang setia dalam segenap rumahKu. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hambaKu Musa ? " [ Bilangan 12:1-8 ]. Pada bagian ini, kita lihat, bagaimana Tuhan sendiri membela hambaNya ketika dikritik. Disini Tuhan membela Musa sekalipun Musa memang telah melakukan hal yang keliru, ketika ia mengambil perempuan Kusy, yang adalah keturunan Ham yang dikutuk Nuh, sedangkan ia adalah keturunan Sem yang diberkati. Ini adalah kasus spesial, dan kita tidak perlu tergesa-gesa menafsirkan bahwa Tuhan akan selalu berbuat hal yang sama jika hambaNya dikritik Yang pertama kita perlu pahami adalah orang seperti apa Musa, sehingga Tuhan begitu membela dia ketika Musa dikecam oleh Miryam dan Harun. Tuhan sendiri bersaksi bahwa Musa adalah seorang nabi yang berbicara denganNya langsung berhadapan muka, dan ini tidak seperti yang terjadi dengan nabi-nabi lain dimana Tuhan berbicara melalui mimpi dan penglihatan. Yang kedua, Musa juga dinilai Tuhan sebagai seorang yang setia dalam segenap rumahNya. Selanjutnya, Tuhan juga berkata-kata dengan terus terang, tanpa teka-teki kepada Musa, dan Musa telah memandang wajah Tuhan. Ditambah lagi oleh kesaksian Musa sendiri bahwa ia seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang diatas muka bumi. Dalam kondisi Musa yang sedemikianlah maka Tuhan begitu membela hambaNya ketika ia dikritik. Selanjutnya juga dapat kita lihat mengapa Tuhan begitu membela Musa, yaitu karena Miryam dan Harun telah melewati batas yang semestinya. Jika Miryam dan Harun menegor Musa dalam konteks keluarga, maka hal ini masih dapat dibenarkan karena Musa memang yang paling muda dari antara mereka. Tetapi Miryam dan Harun melampaui konteks keluarga dan masuk kedalam konteks pelayanan, dengan berkata, "Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja ?". Didalam pelayanan, tentu Musa adalah pemimpin yang lebih terutama dibanding Miryam dan Harun. Jadi, kesalahan Miryam dan Harun ini jugalah yang membuat Tuhan membela Musa. Demikianlah kita lihat kasus spesial, dimana Tuhan membela hambaNya. Sekarang, kita akan menerapkan perkara ini kedalam kasus dimana seorang isteri menegor suaminya. Sebagaimana kita ketahui bahwa, salah satu tugas isteri sebagai penolong adalah menegor dan mengingatkan suaminya. Jika seorang suami "telah memenuhi kriteria Musa", maka kami yakin Tuhan akan membela suami itu dengan caraNya sendiri. Seorang isteri yang terus-menerus menegor "seorang Musa", pada akhirnya akan didisiplin Tuhan sedemikian sehingga ia akhirnya akan menghormati suaminya, sebagaimana Sara menghormati Abraham, bahkan menyebut dia tuannya ( I Petrus 3:6 ). Bagaimana jika seorang suami sama sekali jauh dari kriteria Musa ? Kami percaya bahwa Tuhan akan memakai tegoran-tegoran isteri sedemikian sehingga seorang suami akan bertumbuh dan mendekati kriteria Musa, sepanjang suami tersebut dapat memahami peran isteri, yang memang salah satunya adalah menegor. Semoga setiap suami Kristen dapat memahami peran isterinya, serta tidak terus berbantahan dan membela diri, sehingga ia terus bertumbuh menuju kriteria Musa. Gema Sion Ministry. Renungan Keluarga: Bilangan ( 15 ) "Berfirmanlah Tuhan, '.berpalinglah besok dan berangkatlah ke padang gurun, kearah laut teberau." [ Bil. 14:20, 25 ]. "Dan keesokan harinya bangunlah mereka pagi-pagi hendak naik ke puncak gunung sambil berkata, 'Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan Tuhan itu; memang kita telah berbuat dosa'. Tetapi kata Musa, 'Mengapakah kamu hendak melanggar titah Tuhan. '[ Bil. 14:40-41 ]. ".sebab apabila engkau datang menghakimi bumi, maka penduduk dunia akan belajar apa yang benar " [ Yesaya 26:9 ]. ".Apabila kamu masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu menjadi tempat kediamanmu." [ Bil. 15:2 ]. Ketika keluarga Yakub ada di padang gurun paran di Kadesy, mereka mengutus 12 pengintai untuk mengamati negeri yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. Namun, 10 dari antara para pengintai itu memberikan laporan yang melemahkan iman keluarga Yakub, sehingga mereka memberontak terhadap titah Tuhan dan tidak mau merebut negeri yang telah dijanjikan Tuhan bagi mereka. Akibatnya, Tuhan menghakimi keluarga Yakub dengan memerintahkan mereka untuk kembali kearah padang gurun, dan menjatuhkan putusan bahwa generasi pertama Israel akan mati di padang gurun. Sekalipun Tuhan telah menjatuhkan keputusanNya dan memberi perintah agar kembali kearah padang gurun, namun keluarga Yakub kembali memberontak terhadap keputusan Tuhan dengan maju ke negeri yang dijanjikan Tuhan dan mencoba untuk merebutnya. Tetapi Musa berkata, "Mengapakah kamu hendak melanggar titah Tuhan ? ". Keluarga Yakub memang termasuk keluarga yang tidak mudah taat terhadap titah Tuhan. Ketika Tuhan memerintahkan mereka untuk masuk ke negeri yang telah dijanjikanNya, mereka tidak percaya dan tidak mau masuk. Dan, ketika Tuhan telah menjatuhkan penghakimanNya dan memerintahkan mereka untuk kembali kearah padang gurun, mereka malah berusaha untuk merebut negeri yang dijanjikanNya. Jika ditaati, sebenarnya, penghakiman Tuhan akan memberi dampak yang sifatnya membangun, dan dimaksudkan agar Ia dapat menggenapi janjiNya semula. Seandainya mereka taat, dan kembali kearah padang gurun, tentu mereka akan belajar apa yang benar, sesuai ayat kita diatas, dan pada akhirnya Tuhan dapat menggenapi janjiNya kepada keluarga Yakub. Sebab, kita lihat pada pasal selanjutnya, bagaimana Tuhan kembali merencanakan dan mempersiapkan Israel untuk memasuki negeri yang dijanjikanNya ( Bil. 15:2). Tuhan adalah Tuhan yang setia. Jika Ia telah menjanjikan sesuatu kepada UmatNya, dan walaupun umatNya memberontak, maka Ia tetap setia untuk menggenapi janjiNya sekalipun Ia harus menjatuhkan penghakimanNya. Bagaimana dengan keluarga kita ? Tentu ada banyak janji Tuhan bagi keluarga kita. Seandainya, keluarga kita tidak mentaati Dia sepenuhnya, dan penghakiman Tuhan jatuh atas keluarga kita, maka hendaklah kita tetap belajar tunduk terhadap keputusan penghakimanNya. Seringkali penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi merupakan keputusan penghakimanNya. Baiklah kita memandang penghakiman Tuhan sebagai sesuatu yang membangun. Jika kita menerima keputusan penghakiman Tuhan atas keluarga kita, dan tidak memberontak serta bersungut-sungut atas penderitaan dan kesulitan yang diizinkanNya, maka keluarga kita akan dapat belajar apa yang benar, karena demikianlah tujuan penghakimanNya. Jika keluarga kita telah belajar apa yang benar, maka Ia dapat menggenapi janjiNya atas keluarga kita. =========================================== From: irnawan silitonga Renungan Keluarga: Bilangan ( 16 ) "Korah bin Yizhar bin Kehat bin Lewi.mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa.Ketika Korah mengumpulkan segenap umat itu melawan mereka berdua di depan pintu Kemah Pertemuan, tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap umat itu. Pisahkanlah dirimu dari tengah-tengah umat ini, supaya Kuhancurkan mereka dalam sekejab mata ". [ Bilangan 16:1, 19-21 ]. "Berkatalah Musa kepada Harun: 'Ambillah perbaraan, bubuhlah api kedalamnya dari atas mezbah, dan taruhlah ukupan, dan pergilah dengan segera kepada umat itu dan adakanlah pendamaian bagi mereka, sebab murka TUHAN telah berkobar, dan tulah sedang mulai " [ Bilangan 16:46 ]. Bilangan pasal 16 mencatat pemberontakkan para pemimpin dan juga umat Israel. Pemberontakkan ini begitu serius karena dilakukan secara terbuka dan melibatkan banyak orang. Dari antara para pemimpin umat terdapat 250 orang, dimana semuanya adalah para pemimpin yang terpilih dan yang kenamaan. Tindakan Tuhan juga begitu tegas, yaitu melenyapkan seketika ke-250 orang pemimpin umat, dan juga Korah beserta keluarga dan kumpulannya. Sementara itu, umat Israel juga memberontak terhadap Musa, dan tindakan Tuhan atas umatNya menyebabkan 14.700 orang mati terkena tulah. Pada intinya, pemberontakkan Korah beserta ke-250 orang pemimpin serta umat Israel adalah disebabkan mereka menolak pemimpin yang telah dipilih Tuhan, yaitu Musa dan Harun. Mereka merasa tidak puas dengan kepemimpinan yang ada. Mereka beralasan bahwa segenap umat Israel adalah orang-orang kudus, dan bahwa Tuhan ada di tengah-tengah mereka, demikian juga mereka katakan bahwa Musa dan Harun tidak membawa mereka ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Bahkan mereka menuduh Musa dan Harun meninggi-ninggikan diri diatas jemaah Tuhan. Apapun alasan yang mereka kemukakan, kenyataannya, Tuhan tidak berkenan dengan sikap ketidak-puasan mereka terhadap pemimpin yang telah Tuhan pilih. Sebelum kita menerapkan kasus keluarga Yakub ini kedalam keluarga kita sendiri, perlu kita perhatikan beberapa hal yang berikut ini. Pertama, sebelum Tuhan bertindak menyelesaikan persoalan yang ada, maka Ia terlebih dahulu menunjukkan kemuliaanNya kepada umat Israel. Kedua, kita lihat, sikap Musa yang tidak membela dirinya sendiri, dan selalu berusaha agar Umat Israel mengalami pemulihan. Ketiga, kepekaan Musa dalam bertindak terlihat ketika ia memerintahkan Harun untuk langsung mengambil perbaraan, menaruh api kedalamnya, dan mengadakan pendamaian bagi umat Israel ( Bil. 16:46 ). Sekarang kita akan menerapkan kasus pemberontakkan yang ada di dalam keluarga Yakub kedalam keluarga kita sendiri. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa isteri haruslah tunduk kepada suaminya. Anak-anak haruslah taat kepada orang tuanya. Kita tidak membahas perihal suami yang harus mengasihi isterinya, atau seorang bapa yang harus mengayomi anak-anaknya, karena saat ini kita hanya akan membahas soal pemberontakkan saja. Harus kita akui bahwa salah satu kesulitan utama dalam keluarga adalah pemberontak kan seorang isteri. Memang ketaatan seorang isteri kepada suaminya tidaklah mutlak, karena ketaatan mutlak hanya diberikan kepada Tuhan saja. Tetapi sikap tunduk seorang isteri haruslah diekspresikan dengan ketaatan kepada suaminya, sepanjang keinginan suami tidak bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan yang sudah jelas. Berkaitan dengan kasus pemberontakkan seorang isteri, hendaknya suami belajar dari Musa yang tidak membela dirinya sendiri, selalu berusaha kearah pemulihan, peka dalam bertindak, dan menantikan kemuliaan Tuhan agar Dia sendiri yang menyelesaikan semua persoalan. Gema Sion Ministry.

